Ardaiyene’s Weblog

October 19, 2008

Beli Blouse Hamil..

Filed under: Negotiator's Log — by Ardaiyene @ 2:27 pm

Negosiasi kali ini terjadi pada saat saya mencari dan bermaksud untuk membeli blouse hamil untuk Bulek saya. Saya berencana untuk membelinya di Pasar Beringharjo mengingat permintaan Bulek saya adalah blouse hamil yang bermotif batik. Karena saya belum pernah membeli jenis pakaian ataupun blouse seperti itu, maka saya juga belum tau dan paham harga kisaran sebuah blouse hamil batik yang sesuai dengan permintaan Bulek saya (lengan panjang, ukuran jumbo, dsb).

Ketika saya telah sampai di pasar, saya berniat untuk mencari keperluan saya dahulu sembari melihat-lihat blouse hamil untuk Bulek saya. Setelah berputar-putar tanpa berhenti di satu toko, akhirnya saya berhenti di salah satu toko yang menjual blouse hamil. Setelah melihat-lihat dan menimbang-nimbang sendiri, saya menanyakan harga blouse yang saya akan pilih untuk dibeli. Ternyata harganya adalah Rp 77.500. Karena saya sebenarnya belum paham harga sebuah blouse hamil, namun harga jual pertama si penjual tetap saya tawar. Tawaran saya adalah Rp 60.000. Karena tersadar bahwa saya masih mempunyai cukup banyak waktu untuk mencari blouse di toko lain dan dengan sedikit melakukan positional commitment, akhirnya saya berniat untuk pergi dari toko tersebut dan berharap tidak dipanggil lagi. Namun tidak lama kemudian, penjual tersebut mengabulkan permintaan saya. Dan mau tak mau saya membayarnya.

Dari toko pertama saya mempunyai standar harga untuk membeli blouse hamil yang kedua. Harga Rp 60.000 saya jadikan patokan tertinggi untuk pembelian yang kedua. Namun saya masih berharap saya dapat membelinya dengan harga berkisar Rp 30.000 - Rp 35.000 seperti harga blouse batik pada umumnya. Setelah berputar-putar lagi dan melihat-lihat blouse batik yang besar akhirnya saya berhenti di toko kedua. Harga blouse hamil batik yang ditawarkan pertama adalah Rp 80.000. Kemudian saya menawarnya dengan Rp 50.000. Dengan mengatakan ”Wah, jangan mahal-mahal dong mbak. Saya belum dikasih uang nih sama Bulek saya, Rp 50.000 saja ya?” akhirnya penjual menurunkan harga menjadi Rp 65.000. Saya tetap bertahan dengan harga Rp 50.000. Setelah menanyakan kepastian harga pasnya berapa, penjual tersebut mengatakan bahwa harga pasnya Rp 60.000 dan tidak bisa ditawar lagi karena ukuran blouse hamil batik tersebut jumbo dan diikuti oleh alasan-alasan penjual lainnya. Namun, saya memberikan tawaran kedua saya yaitu Rp 55.000 dan saya berniat tidak menaikkan tawaran saya. Setelah saya membujuknya sebagaimana halnya seorang pembeli, akhirnya penjual tersebut mau melepas blouse hamil batik tersebut kepada saya seharga Rp 55.000.

Kasus yang telah dipaparkan di atas sangat menggambarkan proses bargaining. Gaya konflik yang digunakan perunding adalah kompetisi. Pada pembelian blouse yang pertama, taktik berunding yang digunakan adalah positional commitment yaitu kokoh pada pendirian harga yang ditawarkan, yaitu Rp 60.000. Sedangkan pada pembelian blouse yang kedua, perunding memberikan alasan-alasan yang persuasif dan cukup meyakinkan kepada penjual agar penjual dapat mengabulkan penawaran perunding (taktik berunding persuasive arguments) yang mana kemudian dilanjutkan dengan positional commitment. Pada dua pembelian blouse tersebut terlihat bahwa perunding (pembeli) telah mempunyai BATNA walaupun baru diniatkan pada akhir dari negosiasinya dengan penjual pertama. BATNA yang diperoleh yaitu dengan mencoba mencari blouse hamil batik di tempat lain dengan harapan bisa mendapatkan blouse dengan harga, ukuran, model yang lebih baik dari sebelumnya (wishful thinking). Terkait dengan demand, goal, dan limit, dalam pembelian blouse yang kedua diketahui bahwa demand atau tuntutan dari perunding (pembeli) adalah Rp 50.000, goal atau sasarannya Rp 50.000-Rp 60.000, dan limit atau batasan dari pembeli adalah Rp 60.000. Karena harga terbentuk pada Rp 55.000, maka sifat dari penawaran tersebut adalah positif atau positive bargaining range yang berkisar di antara Rp 50.000 – Rp 60.000. Dengan demikian, akhirnya penjual dan pembeli dapat menentukan harga di viable options (opsi-opsi dalam positive bargaining range), karena pada akhirnya terjadi kesepakatan harga yaitu Rp 55.000.

September 5, 2008

YM-an Format Surat

Filed under: Negotiator's Log — by Ardaiyene @ 5:06 am

Hari itu (Senin) saya mempunyai janji dengan teman sekampus saya (Fitri) untuk membahas format surat. Berhubung frekuensi untuk bertemu di kampus masih sulit mengingat jadwal kuliah yang belum pasti, akhirnya Fitri mengusulkan untuk membahasnya melalui Yahoo Messanger (YM) pada malam harinya (Senin), jam 19.00. Setelah menimbang-nimbang kegiatan saya pada hari Senin tersebut (ada tiga mata kuliah plus ditambah rapat Komahi jam 16.30) akhirnya saya berfikir saya dapat ke warnet pada pukul 7 malam setelah tiba di rumah sepulang dari rapat Komahi. Karena saya berasumsi rapat Komahi tidak akan terlalu lama Dan ketika itu pula saya menyetujui usulan Fitri untuk ber-YM-an membahas format surat magang kami jam 19.00.

Namun, berhubung pada hari Senin tersebut saya sedang menjalani puasa, dan setelah menjalani tiga mata kuliah full-time dari pagi sampai menjelang sore, plus ditambah ada rapat Komahi yang harus saya hadiri, saya kembali berfikir apakah saya mampu melakukan the rest activities of that day??

Sebelum mengikuti rapat Komahi saya berasumsi pada diri saya bahwa sebelum magrib saya harus sudah sampai di rumah, karena saya berencana untuk buka puasa di rumah, sehingga saya masih punya waktu 1 jam untuk istirahat di rumah sebelum saya ke warnet untuk ber-YM-an dengan Fitri.

Namun ternyata rapat Komahi, dilakukan di salah satu Kosan teman yang ada di lingkungan kampus, baru selesai ketika magrib tiba karena adanya perkembangan pembicaraan di dalam rapat. Itu saja selesai karena yang memimpin rapat itu tahu kalau saya dan seorang teman saya juga sedang puasa dan ia bermaksud untuk memberikan kami waktu untuk berbuka. Dan juga karena ia tau saya bermaksud berbuka di rumah. Namun, karena saya merasa begitu lelah dan lemas sekali dengan aktivitas hari Senin itu, saya memutuskan untuk membatalkan puasa (mencari minuman) bersama teman dan sholat di kosannya dahulu, baru pulang mengingat jarak rumah dengan lingkungan kampus cukup jauh.

Setibanya saya di rumah, saya kaget karena kakak saya (yang seharusnya membelikan makan) belum pulang, dan saya tiba di rumah sudah pukul 18.30. Karena saya merasa begitu lemas, akhirnya saya berfikir untuk menunda ber-YM-an dengan Fitri esok hari di jam yang sama dengan alasan baru sampai rumah, lelah karena aktivitas seharian, dan belum makan pula. Akhirnya saya mengirim SMS ke Fitri untuk meminta menunda ber-YM-an esok hari di jam yang sama dengan alasan di atas. Dan akhirnya, masalah saya yang mempunyai janji dengan Fitri jam 19.00 tersebut selesai dengan adanya balasan SMS dari Fitri directly yang mengatakan: ’OK, bos!’

Mencermati kasus di atas, pihak pertama (Ardaiyene) mencoba untuk merundingkan apakah YM-an-nya bisa ditunda esok hari kepada pihak kedua (Fitri). Posisi kedua belah pihak awalnya sama yaitu ber-YM-an dengan kepentingan membahas format surat. Namun, setelah menjalani aktifitas seharian, posisi dan kepentingan pihak pertama menjadi berubah, di mana posisinya menjadi istirahat, dan kepentingannya menjadi makan dan istirahat di rumah. Dengan posisi dan kepentingan Fitri yang tetap (tidak ada perubahan dari awal), pihak pertama mencoba untuk merenegosiasikan kesepakatan (taktik berunding) yang telah dibuat di awal, yaitu dengan menawarkan menunda ber-YM-an hingga esok hari dengan jam yang sama. Tanpa adanya specific compensation ataupun tawaran balik dari Fitri, akhirnya masalah yang ada berakhir dengan kesediaan pihak kedua pada permintaan pihak pertama. Dalam kasus ini strategi berunding yang digunakan pihak pertama adalah bargaining. Isu yang terdapat di dalam kasus ini bersifat tunggal, yaitu mengenai jadwal YM-an dengan Fitri. Di dalam perundingan ini, pihak pertama mendapatkan apa yang menjadi kepentingannya, sedangkan pihak kedua dapat dikatakan harus mengalah. It’s like a win-lose negotiation.

Powered by WordPress.com