Ardaiyene’s Weblog

May 9, 2009

PENTAS UJI SISWA: GOLEK SULUNG DAYUNG

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 2:30 am

Sudah sejak pertengahan tahun 2008 saya mencoba belajar tari jawa klasik, khususnya Jogja klasik. Diawali dengan belajar privat dengan mengenal ragam tari yang begitu dasar, kemudian belajar tari jawa klasik yang paling sederhana. Di penghujung tahun 2008 saya kemudian beralih privat di Ndalem Pudjokusuman bersama dua orang teman saya. Di sana saya belajar tarian baru yang notabene masih jawa klasik dengan salah seorang penari senior (Ibu Sas) di Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Marwadha (YPBSM) Pudjokusuman. Setelah belajar tarian Sari Kusuma, dan mendapatkan setengah materi dari tarian Golek Sulung Dayung, saya bersama kedua teman saya mencoba untuk masuk ke dalam kelas reguler di YPBSM tersebut.

Di kelas reguler tersebut akhirnya saya masuk ke dalam kelas Golek Sulung Dayung. Kami latihan di Pendopo Ndalem Pudjokusuman. Setelah empat bulan latihan dengan mengenal ragam, irama, dan melatih kepekaan rasa dalam tarian, kami harus mengikuti suatu penilaian tarian tersebut dalam rangka kenaikan tingkat. Dalam kelas saya, ada dua kali penilaian. Pertama, penilaian oleh guru kami yang mengajar, kebetulan guru saya waktu itu adalah Mbak Itut. Di penilaian ini, bisa dikatakan semacam gladi resik namun diambil nilainya. Kami tampil dalam suatu kelompok kecil yang terdiri dari 5-7 orang dengan menggunakan perlengkapan kain dan sunder saja (tanpa kostum asli). Namun, dalam waktu satu bulan kedepan ternyata akan diadakan Pentas Uji Siswa untuk seluruh siswa yang mengikuti kelas regular di YPBSM dengan kostum lengkap dan bersifat umum, dapat dilihat oleh keluarga, teman, ataupun masyarakat lain. Pentas Uji Siswa ini adalah bentuk penilaian (kedua) yang notabene dilakukan untuk menguji siswa untuk dapat tampil di depan publik, dan tentunya di depan para pemberi nilai.

Tanggal 27 April 2009 kemarin, adalah jadwal saya untuk tampil dalam Pentas Uji Siswa tersebut bersama kedua teman saya. Kami tentunya membawakan tarian Golek Sulung Dayung dan kebetulan kelompok saya adalah kelompok pertama yang maju satu tari Srimpi setelah break adzan magrib. Berhubung belum pernah melakukan ujian semacam ini, saya merasa begitu demam panggung (benar-benar tidak bisa dielakkan). Yang saya lakukan hanya mencoba tenang dengan berdoa, tertawa-tawa dengan teman, dan berfoto-foto ria di backstage bersama teman-teman untuk mengusir rasa panik sembari menunggu giliran maju. Dan akhirnya waktunya pun datang juga…

S6000308c

Tari Golek Sulung Dayung sebenarnya mengisahkan seorang gadis yang sedang beranjak dewasa sehingga ia mulai gemar bersolek, memperindah dirinya. Gadis itu membayangkan bahwa akan ada seorang pangeran tampan datang dan menyatakan cinta. Sungguh jiwa gadis itu berderu bak gelombang lautan.

Alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik. Tetapi, ternyata mau nari siang, sore, ataupun malam hari seperti waktu pentas itu, tetap saja saya cukup mengeluarkan banyak keringat. Saya kira hawa habis hujan di sore hari menjelang malam itu dapat membuat saya merasa adem dan tidak akan mengeluarkan keringat. Tetapi, ternyata tidak. Gerakan dalam tarian yang iramanya dinamis ini cukup membuat diri saya merasa hangat melakukannya.

Powered by WordPress.com