Ada sebuah diskusi menarik di salah satu kelas mata kuliah yang sedang saya ambil semester ini. Beranjak dari sebuah pertanyaan sederhana mengenai agama: Apa yang disampaikan pada saat dialog antaragama (Interfaith Dialogue) atau sejenisnya yang mendatangkan lebih dari satu agama atau kepercayaan? Satu pertanyaan awal ini ternyata telah menyeret ke pertanyaan-pertanyaan lain yang saling berkaitan namun kemudian dijadikan sebuah perbandingan dengan Tabligh Akbar, atau sejenisnya yang merupakan suatu forum komunikasi suatu agama atau kepercayaan tertentu. Pertanyaan selanjutnya adalah: Dan apa yang biasanya disampaikan pada acara-acara kajian agama tertentu seperti Tabligh Akbar, Kajian Minggu pagi di Gereja, dan sebagainya?
Dari berbagai pendapat dan pandangan forum, maka untuk pertanyaan pertama dapat ditarik kesimpulan bahwa Interfaith Dialogue biasanya berusaha untuk mencari titik temu atau persamaan di antara beberapa agama / kepercayaan yang mana pembicaraan tersebut akan mengarah pada perdamaian di antara antaragama yang ada. Di dalam dialog antaragama tersebut juga telah menjadi kebiasaan untuk memberikan ayat-ayat perdamaian secara bersama-sama, dan titik temu yang dicoba untuk didapatkan melalui persamaan-persamaan antaragama itu akan dijadikan sebagai legitimasi bagi kesamaan sikap untuk mewujudkan perdamaian.
Untuk diskusi pertanyaan yang kedua, dapat ditarik garis besarnya bahwa sebuah acara Kajian Minggu Pagi, Tabligh Akbar, Pengajian, Ceramah, Kuliah Tujuh Menit (Kultum), dan sebagainya yang merupakan forum komunikasi satu iman atau satu agama atau kepercayaan tertentu mempunyai esensi materi yang berbeda dengan Interfaith Dialogue. Suatu pengajian, Kajian, ceramah dan sebagainya lebih cenderung untuk memberikan suatu penjelasan yang bersifat superioritas atas negara lain, membawa ayat-ayat permusuhan dengan agama lain dan sebagainya yang mungkin disampaikan secara eksplisit ataupun implisit.
Berdasarkan dua pandangan terhadap dua pertanyaan tersebut kita mengetahui bahwa terdapat (mungkin dapat dikatakan sebagai) dualisme agama. Sekarang yang dipertanyakan adalah: Mengapa ada dualisme sikap di sini, di mana ketika beberapa agama bertemu dalam satu forum yang berwadahkan ‘Interfaith Dialogue’, mereka cenderung untuk berdamai, tidak menjelekkan satu sama lain, menyerukan ayat-ayat perdamaian ke dunia, memberikan toleransi kepada sesama, dan yang terpenting adalah mencari titik temu di antara agama-agama yang berbeda tersebut sehingga mempunyai sikap dan pemahaman yang sama untuk mewujudkan perdamaian. Namun, di sisi lain suatu agama dapat berubah sikap dengan superioritas agama atas agama lain di dalam sebuah forum internal agama / kepercayaannya sendiri. Mengapa hal ini terjadi?
Lihat Konteks dan Materinya
Jika saya bisa sedikit berargumen terhadap pertanyaan ini, saya akan memulainya dengan melihat konteks dari kedua forum itu. Yang pertama yaitu bahwa kedua forum itu mempunyai konteks yang berbeda. Interfaith Dialogue merupakan forum pertemuan antar-parapemuka agama atau kepercayaan, yang bisa dalam lingkup nasional ataupun internasional. Melihat konteks dari sebuah forum dapat kita telusuri dari aktor-aktor yang terlibat di dalamnya, yaitu seperti para pemuka agama itu sendiri, para simpatisan, para partisipan dari berbagai lapisan masyarakat, dan sebagainya. Sedangkan di dalam suatu forum Tabligh Akbar, misalnya, konteksnya akan lebih sempit bila dibanding dengan Interfaith Dialogue, walaupun Tabligh Akbar bisa dikatakan sebuah forum yang lebih substansial daripada Interfaith Dialogue. Tabligh Akbar dan sejenisnya hanya melibatkan pemuka agama atau kepercayaan itu sendiri dan para umat atau pengikutnya saja, di sini mereka tidak atau jarang melibatkan pihak yang berbeda identitas agamanya dengan mereka.
Hal kedua yang saya lihat adalah materi yang dibahas dari kedua forum itu. Interfaith Dialogue idealnya, dan memang biasanya demikian, membicarakan hal-hal yang general atau masih di permukaan. Mereka, para pemuka agama yang berbeda agama itu, tidak akan membahas hal yang secara substantif terkait agama mereka, karena memang agama satu dengan yang lain mempunyai ajaran yang berbeda secara substantif pula. Dan karena itu pula sebenarnya isu mengenai agama, seperti yang dicoba untuk dibahas di dalam Interfaith Dialogue ini, seringkali dianggap sebagai isu yang sensitif di berbagai pihak atau bahkan negara seperti Perancis yang telah menerapkan sensitivitas terhadap agama dalam kehidupan sehari-harinya. Karena itu, untuk menjaga sensitifitas mereka, hal-hal yang dibahas adalah hanya yang bersifat umum, mencoba untuk merangkul semua agama agar bisa bergandengan tangan, bertoleransi, dan mengajak semua kaumnya untuk berusaha mewujudkan perdamaian melalui, salah satunya, mutual understanding di masing-masing pihak yang terkait dengan masalah keagamaan. Maka, akan sangat wajar sekali bila suatu forum Interfaith Dialogue mempunyai materi pembahasan yang oleh beberapa pihak disebut sebagai ‘ayat-ayat perdamaian’ daripada yang menyangkut ‘ayat-ayat permusuhan’ ke sesama. Dan sebenarnya, jika dilihat sedikit lebih dalam lagi, hal ini tentunya terkait dengan adanya norma di antara para pemeluk agama yang berbeda yang berada pada sebuah level yang lebih tinggi (misal: nasional atau internasional) untuk saling menjaga kebebasan beragama dan berkepercayaan, menghormati apa yang diyakininya, dan mencoba untuk bertoleransi terhadap perbedaan yang ada. Itu adalah sebuah norma yang memang sepatutnya dipatuhi.
Lantas bagaimana dengan materi dalam sebuah Tabligh Akbar dan sejenisnya? Sebuah forum internal seperti itu tentunya mempunyai keleluasaan yang lebih untuk menyampaikan materi kepada pengikut atau umatnya. Karakter dari forum ini adalah menyampaikan sebuah dakwah yang bersifat kualitatif kepada umatnya. Hal ini bisa berupa menyerukan amar ma’ruf nahi munkar (melakukan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang-Nya), mengingatkan kembali umatnya akan ajaran-ajaran agamanya (upgrading), melakukan kajian historis agamanya, atau melakukan hal-hal lain yang dapat meningkatkan iman para umatnya. Dalam penyampaian-penyampaiannya ini, tidak sedikit pihak yang mungkin berfikiran atau penyampaian itu sendiri dapat mengarah pada suatu ‘ayat-ayat permusuhan’ bagi agama lain. Ini adalah sebuah subjektifitas pemikiran individu dalam melihat kasus ini. Setiap agama mempunyai substansi yang berbeda, tetapi mereka mempunyai suatu benang merah yang mengarah pada perdamaian. Karena saya merasa bahwa pandangan orang terhadap hal ini sangat bersifat subjektif. Orang yang berfikiran radikal bisa saja selalu mencerca agama lain di depan forumnya yang mana bisa menimbulkan prasangka yang tidak baik bagi agama lain. Namun, ada juga pihak lain yang mengetahui dan sadar akan adanya perbedaan substasial antaragama, dan mencoba untuk mentolerirnya. Mereka yang bertoleransi ini mencoba untuk berfikir: “Ya, kami tau kami berbeda pandangan yang berbeda, tetapi biarlah. Kami menghormati apa yang kamu pegang dan marilah kita hidup berdampingan bersama”.
Kesimpulannya
Agama merupakan salah satu hal yang dapat mencitrakan seorang individu ataupun kelompok. Karena itu, agama dapat kita sebut sebagai identitas. Ritual keagamaan, ajaran keagamaan, dan sejenisnya dapat kita katakan sebagai hal yang umum dilakukan oleh setiap agama. Terkait dengan konsep identitas, ritual dan ajaran tersebut dapat dikatakan sebagai ekspresi dari identitas seseorang atau kelompok tertentu. Ekspresi dari suatu agama dapat berbeda yang mana untuk kali ini saya bagi menurut konteks dan materinya. Di dalam sebuah forum yang mendatangkan lebih dari satu pemuka agama, identitas suatu agama akan terlihat begitu jelas karena mereka secara kontras berbeda dengan agama yang lain. Karena itu, apa yang disampaikan dan diusungnya adalah dengan mencari titik temu ataupun suatu jembatan untuk dapat mewujudkan hal-hal baik yang dapat mengarah pada perdamaian dengan mengambil benang merah dari kesamaan ajaran agama mereka, yakni kebaikan. Sedangkan di dalam forum yang internal, identitas suatu agama atau kepercayaan dapat diekspresikan secara substantif dan bebas. Kebebasan atau kelonggaran untuk menyampaikan materi apa kepada forum internal tersebut tentunya bisa mengarah pada pembicaraan yang menjurus pada permusuhan dengan agama lain. Di sinilah terlihat arah dualisme dari ekspresi agama. Namun, seperti yang telah saya paparkan di atas, hal ini terjadi bukanlah tanpa alasan.

Alasan yang dapat dibenarkan dari aksi Israel kepada Palestina itu adalah karena adanya serangan roket-roket dari Kota Gaza yang diluncurkan ke daerah Israel berkali-kali yang jumlahnya telah mencapai 200 roket lebih. Merasa terganggu oleh serangan roket dari Gaza yang diduga dilakukan oleh orang pengikut Hamas itu, Israel memberikan peringatan jika sampai Palestina tidak menghentikan serangan roketnya, Israel akan bertindak. Dan.. seperti yang kita tahu Israel telah bertindak dengan massivenya ke kota Gaza.
What about Obama? Ternyata ketika serangan Israel sejak 27 Desember 2008 sampai dengan memasuki minggu pertama di tahun 2009 tersebut, Obama sedang berada di Hawaii karena sedang holiday akhir tahun bersama keluarganya. Sejak awal serangan ini mencuat, Obama memang tidak memberikan komentar sedikit pun terhadap apa yang terjadi di Gaza. Obama tau dan mengikuti perkembangannya, tetapi Ia tidak berkomentar. Ternyata yang membuatnya sedemikian diam adalah karena ia merasa belum saatnya berbicara. Obama melihat masih ada Bush yang memegang tampuk pemerintahan sampai tanggal 20 Januari 2009 yang lebih layak berbicara dan bertindak ketimbang Obama yang masih akan dilantik pada tanggal yang sama (20 Januari 2009). Bush berpandangan tidak ingin melangkahi Bush yang masih menjabat dan memang belum saatnya Bush bergeming, karena belum dilantik atau diresmikan oleh Kongres.