Ardaiyene’s Weblog

June 30, 2009

Awal KKN-ku..

Filed under: Reviews — by Ardaiyene @ 5:23 pm

Mereka adalah kakak-kakak KKN, yang membantu masyarakat dan tempat ini agar lebih maju..

Kurang lebih begitulah persepsiku ketika masih kecil mengenai mahasiswa yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata atau biasa dikenal dengan KKN. Mereka terlihat begitu intelektual sebagai mahasiswa perguruan tinggi yang sedang mencoba memberdayakan masyarakat desa dengan ilmu-ilmu yang telah mereka dapatkan selama di bangku kuliah. Mereka  melakukan berbagai macam program untuk membantu kemajuan desa yang mereka tempati dan jas almamater yang selalu mereka kenakan terlihat begitu keren di mataku dulu.. (oh.. yeah..)

Dan Hey… ternyata sekarang saatnya bagiku untuk menjadi mahasiswa KKN…!

Tidak terasa, apa yang sepertinya baru aku imajinasikan, bayangkan, fikirkan tentang masa-masa KKN yang suatu saat saya akan jalani ketika masih kecil dulu ternyata sekaranglah telah tiba saatnya.. Begitu cepat sekali rasanya… Saya telah menginjak akhir dari semester enam di bangku perkuliahan Fisipol UGM, dan sekaranglah saatnya mengikuti 3 SKS “wajib” untuk dapat mengambil 6 sks Skripsi, yaitu KKN..

Awalnya, saya berniat untuk mengambil KKN reguler di universitas. Saya berniat untuk tidak meribetkan diri dalam segala urusan KKN yang berkaitan dengan dana KKN. Dan fikirku, KKN reguler lebih menantang karena selain tempatnya yang baru, teman-teman yang didapat juga baru. Beda dengan KKN tematik yang mana kita bisa memilih teman satu unit KKN kita sendiri.

Namun ternyata, Tuhan memberikan jalan kepada saya untuk mengambil KKN tematik bersama beberapa teman SMA saya. Walaupun jumlah teman yang saya kenal di dalam unit KKN saya sekarang hanya tiga orang, saya lantas menganggap bahwa masalah teman itu sama saja. Mau teman lama atau teman baru sama saja, yang terpenting bagaimana kita mengadakan koordinasi dengan teman satu unit. Toh ternyata saya dapat berkoordinasi dengan teman baru dalam satu unit saya lebih baik dari yang telah saya ekspektasikan.

Saya mencoba melihat dan menimbang-nimbang sendiri bahwa inti dari KKN adalah sama, yaitu pengabdian. Mau di mana tempatnya dan sama siapa saja temannya, di KKN inilah tempat dan waktu kita untuk bisa menerima dan menjalankan itu semua. Setelah terlibat dalam rapat koordinasi unit KKN tematik, saya melihat bahwa KKN reguler dan tematik mempunyai plus dan minusnya masing-masing. Karena itu, tidak perlu diperhujatkan secara mendalam. Just take the essence of it! Seperti yang dibilang oleh salah satu kakak angkatanku dulu yang mengatakan bahwa KKN itu intinya adalah have fun dan bagaimana kamu bisa berbaur dengan warga dan membantu mengembangkan potensi mereka. Jangan dibuat susahlah… (begitulah katanya..)

And here I am in KKN-PPM Kaliurang… Unit 20!!

Wow.. senangnya sudah memiliki unit KKN tematik sendiri. Saya begitu bersemangat untuk menghadiri rapat KKN dan mengikuti alur pembicaraan dan progressnya.. Sungguh menyenangkan untuk menggeluti hal ini.. Saya mendapatkan teman-teman yang cukup menggembirakan.. Penuh canda tawa.. Mereka bisa menjadi obat kejenuhanku akan urusan perkuliahan..

Memang benar apa kata temanku. KKN ini banyak memberikan pendewasaan bagi diri kita. Belum KKN saja, pendewasaan kita sudah mulai diuji. Misalnya saja dapat dilihat dari bagaimana respon dan sikap kita terhadap hal-hal yang oleh sebagian besar mahasiswa menyulitkan administrasi KKN, bagaimana koordinasi antarteman satu unit untuk membicarakan masalah sponsor atau dana, bagaimana kesanggupan waktu terbatas yang kita miliki untuk dapat sedikit diluangkan hanya untuk membicarakan progress KKN kita, dan sebagainya. Semua memerlukan tenaga, waktu, serta pikiran yang benar-benar serius untuk KKN ini. Tak pelak, banyak mahasiswa yang merasa sungguh ribet dan akhirnya terlampiaskan dengan amarah dan keluhannya… “Kenapa hanya 3 SKS saja bisa seribet ini?”

Kelompok unit ku pun tak luput dari permasalahan pra-KKN. Banyak hal. Dari permasalahan urusan sponsor yang tidak jelas siapa yang harus bergerak dan harus bagaimana, teman-teman satu unit yang sulit sekali dikumpulkan semua untuk membicarakan hal-hal yang cukup substansial dalam KKN, seleksi alam anggota (ehehee), dan belum lagi ada kasus salah satu teman unit kami yang terlempar dari daftar anggota unit 20 dan harus diurus dengan prosedur yang bikin ‘aarrrgggghhhhhh’, dan masalah prosedural kecil-kecil dari ‘instansi’ tersebut yang sifatnya dadakan! Bayangin saja, saya pernah baru tahu ada rapat Kormanit, Kormasit, dan Kormater satu jam sebelum rapat tersebut dimulai. Padahal saya telah berencana untuk survey tempat KKN bersama teman-teman satu unit di jam yang sama. Alhasil, rencana survei diundur..

Yah, semua itu telah kami alami selama pra-KKN (what else?)

Dan hari ini.. tepatnya pagi ini jam 07.30 tepat nanti adalah waktu di mana Bapak Rektor UGM kita akan melepas para peserta KKN-PPM UGM antarsemester 2009 di Balairung UGM. Akan ada ribuan mahasiswa yang siap diterjunkan ke lokasi KKN yang telah ditentukan atau diajukan. Penerjunan mahasiswa KKN ke lokasi masing-masing tidaklah sama. Sebagian besar diterjunkan pada tanggal 2 Juli 2009 mendatang, tetapi ada juga yang diterjunkan tanggal 6 atau tanggal 10 Juli (sesuai keperluan dan kesepakatan bersama, khususnya Dosen Pembimbing Lapangan-nya).

Sebagai awal dari KKN ini, saya ingin berharap kelancaran dan kesuksesan bagi proses pengabdian kami selama dua bulan di tempat lokasi kami-Kaliurang. Semoga bisa bermanfaat, bermakna, dan memberikan pengalaman yang tak terlupakan. Sukses!!! =)

“Menentukan tujuan adalah aspek terpenting dari semua rencana kemajuan dan pengembangan. Itu adalah kunci untuk semua kepuasan dan pencapaian (Kalender Els 2008).”

June 8, 2009

Ketakutan itu..

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 10:40 pm

aku takut.
aku takut karena belum mendapatkan
cara untuk bisa mengantisipasinya jika itu terjadi.
benar-benar belum tahu apa yang harus kulakukan, dan harus bersikap seperti apa.
aku takut diriku akan terlarut dalam suasana yang begitu mendalam.
penuh senyum di luar; namun di dalam, luka yang kurasa.

cepat..
lambat..
mungkin suatu hari akan terjadi
suatu hari yang bisa
buat aku tersentak
pucat pasi
tak bisa bernafas
dan tertunduk
menoreh perih
yang menuntunku pada ujung keikhlasan.

cukup kuatkah aku untuk menerimanya?

Tuhan, berikan aku satu cara saja untuk menghadapinya..
kuatkan hatiku sehingga kudapat menahan tangisku

dan waktu.. beriramalah sesuai dengan hatiku
ketika dinding-dinding hatiku sudah cukup kuat
kau bisa tumpahkan dan ledakkan itu di depanku..

June 4, 2009

Agama sebagai Ekspresi Identitas: Interfaith Dialogue VS Kajian Rohani

Filed under: my zone — by Ardaiyene @ 4:06 am

Ada sebuah diskusi menarik di salah satu kelas mata kuliah yang sedang saya ambil semester ini. Beranjak dari sebuah pertanyaan sederhana mengenai agama: Apa yang disampaikan pada saat dialog antaragama (Interfaith Dialogue) atau sejenisnya yang mendatangkan lebih dari satu agama atau kepercayaan? Satu pertanyaan awal ini ternyata telah menyeret ke pertanyaan-pertanyaan lain yang saling berkaitan namun kemudian dijadikan sebuah perbandingan dengan Tabligh Akbar, atau sejenisnya yang merupakan suatu forum komunikasi suatu agama atau kepercayaan tertentu. Pertanyaan selanjutnya adalah: Dan apa yang biasanya disampaikan pada acara-acara kajian agama tertentu seperti Tabligh Akbar, Kajian Minggu pagi di Gereja, dan sebagainya?

Dari berbagai pendapat dan pandangan forum, maka untuk pertanyaan pertama dapat ditarik kesimpulan bahwa Interfaith Dialogue biasanya berusaha untuk mencari titik temu atau persamaan di antara beberapa agama / kepercayaan yang mana pembicaraan tersebut akan mengarah pada perdamaian di antara antaragama yang ada. Di dalam dialog antaragama tersebut juga telah menjadi kebiasaan untuk memberikan ayat-ayat perdamaian secara bersama-sama, dan titik temu yang dicoba untuk didapatkan melalui persamaan-persamaan antaragama itu akan dijadikan sebagai legitimasi bagi kesamaan sikap untuk mewujudkan perdamaian.

Untuk diskusi pertanyaan yang kedua, dapat ditarik garis besarnya bahwa sebuah acara Kajian Minggu Pagi, Tabligh Akbar, Pengajian, Ceramah, Kuliah Tujuh Menit (Kultum), dan sebagainya yang merupakan forum komunikasi satu iman atau satu agama atau kepercayaan tertentu mempunyai esensi materi yang berbeda dengan Interfaith Dialogue. Suatu pengajian, Kajian, ceramah dan sebagainya lebih cenderung untuk memberikan suatu penjelasan yang bersifat superioritas atas negara lain, membawa ayat-ayat permusuhan dengan agama lain dan sebagainya yang mungkin disampaikan secara eksplisit ataupun implisit.

Berdasarkan dua pandangan terhadap dua pertanyaan tersebut kita mengetahui bahwa terdapat (mungkin dapat dikatakan sebagai) dualisme agama. Sekarang yang dipertanyakan adalah: Mengapa ada dualisme sikap di sini, di mana ketika beberapa agama bertemu dalam satu forum yang berwadahkan ‘Interfaith Dialogue’, mereka cenderung untuk berdamai, tidak menjelekkan satu sama lain, menyerukan ayat-ayat perdamaian ke dunia, memberikan toleransi kepada sesama, dan yang terpenting adalah mencari titik temu di antara agama-agama yang berbeda tersebut sehingga mempunyai sikap dan pemahaman yang sama untuk mewujudkan perdamaian. Namun, di sisi lain suatu agama dapat berubah sikap dengan superioritas agama atas agama lain di dalam sebuah forum internal agama / kepercayaannya sendiri. Mengapa hal ini terjadi?

Lihat Konteks dan Materinya

Jika saya bisa sedikit berargumen terhadap pertanyaan ini, saya akan memulainya dengan melihat konteks dari kedua forum itu. Yang pertama yaitu bahwa kedua forum itu mempunyai konteks yang berbeda. Interfaith Dialogue merupakan forum pertemuan antar-parapemuka agama atau kepercayaan, yang bisa dalam lingkup nasional ataupun internasional. Melihat konteks dari sebuah forum dapat kita telusuri dari aktor-aktor yang terlibat di dalamnya, yaitu seperti para pemuka agama itu sendiri, para simpatisan, para partisipan dari berbagai lapisan masyarakat, dan sebagainya. Sedangkan di dalam suatu forum Tabligh Akbar, misalnya, konteksnya akan lebih sempit bila dibanding dengan Interfaith Dialogue, walaupun Tabligh Akbar bisa dikatakan sebuah forum yang lebih substansial daripada Interfaith Dialogue. Tabligh Akbar dan sejenisnya hanya melibatkan pemuka agama atau kepercayaan itu sendiri dan para umat atau pengikutnya saja, di sini mereka tidak atau jarang melibatkan pihak yang berbeda identitas agamanya dengan mereka.

Hal kedua yang saya lihat adalah materi yang dibahas dari kedua forum itu. Interfaith Dialogue idealnya, dan memang biasanya demikian, membicarakan hal-hal yang general atau masih di permukaan. Mereka, para pemuka agama yang berbeda agama itu, tidak akan membahas hal yang secara substantif terkait agama mereka, karena memang agama satu dengan yang lain mempunyai ajaran yang berbeda secara substantif pula. Dan karena itu pula sebenarnya isu mengenai agama, seperti yang dicoba untuk dibahas di dalam Interfaith Dialogue ini, seringkali dianggap sebagai isu yang sensitif di berbagai pihak atau bahkan negara seperti Perancis yang telah menerapkan sensitivitas terhadap agama dalam kehidupan sehari-harinya. Karena itu, untuk menjaga sensitifitas mereka, hal-hal yang dibahas adalah hanya yang bersifat umum, mencoba untuk merangkul semua agama agar bisa bergandengan tangan, bertoleransi, dan mengajak semua kaumnya untuk berusaha mewujudkan perdamaian melalui, salah satunya, mutual understanding di masing-masing pihak yang terkait dengan masalah keagamaan. Maka, akan sangat wajar sekali bila suatu forum Interfaith Dialogue mempunyai materi pembahasan yang oleh beberapa pihak disebut sebagai ‘ayat-ayat perdamaian’ daripada yang menyangkut ‘ayat-ayat permusuhan’ ke sesama. Dan sebenarnya, jika dilihat sedikit lebih dalam lagi, hal ini tentunya terkait dengan adanya norma di antara para pemeluk agama yang berbeda yang berada pada sebuah level yang lebih tinggi (misal: nasional atau internasional) untuk saling menjaga kebebasan beragama dan berkepercayaan, menghormati apa yang diyakininya, dan mencoba untuk bertoleransi terhadap perbedaan yang ada. Itu adalah sebuah norma yang memang sepatutnya dipatuhi.

Lantas bagaimana dengan materi dalam sebuah Tabligh Akbar dan sejenisnya? Sebuah forum internal seperti itu tentunya mempunyai keleluasaan yang lebih untuk menyampaikan materi kepada pengikut atau umatnya. Karakter dari forum ini adalah menyampaikan sebuah dakwah yang bersifat kualitatif kepada umatnya. Hal ini bisa berupa menyerukan amar ma’ruf nahi munkar (melakukan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang-Nya), mengingatkan kembali umatnya akan ajaran-ajaran agamanya (upgrading), melakukan kajian historis agamanya, atau melakukan hal-hal lain yang dapat meningkatkan iman para umatnya. Dalam penyampaian-penyampaiannya ini, tidak sedikit pihak yang mungkin berfikiran atau penyampaian itu sendiri dapat mengarah pada suatu ‘ayat-ayat permusuhan’ bagi agama lain. Ini adalah sebuah subjektifitas pemikiran individu dalam melihat kasus ini. Setiap agama mempunyai substansi yang berbeda, tetapi mereka mempunyai suatu benang merah yang mengarah pada perdamaian. Karena saya merasa bahwa pandangan orang terhadap hal ini sangat bersifat subjektif. Orang yang berfikiran radikal bisa saja selalu mencerca agama lain di depan forumnya yang mana bisa menimbulkan prasangka yang tidak baik bagi agama lain. Namun, ada juga pihak lain yang mengetahui dan sadar akan adanya perbedaan substasial antaragama, dan mencoba untuk mentolerirnya. Mereka yang bertoleransi ini mencoba untuk berfikir: “Ya, kami tau kami berbeda pandangan yang berbeda, tetapi biarlah. Kami menghormati apa yang kamu pegang dan marilah kita hidup berdampingan bersama”.

Kesimpulannya

Agama merupakan salah satu hal yang dapat mencitrakan seorang individu ataupun kelompok. Karena itu, agama dapat kita sebut sebagai identitas. Ritual keagamaan, ajaran keagamaan, dan sejenisnya dapat kita katakan sebagai hal yang umum dilakukan oleh setiap agama. Terkait dengan konsep identitas, ritual dan ajaran tersebut dapat dikatakan sebagai ekspresi dari identitas seseorang atau kelompok tertentu. Ekspresi dari suatu agama dapat berbeda yang mana untuk kali ini saya bagi menurut konteks dan materinya. Di dalam sebuah forum yang mendatangkan lebih dari satu pemuka agama, identitas suatu agama akan terlihat begitu jelas karena mereka secara kontras berbeda dengan agama yang lain. Karena itu, apa yang disampaikan dan diusungnya adalah dengan mencari titik temu ataupun suatu jembatan untuk dapat mewujudkan hal-hal baik yang dapat mengarah pada perdamaian dengan mengambil benang merah dari kesamaan ajaran agama mereka, yakni kebaikan. Sedangkan di dalam forum yang internal, identitas suatu agama atau kepercayaan dapat diekspresikan secara substantif dan bebas. Kebebasan atau kelonggaran untuk menyampaikan materi apa kepada forum internal tersebut tentunya bisa mengarah pada pembicaraan yang menjurus pada permusuhan dengan agama lain. Di sinilah terlihat arah dualisme dari ekspresi agama. Namun, seperti yang telah saya paparkan di atas, hal ini terjadi bukanlah tanpa alasan.

June 2, 2009

Permintaan Maaf Menutup Lembaran Lama?

Filed under: Reviews — by Ardaiyene @ 7:53 am

Sorry Myspace Comments

“I’m sorry,”
It’s all that you can say
Years gone by and still
Words don’t come easily
Like “sorry”

“Forgive me,”
Is all that you can say
Years gone by and still
Words don’t come easily
Like “forgive me”
Forgive me..

(Boyzone: Can I Hold You Tonight?)

__

Seberapa sering Anda dibuat marah, kecewa, jengkel, kesal oleh orang lain? Dan seberapa sering pula Anda harus menerima kata ‘maaf’ dari mereka?

Permintaan maaf memang seringkali terlontar dari orang yang merasa telah melakukan sesuatu yang tidak mengenakkan, mengganggu, mengecewakan, dan semacamnya bagi diri kita. Dan kita pun seringkali harus mendengar perkataan itu berkali-kali lagi tanpa ada makna di dalamnya. Jika hanya permintaan maaf saja yang ada tanpa adanya kesungguhan di dalamnya, lantas hanya hampa yang akan kita terima.

Ada suatu paradoks di sini. Di satu sisi kita sering menemukan banyak orang yang menginginkan permintaan maaf dari lawannya yang dinilai telah merugikannya dengan mengatakan: “Kamu harus minta maaf padaku!” Dan ketika lawannya tersebut menolak untuk meminta maaf, maka orang tersebut lantas menjadi gusar dan kesal. Ia begitu menginginkan permintaan maaf dari lawannya tersebut. Atau, kita juga sering mendengar teman kita yang sedang kesal bergusar “Dia sadar atau tidak kesalahannya? Minta maaf saja tidak?!” Anda lihat betapa orang ini begitu mengharapkan permintaan maaf dari lawannya?! Orang yang menginginkan permintaan maaf akan cepat puas ketika lawannya telah menyatakan maaf kepadanya, karena memang itulah keinginannya walau lawannya itu bukan tidak mungkin untuk tidak bersungguh-sungguh meminta maaf darinya.

Namun di sisi lain, kita juga menemui beberapa orang yang berpandangan bahwa permintaan maaf itu tidaklah terlalu signifikan. Mereka berpandangan bahwa meminta maaf itu mudah dilakukan, bahkan berkali-kali pun orang sanggup melakukannya hanya untuk dapat dimaafkan. Namun yang menjadi pertimbangan di sini adalah, apakah ada kesungguhan dan niat untuk mengubah sikap di dalam permintaan maafnya? Dalam hal ini, sikap tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang menjadi acuan penting dari permintaan maaf seseorang.

Seyogyanya kita harus tetap menyadari bahwa permintaan maaf secara lisan ataupun tidak adalah sebuah cerminan niatan baik dari seseorang. Tidak ada salahnya pula ketika kita berfikir bahwa hanya dengan permintaan maaf sekiranya orang tersebut telah merasa bahwa ia telah bersalah dan mengecewakan kita. Hal itu sudah menjadi suatu indikasi yang positif dari lawan di mata kita tentunya. Namun, kita juga harus berfikir lebih jauh di mana sebuah permintaan maaf lisan ataupun tertulis hanyalah kata-kata yang terucap di bibir ataupun tertulis di suatu media saja.

Lihatlah permasalahan yang ada pada diri kita. Apakah permintaan maaf dari lawan kita dapat dikatakan memadai untuk jenis permasalahan tersebut? Jika permasalahannya kecil, permintaan maaf mungkin sudah cukup memadai. Namun, janganlah merasa heran jika ada orang-orang yang berniat jahat meminta maaf ke kita sambil meremas-remas tangan dan bahkan bertekuk lutut di hadapan kita sambil menyatakan penyesalan yang mendalam, tetapi sebenarnya ia tidaklah sungguh-sungguh meminta maaf? Hal ini memang sulit diidentifikasi karena siapa juga yang tahu hati dan niat orang?

Ternyata sekedar pemikiran bahwa permintaan maaf dari orang lain itu dapat menutup lembaran lama tidaklah selamanya benar. Pemikiran semacam itu ternyata salah satu pikiran beracun yang dapat merusak hidup kita. Demikian dikutip dari sebuah buku yang menurut saya cukup informatif dan menggugah pemikiran saya, yang berjudul “40 Pikiran Beracun yang Merusak Hidup Anda” karangan Arnold A. Lazarus, Ph. D. dan kawan-kawan. Buku ini mencoba menghadirkan sejumlah antitesis dari pemikiran-pemikiran yang biasanya mengendap dalam pemikiran yang sudah acapkali kita anggap positif. Contohnya adalah permintaan maaf yang sedang kita singgung di sini-di mana sebagian besar orang meyakini bahwa permintaan maaf dapat menutup lembaran lama. Tetapi ternyata tidak, antitesis yang coba dihadirkan yaitu bahwa suatu permintaan maaf tidak dapat serta merta menutup lembaran lama.

Menurut buku ini, bila orang yang benar-benar tegas merasa telah diperlakukan tidak pantas, mereka biasanya tidak begitu membutuhkan permintaan maaf (terutama yang kosong). Mereka hanya menyampaikan secara tegas dan terus terang bagaimana perasaan mereaka dan perubahan apa yang mereka inginkan mulai saat itu dengan mengatakan: “Apa yang bisa aku atau kamu lakukan untuk memastikan bahwa hal ini takkan terulang kembali?”

Yang harus diingat adalah permintaan maaf tetap menjadi suatu sikap yang mengandung nilai normatif dan baik adanya. Terlebih ketika permintaan maaf dilakukan secara tulus. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah permintaan maaf yang kosong, yang tidak mengandung suatu niat baik dan perubahan sikap untuk ke depannya, akan menjadi tidak ada artinya. Kita juga harus memahami bahwa permintaan maaf mungkin hanya bisa membantu menjelaskan suatu perbuatan yang salah, tetapi tidak akan membatalkan kerusakan yang telah diakibatkannya. Yang terpenting adalah bukan meminta orang untuk meminta maaf kepada kita, melainkan meminta seseorang memperbaiki kesalahannya. Mengapa? Karena permintaan maaf hanya bisa bermanfaat hanya bila orang tersebut mau mengubah tindakannya.

Ingat! Permintaan maaf hanyalah kata-kata; tindakan korektif adalah hal yang terpenting!

Powered by WordPress.com