Ardaiyene’s Weblog

June 2, 2009

Permintaan Maaf Menutup Lembaran Lama?

Filed under: Reviews — by Ardaiyene @ 7:53 am

Sorry Myspace Comments

“I’m sorry,”
It’s all that you can say
Years gone by and still
Words don’t come easily
Like “sorry”

“Forgive me,”
Is all that you can say
Years gone by and still
Words don’t come easily
Like “forgive me”
Forgive me..

(Boyzone: Can I Hold You Tonight?)

__

Seberapa sering Anda dibuat marah, kecewa, jengkel, kesal oleh orang lain? Dan seberapa sering pula Anda harus menerima kata ‘maaf’ dari mereka?

Permintaan maaf memang seringkali terlontar dari orang yang merasa telah melakukan sesuatu yang tidak mengenakkan, mengganggu, mengecewakan, dan semacamnya bagi diri kita. Dan kita pun seringkali harus mendengar perkataan itu berkali-kali lagi tanpa ada makna di dalamnya. Jika hanya permintaan maaf saja yang ada tanpa adanya kesungguhan di dalamnya, lantas hanya hampa yang akan kita terima.

Ada suatu paradoks di sini. Di satu sisi kita sering menemukan banyak orang yang menginginkan permintaan maaf dari lawannya yang dinilai telah merugikannya dengan mengatakan: “Kamu harus minta maaf padaku!” Dan ketika lawannya tersebut menolak untuk meminta maaf, maka orang tersebut lantas menjadi gusar dan kesal. Ia begitu menginginkan permintaan maaf dari lawannya tersebut. Atau, kita juga sering mendengar teman kita yang sedang kesal bergusar “Dia sadar atau tidak kesalahannya? Minta maaf saja tidak?!” Anda lihat betapa orang ini begitu mengharapkan permintaan maaf dari lawannya?! Orang yang menginginkan permintaan maaf akan cepat puas ketika lawannya telah menyatakan maaf kepadanya, karena memang itulah keinginannya walau lawannya itu bukan tidak mungkin untuk tidak bersungguh-sungguh meminta maaf darinya.

Namun di sisi lain, kita juga menemui beberapa orang yang berpandangan bahwa permintaan maaf itu tidaklah terlalu signifikan. Mereka berpandangan bahwa meminta maaf itu mudah dilakukan, bahkan berkali-kali pun orang sanggup melakukannya hanya untuk dapat dimaafkan. Namun yang menjadi pertimbangan di sini adalah, apakah ada kesungguhan dan niat untuk mengubah sikap di dalam permintaan maafnya? Dalam hal ini, sikap tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang menjadi acuan penting dari permintaan maaf seseorang.

Seyogyanya kita harus tetap menyadari bahwa permintaan maaf secara lisan ataupun tidak adalah sebuah cerminan niatan baik dari seseorang. Tidak ada salahnya pula ketika kita berfikir bahwa hanya dengan permintaan maaf sekiranya orang tersebut telah merasa bahwa ia telah bersalah dan mengecewakan kita. Hal itu sudah menjadi suatu indikasi yang positif dari lawan di mata kita tentunya. Namun, kita juga harus berfikir lebih jauh di mana sebuah permintaan maaf lisan ataupun tertulis hanyalah kata-kata yang terucap di bibir ataupun tertulis di suatu media saja.

Lihatlah permasalahan yang ada pada diri kita. Apakah permintaan maaf dari lawan kita dapat dikatakan memadai untuk jenis permasalahan tersebut? Jika permasalahannya kecil, permintaan maaf mungkin sudah cukup memadai. Namun, janganlah merasa heran jika ada orang-orang yang berniat jahat meminta maaf ke kita sambil meremas-remas tangan dan bahkan bertekuk lutut di hadapan kita sambil menyatakan penyesalan yang mendalam, tetapi sebenarnya ia tidaklah sungguh-sungguh meminta maaf? Hal ini memang sulit diidentifikasi karena siapa juga yang tahu hati dan niat orang?

Ternyata sekedar pemikiran bahwa permintaan maaf dari orang lain itu dapat menutup lembaran lama tidaklah selamanya benar. Pemikiran semacam itu ternyata salah satu pikiran beracun yang dapat merusak hidup kita. Demikian dikutip dari sebuah buku yang menurut saya cukup informatif dan menggugah pemikiran saya, yang berjudul “40 Pikiran Beracun yang Merusak Hidup Anda” karangan Arnold A. Lazarus, Ph. D. dan kawan-kawan. Buku ini mencoba menghadirkan sejumlah antitesis dari pemikiran-pemikiran yang biasanya mengendap dalam pemikiran yang sudah acapkali kita anggap positif. Contohnya adalah permintaan maaf yang sedang kita singgung di sini-di mana sebagian besar orang meyakini bahwa permintaan maaf dapat menutup lembaran lama. Tetapi ternyata tidak, antitesis yang coba dihadirkan yaitu bahwa suatu permintaan maaf tidak dapat serta merta menutup lembaran lama.

Menurut buku ini, bila orang yang benar-benar tegas merasa telah diperlakukan tidak pantas, mereka biasanya tidak begitu membutuhkan permintaan maaf (terutama yang kosong). Mereka hanya menyampaikan secara tegas dan terus terang bagaimana perasaan mereaka dan perubahan apa yang mereka inginkan mulai saat itu dengan mengatakan: “Apa yang bisa aku atau kamu lakukan untuk memastikan bahwa hal ini takkan terulang kembali?”

Yang harus diingat adalah permintaan maaf tetap menjadi suatu sikap yang mengandung nilai normatif dan baik adanya. Terlebih ketika permintaan maaf dilakukan secara tulus. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah permintaan maaf yang kosong, yang tidak mengandung suatu niat baik dan perubahan sikap untuk ke depannya, akan menjadi tidak ada artinya. Kita juga harus memahami bahwa permintaan maaf mungkin hanya bisa membantu menjelaskan suatu perbuatan yang salah, tetapi tidak akan membatalkan kerusakan yang telah diakibatkannya. Yang terpenting adalah bukan meminta orang untuk meminta maaf kepada kita, melainkan meminta seseorang memperbaiki kesalahannya. Mengapa? Karena permintaan maaf hanya bisa bermanfaat hanya bila orang tersebut mau mengubah tindakannya.

Ingat! Permintaan maaf hanyalah kata-kata; tindakan korektif adalah hal yang terpenting!

May 9, 2009

PENTAS UJI SISWA: GOLEK SULUNG DAYUNG

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 2:30 am

Sudah sejak pertengahan tahun 2008 saya mencoba belajar tari jawa klasik, khususnya Jogja klasik. Diawali dengan belajar privat dengan mengenal ragam tari yang begitu dasar, kemudian belajar tari jawa klasik yang paling sederhana. Di penghujung tahun 2008 saya kemudian beralih privat di Ndalem Pudjokusuman bersama dua orang teman saya. Di sana saya belajar tarian baru yang notabene masih jawa klasik dengan salah seorang penari senior (Ibu Sas) di Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Marwadha (YPBSM) Pudjokusuman. Setelah belajar tarian Sari Kusuma, dan mendapatkan setengah materi dari tarian Golek Sulung Dayung, saya bersama kedua teman saya mencoba untuk masuk ke dalam kelas reguler di YPBSM tersebut.

Di kelas reguler tersebut akhirnya saya masuk ke dalam kelas Golek Sulung Dayung. Kami latihan di Pendopo Ndalem Pudjokusuman. Setelah empat bulan latihan dengan mengenal ragam, irama, dan melatih kepekaan rasa dalam tarian, kami harus mengikuti suatu penilaian tarian tersebut dalam rangka kenaikan tingkat. Dalam kelas saya, ada dua kali penilaian. Pertama, penilaian oleh guru kami yang mengajar, kebetulan guru saya waktu itu adalah Mbak Itut. Di penilaian ini, bisa dikatakan semacam gladi resik namun diambil nilainya. Kami tampil dalam suatu kelompok kecil yang terdiri dari 5-7 orang dengan menggunakan perlengkapan kain dan sunder saja (tanpa kostum asli). Namun, dalam waktu satu bulan kedepan ternyata akan diadakan Pentas Uji Siswa untuk seluruh siswa yang mengikuti kelas regular di YPBSM dengan kostum lengkap dan bersifat umum, dapat dilihat oleh keluarga, teman, ataupun masyarakat lain. Pentas Uji Siswa ini adalah bentuk penilaian (kedua) yang notabene dilakukan untuk menguji siswa untuk dapat tampil di depan publik, dan tentunya di depan para pemberi nilai.

Tanggal 27 April 2009 kemarin, adalah jadwal saya untuk tampil dalam Pentas Uji Siswa tersebut bersama kedua teman saya. Kami tentunya membawakan tarian Golek Sulung Dayung dan kebetulan kelompok saya adalah kelompok pertama yang maju satu tari Srimpi setelah break adzan magrib. Berhubung belum pernah melakukan ujian semacam ini, saya merasa begitu demam panggung (benar-benar tidak bisa dielakkan). Yang saya lakukan hanya mencoba tenang dengan berdoa, tertawa-tawa dengan teman, dan berfoto-foto ria di backstage bersama teman-teman untuk mengusir rasa panik sembari menunggu giliran maju. Dan akhirnya waktunya pun datang juga…

S6000308c

Tari Golek Sulung Dayung sebenarnya mengisahkan seorang gadis yang sedang beranjak dewasa sehingga ia mulai gemar bersolek, memperindah dirinya. Gadis itu membayangkan bahwa akan ada seorang pangeran tampan datang dan menyatakan cinta. Sungguh jiwa gadis itu berderu bak gelombang lautan.

Alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik. Tetapi, ternyata mau nari siang, sore, ataupun malam hari seperti waktu pentas itu, tetap saja saya cukup mengeluarkan banyak keringat. Saya kira hawa habis hujan di sore hari menjelang malam itu dapat membuat saya merasa adem dan tidak akan mengeluarkan keringat. Tetapi, ternyata tidak. Gerakan dalam tarian yang iramanya dinamis ini cukup membuat diri saya merasa hangat melakukannya.

April 10, 2009

Selamat UTS!!

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 4:34 am

n579538755_1088960_4688

Ardaiyene ingin mengucapkan:

Selamat Ujian Tengah Semester

(13 April – 24 April 2009)

Sesudahnya, selamat melanjutkan waiting list berikutnya seperti mematangkan program-program KKN dan mempersiapkan Proposal Skripsi!!

Create your own at MyNiceSpace.com

April 9, 2009

Menjadi Demos dalam Ajang Pemilu

Filed under: my zone — by Ardaiyene @ 12:29 pm

Sudahkan Anda Menyontreng Hari ini?

Yup, akhirnya tiba juga saatnya bagi warga negara Republik Indonesia untuk menggunakan hak pilihnya pada Pemilu Legislatif yang jatuh tepat hari ini, tanggal 9 April 2009. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Namun ,saya menemukan ironi. Di hari di mana setiap individu dengan persyaratan seorang pemilih yang sudah selayaknya mempunyai hak pilih, namun saya masih menemukan banyak orang yang cenderung untuk menjadi Golongan Putih (Golput: tidak memilih). Ketika ia berhak dan available untuk memilih banyak orang yang justru golput. Di satu sisi, banyak orang juga yang ingin menggunakan hak pilihnya tetapi justru mereka tidak terdaftar di dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Ironi sekali..

Pemilu yang merupakan pesta demokrasi terbesar di dalam suatu negara yang mencitrakan dirinya sebagai negara yang demokratis memang sudah sepatutnya ditanggapi sebagai hal yang positif, yaitu sebagai wadah menyalurkan aspirasi. Adanya aksi dari sebagian pihak yang tidak ikut ‘menyontreng’ karena alasan males, tidak mengenal calon legislatifnya, atau apapun itu sebenarnya menunjukkan bahwa mereka belum bisa menjadi ‘demos’ yang seutuhnya.

Pengertian ‘Demos’ menurut Dosenku dari Ilmu Pemerintahan UGM adalah warga negara yang secara aktif berpolitik. Pemilu adalah salah satu sarana di mana setiap warga negara diberikan hak untuk berpolitik dengan cara memilih anggota perwakilannya di Legislatif. Menurut saya dengan berpartisipasi di dalam Pemilu setidaknya sudah ada upaya untuk menjadi Demos yang baik di dalam suatu negara yang Demokratis. Kata ‘demokrasi’ itu sendiri sebenarnya berasal dari dua kata yaitu ‘demos’ dan ‘crete’, di mana ‘demos’ adalah warga negara yang aktif berpolitik, dan ‘crete’ itu sendiri adalah negara. Jadi, jika digabungkan demokrasi itu sendiri mempunyai makna kurang lebih adalah negara dengan warga yang aktif berpolitik. So, kalau emang Indonesia adalah negara yang menerapkan demokrasi atau bisa juga disebut sebagai negara yang demokratis, maka mengapa masih banyak warga yang tidak sadar berpolitik, walau politik yang sangat sederhana sekalipun di dalam Pemilihan Umum – hanya memberikan suara dalam pemilihan wakil rakyat, belum sampai pada politik praktis atau politik dalam level negara atau internasional.

Bagi yang masih berhalangan untuk menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu Legislatif sekarang ini, mungkin dapat memanfaatkan hak pilihnya pada Pemilu Presiden pada bulan Juli mendatang. Diharapkan semua warga yang telah memenuhi syarat menjadi seorang Pemilih dapat menggunakan hak pilihnya untuk kemajuan bangsa bersama. Berpartisipasilah dalam Pemilu karena di sini kita yang menentukan bangsa kita dan melalui inilah kita dapat sadar politik, mencoba menjadi the real Demos dalam Pemilu.

Perjalananku Menuju Persyaratan Log In KKN-PPM UGM 2009 (Day 3-Finished)

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 12:06 pm


Rabu, 08 April 2009

Mau tak mau daku harus kembali mendatangi GMC untuk benar-benar cek kesehatan di sana. Jam 8 pagi pun saya sudah berangkat dari rumah. Dan ya.. sama seperti kemarin, GMC pun juga sudah ramai. Ketika saya datang pun, mahasiswa yang telah mengambil blangko pemeriksaan kemarin telah mengumpulkannya di meja petugas di Sayap Selatan dari Gedung GMC. Sudah ada setumpuk sendiri dan mahasiswa pun juga sudah pada duduk-duduk di sana menunggu untuk dipanggil. Padahal pelayanan baru dibuka jam 10 pagi..

Apa daya, saya pun mengikuti arus saja dengan menumpuk berkasku di sana. Dan menunggulah saya. Sebenarnya sembari menunggu saya sudah berencana dengan teman satu KKN saya untuk membahas masalah program dan anggaran KKN di GMC. Tetapi entah kenapa sejak dia pergi makan dengan temannya rencana itu pun jadi pupus. Ya.. jangan salahkan bunda mengandung lah kalau gitu…

Akhirnya saya duduk kalem aja di sana walaupun sebelum itu ada pengumuman dari salah satu pihak GMC yang mengatakan bahwa akan lebih baik jika mahasiswa datangnya siang atau sore saja, jadi tidak perlu mengantri dan berdiri lama panas-panas di luar. Mereka juga meyakinkan dan menjamin mahasiswa bahwa mahasiswa akan tetap dilayani sesuai dengan nomor blangko hari itu sampai jam 4 sore. Secara tidak langsung pernyataan beliau itu sebenarnya menyuruh kita pulang dan datanglah siang atau sore hari ketika GMC sudah tidak penuh melayani mahasiswa KKN. Seketika itu saya tiba-tiba mendengar celetukan dari seorang mahasiswa yang turut berdiri di bawah tenda itu mengatakan: “Seandainya semua mahasiswa berfikiran sama seperti itu (jam 12 siang GMC sudah lengang dan akses diperiksa menjadi mudah dan cepat), sama aja kan GMC akan penuh lagi?” Hahahaha.. saya cuma tertawa kecil saja mendengar dia ngomong seperti itu. Memang ada benarnya juga…

Tetapi, berhubung saya sudah datang, sudah mengumpulkan, sedang tidak ada kuliah antara jam 09.00-11.00, available to wait, ya sudah bersabarlah daku di sana. Menunggu dan menunggu.. akhirnya dipanggil juga mahasiswanya untuk mulai periksa kesehatan. Great!! Sampai nama saya dipanggil, saya coba ikuti alur pemeriksaannya. Ternyata cuma dua tahap: pertama periksa tensi dan kedua periksa kesehatan di ruang periksa dokter yang seluruh prosesnya tidak lebih dari 5 menit. Yang lama cuma ngantrinya aja… Hadoooo, kalau inget gemana kita-kita pada ngantri di luar kayaknya ga sebanding amat dah!!

Setelah seluruh proses pemeriksaan saya lalui, keluarlah saya dari GMC dan langsung ke kampus. Ga pake nunggu ini dan itu. haha.. Cepat kelar cepat nyantai. Setelah menyerahkan bukti pemeriksaan GMC dan slip pembayaran BNI ke Front Office Fakultas, saya mendapatkan username dan password yang ternyata itu adalah nomor urut universitas kita. Huaaaaaa… tapi tetap saya prosedur penyerahan bukti GMC dan BNI perlu dilakukan untuk mengaktifkan account kita di website LPPM ketika ingin Log In.

Alhamdulillah saya mendapat tempat dan teman untuk membuka Laptop di Kampus. Rencana awal ingin ke Perpus S2, tetapi khawatir wifinya tidak stabil jadi cari tempat di Fisipol dulu. Dan untungnya dapat. Ketika mau Log In pun dibantu oleh teman, bener-bener dituntun cara ngisinya sampai saya benar-benar terdaftar dan memilih tema KKN. Wow.. Everything went easily at that time.. Thanks God!!

Akhirnya, berakhir juga perjalananku tiga hari untuk bisa Log In KKN-PPM. Cukup melelahkan.. Sampai suka panas dingin sendiri..

But, Thanks God, I’m Done!!

April 7, 2009

Perjalananku Memenuhi Persyaratan Log In KKN-PPM UGM 2009 (Day 2)

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 1:58 pm

Rencana awal untuk melakukan cek kesehatan di GMC adalah dengan datang ke GMC jam 11 Siang. Tetapi, dari jam 8 pagi saya sudah mendapat pesan singkat dari teman saya bahwa GMC akan membuka pelayanan cek kesehatan mahasiswa KKN jam 10 pagi. Dwaaaannngggggg…. Bagus sih, dimajuin. Tapi, sialnya ane baru mau nyiapin makan pagi dan belum mandi pula! Alhasil gerak cepat saja pagi ini..

Sebelum ke GMC saya menjemput Tiara di Kampus. Setelah itu baru ke GMC bersama-sama. Haha.. sudah kuduga.. setelah sampai Boulevard aroma keramaian sudah terlihat di depan Gelanggang dengan banyaknya parkiran sepeda motor. Ternyata parkir sepeda motor dipindahkan sampai di depan Gelanggang biar tidak memenuhi akses kendaraan yang ‘berkepentingan’ saja yang dapat melewati jalan sekitar GMC.

Oo.. Wow… setelah kami berjalan mendekati Gedung GMC, ternyata telah ada antrian mahasiswa yang panjaaaaaaaannggg banget. Lebih panjang daripada hari pertama, tapi setidaknya lebih teratur dan mencerminkan ketenangan dibanding dengan hari pertama. Panjangnya antrian mahasiswa yang terpola menjadi dua jalur itu bisa sampai kafetaria, kantin, dan bahkan masuk ke dalam kantin itu. hahaha… Antrian macam apa ini kok bisa ada di UGM?? Selama menjadi mahasiwa, say a sepertinya baru kali ini antri di UGM sebegini panjangnya… ckckckckck..

Ketika saya dan Tiara mengantri di ujung belakang antrian.. Huhuuu...

Ketika saya dan Tiara mengantri di ujung belakang antrian.. Huhuuu...

Ya sudah, antrilah aku dan Tiara di ujung.. deket kantin (untung belum sampe masuk ke dalam kantin antriannya..). Ngantri pun sambil keheranan sama GMC dan LPPM.. Kok bisa ya antrian buat cek kesehatan aja sampe sepanjang itu (50 meter ada kali). Dan mulailah mahasiswa yang ngantri memberikan alternatif-alternatif seperti, “seharusnya GMC itu…. ke RS yang dirujuk”, “Kenapa ga di GSP aja sih?..yang lebih nyaman dan ga kepanasan gini..”. Yang ada dalam antrian hanya keluhan dan harapan agar cepat bisa diperiksa dan selesai. Terlebih, panas banget! Yang bawa payung langsung dibuka payungnya. Yang gak bawa payung, pake jaket atau kaos cadangan buat nutupin kepala mereka. Haha.. kalau si Tiara, sampe beli minum dulu terus di tengah-tengah antrian sempat nelpon temannya minta dibawain payung. Sampe segitunya kan? Panas banget je.. dan dalam antrian yang panjang itu, setiap langkah benar-benar begitu berharga…

Rasanya seneng banget ketika antrian kami sudah nyampe hampir di depan loket pendaftarannya. Tetapi ternyata tiba-tiba rasa seneng itu terganggu dengan adanya pengumuman yang sedang ditempel oleh petugas GMC di dinding-dinding GMC yang memberitahukan bahwa untuk hari Selasa ini pelayanan cek kesehatan mahasiswa KKN hanya akan dilayani sampai blangko nomor 1500 saja. WADUH!!!! Aku dan Tiara langsung saling tatap dan “kira-kira antrian kita sampai 1500 ga ya??” Wah.. gila aja kalau udah ngantri panjang dan panas-panas kayak gini tapi ternyata udah ga masuk quota 1500 itu. Wah-wah.. aku dan Tiara udah mulai mengumpat lagi!! Sial-sial-sial!!

Eh, dan ternyata benar. Timur, teman kita, yang ngantri rada jauh di depan kita ternyata mendapat blangko nomor 1800-an. Dan Tiara tiba-tiba tanya ke Timur: “Kamu periksanya di dalam sana ya Tim?”, dan Timur menjawab, “Aku belum, lha ini dapat nomor 1800-an, kamu udah tau kan kalau hari ini Cuma sampai 1500?”. Hahahaha.. aku dan Tiara kembali menatap dan mencoba menahan emosi.. Huff!!! Pembodohan massal… Kenapa itu pengumuman baru ditempel hari ini? Dan kenapa baru pas kami udah mau nyampe ke depan baru dibatasin quotanya? Walah!!! Mau KKN ribet banget ya??

Ya sudah, akhirnya kami tetap mengantri dan mengambil blangko yang sudah bernomor 1900-an. Untungnya nomor tersebut masih masuk quota untuk hari Rabu. Jadi, kita bisa balik lagi hari Rabu untuk diperiksa. Kalau ga salah menurut quotanya itu besok ada sekitar 500 mahasiswa yang diperiksa perharinya.

Mau kayak gemana sistem pemeriksaannya dan aturan mainnya? Kita lihat saja besok!! It must be another surprise!!

(Hari ini kami telah menghabiskan waktu 1 jam 45 menit untuk mengantri dan berhasil mendapatkan blangko sampai akhirnya balik lagi ke Kampus).

 

April 6, 2009

Perjalananku Memenuhi Persyaratan Log In KKN-PPM UGM 2009 (Day 1)

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 1:39 pm

Wew… It’s not an easy thing!

Mungkin itu pernyataan pertamaku untuk mengawali tulisanku ini.

Dibalik pernyataan itu sebenarnya masih mengendap perasaan gelisah, tidak jelas, repot banget, dan tentunya marmos (bikin emosi) terhadap segala hal yang tidak jelas terkait dengan prosedur KKN antarsemester kali ini. Namun, sebagai mahasiswa yang baik saya mencoba untuk menjalaninya saja.. (yaah, namanya juga mahasiswa!)

So, hari ini sudah dimulai saatnya untuk mengurus adminsitrasi KKN antarsemester 2009 secara individu (permahasiswa). Mengurus administrasi KKN ini dimulai dari melakukan pembayaran tunai ke Rektor UGM di BNI 46, lalu cek kesehatan di GMC, lalu meminta password ke fakultas masing-masing biar bisa melakukan ‘log in’ secara online di website LPPM (Lembaga yang menangani KKN di UGM).

Dengan segala ketidakjelasan dan ketimpangsiuran yang ada, sebenarnya sudah dapat diterka kalau besok BNI 46 Durian Runtuh (istilah dari temanku, dan ayo kita gunakan istilah itu untuk merujuk pada BNI yang di depan Bank Mandiri, Sekip) bakal penuh banget. Apalagi sebelum hari ini saya sudah mendengar strategi dari teman-teman untuk mendatangi BNI itu rame-rame dan pagi-pagi.. Berhubung saya ada kuliah pagi jam 07.30, alhasil saya baru bisa melakukan pembayaran tersebut setelah jam 09.30. Dan kebetulan saya sudah janjian sama teman satu KKN saya.

Alhamdulillah, sebelum kita ngacir ke BNI Durian Runtuh itu untuk membayar di sana atau sekedar ambil slip pembayarannya, ada salah satu teman kuliahku, Dilla namanya, yang memberiku slip kosongan pembayaran BNI dengan cuma-cuma dan tanpa saya minta. Thanks to Dilla (Oh.. baik sekaliiii..) Ternyata Dila baru dari sana dan mengambil banyak slip kosongan pembayaran BNI itu untuk teman-teman (se-KKNnya mungkin). Berhubung, sudah ada slip itu di tangan, akhirnya kita membayar KKN di BNI di Rektorat Gedung Pusat UGM alias tidak perlu ke BNI Durian Runtuh. Denger-denger baru datang mau parkir aja sudah diusir sama satpamnya.. Jadi Parno’ duluan mau ke sana.. hehehe Singkat cerita.. kami berhasil melakukan pembayaran KKN di BNI Rektorat dengan lancar tanpa halangan suatu apa pun. Sebenarnya ada cerita lucu sih waktu mau bayar ke Rektorat mengenai nomor rekeningnya. Tapi di-skip aja deh.. (*malu..)

Setelah selesai bayar, dari Rektorat kami bergegas ke untuk ke GMC, cek kesehatan di sana. Satu-satunya tempat yang dipercaya untuk menangani cek kesehatan bagi mahasiswa UGM yang akan mengikuti UGM adalah GMC ini-dapat dikatakan sebagai suatu klinik kesehatan UGM yang tempatnya tidak begitu besar. Tetapi, ketika sesampainya di sana ternyata pelayanan kesehatan untuk mahasiswa KKN baru dimulai jam 13.00 WIB. Padahal ketika itu baru jam 10.00 lebih. Alhasil kami sepakat untuk ketemu lagi di GMC sehabis Zuhur untuk cek kesehatan di sana. Temanku pergi, dan aku pun pulanglah ke rumah.. Maem!! hehe

Setelah Zuhur, aku balik lagi ke GMC. Tapi tidak sesuai dengan rencana awal yang ingin datang jam 12.30. Saya baru sampai ke GMC jam 13.05. Maklum ngisi bensin dulu. Dan taukah bagaimana situasi di sana? Wew… udah kayak ngantri sembako, ngantri Ponari, atau ngantri BLT ya? Ya.. salah satu dari itulah kira-kira… Saya saja sampai bingung mau parkir motor di mana. Setelah saya mendekat ke GMC, ternyata sudah banyak teman-teman saya yang mengantri dengan sabar tapi juga kepanasaan itu. Wah..wah.. rame banget dehh.. (sayang nih saya tidak punya fotonya). Setelah menimbang-nimbang (ngantri ga ya?-ngantri ga ya?) sambil melihat situasi yang ada, akhirnya aku memutuskan untuk mengantrinya esok hari dengan datang lebih awal, 11.00 mungkin.

Isu yang muncul dari kebijakan yang keluar dari LPPM telah menimbulkan berbagai asumsi yang menyebabkan mahasiswa menyerbu BNI ataupun GMC secara massive. Fist come-first place yang awalnya ditetapkan sebagai aturan main ‘log in‘ mahasiswa KKN telah menyebabkan mahasiswa untuk bercepat-cepat melakukan prosedur administrasi KKN sehingga nantinya bisa cepat ‘log in‘ dengan harapan dapat memilih tema atau sub-tema yang telah dirancangnya (tidak kesalip oleh mahasiswa lain, karena ada quota perunit-yaitu maksimal 30 mahasiswa perunit). Dengan aturan main seperti ini saja sudah sangat wajar sekali jika mahasiswa berlomba-lomba, tergesa-gesa, atau apalah itu untuk bisa come fist to get the first place (they want).

Anehnya, setelah saya pulang dan mengecek kembali website LPPM, ternyata ada ketentuan baru yang intinya mencabut ketentuan first come-first place. Hohoho.. dan informasi itu ternyata baru ada di website LPPM jam 11 Siang.. di mana sudah banyak mahasiswa yang mengantri di luar GMC yang notabene pelayanannya baru dibuka jam 13.00. Wuuuiiihh, bisa dibayangin kan ramenya kayak apa??

Situasi di GMC setelah jam 13.30 saya kurang tahu. Karena saya sudah balik ke Kampus dengan teman saya. Di perjalanan ke Kampus sampai ketika sudah berada di Kampus pun kami masih membicarakan KKN dan LPPM dengan keruwetan yang ada. Sesampainya di kampus pun teman-teman juga ribet ngurusin KKN. Wew.. benar-benar menyita perhatian sekali KKN tahun ini..

Tapi setidaknya dengan adanya ketentuan baru yang baru keluar jam 11 siang tadi sudah sedikit melegakan hati para mahasiswa yang akan KKN, karena ternyata LPPM telah menjamin bahwa tema/subtema KKN yang sudah masuk akan berisikan mahasiswa yang mengusulkannya, dalam artian mahasiswa lain yang tidak bertema atau bersubtemakan itu tidak dapat mendaftar. Artinya, kita-kita yang telah merancang tema ataupun proposal KKN kita selama ini dengan teman-teman KKN kita telah dijamin akan berada dalam satu unit KKN sesuai dengan yang ada di proposal KKN masing-masing. Wuuuiiiiiihhh, leganya..

Kalau dari dulu kayak gini kan, kita-kita ga perlu tergesa-gesa bayar atau ke GMC gerombolan, bikin jalan rame kayak hari ini? Dan kenapa juga ketentuan baru itu baru dikeluarin tengah hari? Karena asumsinya, siapa juga yang mau terdepak dari unit yang telah bersama-sama diusung bareng hingga berwujud sebuah proposal KKN Tematik gara-gara telat ‘log in‘?

Ya.. harapannya tahun depan agar diperjelas lagi apa pun kebijakan yang dimiliki dan tentunya dapat dipublikasikan kepada setiap fakultas yang ada sehingga tidak terjadi hal-hal yang membuat bingung, tidak jelas, dan sebagainya.

Yo..yo..yo..yo.. sekarang, siap-siap ngantri di GMC buat besok siang!! Semangat!!^^

March 23, 2009

Perbedaan EUROPEAN COUNCIL, EUROPEAN PARLIAMENT, dan EUROPEAN COMMISSION

Filed under: my zone — by Ardaiyene @ 6:21 pm

Jika kalian adalah orang yang sedang atau telah mempelajari Uni Eropa (UE), tentunya sering mendengar istilah European Council, European Parliament, dan European Commision. Ketiga istilah tersebut adalah institusi-institusi penting di UE. Mereka memengang peranan penting dalam, khususnya pengambilan keputusan di dalam UE.

Munculnya ketiga institusi utama di UE ini tidak lepas dari bentuk dari UE itu sendiri yang merupakan suatu organisasi supranasional. Menurut bacaan ‘The European Union at a Glance’, UE merupakan entitas otonomi yang berada pada posisi di antara negara federal dengan organisasi internasional. Secara legal, posisi tersebut disebut dengan istilah organisasi supranasional atau supranational organization.

Di dalam organisasi supranasional ini, setiap negara anggota tetap memiliki kedaulatan negaranya masing-masing, tetapi mereka menyatukan kedaulatannya itu guna mendapatkan kekuatan dan pengaruh kolektif yang lebih besar. Yang dimaksud dengan menyatukan kedaulatan di sini yaitu bahwa setiap negara anggota UE memberikan beberapa decision-making powers-nya ke shared institutions yang telah diciptakan. Dengan sistem seperti ini, maka keputusan di beberapa hal mengenai kepentingan bersama dapat dibuat secara demokratis di level Eropa.

Untuk melakukan dan mencapai hal tersebut, maka dibutuhkanlah beberapa institusi yang mana disebut sebagai shared institution UE. Ada tiga institusi utama dalam UE: Dewan Eropa (European Council), Parlemen Eropa (European Parliament), Komisi Eropa (European Commission).

Perbedaan ketiga institusi tersebut adalah sebagai berikut.

Dewan Eropa merupakan suatu institusi di UE yang mewakili keseluruhan negara anggota secara individu. Dewan Eropa awalnya disebut sebagai Dewan Para Menteri (Council of Ministers). Dewan Eropa terdiri dari para menteri dari setiap pemerintahan nasional anggota UE. Dan pertemuan yang diselenggarakan akan dihadiri oleh para menteri yang berkaitan atau cocok dengan isu yang akan dibahas. Setiap negara anggota mempunyai beberapa hak suara di Dewan Eropa sesuai dengan jumlah populasi negara tersebut. Sebagian besar keputusan diambil dengan cara suara terbanyak, namun untuk isu-isu sensitive seperti immigrasi, keamanan, dan lain-lain membutuhkan kebulatan suara. Dengan jadwal maksimal empat kali dalam satu tahun Presiden ataupun wakil presiden dari setiap negara anggota bertemu dalam sebagai Dewan Eropa. Basis dari Dewan Eropa ada di Brussels dan Luxembourg, tetapi pertemuan-pertemuan diadakan di negara yang menjabat sebagai Presiden Dewan Eropa saat itu.

Dewan Eropa bekerja sama dengan Parlemen Eropa dalam menggolkan atau meloloskan laws dan mengambil keputusan kebijakan. Dewan Eropa juga bertanggung jawab terhadap apa yang menjadi kebijakan luar negeri dan keamanan bersama UE, serta pada aksi UE terhadap isu keadilan dan kebebasan.

Dewan Eropa diketuai oleh seorang Presiden dari salah satu negara anggota UE selama periode 6 bulan secara bergantian. Untuk saat ini, Presiden dari Dewan Eropa adalah Presiden dari Republik Ceko, Mirek Topolanek. Dan Sekretaris Jenderal dari Dewan Eropa adalah Javier Solana dari Spanyol.

Parlemen Eropa merupakan institusi UE yang mewakili masyarakat UE yang anggotanya dipilih secara langsung oleh masyarakat di seluruh negara anggota Uni Eropa. Pemilihan anggota Parlemen Eropa dilakukan setiap 5 tahun sekali untuk mewakili apa yang menjadi kepentingan masyarakat UE. Dari 27 negara anggota yang ada, Parlemen Eropa mempunyai 785 anggota yang terbagi dalam tujuh group politik Eropa. Basis administrasi dari Parlemen Eropa adalah General Secretariat yang berada di Luxembourg. Pertemuan dari seluruh Parlemen Eropa dikenal dengan nama ‘Plenary Sessions’ yang berlangsung di Strasbourg (Perancis) dan terkadang di Brussels (Belgia).

Tugas utama dari Parlemen Eropa adalah untuk meloloskan hukum ataupun aturan-aturan Eropa (European laws). Dalam melakukan hal ini, Parlemen Eropa berbagi tanggung jawab dengan Dewan Eropa karena proposal of laws datang dari Dewan Eropa. Selain itu, Parlemen Eropa juga bertanggung jawab bersama Dewan Eropa dalam penyetujuan budget tahunan Eropa. Parlemen Eropa mempunyai kekuasaan untuk memecat Dewan Eropa dan Parlemen Eropa merupakan institusi yang memilih European Ombudsman-suatu badan Eropa yang menginvestigasi keluhan dari masyarakat Eropa mengenai maladminsitrasi di institusi-institusi Eropa.

Parlemen Eropa diketuai oleh seorang Presiden. Untuk saat ini Presiden dari Parlemen Eropa adalah Hans-Gert Pottering dari Jerman.

Komisi Eropa adalah institusi UE yang memegang kepentingan UE secara keseluruhan. Komisi Eropa dapat dikatakan sebagai the executive arm of the EU. Anggota dari Komisi Eropa ditunjuk setiap lima tahun, biasanya terdiri dari 27 wanita dan pria yang berasal dari seluruh negara anggota UE secara merata. Presiden dari Komisi Eropa dipilih Pemerintah UE dan disokong oleh Parlemen Eropa. Pekerjaan sehari-hari dari Komisi Eropa dilakukan oleh kurang lebih 25.000 pegawai yang sebagian besar bekerja di Brussels sebagai basis dari Komisi Eropa. Komisi Eropa mempunyai perwakilan di setiap negara anggota UE dan delegasi di banyak ibu kota negara di seluruh dunia.

Komisi Eropa bertugas untuk menyusun draft proposal perturan (laws) yang baru yang nantinya akan dipresentasikan ke Parlemen Eropa dan Dewan Eropa. Komisi Eropa juga mengatur bagaimana urusan keseharian dari pengimpelentasian dari kebijakan UE serta pengeluaran anggaran UE. Komisi Eropa juga turut mengawasi bagaimana perjanjian-perjanjian Eropa dipatuhi oleh semua orang yang terikat padanya. Komisi Eropa dapat bertindak keras dan tegas kepada siapa pun yang berkewajiban mematuhi aturan tetapi mereka tidak mematuhinya. Dalam hal ini, Komisi Eropa bahkan dapat membawanya ke Pengadilan jika diperlukan.

Presiden dari Komisi Eropa saat ini adalah Jose Manuel Barroso dari Portugal.

____

Sumber: artikel ‘The European Union at a Glance‘ dan ‘How the European Union Works‘.

March 18, 2009

Mengapa Wanita?

Filed under: my zone — by Ardaiyene @ 3:41 pm

Sebenarnya di awal-awal kuliah ‘Gender & Politik’, ketika saya mulai memahami perbedaan sex dan gender dan sedikit memasuki penjelasan mengenai teori yang digunakan untuk menganalisis gender, lantas saya jadi mempunyai satu pertanyaan simple yang cukup mendasar.

Mengapa fokus dari pembahasan gender adalah wanita?

Sebelum saya menemukan titik terang atas pertanyaan di dalam otakku itu, saya berfikir sendiri dan mencoba menelaah kembali apa yang dikatakan oleh Dosen Pengampu dari mata kuliah tersebut. Dalam pemaparannya di kelas-kelas sebelumnya beliau menerangkan bahwa gender itu sendiri adalah membicarakan masalah konstruksi sosial yang membedakan pria dengan wanita. Dalam penjelasan itu pun kita sudah dapat mengetahui bahwa aktor di dalam gender tidak hanya wanita, tetapi ada pria juga. Lantas, saya mulai berfikir, mengapa pria tidak dijadikan fokus juga? Atau mungkin gay/lesbian yang juga telah menyita perhatian masyarakat? Tetapi mengapa yang selalu diusung adalah wanita? Mengapa kesetaraan hak dan peluang yang selalu diusung adalah untuk wanita? Mengapa keadilan selalu diperioritaskan untuk wanita? Bagaimana dengan pria? Apakah pria selama ini telah merasa nyaman-nyaman saja sehingga tidak perlu mendapatkan tuntutan keadilan (lagi)? Bagaimana dengan fenomena pria rumah tangga? Apakah itu bukan bentuk ketidakadilan bagi pria? Mengapa itu juga tidak dijadikan fokus dalam pembahasan gender?

Inti dari urutan pertanyaan di atas sebenarnya adalah: mengapa wanita?

Ternyata setelah saya telaah kembali dan mencoba untuk menyimpulkan sendiri data-data yang telah saya dapatkan ternyata ada dua versi untuk menjawab pertanyaan itu. Yang pertama, adalah versi yang paling mudah, yaitu dengan menunjukkan data bahwa wanita memang pihak yang memerlukan perhatian lebih. Dan versi kedua yaitu versi jawaban yang sedikit akademis, yaitu dengan menganalisa peran wanita melalui perspektif atau teori yang ada.

Pertanyaan tersebut secara simple atau mudah dapat dijawab dengan menyodorkan data mengenai ketimpangan yang dialami oleh wanita dibanding dengan pria. Seperti yang telah saya utarakan dalam tulisan saya yang lalu, masalah gender adalah masalah mengenai ketimpangan yang ada antara pria dan wanita. Sebenarnya ada banyak data yang menyajikan hal tersebut. Salah satunya di sini saya akan menunjukkan data dari Fred Halliday yang menyatakan fakta sebagai berikut:

Jumlah wanita di dunia mencapai 51% dari total keseluruhan jumlah populasi dunia. Sepertiga (1/3) dari jumlah wanita itu mendapat imbalan kerjanya, sedangkan sisanya (2/3nya) tidak. Wanita telah mengupayakan 50% dari jumlah konsumsi pangan dunia. Tetapi, wanita hanya menerima 10% dari pendapatan global secara keseluruhan, wanita hanya memiliki 1% properti dunia, 60% wanita di dunia buta huruf dan 80% dari jumlah wanita di dunia adalah pengungsi. Jumlah wanita yang telah berhasil menjadi kepala negara atau menteri di dalam kabinet pemerintahan tidak lebih dari 5% dari total jumlah wanita di dunia.

Dengan melihat dan mengetahui data di atas, maka kita dapat sadar bahwa ternyata kondisi wanita di dunia sekarang ini sangat memprihatinkan. Dan karenanya wajar jika wanita menjadi fokus dari pembahasan gender. Data tersebut pun sebenarnya belum cukup untuk mendukung argumen bahwa wanita layak menjadi fokus dalam pembahasan gender. Data tersebut juga secara tidak langsung menunjukkan adanya diskriminasi terhadap wanita. Namun ada pula diskriminasi lainnya yang tidak tertuang dalam data statistik seperti di atas. Ada banyak tindakan diskriminasi lainnya yang dialami oleh wanita yang mana itu melanggar hak asasi wanita sebagai seorang wanita pula seperti pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan, dan sebagainya. Penyajian data seperti ini merupakan cara yang paling mudah untuk membuktikan bahwa wanita memang membutuhkan perjuangan, pembelaan, dan perkembangan bagi kesetaraan hak antara wanita dengan pria.

Jawaban versi kedua yaitu dengan penjelasan secara ilmiah atau akademik. Berpijak dari data yang ada, kita dapat mengetahui bahwa posisi wanita memang tidak setara dengan pria. Di sana juga menunjukkan adanya ketimpangan distribusi nilai-nilai kepada wanita yang menyebabkan wanita menjadi ter-subordinated dari pria. Hal ini dapat kita lihat sebagai sebuah konstruksi atau ciptaan dari lingkungan sosial yang ada. Sistem patriarki adalah contohnya. Sistem patriarki merupakan suatu sistem (yang tentunya juga sebuah konstruksi) yang menempatkan pria pada posisi dominan atau puncak, dan otomatis posisi wanita diabaikan, dan karenanya posisi dan peran wanita terbatasi atau termarjinalkan.

Jika dikaitkan dengan studi Hubungan Internasional, ada bebarapa quotes dari Robert Keohane yang menunjukkan wanita termarjinalkan, yaitu : “Feminist (theory) offers a critique of theories constructed by men who put themselves in the position of policy makers…” Statement dari Keohane ini telah menunjukkan kepada kita semua bahwa pria memang menempatkan diri mereka pada posisi yang strategis, yaitu sebagai pembuat kebijakan, yang mana di dalamnya terkandung maksud bahwa jikalau demikian maka wanita tidak mendapatkan posisi yang cukup penting untuk didengarkan. Dan karena itu teori feminisme lahir sebagai gerakan yang merespon dominasi pria yang selanjutnya mendiskriminasikan wanita. Statement dari Keohane yang lain yaitu : “Feminist critically examine IR form the standpoint of people who have been systematically excluded from power.” Dari statement ini yang dimaksud dari ‘people who have been systematically excluded from power’ adalah wanita. Wanita di dalam hubungan internasional pun termaksud aktor yang excluded from power / termarjinalkan. Karena itu pula feminisme lahir untuk meningkatkan power bagi wanita.

Jan Pettmen, memberikan quotes yang lebih mendalam lagi, yaitu : “the Study of International Relations has long been taught and theorized as if women were invisible: as if either there were no women in world politics, which was only men’s business…” Penggalan kalimat ‘as if women were invisible’ sangat jelas menunjukkan bahwa wanita yang notabene ada malah justru dianggap seolah-olah tidak ada di dalam hubungan internasional. Segala kegiatan yang berlangsung dianggap sebagai urusan pria, bukan urusan wanita. Wanita dianggap tidak penting dan tidak perlu dihiraukan. Begitula kira-kira maksud dari quotes di atas. Fred Halliday menambahkan quotes lain yang menguatkan hal ini, yaitu : “In conventional ideology, women are not suited for such responsibilities and cannot be relied on in matters of security and crisis”. Berbagai quotes tersebut jelas menunjukkan argument bahwa sebenarnya wanita dianggap invisible, pria menempati posisi strategis dan karenanya dapat berbuat banyak hal daripada wanita. Dalam perkembangan jaman ke depan, hal semacam ini dianggap sebagai suatu penyimpangan hak asasi manusia bagi wanita yang semakin lama semakin menggerus hak dan kehormatan wanita. Karena itu muncul berbagai perspektif atau teori seperti teori feminisme yang berfokus pada wanita karena adanya persepsi bahwa women have been marginalized, oppressed, and subjugated.

Dengan adanya dua versi jawaban ini, semoga dapat menjawab pertanyaan inti dari tulisan ini.

March 13, 2009

Dalam Kesendirian Ku Berada..

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 12:25 pm

Dalam kesendirian ku berada..

Pohon-pohon besar dan rindang itu berdiri tegak di samping kanan dan kiriku

Ranting dan daunnya memayungi atas langit kepalaku

Hijau.. Hijau dengan diselingi sinar matahari yang jatuh ke bumi

Memberikan suatu nuansa alam yang menarik mata

Memberikan suatu ketenangan di hati.

Kuberjalan setapak demi setapak

Kumelihat di sekelilingku

Apa yang orang-orang lakukan di sana..

Berbincang di sebuah kursi taman,

Bersenda gurau dengan sahabat,

Berjalan dengan orang yang dikasihinya..

Dan kusadari..

Betapa bahagianya mereka

Kuserpihkan senyum untuknya..

Lalu, aku kembali melihat jalanku

Ku kembali berjalan, lalu..

Kurentangkan kedua tanganku

Kututup mataku

Dan kuhirup segarnya udara itu

Ketika angin begitu lembut menyisir rambutku, menerpa tubuhku

Aku sadar bahwa aku menyukainya

Aku biarkan alam memelukku..

Dan aku tersenyum

Serasa hanyut dalam belaian lembut Sang Pencipta

Alam kembali menyapa

Dengan desiran anginnya yang memecah kesunyian

Dengan ranting daun yang melambai

Dengan seberkas matahari yang jatuh lembuh di wajahku

Dengan ketenangan hati yang tercipta

Kusadari bahwa diriku

Mempunyai jalanku sendiri

Jalan di mana aku melangkah

Di sini…

Ke mana kakiku melangkah

Ku percaya, itulah jalan yang terbaik bagiku..


« Previous PageNext Page »

Powered by WordPress.com