Ardaiyene’s Weblog

March 6, 2009

Perbedaan Sex dan Gender

Filed under: my zone — by Ardaiyene @ 11:28 am

Apa yang kalian ketahui mengenai sex dan gender?

Pada dasarnya kedua istilah tersebut (sex dan gender) itu berbeda pengertiannya. Jika kita berbicara mengenai istilah ‘sex’ berarti kita berbicara pria ataupun wanita yang pembedaannya berdasar pada jenis kelamin. Dalam kata lain, sex merujuk pada pembedaan antara pria dan wanita berdasar pada jenis kelamin yang ditandai oleh perbedaan anatomi tubuh dan genetiknya. Perbedaan seperti ini lebih sering disebut sebagai perbedaan secara biologis atau bersifat kodrati, dalam artian sudah melekat pada masing-masing individu semenjak lahir.

Karena itu manusia yang mempunyai kumis, jenggot, jakun, dan bentuk anatomi tubuh lain serta gen yang tidak dimiliki wanita, adalah seorang pria. Sebaliknya, manusia yang tidak mempunyai kumis, jenggot, jakun, tetapi mempunyai rahim, sel telur, dan bentuk anatomi serta gen yang tidak dimiliki pria, maka ia adalah seorang wanita.

Anatomi tubuh dan faktor gen tersebut bersifat kodrati karena bersumber langsung dari Tuhan. Karena hal-hal tersebut berasal dari Tuhan, maka apa yang membedakan pria dan wanita secara biologis tersebut tidak dapat dipertukarkan, seperti rahim yang tiba-tiba dimiliki pria, atau wanita bisa berjakun, dan sebagainya. Secara kodrati, bentuk anatomi tubuh pria dan wanita berbeda. Pria berbentuk seperti itu dan wanita seperti ini. Hal tersebut tidak dapat dipertukarkan. Karena pembedaan ini bersifat kodrati, maka keberlakuan dari pembedaan ini pun tidak mengenal batas waktu, tidak mengenal pembedaan kelas masyarakat, dan berlaku di mana saja. Dampak dari hal ini adalah terciptanya nilai-nilai seperti kesempurnaan, kenikmatan, kedamaian, dan sebagainya sehingga menguntungkan pria dan wanita.

Lantas bagaimana dengan gender?

Ada suatu kalimat yang sangat familiar ketika kita masih duduk di Sekolah Dasar. Kalimat itu berbunyi: Bapak ke kantor dan Ibu ke pasar. Mungkin di benak kita muncul pertanyaan: bisakah Ibu yang pergi ke kantor dan Bapak yang pergi ke pasar? Dalam pembahasan gender, pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan : “Ya, tentu bisa!” Dan fenomena itu pun sudah sangat banyak sekali kita temui di jaman yang sekarang ini.

Pengertian gender juga masih berkutat antara pria dan wanita. Berbeda dengan ‘sex’, dalam gender perbedaan antara pria dan wanita lebih diciptakan oleh konstruksi lingkungan atau sosial yang ada. Pembahasan gender lebih menekankan pada karakteristik seperti perilaku, sikap, dan peran yang menempel atau ada pada pria dan wanita yang berasal dari konstruksi sosial. Karena itu, karakteristik tersebut (perilaku, sikap, dan peran) dapat dipertukarkan. Dalam hal ini, pria dapat berperan selayaknya pria namun juga bisa berperan sebagai wanita (menjalani nilai-nilai feminin: memasak, menjahit, menjaga anak, dan sebagainya). Sedangkan wanita juga dapat berperan sebagaimana seorang wanita, namun sudah banyak sekarang wanita yang menggeluti peran pria juga (menjalani nilai-nilai maskulin: menarik becak, bekerja di kantor sebagai wanita karir, supir Busway, dan sebagainya).

Oleh karena itu, karena gender tercipta dari konstruksi sosial, maka gender bersumber dari manusia atau masyarakat. Apa yang menjadi perbedaan antara pria dan wanita seperti harkat dan martabatnya dapat saling dipertukarkan. Pembedaan manusia seperti ini berdampak pada terciptanya norma-norma tentang ‘pantas’ dan ‘tidak pantas’ sehingga sering merugikan salah satu pihak yang mana kebetulan adalah wanita. Sebagai contoh yaitu, wanita tidak pantas menarik becak ataupun menjadi supir Busway. Wanita lebih pantas di rumah, memasak dan mengurus anak. Begitu pula dengan pria yang tidak pantas ke pasar dan mencuci piring di rumah. Pria lebih pantas berada di lapangan, bekerja, mencari nafkah, dan sebagainya. Namun, fenomena tersebut sudah semakin bergeser karena karakteristik pria dan wanita dalam gender dapat berubah, bersifat musiman.

Itulah perbedaan antara sex dan gender yang mungkin masih di permukaan. Hal tersebut penting untuk diketahui untuk memahami lebih lanjut mengenai fenomena-fenomena sosial yang semakin dinamis terkait dengan gender.

Sex dan gender menjadi hal yang menarik untuk dibahas lebih lanjut mengeni keterkaitannya. Terlebih gender yang dapat menciptakan adanya ketimpangan atau gap. Karena ternyata di dalam gender itu sendiri terdapat suatu ketimpangan peran yang memunculkan adanya tuntutan kesetaraan gender, rights of equality, gerakan-gerakan feminisme, dan sebagainya. Semoga di dalam tulisan selanjutnya kita dapat mendiskusikan hal tersebut.

March 3, 2009

Teeth-Tooth

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 7:17 am

Sudah ada yang melihat aku awal minggu ini di kampus? Pasti ada yang beda! Yap, aku ke kampus pake rok!! haha… (ga penting ya?) Berhubung jam 6 pagi lebih baru sampai rumah dan aku harus kuliah jam 07.30 pagi.. Alhasil aku pakai yang ada ajalah.. Celanaku pada belum dicuci, ada yang udah bersih tapi kok ya belum diseterika, ya sudahlah.. praktisnya pake rok ajah!! Toh, cuma kuliah pagi itu ajah, so pikirku bisa langsung pulang dan tidak berlama-lama di kampus.. hehe… Ternyata penampilanku ke kampus bikin teman-teman memberikan kesan yang beragam. Ada yang diam, ada yang bilang: “tumben pake rok mbak?; mbak Daiyene pake rok, lucu….; wah, Daiyene pakai rok, tapi lucu kok yen.. nice..” Tapi, ada yang lebih parah, ngeliat aku jalan pakai rok malah langsung ngetawain tanpa berkata apa pun.. heran aku… padahal mereka teman satu jurusan sama aku…

ya..ya..ya.. up to them lah…

Tapi, sebenarnya yang ingin aku sampaikan di sini bukan masalah aku pakai rok ke kampus, tapi masalah gigiku. Sebenarnya hari ini aku menunjukkan penampilan yang berbeda. Yang pertama aku ke kampus pakai rok, which I rarely do this, dan yang kedua ya..gigiku… Tapi herannya, teman-temanku pada terkecoh oleh penampilan bawahku (rokku), daripada penampilan atasku (gigiku) hahahahaha…. siallll.. Ceritanya aku baru pasang behel alias kawat gigi dengan harapan bisa lebih merapihkan gigiku.. Sebenarnya ini desakan dari Ibuku yang udah dari tahun lalu memanasi pikiranku untuk memasang behel. Tapi ya… baru bisa nurut sekarang.. eh salah, maksudnya baru ada waktu pasang behel sekarang dink…hehehe… Akhirnya aku ke Jakarta untuk pasang behel di Dokter Gigi Kakakku.

Eksekusi

Tak kusangka ternyata gigiku langsung dieksekusi hari itu juga. Aku fikir gigiku bakal ada yang dicabut dulu baru balik satu minggu setelahnya buat dipasang behel. Tapi ternyata tidak demikian teman. Ternyata bisa langsung dipasang saat itu juga dan masalah cabut mencabut gigi kata Dokternya itu gampang dan lebih baik dipasang dulu behelnya baru dicabut (maksudnya biar mempermudah saat pencabutannya). Yoh, manut sang Dokter sajalah…

Singkat cerita, terpasanglah kawat gigi itu di gigiku. Hmm, aku fikir aku bakal merasa sakit yang luar biasa gara-gara dipasangin kawat, tapi ternyata rasa sakitnya tidak sesakit yang aku perkirakan. Ga begitu sakit cuma… oh oh oh.. aneh banget rasanya! Jadi punya mainan di mulut. haha… Bibir dan kerangka gigi serasa sulit mengatup. Oh Tuhan.. harus berapa lama aku seperti ini? Ternyata rasa sakit itu baru kerasa sewaktu makan. Hiiiyyyyyyaaaaaa, kok ga kuat gigit ya? Kok juga ga bisa dibuat ngunyah ya? Wah… kiamat kecil nih….. Pas makan pun ga enak banget di mulut. Kerasa berantakan, seret, sepet, ga asik banget dah.. kerasa banyak yang nyangkut. Jadinya, kalau bis makan ga sikat gigi tuh ga nyaman banget… ribet..ribet…

Makan-makan

Hari pertama pasang behel aku dah nyoba makan roti, mie ayam, nasi, jamur. haha.. terserah deh mau dibilang maruk, nekat, atau nakal… Padahal Dokternya bilang makan yang lunak-lunak dulu ajah, kalaupun rada keras ya.. dipotong kecil-kecil.. Ya udah deh, diajak makan Mie Ayam Golek ma Ortu di daerah Otista, Cawang, aku malah pesen Mie Ayam Jamur di sana, instead of Bubur Ayam yang akhirnya cuma dibungkus untuk dibawa pulang. Ya.. gemana ya.. hasrat memakan mie itu tidak bisa dihilangkan begitu saja je.. Buktinya 1 mangkok Mie Ayam Jamur bisa aku habiskan dengan tidak memakan suwiran ayam, bakso, dan sawinya.. hehe… Untuk berikutnya aku masih nekat makan nasi biasa.. rada sulit ngunyah sih.. tapi ya.. itung-itung membiasakan gigi biar ga manja.. (haha.. padahal saking lapernya!! Ngeleeessss ajah ni Daiyene…!)

Ada yang bilang, “wah..mbak ciri khasmu jadi ilang deh.. padahal gigi gingsulmu kan kamu banget mba…”; “ga papa lagi Yen gingsulmu itu, tapi kalau mau dirapihin sih ga papa..”; “..wah mbak, tambah manis..” Ya.. itu sedikit komentar dari tiga orang temanku. Semoga komentar mereka jujur, terutama yang terakhir.. hehehe… Tapi balik lagi, apapun komentar teman-temanku mengenai penampilan baruku.. aku sih terserah ajah.. Aku cuma berharap hasil yang terbaik dari memasang behel ini. Kalau ada yang bilang senyum khasku ilang, enggak kok! Kalau boleh mengutip sedikit puisi dari Novel “Beraja” karangan Fira Basuki aku akan bilang:

tawaku masih renyah

senyumku selalu cerah

sapaku tetap ramah


new-face3

February 22, 2009

Hati Yang Damai

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 12:19 pm

 photo-0347e1

Hati perempuanku bertanya, pikiran apa yang telah membawaku melayang untuk selalu mengenangnya. .. Akan tetapi, suatu doroangan dari sebagian hatiku tiba-tiba saja memaksaku untuk mengatakan yang lain bahwa aku tidak ingin bersamanya meskipun sedikit membohongi hatiku. Dan setelah itu, aku merasakan ia telah pergi jauh dariku. Satu yang ingin kutanyakan pada hatiku yaitu ‘akankah ia kembali?’

Sebuah kutipan dari Novel “Hati Yang Damai”, karangan NH. Dini

 

Sit-Pangsit!!

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 5:22 am

walah…walah..walah..walah…

Ternyata kulit pangsit untuk direbus sama digoreng itu beda ya??? PUANtessssaaannnnn… hasil eksperimenku di dapur beberapa hari yang lalu GA BANGETTTT rasanya… Tergoda oleh salah satu resep masakan yang menggunakan pangsit rebus, akhirnya aku mencobanya di rumah. dah semangat-semangat gitu.. Tapi setelah direbus kok ya… ya.. Aneh gitu deh… ga lembek-lembek.. kalaupun lembek juga jadinya malah aneh.. Haduhh… Ga banget deh… Malah jadi parno sendiri.. Bikin pangsitnya aja masih gagal, ditambah kaldunya juga ikut-ikutan gagal lagi!! Aku malah ngerasa aneh sendiri: “sebenarnya niat bikin ga sih gw?” Wah terpengaruh sama mood aku nih.. Ya udah deh, ancurr rasanya.. hahaha…

Gara-gara hasil yang tidak mengenakkan di lidah dan di hati ini, akhirnya malah jadi parno masak beberapa hari.. Takut ga enak lagi… Kan sayang sayurannya…. hehe.. (ngeleesss…wae!)

Aku baru tau kalau kulit pangsit kuah / rebus dengan yang goreng itu beda ya pas aku ke Super Indo kurang lebih satu minggu setelahnya. Sewaktu itu aku melihat ada kulit pangsit kuah di tempat dulu aku mengambil kulit pangsit goreng. Dan batinku mulai berbicara: “oh.. ternyata ada to yang kuah.. berarti beda dong ma yang goreng?” hmmmm… ternyata dulu waktu aku beli kulit pangsit untuk pertama kali itu emang bener untuk digoreng. Masalahnya dulu waktu beli yang goreng, belum ada yang kulit pangsit kuah.. jadi.. Ane ga faham deh tuh… Memang sih ada tulisan di kemasannya: kulit pangsit goreng. Tapi waktu itu aku berfikir: “emang ga bisa ya kalau yang goreng untuk direbus..? kayaknya sama aja ah..” berdasar pemikiran sok tau itu (mendiskon informasi yang ada dan ternyata akurat) akhirnya aku ambil ajah 1 bungkus.. dan akhirnya.. emang ga pas.. haha…

Hmmmphh, kalau kayak gini aku jadi inget film “brownies” yang dimainkan oleh kakak gw, Marcella Zalianty (haha…). Pada tau kan jalan ceritanya kayak gemana? Mell (Marcella Zalianty) bolak balik bikin kue brownies yang enak tapi hasilnya selalu gagal: ya kurang lembutlah, kebanyakan cokelat jadi pahitlah, terlalu keraslah, dan sebagainya. Setidaknya film ini mengajarkan pada kita bahwa dalam membuat suatu masakan tidaklah langsung dapat mempunyai rasa yang pas, tapi sadarilah bahwa suatu proses itu memang diperlukan. Balik lagi ke filmnya, tapi ternyata semakin Mell mencoba untuk membuatnya, dia pun menyadari bahwa dalam proses pembuatan ia harus “berani ungkapkan rasa”..

Yah.. emang harus berani ungkapkan rasa, tapi kayaknya aku masih harus lebih banyak belajar duehhhh…

February 9, 2009

Salah Kostum

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 4:38 am

Saltum.. Saltum…

Beuh… mungkin teman-teman PPI Kota Yk yang melihat aku datang awal pada acara Rapat Pleno PPI Kota Yk yang diselenggarakan kemarin minggu akan bertanya-tanya: sejak kapan rapat pleno pake jeans dan sandalan???

Ya.. ya.. ya.. that was me!! But, listen to me first!

Memang di undangan rapat tersebut disebutkan bahwa pakaian yang akan digunakan adalah casual. Dan sudah sejak lama saya berbeda pandangan dengan PPI atau mungkin dengan pihak lain juga mengenai termcasual’. Menurut PPI, casual adalah dress code di mana kalau pria menggunakan kemeja rapih, celana kain alias non jeans, lebih bagus lagi kalau pakai dasi (tapi hari itu tidak), sepatu pantovel pria dan tak lupa menggunakan Pin PPI bagi yang telah menjadi anggota. Sedangkan yang perempuan menggunakan kemeja juga plus rok panjang atau pendek selutut, tidak ketat dan non jeans, ditambah sepatu cewek (ga harus pantovel), plus Pin PPI-nya.. Nah.. di pandangan saya, casual itu artinya pakaian santai, alias bisa pakai kaos polo, jeans and sandal is OK. Entahlah, mungkin saya terpengaruh oleh penggunaan kata ‘casual’ itu dari majalah anak muda yang dulu suka aku baca..

Mengingat punya pandangan yang berbeda dan mencoba untuk mengkonfirm apakah benar saya dan PPI punya pandangan yang cukup berbeda atau itu hanya dalam pikiranku saja, akhirnya sebelum hari minggu saya mencoba bertanya kepada Sekretaris PPI Kota Yk (teman saya: Bang Udin) yang memberikan undangan tersebut. Saya tanya, “bang, besok pleno boleh pakai kayak gini? (sambil menunjuk ke pakaian yang sedang aku kenakan waktu itu: polo shirt dan jeans..)” dan lantas Bang Udin menjawab dengan berkata: “oh iya, kayak gitu aja ga papa dai…”. Ok, case closed menurutku!

Hari minggu datang, dan aku memang sudah menawarkan diri untuk membantu Bang Udin menyiapkan konsumsi untuk rapat pleno yang dimulai jam 9 pagi itu. Hmm, ya sudah, akhirnya saya pun datang jam 08.30 dengan dress code yang telah saya confirm tersebut. Dan baguslaaaahhhh…. dari jauh saja saya sudah dapat melihat bahwa beberapa anggota yang sudah datang (untungnya belum banyak) sudah memakai kemeja rapih, sedangkan saya semakin pelan saja ngerem sepeda motor saya dan terlihat kebingungan… Dan kebetulan Bang Udin sedang ada di depan pintu. Dan langsung saja saya tanya ke dia dan mereka yang ada di sana.. “lho.. pakai kemeja po? katanya boleh pake kayak gini?” Sambil kelihatan kebingungan, heran, dan merasa kudu balik lagi ganti baju.. Akhirnya aku turun dari motor dan mencoba confirm kembali.. “Enggak dai……. pakai kemeja..” kata Bang Udin pelan. Lantas aku kembali menjawab “lho mas, kemarin kan aku sudah tanya, aku dah confirm.. katanya boleh kayak gini.. piye sih mas?” Ya.. memang ada sedikit perdebatan yang akhirnya aku akhiri dengan mencubitnya gemas dan aku langsung cabcus alias pulang lagi ke rumah tanpa malu pamit lagi ke teman-teman kalau aku kudu pulang lagi ganti baju.. (lha, ngapain malu… yang khilaf bukan aku kok?!). Untung rumahku deket sama Kandep, tempat plenonya itu..

Ya sudahlah.. aku pulang dan di perjalanan aku bertanya-tanya, harus pakai rok ga ya? Beuh.. padahal aku ga tau ada rok enggak ya di rumah.. haha… maklum roknya kudu rada resmi.. alias bukan rok sembarang rok.. Pas nyampe rumah akhirnya aku disms sama Bang Udin dan bilang: ”…. kalau bisa pakai rok ya dai..” Ya udah deh bongkar-bongkar di rumah.. Dan akhirnya aku sampe di Kandep jam 9 lebih.. Pleno sudah dimulai.. dan lagi – lagi saya ketemu sama Bang Udin di depan sewaktu aku baru sampai dan memarkirkan motorku. Melihat aku, dia hanya senyum-senyum aja, lalu mendekatiku dan bilang: “Sorry dai, aku ga sadar aku bilang itu ke kamu kemarin.. maaf ya.. ayo, tak tungguin.. kita masuk ke dalam bareng… “

Mau tau jawabanku ke dia?

“Kamu terpesona sama aku po mas, sampe-sampe ga sadar sama apa yang aku tanyakan dan yang kamu katakan kemarin ???”

Hmmmmmphhhhh……

February 6, 2009

Semarak IBB-MP XII, LC-MP V, & MD-MP II PPI Kota Yogyakarta 2008

Filed under: Reviews — by Ardaiyene @ 3:30 am

“Di sini aku, di sana kamu, di mana-mana kita saudara..” (salah satu yel-yel supporter)

GOR Kridosono Yogyakarta terlihat sangat crowded banget, nget, nget.. terlebih ketika para supporter selalu menyanyikan yel-yel untuk para pemainnya.. Emang ada apaan sih? Well, di Kridosono dari tanggal 24 – 31 Januari 2009 telah diselenggarakan Invitasi Bola Basket Merah Putih (IBB-MP) yang ke XII untuk kategori SMA/K dan MA se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Event tahunan yang diselenggarakan oleh Panitia Lustrum III Purna Paskibraka Indonesia Kota Yogyakarta ini juga dimeriakkan oleh Lomba Cheersleader Merah Putih (LC-MP) ke V dan Lomba Modern Dance Merah Putih (MD-MP) ke II se-Kota Yogyakarta – dua kategori lomba yang ga kalah mendatangkan supporter yang rame banget..

dscf5157a

Rangkaian lomba ini sebenarnya telat diselenggarakan. Seharusnya IBB-MP, LC-MP, dan MD-MP diselenggarakan segera setelah Lomba Baris Berbaris Merah Putih (LBB-MP) dilaksanakan di penghujung tahun 2008. Tetapi karena satu dan lain hal, para pecinta basket SMA/K dan MA se-Daerah Istimewa Yogyakarta harus menunggu 2 bulan untuk menanti persiapan dari ketiga acara lomba yang termasuk besar ini… Saking ga sabarnya bahkan ada beberapa sekolah yang coba contact ke PPI Kota Yogyakarta dah bahkan ada Pelatih dan anak-anak SMA yang langsung mendatangi Sekretariat PPI Kota Yogyakarta segala lho untuk menanyakan event IBB yang kok belum datang undangannya??!!! Ya.. menurut saya sih wajar saja, karena event IBB-MP sudah menjadi kegiatan tahunan (sudah punya nama) dan ajang bagi mereka untuk mengetahui sportivitas kompetisi permainan Basket mereka. Dan untuk itu saya selaku salah satu Panitia Lustrum III PPI Kota Yogyakarta sekaligus mewakili teman-teman yang lain mengucapkan maaf atas keterlambatannya, tetapi toh kita dapat menjalaninya di awal tahun 2009… Alhamdulillah..

Walaupun telat muncul, tapi ternyata kami masih mendapat antusiasme yang luar biasa dari para pencinta basket, cheers, dan modern dance. Hal ini terlihat dari terpenuhinya kuota invitasi yang kami sebar, dan terlebih para supporter yang luar biasa hebatnya di tribun.. hehe…

Para Supporter yang menggemakan Sporthall Kridosono

Para Supporter yang menggemakan Sporthall Kridosono

Suasana di dalam GOR Kridosono memang penuh dengan sportivitas. Yang di lapangan konsentrasi dengan permainan basketnya, dan di atas tribun supporter terus-menerus menyanyikan yel-yel bagi sekolah-sekolahnya dengan drum-drum besar yang semakin menyemarakkan sporthall Kridosono itu… Bahkan suara yel-yel dan nyanyian-nyanyian dari para supporter terasa sangat keras sekali sehingga bunyi sempritan wasit jadi kurang bisa terdengar.. haha…

Rekor PPI sepanjang masa??

Walah.. emang kenapa kok dibilang rekor? Ternyata event IBB-MP XII telah banyak mendatangkan massa alias supporter ke Sporthall Kridosono. Saking banyaknya, Panitia yang bertugas di loket tiket sampai harus menutup loket karena Tim Keamanan mengatakan Sporthall Kridosono sudah tidak memungkinkan lagi untuk menambah penonton masuk ke dalam, alias sudah penuh sesak. Beuh.. Padahal itu masih hari ke-4 lho.. belum Semi Final, apalagi Final.. Alhasil loket tiket tutup, dan massa yang mau beli tiket pun masih ngantri puanjang di depan loket sambil teriak-teriak minta beli tiket. Bahkan ada yang memasukkan tangan mereka ke lubang loket yang menurutku saking kecilnya sampai mirip kayak rumahnya Jerry dalam Tom & Jerry.. hehe.. (Intermezo nih…). Ternyata dengan menutup loket saja belum cukup untuk meredakan massa yang terus memaksa masuk untuk melihat pertandingan yang hari ini terjadwal SMA Stella Duce 2 Vs SMA Stella Duce 1 yang kemudian disusul dengan pertandingan SMA Kollese De Brito vs SMA Bopkri 2. Beuh.. Gayeng tenan.. (kata temanku..) Jadwal pertandingan hari itu memang OKs banget buat supporter… Sampe-sampe Panitia rada kewalahan mengurusi massa yang pingin masuk ke dalam.. Loket tiket digedor-gedor (bahkan sampai mecahin kaca lho), yang di luar marah-marah, kecewa, dan sebagainya.. Sampai ga kuatnya merespon mereka dari balik loket tiket, akhirnya Panitia yang jaga di loket tiket sampai mematikan lampu dan pergi dari area loket.

Menyanyikan Hymne lagu sekolah seperti telah menjadi rutinitas bagi para pemain dan supporternya, seperti yang nampak pada supporter dan pemain dari JB ini seusai pertandingan..

Menyanyikan Hymne lagu sekolah seperti telah menjadi rutinitas bagi para pemain dan supporternya, seperti yang nampak pada supporter dan pemain dari JB ini seusai pertandingan..

Itu suasana di luar dan di dalam loket tiket Sporthall Kridosono. Bagaimana dengan suasana di dalamnya? Beuh.. ruamenya bejibun.. Bahkan sampai ada yang duduk di bawah, di pinggiran lapangan.. Ya… kita tahu bahwa Sporthall Kridosono tidak terlalu besar, karena itu dengan massa yang sebanyak itu (dengan 24 bendel tiket terjual, @ 100 lembar), Sporthall Kridosono terlihat begitu ramai sekali.. Pasar aja kalah kali yha?? haha… Saking ramenya, salah satu sekolah yang akan bertanding malam itu sempat mengatakan tidak akan mulai bertanding jika masih ada penonton yang duduk di pinggir lapangan. Alhasil pertandingan molor setengah jam untuk menetralkan lapangan dan mengurusi penonton agar pindah duduk di tribun.. Masalahnya adalah supporter dari pertandingan awal tidak pergi, sedangkan supporter dari pertandingan yang baru mau dimulai sudah menunggu untuk masuk.. Dan Panitia pun tidak bisa mengusir supporter begitu saja, karena mereka punya hak yang sama untuk melihat pertandingan.. wuih..

so crowded..

so crowded..

Banyak teman-teman Panitia yang mengatakan kalau baru pelaksanaan tahun ini acara IBB bisa penuh seperti itu bukan di malam semi final dan final dan telah berhasil menjual berpuluh-puluh lembar tiket hanya dalam satu hari. Bahkan pernah sempat kehabisan tiket untuk dijual loh.. Beuh… Seumur-umurnya PPI Kota Yogyakarta, ya baru kali ini bisa kejadian kayak gini.. ckckck.. salut deh.. saluuuuttt…

Daiyene jadi apa?

Hoho.. Kalau saya sih di kepanitaan IBB jadi pembantu umum ajah.. Kadang di pintu masuk depan nyobekkin karcis supporter, kadang nimbrung bantuin nggeledah tas supporter, kadang juga jadi penonton (lho.. hmmm…), dan yang terakhir-akhir ini saya jadi sering bantuin teman-teman di loket tiket.. haha.. Jujur, sebenarnya grogi ajah kalau di loket soalnya bertransaksi dengan uang secara langsung.. Maklum kadang suka lemot mikir uang kembalian.. khususnya waktu semifinal yang harga tiketnya naik dari Rp 3000 per orang jadi Rp 3500 per orang. haha.. ketauan deh kelemahan anak Fisipol.. Tapi.. so far.. so good kok..

jaga loket hyukss...

jaga loket hyukss...

Bantuin di loket tiket itu sebenarnya menegangkan. Gemana enggak? lha di atas tempat loket itu adalah tribun penonton yang hanya berlapis kayu saja. Tau sendiri kan penonton atau supporter itu selalu jejingkrakkan kalau liat pertandingan? Lha, yang di bawahnya (alias kita-kita yang jaga loket tiket) yang sengsara.. Bahkan ada yang ketetesan air minum, rokok, kertas-kertas guntingan kecil, bahkan kejatuhan serpihan atap pembatas tribun dengan atap loket yang sudah retak, pecah, dan terlihat sudah kudu diganti itu. Sengsara deh.. Maklum tempat loket tiket itu sebagai base camp Panita juga: ya tempat naruh tas, naruh helm, tempat makan, tempat sholat, tempat nggosip, tempat apa lagi ya? haha..

Liat Cheers Nyok…

Ketika loket ditutup untuk yang kesekian kalinya, itulah saatku untuk bernafas sejenak memikir angka-angka dan keluar dari tempat yang terasa sempit itu. Akhirnya aku liat Lomba Cheersleader (LC) dan Modern Dance (MD) yang baru aja dimulai sekitar pukul 5 sore sampai pukul 7 malam. Dari sekian banyak partisipan LC dari sekolah-sekolah yang ikut, yang aku suka cuma satu: De’ Peav Mania, dari SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. SMA PL ini mengirim peserta cowoknya sebagai peserta LC, satu-satunya dari semua peserta Cheers yang ikut. Dan.. haha.. konyol banget dah ngeliatnya.. Dari kostumnya yang lucu abis dengan kaus kaki belang-belang zebra, ada yang pakai bando, topi tamasya, syal, tank top, rok pendek, baju di atas pusar, haha.. tapi di situlah lucunya, sampai gerakan cheersnya yang aneh-aneh wae.. haha..

Ternyata tidak hanya cewek saja yang bisa Cheers, tapi cowok pun juga mampu. Sebenarnya saya sudah lihat ada cheers cowok secara langsung di event IBB-MP tahun 2007. Mereka cukup menarik perhatian penonton dengan atraksinya (hehe… termasuk aku). Dan mereka pun juga tidak mau kalah dengan membawa pom-pom dan menunjukkan atraksi cheers yang sebenarnya, seperti membuat piramid dan melempar salah satu temannya ke atas atau ke arah lain (duh, aku ga tau deh itu namanya apa.. tapi menurutku cukup amazing.. karena beda sama cheers cewek yang lain). Haaahh.. mereka sanggup membuat penonton tertawa terbahak-bahak dan sanggup membuatku begitu lelah ketawa.. I love this show because they could make me laugh out loud..

The Winners

Sebagai informasi sekaligus penutup dari tulisanku ini, pemenang dari IBB-MP XII ini untuk kategori putra yaitu SMA Bopkri 2 Yogyakarta (Juara I), SMAN 2 Bantul (Juara II), dan SMA Pangudi Luhur (Juara III), dan untuk kategori putri yaitu SMA Bopkri 2 Yogyakarta (Juara I), SMA Stella Duce 1 Yogyakarta (Juara II), dan SMA Santa Maria (Juara III). Untuk Lomba Cheersleader dijuarai oleh SMAN 11 Yogyakarta. Sedangkan untuk Modern Dance – nya dijuarai oleh SMA N 3 Yogyakarta.

Pemenang Modern Dance "Merah Putih" II

Pemenang Modern Dance "Merah Putih" II

Selamat bagi para pemenang.. dan sampai bertemu dalam Invitasi Bola Basket “Merah-Putih” XIII, Lomba Cheersleader “Merah-Putih” VI, dan Lomba Modern Dance “Merah Putih” III 2009 mendatang…

January 29, 2009

Ternyata Pria Itu…

Filed under: thought — by Ardaiyene @ 6:49 am

(130108 @home, Jogja tercinta, at 09:59)

Pria dan wanita memang sungguh berbeda kali ya?

Pria, ia tidak akan memberikan dukungannya kepada wanita bila ia tidak diminta. Padahal wanita menginginkan dukungan dari pria tanpa ia harus memintanya.. Karena wanita berfikir, itulah namanya cinta.. memberi tanpa harus meminta.

Pria, ia selalu menganggap apa yang disetujui oleh wanita kepadanya sebagai hal yang ia inginkan, padahal wanita dalam kesetujuannya dengan pria tidak setiap saat sama seperti yang diinginkan pria. Wanita berfikir: “OK aku setuju, tapi…” Wanita akan mencoba mengalah untuk membuat pria senang, itulah mengapa wanita memberikan kata “tapi”…

Pria, ketika ada masalah, ia selalu menyendiri dan berbuat apapun untuk dapat menyelesaikan permasalahnnya. Padalah wanita sangat merasa diabaikan sekali ketika pria berlaku seperti itu. Wanita berfikir hal-hal kecil yang diabaikan pria begitu membuatnya terluka dan parahnya pria tidak menyadari itu.

Romantisme Obama & Michelle

Filed under: Reviews — by Ardaiyene @ 6:18 am

slide_391_10399_large3

Terpilihnya Barack Obama menjadi Presiden AS ke-44 telah dirayakan secara gegap gempita oleh seluruh dunia. Perjuangan yang telah dilakukan oleh Obama pun tidak sia-sia. Dari pemilihan awal sampai kampanye yang menurut saya pasti sangat melelahkan itu, Obama tetap berjuang agar dirinya dapat terpilih. Michelle Obama, istrinya, pun turut membantunya berkampanye, at least to raise fund for her beloved.

Tidak dapat dipungkiri bahwa terpilihnya Obama menjadi seorang Presiden kulit hitam pertama AS ini telah menaikkan pamornya. Berbagai media, dari dalam ataupun luar AS, mulai menyoroti segala sisi dari diri Obama dan keluarganya. Tidak heran pula banyak media yang menyoroti hubungannya dengan Michelle Obama, The First Lady of The United States for now . . .

Obama dan Michelle dansa saat jamuan makan malam seusai Pelantikan Obama menjadi Presiden AS ke-44

Obama dan Michelle dansa saat jamuan makan malam seusai Pelantikan Obama menjadi Presiden AS ke-44

Sebenarnya saya heran, tetapi saya juga suka dengan apa yang diberitakan oleh media. Saya melihat bahwa efek samping dari terpilihnya dan dilantiknya Obama adalah sorotan media mengenai hubungannya dengan Michelle dan juga kedua anak perempuannya yang masih sangat muda itu – Malia dan Sasha. Hal ini terlihat dari diberitakannya awal bertemunya mereka sampai akhirnya menikah. Media juga banyak menyorot bagaimana pasangan ini saling bahu membahu dalam mengumpulkan dana bagi kampanye Obama. Kebersamaan Obama-Michelle lantas menjadi santapan bahan berita bagi media. Berita terakhir yang saya dapat yaitu ketika pada acara jamuan makan malam seusai pelantikan Obama. Pada saat itu, telah diagendakan ada saat ketika Obama dan Michelle berdansa berdua. Michelle terlihat begitu anggun dengan gauh putih satu-pundaknya yang sebelumnya telah menjadi bahan ramalan-obrolan-tebakan bagi para pengamat fashion yang tertarik mengomentari semua pakaian ataupun gaun yang dikenakan Michelle.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah hal ini juga terjadi dan media juga melakukannya pada mantan Presiden Bush, mantan Presiden Clinton, dan mantan-mantan Presiden AS sebelumnya? Hmmm, I’m not quite sure! Terlebih Bush… sepertinya tidak sedetail itu media mengorek hubungannya dengan Laura Bush seperti bagaimana media menyorot Obama-Michelle sekarang.

Bagaimana tidak? Terkadang saya merasa bahwa ‘kok pemberitaannya jadi mengarah ke hubungan Obama-Michelle?’ Seakan-akan mereka adalah artis Hollywood yang patut disorot. Padahal lebih dari itu, mereka adalah pasangan yang baru naik tampu pemerintahan AS. Ekspektasi dan pertanyaan saya: Mengapa pemberitaan di media tidak sedikit lebih fokus pada kebijakan-kebijakan politis dan ekonomisnya Obama saja? Ya.. pertanyaan itu kadang selalu muncul di kepala saya. Tapi anehnya, saya jadi tertarik mengetahui kedua pasangan ini.

obama-michelleYa.. seperti yang telah saya bilang tadi. Pemberitaan di media mengenai Obama secara tidak langsung juga menampilkan sisi romantisme Obama dengan Michelle. Banyak media yang menampilkan video ataupun foto kebersamaan mereka dalam berkampanye; keintiman keluarga mereka dengan kedua anak perempuannya; kemesraan mereka di atas panggung; bahkan ketika Obama telah resmi menyandang sebagai Presiden AS, Obama dan Michelle diberi kesempatan untuk berdansa berdua pada acara jamuan makan malam.. Oh.. So Sweet (hmmm…. kapan ya bisa kayak mereka? Walah!! Hush..Hush..Hush.. —mencoba tersadar dan menghilangkan khayalan ga jelas di atas kepalaku—haha…)

Obama-Michelle jadi terlihat sebagai pasangan yang sangat serasi dan sekaligus menjadi contoh bagi pasangan-pasangan yang lain (including me, maybe? haha..). Banyak orang yang menyebut Obama-Michelle adalah working couple. Mereka sama-sama punya karir, dan mereka pun bertemu di sebuah tempat kerja. Namun, apa yang dijalani masing-masing tidak menjadi penghambat bagi keduanya. Setelah menikah mereka menjalani pekerjaan mereka sama seperti sebelum menikah.

Sekarang, biarkan saya menceritakan bagaimana Obama dan Michelle bisa tertarik satu sama lain. Awal mereka bertemu adalah di sebuah instansi yang secara tidak langsung menghubungkan mereka. Michelle (Sarjana Hukum) yang kala itu berada di suatu instansi hukum sedang bekerjasama dengan instansi yang dipimpin oleh Obama. Sebenarnya Obama tidak begitu tertarik dengan corporate law – suatu lahan yang digeluti Michelle, tetapi yang membuat Obama tetap berhubungan dengan instansi hukum Michelle adalah karena Obama sendiri punya lebih banyak interest ke Michelle itu sendiri dari pada ke instansi hukum tersebut. (hmmm, finally I’ve got the message here! haha)

See how romantic Obama is! He is choosing white roses for his beloved, Michelle

See how romantic Obama is! He is choosing white roses for his beloved, Michelle

Sedangkan Michelle sewaktu bertemu dan mendengar nama Barack Obama merasa aneh. Michelle beranggapan: What kind of name is that?? Tapi, ternyata ketidaksukaannya itu membuahkan rasa kagum pada Obama. Michelle sendiri mengakui kalau dirinya kagum kepada Obama dengan alasan yang sama dengan yang lain yang menghormati dan kagum pada Obama, yaitu: his connection to people. Yah, Obama memang pintar menjalin hubungan dengan orang. Tapi setidaknya Obama sempat merasa gagal melakukan hal itu ketika ajakan dating-nya ke Michelle berbuah penolakan terus-menerus dari Michelle selama sebulan (Wuihhh, Michelle OKs banget dah!!!) Tapi, karena sudah sebulan lamanya, akhirnya Michelle menerima ajakan jalan bareng bersama Obama. Yang mereka lakukan adalah mengunjungi art institute, makan siang di sebuah outdoor café, jalan-jalan, mengobrol, melihat film Do the Right Thing, dan menikmati minuman di lantai 99 John Hancock Building. Mereka menghabiskan waktu seharian penuh melakukan itu semua. Dan di akhir kencannya, Michelle (dalam wawancaranya dengan Suzanne Malyeau-CNN Interview) mengatakan: We clicked right away.. by the end of that date it was over.. I was sold. (Beuhhh…. langsung jatuh hati deh..)

Sekarang, siapa yang tidak mengagumi Obama, seorang pria hitam manis, politikus dengan pemikiran yang baik dan santun dan dengan balutan kesederhanaannya ternyata begitu menyayangi keluarganya. Siapa yang tidak melirik Michelle, seorang wanita tinggi, pintar, pengertian, menarik, dan low profile ini ternyata bisa mengimbangi suaminya yang seorang politikus, rela mengorbankan karir, posisi, dan jabatannya untuk mendampingi Obama dalam mengarungi pemerintahannya yang masih baru. Dalam menjalani pemerintahannya Obama dan Michelle sepertinya akan terus diharumi oleh nuansa romantisme mereka berdua dan kedua anaknya.. Bukankah menarik melihat seorang Presiden AS yang terlihat begitu intim dengan keluarganya??

Obama and Family

Obama and Family

Good Relations with Others…

Filed under: Reviews — by Ardaiyene @ 4:56 am

Nonton Talkshow di TV beberapa waktu yang lalu, telah memberikan saya sedikit pencerahan. Dari acara Talkshow itu, saya mendapatkan tips yang cukup bagus buat kita semua. Dari Talkshow tersebut, saya mungkin dapat memetik 3 hal yang saya akan jabarkan di bawah ini, for our own good relations with others..

Siapa bilang menjalin hubungan itu mudah? Apakah ada jalinan hubungan yang luput dari krikil-krikil kecil atau satu masalah kecil sekalipun? I don’t think so! Terkadang kita ribut dengan mereka, terkadang kita marah dengannya, terkadang kita tidak sepaham, kecewa, dan hidup dalam pikiran kita masing-masing yang mana ujungnya bisa berakibat buruk. Dalam menjalin hubungan dengan orang lain, entah itu keluarga, sahabat, kenalan, pasangan, rekan kerja, atasan, atau siapa saja, ada beberapa hal yang setidaknya dapat kita jadikan pedoman agar hubungan kita dengan orang tersebut dapat terjaga dengan baik.

Menurut perbincangan di acara Talkshow tersebut dapat diringkas bahwa dalam menjalin hubungan dengan orang lain yang perlu diperhatikan dan diingat adalah:

Peka terhadap orang

Manusia diciptakan berbeda. Fisik, sifat, nasib, jodoh, rezeki, semua berbeda. Nasib dan karakter dari orang yang terlahir kembar saja bisa berbeda kok!! So, pekalah terhadap orang lain, terutama karakter ataupun sikap yang mereka miliki. Kalau mau hubungannya baik-baik saja, cobalah mengerti orang. Rasakan apa yang mereka rasakan, dan cobalah untuk mengerti.

Damai dengan ketidakpastian

Percayalah bahwa ketidakpastian itu akan selalu hadir di saat yang tidak kita duga sekalipun. Mungkin ada kalanya kita hanyut dalam lamunan atau keyakinan bahwa hidup kita akan baik-baik saja, atau dalam hal ini kita melakukan discounting information atau discounting future (mendiskon nilai-nilai informasi ataupun masa depan yang seharusnya kita perhatikan). Ketika kita merasakan seperti itu, ada baiknya kita tersadar dan kita harus ingat bahwa segala sesuatu itu bisa terjadi di dunia ini. Orang bijak mengatakan: kehidupan itu seperti roda, di mana kadang kita berada di atas, tetapi kita juga bisa berada di titik yang paling terendah dari roda kehidupan itu sendiri. Hal-hal yang tidak diantisipasi dapat berbuah ketidakpastian untuk diri kita sendiri. Biar tidak sakit hati banget, ya diantisipasi aja… dan berdamailah dengan ketidakpastian… hidup itu dinamis, bung!!

Kejujuran dalam berkomunikasi

Komunikasi sepertinya jadi andalan dalam menjalin hubungan dengan siapapun: orang tua, saudara, teman, pasangan, kerabat, dan sebagainya. Yang terpenting adalah kejujuran dalam berkomunikasi. Ungkapkan apa yang perlu diungkapkan. Biarkan orang lain tau apa yang kau rasakan. Kamu tidak suka, bilang saja. Dan jangan ragu untuk memberikan pujian terhadap orang lain. Jangan ada dusta di antara kita (wah…pas banget kan?).

Semoga bermanfaat …

January 14, 2009

OPINI PUBLIK SEBAGAI ALAT PRESIDEN AMERIKA SERIKAT UNTUK MERAIH DUKUNGAN KONGRES: STUDI KASUS INVASI KE IRAK TAHUN 2003

Filed under: my zone — by Ardaiyene @ 2:02 am

Opini Publik sepertinya telah menjadi hal yang sangat menentukan bagi Presiden Amerika Serikat (AS) untuk dapat menggolkan usulan kebijakannya di Kongres AS. Bagaimana tidak, usulan kebijakan yang diusung oleh Presiden AS agar dapat terealisasi haruslah mendapat persetujuan dari Kongres AS yang terdiri dari 535 anggota tersebut. Dalam usahanya ini Presiden AS mempunyai beberapa cara atau strategi untuk ditujukan ke Kongres, yang mana akan dibahas lebih lanjut dalam tulisan ini. Dan sebagai alat yang dapat dikatakan cukup ampuh agar mendapat persetujuan Kongres terkait dengan kebijakan dari Presiden AS ini adalah dengan menggunakan opini publik. Yang menjadi fokus dalam tulisan ini adalah bagaimana opini publik yang dibentuk oleh Presiden AS tersebut dapat dijadikan alat baginya di Kongres sehingga apa yang menjadi usulan kebijakannya tersebut dapat disetujui oleh Kongres AS.

Kongres AS

Kongres AS

Sebagai awal, marilah kita mengetahui apa itu opini publik. Opini publik dapat dikatakan sebagai distribusi opini dan sikap dari publik yang diraih guna mengetahui apa yang publik percayai dan apa yang menjadi preferensinya1. Opini publik diraih melalui beberapa cara. Namun cara yang paling sering digunakan adalah melalui polling sebagai key features dari opini publik. Polling ini dilakukan melalui berbagai media seperti media massa, media elektronik seperti TV, radio, internet, bahkan melalui telepon langsung. Dalam kasus ini, opini publik diraih atau dijalankan oleh pihak pemerintah untuk mendapat dukungan publik di AS terhadap suatu kebijakan pemerintah. Dan karena itu, tidaklah mengherankan bila ada semacam hubungan yang dekat antara pemerintah (pihak eksekutif) dengan publik, terkait dengan publik opini untuk dapat menembus Kongres AS2.

Public Opinion as Indirect Access Route for President

Kemampuan seorang Presiden AS dalam mempengaruhi agenda Kongres dapat dilakukan melalui dua jalur yaitu secara langsung (direct access) atau tidak langsung (indirect access). Direct access dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu melalui pengajuan program kepada Kongres untuk dipertimbangkan dan melalui dominasi partai politik di mana Presiden AS itu berasal. Sedangkan Indirect access dilakukan melalui opini publik yang dibentuk oleh Presiden AS itu sendiri. Dan inilah yang menjadi fokus dari tulisan ini. Rasionalitas mengenai bagaimana opini publik dapat mempengaruhi agenda publik di Kongres adalah bahwa Kongres itu sendiri sebenarnya merespon pada agenda publik. Dan dengan demikian, kemampuan Presiden untuk dapat menstruktur agenda publik sebaik mungkin tentunya semakin memberikan peluang bagi Presiden untuk menstruktur, atau paling tidak, mempengaruhi agenda di Kongres.

Dan fakta pun menunjukkan bahwa Presiden memang dapat mempengaruhi agenda publik. Hal ini salah satunya dapat terlihat jelas dari berbagai pidato dari seorang Presiden AS mengenai isu kebijakan spesifik tertentu yang dapat mempengaruhi perhatian sekaligus membentuk opini masyarakat / publik di isu-isu yang telah disampaikannya tersebut. Karena, ketika Presiden dapat menyita perhatian publik terhadap isu yang telah disampaikannya, maka seketika itu pula Presiden dapat membingkai opini publik yang tercipta. Dalam hal ini, media sangat memegang peranan yang sangat penting sekali sebagai pihak yang menyebarluaskan, menyaring, mem-boom-ingkan, dan karenanya telah membantu usaha Presiden untuk meraih opini publik melalui berbagai saluran media. Dan karena besarnya peran media ini pula di dalam berbagai agenda pemerintahan AS, media di AS telah mendapat predikat sebagai Pilar keempat dari Pemerintahan AS3.

Dalam meraih dan membentuk opini publik, selain menggunakan media massa sebagai wadah dalam pembentukan, penyampaian, dan penyebarluasan dari isu kebijakan, Presiden juga menggunakan popularitas yang dimilikinya untuk dapat semakin meyakinkan publik, misalnya ketika berbicara, berpidato, atau mengadakan press conference, atau diskusi di depan media massa. Hal ini dinilai cukup efektif dalam mempengaruhi agenda di Kongres. Ketika Presiden telah berhasil meraih dan membentuk opini publik yang sejalan dengan kebijakannya, maka hal tersebut akan dijadikan alat dukungan bagi Presiden untuk dapat menjadikannya agenda penting di dalam Kongres. Dan dengan menunjukkan opini publik yang mengarah atau merujuk pada kebijakan agenda publik yang ada, Presiden dapat mempengaruhi atau menstruktur agenda bagi Kongres. Dan Kongres pun responsif terhadap opini publik dalam memutuskan kebijakan publik dan selanjutnya opini publik yang telah terbentuk dapat mempengaruhi struktur agenda Kongres itu sendiri.

Dalam kasus invasi AS ke Irak di tahun 2003 lalu, Bush sebagai Presiden AS saat itu juga melakukan hal yang sama. Usulan agenda untuk menginvasi Irak di tahun 2003 merupakan sebagai direct access Bush untuk dapat meraih pertimbangan Kongres. Untuk menunjang hal tersebut, Bush melakukan indirect access, yaitu melalui opini publik AS. Dalam hal ini Bush beserta kabinetnya berupaya keras untuk bisa meraih dukungan publik terhadap agenda yang telah disiapkannya yaitu menginvasi Irak. Untuk dapat menggolkan usulan agendanya di Kongres, Bush melakukan berbagai cara untuk meraih dan membentuk opini publik yang sejalan dengan kebijakannya itu. Dengan menggunakan berbagai macam media massa baik eletronik maupun cetak, Bush selalu menyampaikan betapa pentingnya menginvasi Irak sebagai respon terhadap tragedi 9/11 yang menyebabkan trauma bagi warga AS, sebagai war on terrorism, untuk memusnahkan Weapon Mass Destruction (WMD) yang diduga ada di Irak, dan sebagainya. Berbagai seruan dilontarkan dan pihak media pun turut membantu dalam packaging-nya dan menyebarluaskannya secara massive ke penjuru kota, negara bagian, dan tingkat federal sehingga isu invasi Irak ini menjadi sorotan publik, dan nantinya dapat membentuk opini publik secara keseluruhan yang mendukung Invasi AS ke Irak tersebut.

Baik Bush ataupun media, mereka sama-sama menggunakan selectivity, yaitu memberikan apa yang menurut mereka penting untuk disampaikan dan menyimpan informasi tentang apa yang tidak perlu disampaikan. Dengan melakukan selectivity ini maka baik Bush ataupun media sama-sama membatasi pemikiran publik di AS agar terfokus pada isu Invasi AS ke Irak. Dengan cara demikian, maka akan semakin mudah untuk membentuk opini publik di AS sehingga mendukung Bush untuk dapat menginvasi Irak. Hasil dari opini publik ini dapat diketahui melalui berbagai polling yang dilakukan oleh berbagai media massa dan dilakukan setiap saat. Dengan adanya dukungan terhadap invasi AS ke Irak yang tinggi yang terlihat dari sumber polling yang dapat dipercaya, maka hal tersebut akan menjadi alat yang sangat ampuh sekali bagi Bush untuk bisa menggolkan invasi Irak ini di Kongres untuk mendapat persetujuan.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa opini publik di AS sebagai cara tidak langsung atau indirect access sangat menentukan bagi disetujuinya usulan kebijakan dari Presiden AS oleh Kongres. Hal ini dikarenakan Kongres sangat responsif terhadap opini public. Dalam meraih opini publik ini, Bush melakukan berbagai cara seperti pidato kenegaraan, pernyataan pers, diskusi, yang dilakukan secara meluas dan berulang-ulang di depan media massa untuk menarik perhatian dan tentunya membentuk opini publik itu sendiri terhadap usulan Invasi AS ke Irak. Dalam pembentukan opini publik, pemerintah dalam hal ini Presiden sangat berhubungan erat dan bersinergis dengan media massa sebagai pihak yang turut mendukung kebijakannya tersebut dengan cara menyiarkannya dan memberitakan informasi melalui proses selectivity yang juga mendukung pada pemerintah. Opini publik yang telah didapat dan terbentuk akan dijadikan alat sekaligus bukti dukungan bagi kebijakan Presiden, dalam hal ini mengenai usulan invasi AS ke Irak yang mana dapat terealisasi jika mendapatkan persetujuan dari Kongres. Demikianlah bagaimana opini publik di AS dapat berguna sebagai alat bagi disetujuinya usulan kebijakan seorang Presiden AS di Kongres.

2 Cohen, Jeffrey E. dan Ken Collier. Public Opinion: Reconceptualizing Going Public. Page: 41

3 Wasserman. The Basics of American Politics. Page: 230

« Previous PageNext Page »

Powered by WordPress.com