Ardaiyene’s Weblog

April 6, 2009

Perjalananku Memenuhi Persyaratan Log In KKN-PPM UGM 2009 (Day 1)

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 1:39 pm

Wew… It’s not an easy thing!

Mungkin itu pernyataan pertamaku untuk mengawali tulisanku ini.

Dibalik pernyataan itu sebenarnya masih mengendap perasaan gelisah, tidak jelas, repot banget, dan tentunya marmos (bikin emosi) terhadap segala hal yang tidak jelas terkait dengan prosedur KKN antarsemester kali ini. Namun, sebagai mahasiswa yang baik saya mencoba untuk menjalaninya saja.. (yaah, namanya juga mahasiswa!)

So, hari ini sudah dimulai saatnya untuk mengurus adminsitrasi KKN antarsemester 2009 secara individu (permahasiswa). Mengurus administrasi KKN ini dimulai dari melakukan pembayaran tunai ke Rektor UGM di BNI 46, lalu cek kesehatan di GMC, lalu meminta password ke fakultas masing-masing biar bisa melakukan ‘log in’ secara online di website LPPM (Lembaga yang menangani KKN di UGM).

Dengan segala ketidakjelasan dan ketimpangsiuran yang ada, sebenarnya sudah dapat diterka kalau besok BNI 46 Durian Runtuh (istilah dari temanku, dan ayo kita gunakan istilah itu untuk merujuk pada BNI yang di depan Bank Mandiri, Sekip) bakal penuh banget. Apalagi sebelum hari ini saya sudah mendengar strategi dari teman-teman untuk mendatangi BNI itu rame-rame dan pagi-pagi.. Berhubung saya ada kuliah pagi jam 07.30, alhasil saya baru bisa melakukan pembayaran tersebut setelah jam 09.30. Dan kebetulan saya sudah janjian sama teman satu KKN saya.

Alhamdulillah, sebelum kita ngacir ke BNI Durian Runtuh itu untuk membayar di sana atau sekedar ambil slip pembayarannya, ada salah satu teman kuliahku, Dilla namanya, yang memberiku slip kosongan pembayaran BNI dengan cuma-cuma dan tanpa saya minta. Thanks to Dilla (Oh.. baik sekaliiii..) Ternyata Dila baru dari sana dan mengambil banyak slip kosongan pembayaran BNI itu untuk teman-teman (se-KKNnya mungkin). Berhubung, sudah ada slip itu di tangan, akhirnya kita membayar KKN di BNI di Rektorat Gedung Pusat UGM alias tidak perlu ke BNI Durian Runtuh. Denger-denger baru datang mau parkir aja sudah diusir sama satpamnya.. Jadi Parno’ duluan mau ke sana.. hehehe Singkat cerita.. kami berhasil melakukan pembayaran KKN di BNI Rektorat dengan lancar tanpa halangan suatu apa pun. Sebenarnya ada cerita lucu sih waktu mau bayar ke Rektorat mengenai nomor rekeningnya. Tapi di-skip aja deh.. (*malu..)

Setelah selesai bayar, dari Rektorat kami bergegas ke untuk ke GMC, cek kesehatan di sana. Satu-satunya tempat yang dipercaya untuk menangani cek kesehatan bagi mahasiswa UGM yang akan mengikuti UGM adalah GMC ini-dapat dikatakan sebagai suatu klinik kesehatan UGM yang tempatnya tidak begitu besar. Tetapi, ketika sesampainya di sana ternyata pelayanan kesehatan untuk mahasiswa KKN baru dimulai jam 13.00 WIB. Padahal ketika itu baru jam 10.00 lebih. Alhasil kami sepakat untuk ketemu lagi di GMC sehabis Zuhur untuk cek kesehatan di sana. Temanku pergi, dan aku pun pulanglah ke rumah.. Maem!! hehe

Setelah Zuhur, aku balik lagi ke GMC. Tapi tidak sesuai dengan rencana awal yang ingin datang jam 12.30. Saya baru sampai ke GMC jam 13.05. Maklum ngisi bensin dulu. Dan taukah bagaimana situasi di sana? Wew… udah kayak ngantri sembako, ngantri Ponari, atau ngantri BLT ya? Ya.. salah satu dari itulah kira-kira… Saya saja sampai bingung mau parkir motor di mana. Setelah saya mendekat ke GMC, ternyata sudah banyak teman-teman saya yang mengantri dengan sabar tapi juga kepanasaan itu. Wah..wah.. rame banget dehh.. (sayang nih saya tidak punya fotonya). Setelah menimbang-nimbang (ngantri ga ya?-ngantri ga ya?) sambil melihat situasi yang ada, akhirnya aku memutuskan untuk mengantrinya esok hari dengan datang lebih awal, 11.00 mungkin.

Isu yang muncul dari kebijakan yang keluar dari LPPM telah menimbulkan berbagai asumsi yang menyebabkan mahasiswa menyerbu BNI ataupun GMC secara massive. Fist come-first place yang awalnya ditetapkan sebagai aturan main ‘log in‘ mahasiswa KKN telah menyebabkan mahasiswa untuk bercepat-cepat melakukan prosedur administrasi KKN sehingga nantinya bisa cepat ‘log in‘ dengan harapan dapat memilih tema atau sub-tema yang telah dirancangnya (tidak kesalip oleh mahasiswa lain, karena ada quota perunit-yaitu maksimal 30 mahasiswa perunit). Dengan aturan main seperti ini saja sudah sangat wajar sekali jika mahasiswa berlomba-lomba, tergesa-gesa, atau apalah itu untuk bisa come fist to get the first place (they want).

Anehnya, setelah saya pulang dan mengecek kembali website LPPM, ternyata ada ketentuan baru yang intinya mencabut ketentuan first come-first place. Hohoho.. dan informasi itu ternyata baru ada di website LPPM jam 11 Siang.. di mana sudah banyak mahasiswa yang mengantri di luar GMC yang notabene pelayanannya baru dibuka jam 13.00. Wuuuiiihh, bisa dibayangin kan ramenya kayak apa??

Situasi di GMC setelah jam 13.30 saya kurang tahu. Karena saya sudah balik ke Kampus dengan teman saya. Di perjalanan ke Kampus sampai ketika sudah berada di Kampus pun kami masih membicarakan KKN dan LPPM dengan keruwetan yang ada. Sesampainya di kampus pun teman-teman juga ribet ngurusin KKN. Wew.. benar-benar menyita perhatian sekali KKN tahun ini..

Tapi setidaknya dengan adanya ketentuan baru yang baru keluar jam 11 siang tadi sudah sedikit melegakan hati para mahasiswa yang akan KKN, karena ternyata LPPM telah menjamin bahwa tema/subtema KKN yang sudah masuk akan berisikan mahasiswa yang mengusulkannya, dalam artian mahasiswa lain yang tidak bertema atau bersubtemakan itu tidak dapat mendaftar. Artinya, kita-kita yang telah merancang tema ataupun proposal KKN kita selama ini dengan teman-teman KKN kita telah dijamin akan berada dalam satu unit KKN sesuai dengan yang ada di proposal KKN masing-masing. Wuuuiiiiiihhh, leganya..

Kalau dari dulu kayak gini kan, kita-kita ga perlu tergesa-gesa bayar atau ke GMC gerombolan, bikin jalan rame kayak hari ini? Dan kenapa juga ketentuan baru itu baru dikeluarin tengah hari? Karena asumsinya, siapa juga yang mau terdepak dari unit yang telah bersama-sama diusung bareng hingga berwujud sebuah proposal KKN Tematik gara-gara telat ‘log in‘?

Ya.. harapannya tahun depan agar diperjelas lagi apa pun kebijakan yang dimiliki dan tentunya dapat dipublikasikan kepada setiap fakultas yang ada sehingga tidak terjadi hal-hal yang membuat bingung, tidak jelas, dan sebagainya.

Yo..yo..yo..yo.. sekarang, siap-siap ngantri di GMC buat besok siang!! Semangat!!^^

March 23, 2009

Perbedaan EUROPEAN COUNCIL, EUROPEAN PARLIAMENT, dan EUROPEAN COMMISSION

Filed under: my zone — by Ardaiyene @ 6:21 pm

Jika kalian adalah orang yang sedang atau telah mempelajari Uni Eropa (UE), tentunya sering mendengar istilah European Council, European Parliament, dan European Commision. Ketiga istilah tersebut adalah institusi-institusi penting di UE. Mereka memengang peranan penting dalam, khususnya pengambilan keputusan di dalam UE.

Munculnya ketiga institusi utama di UE ini tidak lepas dari bentuk dari UE itu sendiri yang merupakan suatu organisasi supranasional. Menurut bacaan ‘The European Union at a Glance’, UE merupakan entitas otonomi yang berada pada posisi di antara negara federal dengan organisasi internasional. Secara legal, posisi tersebut disebut dengan istilah organisasi supranasional atau supranational organization.

Di dalam organisasi supranasional ini, setiap negara anggota tetap memiliki kedaulatan negaranya masing-masing, tetapi mereka menyatukan kedaulatannya itu guna mendapatkan kekuatan dan pengaruh kolektif yang lebih besar. Yang dimaksud dengan menyatukan kedaulatan di sini yaitu bahwa setiap negara anggota UE memberikan beberapa decision-making powers-nya ke shared institutions yang telah diciptakan. Dengan sistem seperti ini, maka keputusan di beberapa hal mengenai kepentingan bersama dapat dibuat secara demokratis di level Eropa.

Untuk melakukan dan mencapai hal tersebut, maka dibutuhkanlah beberapa institusi yang mana disebut sebagai shared institution UE. Ada tiga institusi utama dalam UE: Dewan Eropa (European Council), Parlemen Eropa (European Parliament), Komisi Eropa (European Commission).

Perbedaan ketiga institusi tersebut adalah sebagai berikut.

Dewan Eropa merupakan suatu institusi di UE yang mewakili keseluruhan negara anggota secara individu. Dewan Eropa awalnya disebut sebagai Dewan Para Menteri (Council of Ministers). Dewan Eropa terdiri dari para menteri dari setiap pemerintahan nasional anggota UE. Dan pertemuan yang diselenggarakan akan dihadiri oleh para menteri yang berkaitan atau cocok dengan isu yang akan dibahas. Setiap negara anggota mempunyai beberapa hak suara di Dewan Eropa sesuai dengan jumlah populasi negara tersebut. Sebagian besar keputusan diambil dengan cara suara terbanyak, namun untuk isu-isu sensitive seperti immigrasi, keamanan, dan lain-lain membutuhkan kebulatan suara. Dengan jadwal maksimal empat kali dalam satu tahun Presiden ataupun wakil presiden dari setiap negara anggota bertemu dalam sebagai Dewan Eropa. Basis dari Dewan Eropa ada di Brussels dan Luxembourg, tetapi pertemuan-pertemuan diadakan di negara yang menjabat sebagai Presiden Dewan Eropa saat itu.

Dewan Eropa bekerja sama dengan Parlemen Eropa dalam menggolkan atau meloloskan laws dan mengambil keputusan kebijakan. Dewan Eropa juga bertanggung jawab terhadap apa yang menjadi kebijakan luar negeri dan keamanan bersama UE, serta pada aksi UE terhadap isu keadilan dan kebebasan.

Dewan Eropa diketuai oleh seorang Presiden dari salah satu negara anggota UE selama periode 6 bulan secara bergantian. Untuk saat ini, Presiden dari Dewan Eropa adalah Presiden dari Republik Ceko, Mirek Topolanek. Dan Sekretaris Jenderal dari Dewan Eropa adalah Javier Solana dari Spanyol.

Parlemen Eropa merupakan institusi UE yang mewakili masyarakat UE yang anggotanya dipilih secara langsung oleh masyarakat di seluruh negara anggota Uni Eropa. Pemilihan anggota Parlemen Eropa dilakukan setiap 5 tahun sekali untuk mewakili apa yang menjadi kepentingan masyarakat UE. Dari 27 negara anggota yang ada, Parlemen Eropa mempunyai 785 anggota yang terbagi dalam tujuh group politik Eropa. Basis administrasi dari Parlemen Eropa adalah General Secretariat yang berada di Luxembourg. Pertemuan dari seluruh Parlemen Eropa dikenal dengan nama ‘Plenary Sessions’ yang berlangsung di Strasbourg (Perancis) dan terkadang di Brussels (Belgia).

Tugas utama dari Parlemen Eropa adalah untuk meloloskan hukum ataupun aturan-aturan Eropa (European laws). Dalam melakukan hal ini, Parlemen Eropa berbagi tanggung jawab dengan Dewan Eropa karena proposal of laws datang dari Dewan Eropa. Selain itu, Parlemen Eropa juga bertanggung jawab bersama Dewan Eropa dalam penyetujuan budget tahunan Eropa. Parlemen Eropa mempunyai kekuasaan untuk memecat Dewan Eropa dan Parlemen Eropa merupakan institusi yang memilih European Ombudsman-suatu badan Eropa yang menginvestigasi keluhan dari masyarakat Eropa mengenai maladminsitrasi di institusi-institusi Eropa.

Parlemen Eropa diketuai oleh seorang Presiden. Untuk saat ini Presiden dari Parlemen Eropa adalah Hans-Gert Pottering dari Jerman.

Komisi Eropa adalah institusi UE yang memegang kepentingan UE secara keseluruhan. Komisi Eropa dapat dikatakan sebagai the executive arm of the EU. Anggota dari Komisi Eropa ditunjuk setiap lima tahun, biasanya terdiri dari 27 wanita dan pria yang berasal dari seluruh negara anggota UE secara merata. Presiden dari Komisi Eropa dipilih Pemerintah UE dan disokong oleh Parlemen Eropa. Pekerjaan sehari-hari dari Komisi Eropa dilakukan oleh kurang lebih 25.000 pegawai yang sebagian besar bekerja di Brussels sebagai basis dari Komisi Eropa. Komisi Eropa mempunyai perwakilan di setiap negara anggota UE dan delegasi di banyak ibu kota negara di seluruh dunia.

Komisi Eropa bertugas untuk menyusun draft proposal perturan (laws) yang baru yang nantinya akan dipresentasikan ke Parlemen Eropa dan Dewan Eropa. Komisi Eropa juga mengatur bagaimana urusan keseharian dari pengimpelentasian dari kebijakan UE serta pengeluaran anggaran UE. Komisi Eropa juga turut mengawasi bagaimana perjanjian-perjanjian Eropa dipatuhi oleh semua orang yang terikat padanya. Komisi Eropa dapat bertindak keras dan tegas kepada siapa pun yang berkewajiban mematuhi aturan tetapi mereka tidak mematuhinya. Dalam hal ini, Komisi Eropa bahkan dapat membawanya ke Pengadilan jika diperlukan.

Presiden dari Komisi Eropa saat ini adalah Jose Manuel Barroso dari Portugal.

____

Sumber: artikel ‘The European Union at a Glance‘ dan ‘How the European Union Works‘.

March 18, 2009

Mengapa Wanita?

Filed under: my zone — by Ardaiyene @ 3:41 pm

Sebenarnya di awal-awal kuliah ‘Gender & Politik’, ketika saya mulai memahami perbedaan sex dan gender dan sedikit memasuki penjelasan mengenai teori yang digunakan untuk menganalisis gender, lantas saya jadi mempunyai satu pertanyaan simple yang cukup mendasar.

Mengapa fokus dari pembahasan gender adalah wanita?

Sebelum saya menemukan titik terang atas pertanyaan di dalam otakku itu, saya berfikir sendiri dan mencoba menelaah kembali apa yang dikatakan oleh Dosen Pengampu dari mata kuliah tersebut. Dalam pemaparannya di kelas-kelas sebelumnya beliau menerangkan bahwa gender itu sendiri adalah membicarakan masalah konstruksi sosial yang membedakan pria dengan wanita. Dalam penjelasan itu pun kita sudah dapat mengetahui bahwa aktor di dalam gender tidak hanya wanita, tetapi ada pria juga. Lantas, saya mulai berfikir, mengapa pria tidak dijadikan fokus juga? Atau mungkin gay/lesbian yang juga telah menyita perhatian masyarakat? Tetapi mengapa yang selalu diusung adalah wanita? Mengapa kesetaraan hak dan peluang yang selalu diusung adalah untuk wanita? Mengapa keadilan selalu diperioritaskan untuk wanita? Bagaimana dengan pria? Apakah pria selama ini telah merasa nyaman-nyaman saja sehingga tidak perlu mendapatkan tuntutan keadilan (lagi)? Bagaimana dengan fenomena pria rumah tangga? Apakah itu bukan bentuk ketidakadilan bagi pria? Mengapa itu juga tidak dijadikan fokus dalam pembahasan gender?

Inti dari urutan pertanyaan di atas sebenarnya adalah: mengapa wanita?

Ternyata setelah saya telaah kembali dan mencoba untuk menyimpulkan sendiri data-data yang telah saya dapatkan ternyata ada dua versi untuk menjawab pertanyaan itu. Yang pertama, adalah versi yang paling mudah, yaitu dengan menunjukkan data bahwa wanita memang pihak yang memerlukan perhatian lebih. Dan versi kedua yaitu versi jawaban yang sedikit akademis, yaitu dengan menganalisa peran wanita melalui perspektif atau teori yang ada.

Pertanyaan tersebut secara simple atau mudah dapat dijawab dengan menyodorkan data mengenai ketimpangan yang dialami oleh wanita dibanding dengan pria. Seperti yang telah saya utarakan dalam tulisan saya yang lalu, masalah gender adalah masalah mengenai ketimpangan yang ada antara pria dan wanita. Sebenarnya ada banyak data yang menyajikan hal tersebut. Salah satunya di sini saya akan menunjukkan data dari Fred Halliday yang menyatakan fakta sebagai berikut:

Jumlah wanita di dunia mencapai 51% dari total keseluruhan jumlah populasi dunia. Sepertiga (1/3) dari jumlah wanita itu mendapat imbalan kerjanya, sedangkan sisanya (2/3nya) tidak. Wanita telah mengupayakan 50% dari jumlah konsumsi pangan dunia. Tetapi, wanita hanya menerima 10% dari pendapatan global secara keseluruhan, wanita hanya memiliki 1% properti dunia, 60% wanita di dunia buta huruf dan 80% dari jumlah wanita di dunia adalah pengungsi. Jumlah wanita yang telah berhasil menjadi kepala negara atau menteri di dalam kabinet pemerintahan tidak lebih dari 5% dari total jumlah wanita di dunia.

Dengan melihat dan mengetahui data di atas, maka kita dapat sadar bahwa ternyata kondisi wanita di dunia sekarang ini sangat memprihatinkan. Dan karenanya wajar jika wanita menjadi fokus dari pembahasan gender. Data tersebut pun sebenarnya belum cukup untuk mendukung argumen bahwa wanita layak menjadi fokus dalam pembahasan gender. Data tersebut juga secara tidak langsung menunjukkan adanya diskriminasi terhadap wanita. Namun ada pula diskriminasi lainnya yang tidak tertuang dalam data statistik seperti di atas. Ada banyak tindakan diskriminasi lainnya yang dialami oleh wanita yang mana itu melanggar hak asasi wanita sebagai seorang wanita pula seperti pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan, dan sebagainya. Penyajian data seperti ini merupakan cara yang paling mudah untuk membuktikan bahwa wanita memang membutuhkan perjuangan, pembelaan, dan perkembangan bagi kesetaraan hak antara wanita dengan pria.

Jawaban versi kedua yaitu dengan penjelasan secara ilmiah atau akademik. Berpijak dari data yang ada, kita dapat mengetahui bahwa posisi wanita memang tidak setara dengan pria. Di sana juga menunjukkan adanya ketimpangan distribusi nilai-nilai kepada wanita yang menyebabkan wanita menjadi ter-subordinated dari pria. Hal ini dapat kita lihat sebagai sebuah konstruksi atau ciptaan dari lingkungan sosial yang ada. Sistem patriarki adalah contohnya. Sistem patriarki merupakan suatu sistem (yang tentunya juga sebuah konstruksi) yang menempatkan pria pada posisi dominan atau puncak, dan otomatis posisi wanita diabaikan, dan karenanya posisi dan peran wanita terbatasi atau termarjinalkan.

Jika dikaitkan dengan studi Hubungan Internasional, ada bebarapa quotes dari Robert Keohane yang menunjukkan wanita termarjinalkan, yaitu : “Feminist (theory) offers a critique of theories constructed by men who put themselves in the position of policy makers…” Statement dari Keohane ini telah menunjukkan kepada kita semua bahwa pria memang menempatkan diri mereka pada posisi yang strategis, yaitu sebagai pembuat kebijakan, yang mana di dalamnya terkandung maksud bahwa jikalau demikian maka wanita tidak mendapatkan posisi yang cukup penting untuk didengarkan. Dan karena itu teori feminisme lahir sebagai gerakan yang merespon dominasi pria yang selanjutnya mendiskriminasikan wanita. Statement dari Keohane yang lain yaitu : “Feminist critically examine IR form the standpoint of people who have been systematically excluded from power.” Dari statement ini yang dimaksud dari ‘people who have been systematically excluded from power’ adalah wanita. Wanita di dalam hubungan internasional pun termaksud aktor yang excluded from power / termarjinalkan. Karena itu pula feminisme lahir untuk meningkatkan power bagi wanita.

Jan Pettmen, memberikan quotes yang lebih mendalam lagi, yaitu : “the Study of International Relations has long been taught and theorized as if women were invisible: as if either there were no women in world politics, which was only men’s business…” Penggalan kalimat ‘as if women were invisible’ sangat jelas menunjukkan bahwa wanita yang notabene ada malah justru dianggap seolah-olah tidak ada di dalam hubungan internasional. Segala kegiatan yang berlangsung dianggap sebagai urusan pria, bukan urusan wanita. Wanita dianggap tidak penting dan tidak perlu dihiraukan. Begitula kira-kira maksud dari quotes di atas. Fred Halliday menambahkan quotes lain yang menguatkan hal ini, yaitu : “In conventional ideology, women are not suited for such responsibilities and cannot be relied on in matters of security and crisis”. Berbagai quotes tersebut jelas menunjukkan argument bahwa sebenarnya wanita dianggap invisible, pria menempati posisi strategis dan karenanya dapat berbuat banyak hal daripada wanita. Dalam perkembangan jaman ke depan, hal semacam ini dianggap sebagai suatu penyimpangan hak asasi manusia bagi wanita yang semakin lama semakin menggerus hak dan kehormatan wanita. Karena itu muncul berbagai perspektif atau teori seperti teori feminisme yang berfokus pada wanita karena adanya persepsi bahwa women have been marginalized, oppressed, and subjugated.

Dengan adanya dua versi jawaban ini, semoga dapat menjawab pertanyaan inti dari tulisan ini.

March 13, 2009

Dalam Kesendirian Ku Berada..

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 12:25 pm

Dalam kesendirian ku berada..

Pohon-pohon besar dan rindang itu berdiri tegak di samping kanan dan kiriku

Ranting dan daunnya memayungi atas langit kepalaku

Hijau.. Hijau dengan diselingi sinar matahari yang jatuh ke bumi

Memberikan suatu nuansa alam yang menarik mata

Memberikan suatu ketenangan di hati.

Kuberjalan setapak demi setapak

Kumelihat di sekelilingku

Apa yang orang-orang lakukan di sana..

Berbincang di sebuah kursi taman,

Bersenda gurau dengan sahabat,

Berjalan dengan orang yang dikasihinya..

Dan kusadari..

Betapa bahagianya mereka

Kuserpihkan senyum untuknya..

Lalu, aku kembali melihat jalanku

Ku kembali berjalan, lalu..

Kurentangkan kedua tanganku

Kututup mataku

Dan kuhirup segarnya udara itu

Ketika angin begitu lembut menyisir rambutku, menerpa tubuhku

Aku sadar bahwa aku menyukainya

Aku biarkan alam memelukku..

Dan aku tersenyum

Serasa hanyut dalam belaian lembut Sang Pencipta

Alam kembali menyapa

Dengan desiran anginnya yang memecah kesunyian

Dengan ranting daun yang melambai

Dengan seberkas matahari yang jatuh lembuh di wajahku

Dengan ketenangan hati yang tercipta

Kusadari bahwa diriku

Mempunyai jalanku sendiri

Jalan di mana aku melangkah

Di sini…

Ke mana kakiku melangkah

Ku percaya, itulah jalan yang terbaik bagiku..


March 6, 2009

Perbedaan Sex dan Gender

Filed under: my zone — by Ardaiyene @ 11:28 am

Apa yang kalian ketahui mengenai sex dan gender?

Pada dasarnya kedua istilah tersebut (sex dan gender) itu berbeda pengertiannya. Jika kita berbicara mengenai istilah ‘sex’ berarti kita berbicara pria ataupun wanita yang pembedaannya berdasar pada jenis kelamin. Dalam kata lain, sex merujuk pada pembedaan antara pria dan wanita berdasar pada jenis kelamin yang ditandai oleh perbedaan anatomi tubuh dan genetiknya. Perbedaan seperti ini lebih sering disebut sebagai perbedaan secara biologis atau bersifat kodrati, dalam artian sudah melekat pada masing-masing individu semenjak lahir.

Karena itu manusia yang mempunyai kumis, jenggot, jakun, dan bentuk anatomi tubuh lain serta gen yang tidak dimiliki wanita, adalah seorang pria. Sebaliknya, manusia yang tidak mempunyai kumis, jenggot, jakun, tetapi mempunyai rahim, sel telur, dan bentuk anatomi serta gen yang tidak dimiliki pria, maka ia adalah seorang wanita.

Anatomi tubuh dan faktor gen tersebut bersifat kodrati karena bersumber langsung dari Tuhan. Karena hal-hal tersebut berasal dari Tuhan, maka apa yang membedakan pria dan wanita secara biologis tersebut tidak dapat dipertukarkan, seperti rahim yang tiba-tiba dimiliki pria, atau wanita bisa berjakun, dan sebagainya. Secara kodrati, bentuk anatomi tubuh pria dan wanita berbeda. Pria berbentuk seperti itu dan wanita seperti ini. Hal tersebut tidak dapat dipertukarkan. Karena pembedaan ini bersifat kodrati, maka keberlakuan dari pembedaan ini pun tidak mengenal batas waktu, tidak mengenal pembedaan kelas masyarakat, dan berlaku di mana saja. Dampak dari hal ini adalah terciptanya nilai-nilai seperti kesempurnaan, kenikmatan, kedamaian, dan sebagainya sehingga menguntungkan pria dan wanita.

Lantas bagaimana dengan gender?

Ada suatu kalimat yang sangat familiar ketika kita masih duduk di Sekolah Dasar. Kalimat itu berbunyi: Bapak ke kantor dan Ibu ke pasar. Mungkin di benak kita muncul pertanyaan: bisakah Ibu yang pergi ke kantor dan Bapak yang pergi ke pasar? Dalam pembahasan gender, pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan : “Ya, tentu bisa!” Dan fenomena itu pun sudah sangat banyak sekali kita temui di jaman yang sekarang ini.

Pengertian gender juga masih berkutat antara pria dan wanita. Berbeda dengan ‘sex’, dalam gender perbedaan antara pria dan wanita lebih diciptakan oleh konstruksi lingkungan atau sosial yang ada. Pembahasan gender lebih menekankan pada karakteristik seperti perilaku, sikap, dan peran yang menempel atau ada pada pria dan wanita yang berasal dari konstruksi sosial. Karena itu, karakteristik tersebut (perilaku, sikap, dan peran) dapat dipertukarkan. Dalam hal ini, pria dapat berperan selayaknya pria namun juga bisa berperan sebagai wanita (menjalani nilai-nilai feminin: memasak, menjahit, menjaga anak, dan sebagainya). Sedangkan wanita juga dapat berperan sebagaimana seorang wanita, namun sudah banyak sekarang wanita yang menggeluti peran pria juga (menjalani nilai-nilai maskulin: menarik becak, bekerja di kantor sebagai wanita karir, supir Busway, dan sebagainya).

Oleh karena itu, karena gender tercipta dari konstruksi sosial, maka gender bersumber dari manusia atau masyarakat. Apa yang menjadi perbedaan antara pria dan wanita seperti harkat dan martabatnya dapat saling dipertukarkan. Pembedaan manusia seperti ini berdampak pada terciptanya norma-norma tentang ‘pantas’ dan ‘tidak pantas’ sehingga sering merugikan salah satu pihak yang mana kebetulan adalah wanita. Sebagai contoh yaitu, wanita tidak pantas menarik becak ataupun menjadi supir Busway. Wanita lebih pantas di rumah, memasak dan mengurus anak. Begitu pula dengan pria yang tidak pantas ke pasar dan mencuci piring di rumah. Pria lebih pantas berada di lapangan, bekerja, mencari nafkah, dan sebagainya. Namun, fenomena tersebut sudah semakin bergeser karena karakteristik pria dan wanita dalam gender dapat berubah, bersifat musiman.

Itulah perbedaan antara sex dan gender yang mungkin masih di permukaan. Hal tersebut penting untuk diketahui untuk memahami lebih lanjut mengenai fenomena-fenomena sosial yang semakin dinamis terkait dengan gender.

Sex dan gender menjadi hal yang menarik untuk dibahas lebih lanjut mengeni keterkaitannya. Terlebih gender yang dapat menciptakan adanya ketimpangan atau gap. Karena ternyata di dalam gender itu sendiri terdapat suatu ketimpangan peran yang memunculkan adanya tuntutan kesetaraan gender, rights of equality, gerakan-gerakan feminisme, dan sebagainya. Semoga di dalam tulisan selanjutnya kita dapat mendiskusikan hal tersebut.

March 3, 2009

Teeth-Tooth

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 7:17 am

Sudah ada yang melihat aku awal minggu ini di kampus? Pasti ada yang beda! Yap, aku ke kampus pake rok!! haha… (ga penting ya?) Berhubung jam 6 pagi lebih baru sampai rumah dan aku harus kuliah jam 07.30 pagi.. Alhasil aku pakai yang ada ajalah.. Celanaku pada belum dicuci, ada yang udah bersih tapi kok ya belum diseterika, ya sudahlah.. praktisnya pake rok ajah!! Toh, cuma kuliah pagi itu ajah, so pikirku bisa langsung pulang dan tidak berlama-lama di kampus.. hehe… Ternyata penampilanku ke kampus bikin teman-teman memberikan kesan yang beragam. Ada yang diam, ada yang bilang: “tumben pake rok mbak?; mbak Daiyene pake rok, lucu….; wah, Daiyene pakai rok, tapi lucu kok yen.. nice..” Tapi, ada yang lebih parah, ngeliat aku jalan pakai rok malah langsung ngetawain tanpa berkata apa pun.. heran aku… padahal mereka teman satu jurusan sama aku…

ya..ya..ya.. up to them lah…

Tapi, sebenarnya yang ingin aku sampaikan di sini bukan masalah aku pakai rok ke kampus, tapi masalah gigiku. Sebenarnya hari ini aku menunjukkan penampilan yang berbeda. Yang pertama aku ke kampus pakai rok, which I rarely do this, dan yang kedua ya..gigiku… Tapi herannya, teman-temanku pada terkecoh oleh penampilan bawahku (rokku), daripada penampilan atasku (gigiku) hahahahaha…. siallll.. Ceritanya aku baru pasang behel alias kawat gigi dengan harapan bisa lebih merapihkan gigiku.. Sebenarnya ini desakan dari Ibuku yang udah dari tahun lalu memanasi pikiranku untuk memasang behel. Tapi ya… baru bisa nurut sekarang.. eh salah, maksudnya baru ada waktu pasang behel sekarang dink…hehehe… Akhirnya aku ke Jakarta untuk pasang behel di Dokter Gigi Kakakku.

Eksekusi

Tak kusangka ternyata gigiku langsung dieksekusi hari itu juga. Aku fikir gigiku bakal ada yang dicabut dulu baru balik satu minggu setelahnya buat dipasang behel. Tapi ternyata tidak demikian teman. Ternyata bisa langsung dipasang saat itu juga dan masalah cabut mencabut gigi kata Dokternya itu gampang dan lebih baik dipasang dulu behelnya baru dicabut (maksudnya biar mempermudah saat pencabutannya). Yoh, manut sang Dokter sajalah…

Singkat cerita, terpasanglah kawat gigi itu di gigiku. Hmm, aku fikir aku bakal merasa sakit yang luar biasa gara-gara dipasangin kawat, tapi ternyata rasa sakitnya tidak sesakit yang aku perkirakan. Ga begitu sakit cuma… oh oh oh.. aneh banget rasanya! Jadi punya mainan di mulut. haha… Bibir dan kerangka gigi serasa sulit mengatup. Oh Tuhan.. harus berapa lama aku seperti ini? Ternyata rasa sakit itu baru kerasa sewaktu makan. Hiiiyyyyyyaaaaaa, kok ga kuat gigit ya? Kok juga ga bisa dibuat ngunyah ya? Wah… kiamat kecil nih….. Pas makan pun ga enak banget di mulut. Kerasa berantakan, seret, sepet, ga asik banget dah.. kerasa banyak yang nyangkut. Jadinya, kalau bis makan ga sikat gigi tuh ga nyaman banget… ribet..ribet…

Makan-makan

Hari pertama pasang behel aku dah nyoba makan roti, mie ayam, nasi, jamur. haha.. terserah deh mau dibilang maruk, nekat, atau nakal… Padahal Dokternya bilang makan yang lunak-lunak dulu ajah, kalaupun rada keras ya.. dipotong kecil-kecil.. Ya udah deh, diajak makan Mie Ayam Golek ma Ortu di daerah Otista, Cawang, aku malah pesen Mie Ayam Jamur di sana, instead of Bubur Ayam yang akhirnya cuma dibungkus untuk dibawa pulang. Ya.. gemana ya.. hasrat memakan mie itu tidak bisa dihilangkan begitu saja je.. Buktinya 1 mangkok Mie Ayam Jamur bisa aku habiskan dengan tidak memakan suwiran ayam, bakso, dan sawinya.. hehe… Untuk berikutnya aku masih nekat makan nasi biasa.. rada sulit ngunyah sih.. tapi ya.. itung-itung membiasakan gigi biar ga manja.. (haha.. padahal saking lapernya!! Ngeleeessss ajah ni Daiyene…!)

Ada yang bilang, “wah..mbak ciri khasmu jadi ilang deh.. padahal gigi gingsulmu kan kamu banget mba…”; “ga papa lagi Yen gingsulmu itu, tapi kalau mau dirapihin sih ga papa..”; “..wah mbak, tambah manis..” Ya.. itu sedikit komentar dari tiga orang temanku. Semoga komentar mereka jujur, terutama yang terakhir.. hehehe… Tapi balik lagi, apapun komentar teman-temanku mengenai penampilan baruku.. aku sih terserah ajah.. Aku cuma berharap hasil yang terbaik dari memasang behel ini. Kalau ada yang bilang senyum khasku ilang, enggak kok! Kalau boleh mengutip sedikit puisi dari Novel “Beraja” karangan Fira Basuki aku akan bilang:

tawaku masih renyah

senyumku selalu cerah

sapaku tetap ramah


new-face3

February 22, 2009

Hati Yang Damai

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 12:19 pm

 photo-0347e1

Hati perempuanku bertanya, pikiran apa yang telah membawaku melayang untuk selalu mengenangnya. .. Akan tetapi, suatu doroangan dari sebagian hatiku tiba-tiba saja memaksaku untuk mengatakan yang lain bahwa aku tidak ingin bersamanya meskipun sedikit membohongi hatiku. Dan setelah itu, aku merasakan ia telah pergi jauh dariku. Satu yang ingin kutanyakan pada hatiku yaitu ‘akankah ia kembali?’

Sebuah kutipan dari Novel “Hati Yang Damai”, karangan NH. Dini

 

Sit-Pangsit!!

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 5:22 am

walah…walah..walah..walah…

Ternyata kulit pangsit untuk direbus sama digoreng itu beda ya??? PUANtessssaaannnnn… hasil eksperimenku di dapur beberapa hari yang lalu GA BANGETTTT rasanya… Tergoda oleh salah satu resep masakan yang menggunakan pangsit rebus, akhirnya aku mencobanya di rumah. dah semangat-semangat gitu.. Tapi setelah direbus kok ya… ya.. Aneh gitu deh… ga lembek-lembek.. kalaupun lembek juga jadinya malah aneh.. Haduhh… Ga banget deh… Malah jadi parno sendiri.. Bikin pangsitnya aja masih gagal, ditambah kaldunya juga ikut-ikutan gagal lagi!! Aku malah ngerasa aneh sendiri: “sebenarnya niat bikin ga sih gw?” Wah terpengaruh sama mood aku nih.. Ya udah deh, ancurr rasanya.. hahaha…

Gara-gara hasil yang tidak mengenakkan di lidah dan di hati ini, akhirnya malah jadi parno masak beberapa hari.. Takut ga enak lagi… Kan sayang sayurannya…. hehe.. (ngeleesss…wae!)

Aku baru tau kalau kulit pangsit kuah / rebus dengan yang goreng itu beda ya pas aku ke Super Indo kurang lebih satu minggu setelahnya. Sewaktu itu aku melihat ada kulit pangsit kuah di tempat dulu aku mengambil kulit pangsit goreng. Dan batinku mulai berbicara: “oh.. ternyata ada to yang kuah.. berarti beda dong ma yang goreng?” hmmmm… ternyata dulu waktu aku beli kulit pangsit untuk pertama kali itu emang bener untuk digoreng. Masalahnya dulu waktu beli yang goreng, belum ada yang kulit pangsit kuah.. jadi.. Ane ga faham deh tuh… Memang sih ada tulisan di kemasannya: kulit pangsit goreng. Tapi waktu itu aku berfikir: “emang ga bisa ya kalau yang goreng untuk direbus..? kayaknya sama aja ah..” berdasar pemikiran sok tau itu (mendiskon informasi yang ada dan ternyata akurat) akhirnya aku ambil ajah 1 bungkus.. dan akhirnya.. emang ga pas.. haha…

Hmmmphh, kalau kayak gini aku jadi inget film “brownies” yang dimainkan oleh kakak gw, Marcella Zalianty (haha…). Pada tau kan jalan ceritanya kayak gemana? Mell (Marcella Zalianty) bolak balik bikin kue brownies yang enak tapi hasilnya selalu gagal: ya kurang lembutlah, kebanyakan cokelat jadi pahitlah, terlalu keraslah, dan sebagainya. Setidaknya film ini mengajarkan pada kita bahwa dalam membuat suatu masakan tidaklah langsung dapat mempunyai rasa yang pas, tapi sadarilah bahwa suatu proses itu memang diperlukan. Balik lagi ke filmnya, tapi ternyata semakin Mell mencoba untuk membuatnya, dia pun menyadari bahwa dalam proses pembuatan ia harus “berani ungkapkan rasa”..

Yah.. emang harus berani ungkapkan rasa, tapi kayaknya aku masih harus lebih banyak belajar duehhhh…

February 9, 2009

Salah Kostum

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 4:38 am

Saltum.. Saltum…

Beuh… mungkin teman-teman PPI Kota Yk yang melihat aku datang awal pada acara Rapat Pleno PPI Kota Yk yang diselenggarakan kemarin minggu akan bertanya-tanya: sejak kapan rapat pleno pake jeans dan sandalan???

Ya.. ya.. ya.. that was me!! But, listen to me first!

Memang di undangan rapat tersebut disebutkan bahwa pakaian yang akan digunakan adalah casual. Dan sudah sejak lama saya berbeda pandangan dengan PPI atau mungkin dengan pihak lain juga mengenai termcasual’. Menurut PPI, casual adalah dress code di mana kalau pria menggunakan kemeja rapih, celana kain alias non jeans, lebih bagus lagi kalau pakai dasi (tapi hari itu tidak), sepatu pantovel pria dan tak lupa menggunakan Pin PPI bagi yang telah menjadi anggota. Sedangkan yang perempuan menggunakan kemeja juga plus rok panjang atau pendek selutut, tidak ketat dan non jeans, ditambah sepatu cewek (ga harus pantovel), plus Pin PPI-nya.. Nah.. di pandangan saya, casual itu artinya pakaian santai, alias bisa pakai kaos polo, jeans and sandal is OK. Entahlah, mungkin saya terpengaruh oleh penggunaan kata ‘casual’ itu dari majalah anak muda yang dulu suka aku baca..

Mengingat punya pandangan yang berbeda dan mencoba untuk mengkonfirm apakah benar saya dan PPI punya pandangan yang cukup berbeda atau itu hanya dalam pikiranku saja, akhirnya sebelum hari minggu saya mencoba bertanya kepada Sekretaris PPI Kota Yk (teman saya: Bang Udin) yang memberikan undangan tersebut. Saya tanya, “bang, besok pleno boleh pakai kayak gini? (sambil menunjuk ke pakaian yang sedang aku kenakan waktu itu: polo shirt dan jeans..)” dan lantas Bang Udin menjawab dengan berkata: “oh iya, kayak gitu aja ga papa dai…”. Ok, case closed menurutku!

Hari minggu datang, dan aku memang sudah menawarkan diri untuk membantu Bang Udin menyiapkan konsumsi untuk rapat pleno yang dimulai jam 9 pagi itu. Hmm, ya sudah, akhirnya saya pun datang jam 08.30 dengan dress code yang telah saya confirm tersebut. Dan baguslaaaahhhh…. dari jauh saja saya sudah dapat melihat bahwa beberapa anggota yang sudah datang (untungnya belum banyak) sudah memakai kemeja rapih, sedangkan saya semakin pelan saja ngerem sepeda motor saya dan terlihat kebingungan… Dan kebetulan Bang Udin sedang ada di depan pintu. Dan langsung saja saya tanya ke dia dan mereka yang ada di sana.. “lho.. pakai kemeja po? katanya boleh pake kayak gini?” Sambil kelihatan kebingungan, heran, dan merasa kudu balik lagi ganti baju.. Akhirnya aku turun dari motor dan mencoba confirm kembali.. “Enggak dai……. pakai kemeja..” kata Bang Udin pelan. Lantas aku kembali menjawab “lho mas, kemarin kan aku sudah tanya, aku dah confirm.. katanya boleh kayak gini.. piye sih mas?” Ya.. memang ada sedikit perdebatan yang akhirnya aku akhiri dengan mencubitnya gemas dan aku langsung cabcus alias pulang lagi ke rumah tanpa malu pamit lagi ke teman-teman kalau aku kudu pulang lagi ganti baju.. (lha, ngapain malu… yang khilaf bukan aku kok?!). Untung rumahku deket sama Kandep, tempat plenonya itu..

Ya sudahlah.. aku pulang dan di perjalanan aku bertanya-tanya, harus pakai rok ga ya? Beuh.. padahal aku ga tau ada rok enggak ya di rumah.. haha… maklum roknya kudu rada resmi.. alias bukan rok sembarang rok.. Pas nyampe rumah akhirnya aku disms sama Bang Udin dan bilang: ”…. kalau bisa pakai rok ya dai..” Ya udah deh bongkar-bongkar di rumah.. Dan akhirnya aku sampe di Kandep jam 9 lebih.. Pleno sudah dimulai.. dan lagi – lagi saya ketemu sama Bang Udin di depan sewaktu aku baru sampai dan memarkirkan motorku. Melihat aku, dia hanya senyum-senyum aja, lalu mendekatiku dan bilang: “Sorry dai, aku ga sadar aku bilang itu ke kamu kemarin.. maaf ya.. ayo, tak tungguin.. kita masuk ke dalam bareng… “

Mau tau jawabanku ke dia?

“Kamu terpesona sama aku po mas, sampe-sampe ga sadar sama apa yang aku tanyakan dan yang kamu katakan kemarin ???”

Hmmmmmphhhhh……

February 6, 2009

Semarak IBB-MP XII, LC-MP V, & MD-MP II PPI Kota Yogyakarta 2008

Filed under: Reviews — by Ardaiyene @ 3:30 am

“Di sini aku, di sana kamu, di mana-mana kita saudara..” (salah satu yel-yel supporter)

GOR Kridosono Yogyakarta terlihat sangat crowded banget, nget, nget.. terlebih ketika para supporter selalu menyanyikan yel-yel untuk para pemainnya.. Emang ada apaan sih? Well, di Kridosono dari tanggal 24 – 31 Januari 2009 telah diselenggarakan Invitasi Bola Basket Merah Putih (IBB-MP) yang ke XII untuk kategori SMA/K dan MA se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Event tahunan yang diselenggarakan oleh Panitia Lustrum III Purna Paskibraka Indonesia Kota Yogyakarta ini juga dimeriakkan oleh Lomba Cheersleader Merah Putih (LC-MP) ke V dan Lomba Modern Dance Merah Putih (MD-MP) ke II se-Kota Yogyakarta – dua kategori lomba yang ga kalah mendatangkan supporter yang rame banget..

dscf5157a

Rangkaian lomba ini sebenarnya telat diselenggarakan. Seharusnya IBB-MP, LC-MP, dan MD-MP diselenggarakan segera setelah Lomba Baris Berbaris Merah Putih (LBB-MP) dilaksanakan di penghujung tahun 2008. Tetapi karena satu dan lain hal, para pecinta basket SMA/K dan MA se-Daerah Istimewa Yogyakarta harus menunggu 2 bulan untuk menanti persiapan dari ketiga acara lomba yang termasuk besar ini… Saking ga sabarnya bahkan ada beberapa sekolah yang coba contact ke PPI Kota Yogyakarta dah bahkan ada Pelatih dan anak-anak SMA yang langsung mendatangi Sekretariat PPI Kota Yogyakarta segala lho untuk menanyakan event IBB yang kok belum datang undangannya??!!! Ya.. menurut saya sih wajar saja, karena event IBB-MP sudah menjadi kegiatan tahunan (sudah punya nama) dan ajang bagi mereka untuk mengetahui sportivitas kompetisi permainan Basket mereka. Dan untuk itu saya selaku salah satu Panitia Lustrum III PPI Kota Yogyakarta sekaligus mewakili teman-teman yang lain mengucapkan maaf atas keterlambatannya, tetapi toh kita dapat menjalaninya di awal tahun 2009… Alhamdulillah..

Walaupun telat muncul, tapi ternyata kami masih mendapat antusiasme yang luar biasa dari para pencinta basket, cheers, dan modern dance. Hal ini terlihat dari terpenuhinya kuota invitasi yang kami sebar, dan terlebih para supporter yang luar biasa hebatnya di tribun.. hehe…

Para Supporter yang menggemakan Sporthall Kridosono

Para Supporter yang menggemakan Sporthall Kridosono

Suasana di dalam GOR Kridosono memang penuh dengan sportivitas. Yang di lapangan konsentrasi dengan permainan basketnya, dan di atas tribun supporter terus-menerus menyanyikan yel-yel bagi sekolah-sekolahnya dengan drum-drum besar yang semakin menyemarakkan sporthall Kridosono itu… Bahkan suara yel-yel dan nyanyian-nyanyian dari para supporter terasa sangat keras sekali sehingga bunyi sempritan wasit jadi kurang bisa terdengar.. haha…

Rekor PPI sepanjang masa??

Walah.. emang kenapa kok dibilang rekor? Ternyata event IBB-MP XII telah banyak mendatangkan massa alias supporter ke Sporthall Kridosono. Saking banyaknya, Panitia yang bertugas di loket tiket sampai harus menutup loket karena Tim Keamanan mengatakan Sporthall Kridosono sudah tidak memungkinkan lagi untuk menambah penonton masuk ke dalam, alias sudah penuh sesak. Beuh.. Padahal itu masih hari ke-4 lho.. belum Semi Final, apalagi Final.. Alhasil loket tiket tutup, dan massa yang mau beli tiket pun masih ngantri puanjang di depan loket sambil teriak-teriak minta beli tiket. Bahkan ada yang memasukkan tangan mereka ke lubang loket yang menurutku saking kecilnya sampai mirip kayak rumahnya Jerry dalam Tom & Jerry.. hehe.. (Intermezo nih…). Ternyata dengan menutup loket saja belum cukup untuk meredakan massa yang terus memaksa masuk untuk melihat pertandingan yang hari ini terjadwal SMA Stella Duce 2 Vs SMA Stella Duce 1 yang kemudian disusul dengan pertandingan SMA Kollese De Brito vs SMA Bopkri 2. Beuh.. Gayeng tenan.. (kata temanku..) Jadwal pertandingan hari itu memang OKs banget buat supporter… Sampe-sampe Panitia rada kewalahan mengurusi massa yang pingin masuk ke dalam.. Loket tiket digedor-gedor (bahkan sampai mecahin kaca lho), yang di luar marah-marah, kecewa, dan sebagainya.. Sampai ga kuatnya merespon mereka dari balik loket tiket, akhirnya Panitia yang jaga di loket tiket sampai mematikan lampu dan pergi dari area loket.

Menyanyikan Hymne lagu sekolah seperti telah menjadi rutinitas bagi para pemain dan supporternya, seperti yang nampak pada supporter dan pemain dari JB ini seusai pertandingan..

Menyanyikan Hymne lagu sekolah seperti telah menjadi rutinitas bagi para pemain dan supporternya, seperti yang nampak pada supporter dan pemain dari JB ini seusai pertandingan..

Itu suasana di luar dan di dalam loket tiket Sporthall Kridosono. Bagaimana dengan suasana di dalamnya? Beuh.. ruamenya bejibun.. Bahkan sampai ada yang duduk di bawah, di pinggiran lapangan.. Ya… kita tahu bahwa Sporthall Kridosono tidak terlalu besar, karena itu dengan massa yang sebanyak itu (dengan 24 bendel tiket terjual, @ 100 lembar), Sporthall Kridosono terlihat begitu ramai sekali.. Pasar aja kalah kali yha?? haha… Saking ramenya, salah satu sekolah yang akan bertanding malam itu sempat mengatakan tidak akan mulai bertanding jika masih ada penonton yang duduk di pinggir lapangan. Alhasil pertandingan molor setengah jam untuk menetralkan lapangan dan mengurusi penonton agar pindah duduk di tribun.. Masalahnya adalah supporter dari pertandingan awal tidak pergi, sedangkan supporter dari pertandingan yang baru mau dimulai sudah menunggu untuk masuk.. Dan Panitia pun tidak bisa mengusir supporter begitu saja, karena mereka punya hak yang sama untuk melihat pertandingan.. wuih..

so crowded..

so crowded..

Banyak teman-teman Panitia yang mengatakan kalau baru pelaksanaan tahun ini acara IBB bisa penuh seperti itu bukan di malam semi final dan final dan telah berhasil menjual berpuluh-puluh lembar tiket hanya dalam satu hari. Bahkan pernah sempat kehabisan tiket untuk dijual loh.. Beuh… Seumur-umurnya PPI Kota Yogyakarta, ya baru kali ini bisa kejadian kayak gini.. ckckck.. salut deh.. saluuuuttt…

Daiyene jadi apa?

Hoho.. Kalau saya sih di kepanitaan IBB jadi pembantu umum ajah.. Kadang di pintu masuk depan nyobekkin karcis supporter, kadang nimbrung bantuin nggeledah tas supporter, kadang juga jadi penonton (lho.. hmmm…), dan yang terakhir-akhir ini saya jadi sering bantuin teman-teman di loket tiket.. haha.. Jujur, sebenarnya grogi ajah kalau di loket soalnya bertransaksi dengan uang secara langsung.. Maklum kadang suka lemot mikir uang kembalian.. khususnya waktu semifinal yang harga tiketnya naik dari Rp 3000 per orang jadi Rp 3500 per orang. haha.. ketauan deh kelemahan anak Fisipol.. Tapi.. so far.. so good kok..

jaga loket hyukss...

jaga loket hyukss...

Bantuin di loket tiket itu sebenarnya menegangkan. Gemana enggak? lha di atas tempat loket itu adalah tribun penonton yang hanya berlapis kayu saja. Tau sendiri kan penonton atau supporter itu selalu jejingkrakkan kalau liat pertandingan? Lha, yang di bawahnya (alias kita-kita yang jaga loket tiket) yang sengsara.. Bahkan ada yang ketetesan air minum, rokok, kertas-kertas guntingan kecil, bahkan kejatuhan serpihan atap pembatas tribun dengan atap loket yang sudah retak, pecah, dan terlihat sudah kudu diganti itu. Sengsara deh.. Maklum tempat loket tiket itu sebagai base camp Panita juga: ya tempat naruh tas, naruh helm, tempat makan, tempat sholat, tempat nggosip, tempat apa lagi ya? haha..

Liat Cheers Nyok…

Ketika loket ditutup untuk yang kesekian kalinya, itulah saatku untuk bernafas sejenak memikir angka-angka dan keluar dari tempat yang terasa sempit itu. Akhirnya aku liat Lomba Cheersleader (LC) dan Modern Dance (MD) yang baru aja dimulai sekitar pukul 5 sore sampai pukul 7 malam. Dari sekian banyak partisipan LC dari sekolah-sekolah yang ikut, yang aku suka cuma satu: De’ Peav Mania, dari SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. SMA PL ini mengirim peserta cowoknya sebagai peserta LC, satu-satunya dari semua peserta Cheers yang ikut. Dan.. haha.. konyol banget dah ngeliatnya.. Dari kostumnya yang lucu abis dengan kaus kaki belang-belang zebra, ada yang pakai bando, topi tamasya, syal, tank top, rok pendek, baju di atas pusar, haha.. tapi di situlah lucunya, sampai gerakan cheersnya yang aneh-aneh wae.. haha..

Ternyata tidak hanya cewek saja yang bisa Cheers, tapi cowok pun juga mampu. Sebenarnya saya sudah lihat ada cheers cowok secara langsung di event IBB-MP tahun 2007. Mereka cukup menarik perhatian penonton dengan atraksinya (hehe… termasuk aku). Dan mereka pun juga tidak mau kalah dengan membawa pom-pom dan menunjukkan atraksi cheers yang sebenarnya, seperti membuat piramid dan melempar salah satu temannya ke atas atau ke arah lain (duh, aku ga tau deh itu namanya apa.. tapi menurutku cukup amazing.. karena beda sama cheers cewek yang lain). Haaahh.. mereka sanggup membuat penonton tertawa terbahak-bahak dan sanggup membuatku begitu lelah ketawa.. I love this show because they could make me laugh out loud..

The Winners

Sebagai informasi sekaligus penutup dari tulisanku ini, pemenang dari IBB-MP XII ini untuk kategori putra yaitu SMA Bopkri 2 Yogyakarta (Juara I), SMAN 2 Bantul (Juara II), dan SMA Pangudi Luhur (Juara III), dan untuk kategori putri yaitu SMA Bopkri 2 Yogyakarta (Juara I), SMA Stella Duce 1 Yogyakarta (Juara II), dan SMA Santa Maria (Juara III). Untuk Lomba Cheersleader dijuarai oleh SMAN 11 Yogyakarta. Sedangkan untuk Modern Dance – nya dijuarai oleh SMA N 3 Yogyakarta.

Pemenang Modern Dance "Merah Putih" II

Pemenang Modern Dance "Merah Putih" II

Selamat bagi para pemenang.. dan sampai bertemu dalam Invitasi Bola Basket “Merah-Putih” XIII, Lomba Cheersleader “Merah-Putih” VI, dan Lomba Modern Dance “Merah Putih” III 2009 mendatang…

« Previous PageNext Page »

Powered by WordPress.com