“Sunita,12 tahun, adalah siswi kelas lima. Dia punya tiga saudara kandung. Tidak lama sebelumnya, ibu Sunita butuh transfusi darah sewaktu akan melahirkan anaknya yang keempat. Ayah Sunita menyumbangkan darahnya dan ternyata darahnya positif HIV. Rumah Sakit dan seluruh tetangganya kini tahu bahwa ayah Sunita terjangkit HIV. Setelah mendengar cerita tersebut, kepala sekolah dan pihak-pihak lain yang mempunyai wewenang atas sekolah tersebut memutuskan untuk tidak mengizinkan Sunita bersekolah.[1]”
Kisah di atas merupakan representasi dari ribuan kisah yang dialami oleh Orang dengan HIV/AIDS (biasa dikenal dengan sebutan ODHA) dan sanak saudaranya. Kisah yang terjadi di India ini bukan tidak mungkin juga terjadi di negara-negara lain, termasuk Indonesia. Begitu banyak cerita pahit yang harus dialami oleh para ODHA, yang terwujud dalam pemberian stigma ataupun mengalami diskriminasi. Adanya stigma dan diskriminasi ini tentunya tidak dapat kita lepaskan dari identitas diri mereka sendiri sebagai ODHA. Untuk itu, tulisan ini akan membahas mengenai bagaimana identitas ODHA ini dapat terkonstruksi dan dapat berujung pada pemberian stigma dan diskriminasi. Selain itu juga akan diberikan beberapa preskripsi sebagai upaya antidiskriminasi terhadap ODHA.
Stigma dan Diskriminasi
“Saya tidak terkejut dia sakit sekarang – dia kan memang homo[2]”.
Telah begitu banyak stigma dan perlakuan diskriminatif yang ditujukan kepada ODHA. Dan penggalan kalimat di atas adalah salah satu contoh bentuk stigma kepada ODHA. Data dari UNESCO and UNAIDS Advocacy Kits menyatakan bahwa stigma terjadi karena adanya keterkaitan antara AIDS dengan seks, penyakit dan kematian, serta perilaku yang mungkin melanggar hukum, haram, atau tabu, seperti hubungan seks sebelum nikah dan di luar nikah, jasa pelayanan seks, seks antar sesama pria, dan pemakaian narkoba melalui suntikan.
“Kami tidak berani lagi menyuapinya makanan, kami takut mendekatinya – jadi dia meninggal”.
Pernyataan di atas ini merupakan salah satu bentuk perlakuan diskriminatif terhadap ODHA. Perlakukan diskriminatif adalah perlakuan tak sama yang diberikan kepada pihak tertentu. Perlakuan diskriminatif terhadap ODHA bisa dari keluarga sendiri, teman dan kerabat, masyarakat sekitar, ataupun pemerintah. Contoh perlakuan diskriminatif yang sering terjadi adalah pengucilan, seperti membedakan perangkat makan di dalam rumah, menjauhi dalam komunitas sosial, tidak memberikan akses yang sama kepada ODHA oleh pemerintah seperti yang terjadi di Aceh, di mana ada rumah sakit yang menolak memeriksa ODHA karena alasan ketidaklengkapan alat pemeriksaan yang menunjang[3].
ODHA sebagai suatu Identitas Baru
Beberapa contoh stigma dan diskriminasi terhadap ODHA tersebut tentunya sangat terkait dengan identitas diri mereka sebagai Orang yang terjangkit HIV/AIDS. Ketika identitas ODHA diketahui oleh keluarga dan lingkungan sekitarnya, proses stigmatisasi dan diskrimininasi pun akan segera tertuju kepada ODHA. Pemberian stigma dan perlakuan yang diskriminatif tentunya memberikan tekanan yang tajam secara mental-psikologis pada ODHA. Karena itu pulalah orang yang telah terjangkit HIV/AIDS lebih cenderung untuk menyembunyikan identitasnya sebagai ODHA dari lingkungan keluarga dan sekitar karena takut menerima stigma dan tindakan diskriminatif secara langsung.
“Saya tidak takut dengan penyakit ini, saya takut bagaimana orang akan memperlakukan saya jika mereka tahu saya mengidap AIDS”.
Para ODHA hanya akan membuka identitasnya sebagai ODHA kepada masyarakat atau kelompok tertentu yang peduli dengan permasalahan ODHA dan terkait dengan isu-isu HIV/AIDS. Karena hanya di lingkungan yang memang peduli dengan mereka-lah para ODHA akan merasa nyaman untuk bisa berinteraksi secara wajar tanpa harus merasa takut mendapatkan stigma ataupun bentuk perlakuan diskriminatif. Dan hal ini merupakan suatu konsekuensi sosial dari HIV/AIDS itu sendiri. Perlu kita ketahui bersama bahwa empat dari 10 penduduk berusia 15-24 tahun yang belum menikah mengatakan bahwa mereka akan merahasiakan jika ada anggota keluarga yang mengidap HIV/AIDS[4]. Hal ini menunjukkan bahwa identitas ODHA memang sangat rawan untuk diketahui banyak orang, karena dampaknya adalah stigma dan perlakuan diskriminatif terhadap ODHA itu sendiri yang notabene akan sangat mempengaruhi psikis dari ODHA tersebut.
Setiap manusia pasti mempunyai identitas, yaitu sesuatu yang membuat seseorang ataupun sekelompok orang mengidentifikasi dirinya sama atau berbeda dengan yang lain. Konstruksi yang terbangun untuk suatu identitas sangat terkait dengan persamaan dan perbedaan. Karena itu identitas akan membentuk otherness dan selfness di mana akan terwujud suatu pemikiran ‘saya-kamu’ dan ‘kami-mereka’. Sebagai implikasi dari adanya konstruksi identitas ini maka akan muncul persoalan bagaimana individu atau kelompok memandang dirinya di dalam lingkungan di mana mereka berada, serta sebaliknya, bagaimana lingkungan memandang mereka. Berbicara mengenai identitas sangat erat kaitannya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti “Siapa saya/kita?”, “Siapa orang di sekitar saya/kita?”, “Peran apa yang bisa (dan yang tidak bisa) saya/kita jalankan?”, “Bagaimana saya/kita mesti berlaku dengan orang lain?”.
Jika dikaitkan dengan konstruksi identitas, bagaimana dengan ODHA? ODHA tentunya juga memiliki identitas. Identitas ODHA adalah orang yang terjangkit HIV atau mengidap penyakit AIDS, dengan segala latar belakangnya. Status ODHA sebagai pengidap HIV/AIDS kemudian menjadi identitas bagi ODHA itu sendiri, yang mana cukup membedakannya dan memisahkannya dengan orang-orang tanpa HIV/AIDS[5]. Konstruksi identitas ODHA seperti ini lantas memunculkan ruang yang berbeda, yaitu antara ODHA dengan bukan ODHA. Dari sini pula mulai terlihat bahwa ODHA memiliki identitas yang benar-benar berbeda dengan yang lain, terlebih ketika masyarakat telah mempunyai pemikiran yang terlampau negatif terhadap ODHA terlepas dari pemahaman mereka tentang ODHA Itu sendiri. Adanya konstruksi pembedaan ini tentunya akan berujung pada pemberian stigma dan perlakukan yang diskriminatif.
Orang dengan status pengidap HIV/AIDS tentunya akan mulai bertanya siapa diri mereka di lingkungannya? Dengan identitasnya yang baru, ODHA tentu akan merasa begitu berbeda dengan yang lain di lingkungan sekitarnya, dan hal inilah yang secara psikologis membuat ODHA merasa minder. ODHA juga akan menanyakan peran apa yang bisa mereka lakukan di lingkungan mereka dengan status barunya. Namun, pada kenyataannya, status ODHA tersebut tidak memiliki peran yang cukup signifikan di lingkungan sosial-masyarakat. Hal ini dikarenakan stigma masyarakat terhadap ODHA masih cukup kental. Stigma-stigma yang tertuju pada ODHA telah membuat ODHA merasa terkucilkan dan mendapatkan perilaku yang diskriminatif.
Tidak dapat dipungkiri bahwa HIV/AIDS membawa dampak yang cukup signifikan bagi ODHA itu sendiri. Trauma, sikap membisu, suka menghindar, tidak Percaya Diri (PD), merasa jelek, terhina, dan sebagainya adalah beberapa contoh dari apa yang ODHA rasakan. Pengalaman-pengalaman ini tentunya akan menyebabkan pengucilan diri, dan bagi yang masih duduk sebagai pelajar akan berhenti sekolah karena tidak mampu belajar, dan bukan tidak mungkin karena mendapatkan diskriminasi oleh teman-temannya di sekolah.
Stigma dan diskriminiasi terhadap ODHA dapat datang dari mana saja, di mana saja, dan kapan saja. Terlebih ketika ada trend kenaikan estimasi jumlah ODHA yang meningkat dari 90.000 sampai dengan 130.000 orang (data tahun 2002). Dengan adanya kecenderungan akan naiknya orang yang terjangkit HIV, tentunya akan semakin banyak pula stigma ataupun diskriminasi yang semakin jelas terlihat di lingkungan masyarakat. Hal ini tentunya harus kita cegah bersama.
Untuk memahami ODHA dengan identitasnya sebagai orang yang terjangkit HIV/AIDS diperlukan suatu pemahaman yang tinggi. Bagaimana kita dapat memahami ODHA jika kita tidak mengerti seluk beluk yang terkait dengan HIV/AIDS? Pemahaman memang sangat diperlukan untuk menimbulkan kepedulian sehingga dapat meminimalisasi stigma dan perlakuan diskriminatif terhadap ODHA. Karena itu, mulailah pemahaman terhadap ODHA dari individu masing-masing. Secara perorangan, kita dapat turut membantu ODHA untuk tidak selalu terpuruk terhadap keadaannya. Caranya dapat menghibur dan membantu mereka dalam menghadapi kesulitan, stigma, dan ketegangan-ketegangan lain yang timbul akibat adanya HIV/AIDS dalam keluarga mereka.
Pemahaman yang baik akan ODHA dapat diciptakan dan diperoleh melalui sarana pendidikan. Pendidikan dianggap mampu untuk memberikan informasi yang cukup tentang ODHA dan menciptakan sikap yang penuh dukungan dan pengertian terhadap ODHA. Di sinilah arti penting dari pendidikan yang sifatnya informatif dan antisipatif. Dikatakan informatif karena dapat memberikan informasi dan pemahaman tentang ODHA dan dikatakan antisipatif karena dapat bermanfaat pula dalam upaya pencegahan bagi pelajar yang belum terkena virus HIV/AIDS terhadap kerentanannya dari segi medis.
Pemahaman yang dapat diberikan melalui pendidikan ini contohnya seperti mendorong sikap saling mengerti, bersimpati dan berempati, tidak diskriminatif terhadap ODHA, dan yang terpenting adalah memberikan pamahaman bahwa menjadi ODHA maka tidak lantas hak-hak asasi mereka menjadi tereduksi. Wadah melalui pendidikan dapat dikatakan cukup efektif karena semakin tinggi pendidikan, maka akan semakin tinggi pula persentase penduduk, yang berusia 15-24 tahun dan belum menikah, yang menyatakan bersedia untuk merawat anggota keluarga ODHA, karena mereka sudah mulai memahami ODHA[6].
Kesimpulan
Stigma dan diskriminasi yang menimpa ODHA tidak dapat dilepaskan dari identitas ODHA itu sendiri. Statusnya sebagai ODHA telah memberikan suatu identitas baru bagi dirinya. Identitas ODHA tersebut terkonstruksi dari lingkungan sekitarnya, yang kemudian turut membedakannya dari yang lain. Hal ini kemudian yang secara tidak langsung menyudutkan ODHA dengan berbagai stigma dan juga perlakukan diskriminatif. Terlebih ketika masyarakat kurang memahami hal-hal terkait dengan HIV/AIDS dan ODHA itu sendiri, maka stigma dan diskriminasi itu akan selalu ada.
Sebagai upaya antidiskriminasi terhadap ODHA, diperlukan adanya pemahaman yang lebih mengenai ODHA itu sendiri. Walaupun pendampingan ODHA dapat dilakukan secara personal, pendidikan merupakan wadah yang dapat dikatakan efektif untuk memperoleh pemahaman yang cukup mendasar mengenai HIV/AIDS. Karena semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin tinggi pula pengetahuan dan wawasan dia dan akan semakin tinggi pula tingkat toleransi dan kepeduliannya terhadap sesama, terlebih kepada orang-orang seperti ODHA yang seharusnya didampingi dan didekati, bukan justru dijauhi dan didiskriminasikan.
[1] Diambil dari Studi Kasus yang terdapat dalam UNESCO dan UNAIDS & Advocacy Kit.
[2] Diambil dari UNESCO & UNAIDS Advocacy Kits, Slide 8: Contoh-contoh Ketakutan dan Stigma yang Berkaitan dengan AIDS.
[3] Jangan Kucilkan ODHA! (online). http://72.14.235.132/search?q=cache:0KbOh9gww70J:www.kompas.com/read/xml/2008/05/25/12240250/jangan.kucilkan.odha+studi+kasus+odha&cd=16&hl=id&ct=clnk&gl=id. Diakses tanggal 09 Mei 2009.
[4] Diambil dari Informasi Ringkas Kesehatan Reproduksi Remaja, Jakarta, 2004. HIV/AIDS dan IMS: Apa yang Diketahui oleh Kaum Muda? (Slide 3).
[5] Identitas ODHA bisa berwujud sebagai identitas ODHA sebagai seorang individual, atau bisa juga sebagai identitas kelompok, yaitu kelompok orang-orang dengan HIV/AIDS.
[6] Diambil dari Informasi Ringkas Kesehatan Reproduksi Remaja, Jakarta, 2004. HIV/AIDS dan IMS: Apa yang Diketahui oleh Kaum Muda? (Slide 3).




Alasan yang dapat dibenarkan dari aksi Israel kepada Palestina itu adalah karena adanya serangan roket-roket dari Kota Gaza yang diluncurkan ke daerah Israel berkali-kali yang jumlahnya telah mencapai 200 roket lebih. Merasa terganggu oleh serangan roket dari Gaza yang diduga dilakukan oleh orang pengikut Hamas itu, Israel memberikan peringatan jika sampai Palestina tidak menghentikan serangan roketnya, Israel akan bertindak. Dan.. seperti yang kita tahu Israel telah bertindak dengan massivenya ke kota Gaza.
What about Obama? Ternyata ketika serangan Israel sejak 27 Desember 2008 sampai dengan memasuki minggu pertama di tahun 2009 tersebut, Obama sedang berada di Hawaii karena sedang holiday akhir tahun bersama keluarganya. Sejak awal serangan ini mencuat, Obama memang tidak memberikan komentar sedikit pun terhadap apa yang terjadi di Gaza. Obama tau dan mengikuti perkembangannya, tetapi Ia tidak berkomentar. Ternyata yang membuatnya sedemikian diam adalah karena ia merasa belum saatnya berbicara. Obama melihat masih ada Bush yang memegang tampuk pemerintahan sampai tanggal 20 Januari 2009 yang lebih layak berbicara dan bertindak ketimbang Obama yang masih akan dilantik pada tanggal yang sama (20 Januari 2009). Bush berpandangan tidak ingin melangkahi Bush yang masih menjabat dan memang belum saatnya Bush bergeming, karena belum dilantik atau diresmikan oleh Kongres.