Sebenarnya, muna’ (munafik) ga sih orang kalo sebenarnya kita ngerasa marah, tapi karena kita tidak ingin diperbudak oleh perasaan marah kita, kita akhirnya dengan sekuat tenaga berusaha untuk tersenyum seolah-olah apa yang telah terjadi pada kita itu dapat kita terima dan kita maafkan???? padahal, mungkin jauh di lubuk hati kita yang paling dalam, kita tidak bisa menerima itu, atau katakanlah belum bisa menerima itu.
Membaca masukan darimu kemarin, emang aku rada tersentak. Bukannya aku ga setuju. Aku setuju banget. Bahkan aku ga mau dong, terlalu diperbudak oleh perasaan aku. Tapi bagaimana dengan apa yang aku tanya di atas tadi? Muna’ ga sih??
Jauh di dalam hati kita ngerasa sakiiiittt banget. Mungkin rasanya seperti baru dibohongin sama sahabat dekat kita sendiri. kayak ditusuk dari belakang gitu ga sih?? Tapi, apakah kita masih bisa bersikap nice ke dia? Hmm… I don’t think so!! At least for a moment.
Mungkin itu juga arti (bener-benar arti yang sesungguhnya) dari sebuah pemberian maaf. Memberikan maaf sama orang itu mudah. Tapi, untuk melupakan apa yang pernah terjadi baik buruknya, itu sulit banget. It needs a lifetime!! Ga bisa. Kita ga bisa melupakan hal itu. Dan mungkin juga biar kita selalu ingat sesuatu di masa lalu yang dapat kita petik pelajaran di dalamnya.
Dan mungkin itu juga arti dari diberinya hati kepada setiap manusia. Dengan hati, kita bisa merasa. Hanya bisa merasakannya saja. Senang, gembira, lucu, sedih, sakit, kecewa, dibohongin, dikecewain, dikhianati, dibodohi, dipuji, disayang, dicintai, dilupakan, direndahkan, ditertawakan, dan di-, di- yang lain … kita hanya bisa merasakannya saja bukan???
Dengan hati, kita memang hanya bisa merasa, tapi dengan akal / logika / pikiran yang Tuhan telah beri ke kita, kita bisa menetralkan apa yang kita rasakan tadi. Ketika kita merasa disakiti orang, gunakanlah akal kita juga untuk berpikir, mengapa kita disakiti? Apa yang telah kita lakukan? Mengapa ia melakukan itu? Apakah kita telah berbuat hal yang tidak berkenan? Gunakanlah pikiran rasional untuk menetralkan rasa di hati. Begitu juga ketika kita sedang senang, disayang orang. Gunakan akal kita. Mengapa ia bisa sayang sama kita? Apa yang menarik dari diri kita? Apa yang telah kita lakukan kepada dia sehingga dia bisa sayang terhadap kita?
Hati untuk merasa, akal untuk menetralkan rasa dengan pikiran logic, sedangkan iman yang kita miliki dapat menenangkan hati dan pikiran kita. Terkadang hati dan pikiran tidak bisa disatukan. Orang bisa saja suka dengan kita tanpa adanya alasan yang rasional / logic. Atau ketika rasa terlalu menggebu, ataupun pikiran yang terlalu berkelana kemana-mana tanpa ada satu pun yang pasti, iman bisa menjadi alat untuk meredam kedua. Berserah diri kepadaNya dapat menenangkan hati. Gunakan iman kita untuk menenangkan hati dan mendekatkan diri padaNya sehingga kita bisa selalu berada dalam lindunganNya.
Manusia di dunia ini hanya bisa menjalani, merasakan, dan berusaha sebaik mungkin untuk apa yang diinginkannya, tentunya dengan RestuNya. Mungkin hanya kebaikan yang dapat kubalas dengan kebaikan yang tak seberapa dariku. Kemalangan, keburukan, atau apapun yang menimpa, hanya bisa menjalani dan mengambil hikmah dibalik semua itu. Kun Fayakun. Yang terjadi, ya terjadilah. Baik buruknya semua sudah diatur olehNya.
Sanggup tidaknya kita menjalaninya sudah dipertimbangkan olehNya.
Manusia, Kau harus tegar..
Hidup ini penuh cobaan, Sobat…