Negosiasi kali ini terjadi pada saat saya mencari dan bermaksud untuk membeli blouse hamil untuk Bulek saya. Saya berencana untuk membelinya di Pasar Beringharjo mengingat permintaan Bulek saya adalah blouse hamil yang bermotif batik. Karena saya belum pernah membeli jenis pakaian ataupun blouse seperti itu, maka saya juga belum tau dan paham harga kisaran sebuah blouse hamil batik yang sesuai dengan permintaan Bulek saya (lengan panjang, ukuran jumbo, dsb).
Ketika saya telah sampai di pasar, saya berniat untuk mencari keperluan saya dahulu sembari melihat-lihat blouse hamil untuk Bulek saya. Setelah berputar-putar tanpa berhenti di satu toko, akhirnya saya berhenti di salah satu toko yang menjual blouse hamil. Setelah melihat-lihat dan menimbang-nimbang sendiri, saya menanyakan harga blouse yang saya akan pilih untuk dibeli. Ternyata harganya adalah Rp 77.500. Karena saya sebenarnya belum paham harga sebuah blouse hamil, namun harga jual pertama si penjual tetap saya tawar. Tawaran saya adalah Rp 60.000. Karena tersadar bahwa saya masih mempunyai cukup banyak waktu untuk mencari blouse di toko lain dan dengan sedikit melakukan positional commitment, akhirnya saya berniat untuk pergi dari toko tersebut dan berharap tidak dipanggil lagi. Namun tidak lama kemudian, penjual tersebut mengabulkan permintaan saya. Dan mau tak mau saya membayarnya.
Dari toko pertama saya mempunyai standar harga untuk membeli blouse hamil yang kedua. Harga Rp 60.000 saya jadikan patokan tertinggi untuk pembelian yang kedua. Namun saya masih berharap saya dapat membelinya dengan harga berkisar Rp 30.000 - Rp 35.000 seperti harga blouse batik pada umumnya. Setelah berputar-putar lagi dan melihat-lihat blouse batik yang besar akhirnya saya berhenti di toko kedua. Harga blouse hamil batik yang ditawarkan pertama adalah Rp 80.000. Kemudian saya menawarnya dengan Rp 50.000. Dengan mengatakan ”Wah, jangan mahal-mahal dong mbak. Saya belum dikasih uang nih sama Bulek saya, Rp 50.000 saja ya?” akhirnya penjual menurunkan harga menjadi Rp 65.000. Saya tetap bertahan dengan harga Rp 50.000. Setelah menanyakan kepastian harga pasnya berapa, penjual tersebut mengatakan bahwa harga pasnya Rp 60.000 dan tidak bisa ditawar lagi karena ukuran blouse hamil batik tersebut jumbo dan diikuti oleh alasan-alasan penjual lainnya. Namun, saya memberikan tawaran kedua saya yaitu Rp 55.000 dan saya berniat tidak menaikkan tawaran saya. Setelah saya membujuknya sebagaimana halnya seorang pembeli, akhirnya penjual tersebut mau melepas blouse hamil batik tersebut kepada saya seharga Rp 55.000.
Kasus yang telah dipaparkan di atas sangat menggambarkan proses bargaining. Gaya konflik yang digunakan perunding adalah kompetisi. Pada pembelian blouse yang pertama, taktik berunding yang digunakan adalah positional commitment yaitu kokoh pada pendirian harga yang ditawarkan, yaitu Rp 60.000. Sedangkan pada pembelian blouse yang kedua, perunding memberikan alasan-alasan yang persuasif dan cukup meyakinkan kepada penjual agar penjual dapat mengabulkan penawaran perunding (taktik berunding persuasive arguments) yang mana kemudian dilanjutkan dengan positional commitment. Pada dua pembelian blouse tersebut terlihat bahwa perunding (pembeli) telah mempunyai BATNA walaupun baru diniatkan pada akhir dari negosiasinya dengan penjual pertama. BATNA yang diperoleh yaitu dengan mencoba mencari blouse hamil batik di tempat lain dengan harapan bisa mendapatkan blouse dengan harga, ukuran, model yang lebih baik dari sebelumnya (wishful thinking). Terkait dengan demand, goal, dan limit, dalam pembelian blouse yang kedua diketahui bahwa demand atau tuntutan dari perunding (pembeli) adalah Rp 50.000, goal atau sasarannya Rp 50.000-Rp 60.000, dan limit atau batasan dari pembeli adalah Rp 60.000. Karena harga terbentuk pada Rp 55.000, maka sifat dari penawaran tersebut adalah positif atau positive bargaining range yang berkisar di antara Rp 50.000 – Rp 60.000. Dengan demikian, akhirnya penjual dan pembeli dapat menentukan harga di viable options (opsi-opsi dalam positive bargaining range), karena pada akhirnya terjadi kesepakatan harga yaitu Rp 55.000.

