“I’m sorry,”
It’s all that you can say
Years gone by and still
Words don’t come easily
Like “sorry”
“Forgive me,”
Is all that you can say
Years gone by and still
Words don’t come easily
Like “forgive me”
Forgive me..
(Boyzone: Can I Hold You Tonight?)
__
Seberapa sering Anda dibuat marah, kecewa, jengkel, kesal oleh orang lain? Dan seberapa sering pula Anda harus menerima kata ‘maaf’ dari mereka?
Permintaan maaf memang seringkali terlontar dari orang yang merasa telah melakukan sesuatu yang tidak mengenakkan, mengganggu, mengecewakan, dan semacamnya bagi diri kita. Dan kita pun seringkali harus mendengar perkataan itu berkali-kali lagi tanpa ada makna di dalamnya. Jika hanya permintaan maaf saja yang ada tanpa adanya kesungguhan di dalamnya, lantas hanya hampa yang akan kita terima.
Ada suatu paradoks di sini. Di satu sisi kita sering menemukan banyak orang yang menginginkan permintaan maaf dari lawannya yang dinilai telah merugikannya dengan mengatakan: “Kamu harus minta maaf padaku!” Dan ketika lawannya tersebut menolak untuk meminta maaf, maka orang tersebut lantas menjadi gusar dan kesal. Ia begitu menginginkan permintaan maaf dari lawannya tersebut. Atau, kita juga sering mendengar teman kita yang sedang kesal bergusar “Dia sadar atau tidak kesalahannya? Minta maaf saja tidak?!” Anda lihat betapa orang ini begitu mengharapkan permintaan maaf dari lawannya?! Orang yang menginginkan permintaan maaf akan cepat puas ketika lawannya telah menyatakan maaf kepadanya, karena memang itulah keinginannya walau lawannya itu bukan tidak mungkin untuk tidak bersungguh-sungguh meminta maaf darinya.
Namun di sisi lain, kita juga menemui beberapa orang yang berpandangan bahwa permintaan maaf itu tidaklah terlalu signifikan. Mereka berpandangan bahwa meminta maaf itu mudah dilakukan, bahkan berkali-kali pun orang sanggup melakukannya hanya untuk dapat dimaafkan. Namun yang menjadi pertimbangan di sini adalah, apakah ada kesungguhan dan niat untuk mengubah sikap di dalam permintaan maafnya? Dalam hal ini, sikap tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang menjadi acuan penting dari permintaan maaf seseorang.
Seyogyanya kita harus tetap menyadari bahwa permintaan maaf secara lisan ataupun tidak adalah sebuah cerminan niatan baik dari seseorang. Tidak ada salahnya pula ketika kita berfikir bahwa hanya dengan permintaan maaf sekiranya orang tersebut telah merasa bahwa ia telah bersalah dan mengecewakan kita. Hal itu sudah menjadi suatu indikasi yang positif dari lawan di mata kita tentunya. Namun, kita juga harus berfikir lebih jauh di mana sebuah permintaan maaf lisan ataupun tertulis hanyalah kata-kata yang terucap di bibir ataupun tertulis di suatu media saja.
Lihatlah permasalahan yang ada pada diri kita. Apakah permintaan maaf dari lawan kita dapat dikatakan memadai untuk jenis permasalahan tersebut? Jika permasalahannya kecil, permintaan maaf mungkin sudah cukup memadai. Namun, janganlah merasa heran jika ada orang-orang yang berniat jahat meminta maaf ke kita sambil meremas-remas tangan dan bahkan bertekuk lutut di hadapan kita sambil menyatakan penyesalan yang mendalam, tetapi sebenarnya ia tidaklah sungguh-sungguh meminta maaf? Hal ini memang sulit diidentifikasi karena siapa juga yang tahu hati dan niat orang?
Ternyata sekedar pemikiran bahwa permintaan maaf dari orang lain itu dapat menutup lembaran lama tidaklah selamanya benar. Pemikiran semacam itu ternyata salah satu pikiran beracun yang dapat merusak hidup kita. Demikian dikutip dari sebuah buku yang menurut saya cukup informatif dan menggugah pemikiran saya, yang berjudul “40 Pikiran Beracun yang Merusak Hidup Anda” karangan Arnold A. Lazarus, Ph. D. dan kawan-kawan. Buku ini mencoba menghadirkan sejumlah antitesis dari pemikiran-pemikiran yang biasanya mengendap dalam pemikiran yang sudah acapkali kita anggap positif. Contohnya adalah permintaan maaf yang sedang kita singgung di sini-di mana sebagian besar orang meyakini bahwa permintaan maaf dapat menutup lembaran lama. Tetapi ternyata tidak, antitesis yang coba dihadirkan yaitu bahwa suatu permintaan maaf tidak dapat serta merta menutup lembaran lama.
Menurut buku ini, bila orang yang benar-benar tegas merasa telah diperlakukan tidak pantas, mereka biasanya tidak begitu membutuhkan permintaan maaf (terutama yang kosong). Mereka hanya menyampaikan secara tegas dan terus terang bagaimana perasaan mereaka dan perubahan apa yang mereka inginkan mulai saat itu dengan mengatakan: “Apa yang bisa aku atau kamu lakukan untuk memastikan bahwa hal ini takkan terulang kembali?”
Yang harus diingat adalah permintaan maaf tetap menjadi suatu sikap yang mengandung nilai normatif dan baik adanya. Terlebih ketika permintaan maaf dilakukan secara tulus. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah permintaan maaf yang kosong, yang tidak mengandung suatu niat baik dan perubahan sikap untuk ke depannya, akan menjadi tidak ada artinya. Kita juga harus memahami bahwa permintaan maaf mungkin hanya bisa membantu menjelaskan suatu perbuatan yang salah, tetapi tidak akan membatalkan kerusakan yang telah diakibatkannya. Yang terpenting adalah bukan meminta orang untuk meminta maaf kepada kita, melainkan meminta seseorang memperbaiki kesalahannya. Mengapa? Karena permintaan maaf hanya bisa bermanfaat hanya bila orang tersebut mau mengubah tindakannya.
Ingat! Permintaan maaf hanyalah kata-kata; tindakan korektif adalah hal yang terpenting!

