Ardaiyene’s Weblog

March 23, 2009

Perbedaan EUROPEAN COUNCIL, EUROPEAN PARLIAMENT, dan EUROPEAN COMMISSION

Filed under: my zone — by Ardaiyene @ 6:21 pm

Jika kalian adalah orang yang sedang atau telah mempelajari Uni Eropa (UE), tentunya sering mendengar istilah European Council, European Parliament, dan European Commision. Ketiga istilah tersebut adalah institusi-institusi penting di UE. Mereka memengang peranan penting dalam, khususnya pengambilan keputusan di dalam UE.

Munculnya ketiga institusi utama di UE ini tidak lepas dari bentuk dari UE itu sendiri yang merupakan suatu organisasi supranasional. Menurut bacaan ‘The European Union at a Glance’, UE merupakan entitas otonomi yang berada pada posisi di antara negara federal dengan organisasi internasional. Secara legal, posisi tersebut disebut dengan istilah organisasi supranasional atau supranational organization.

Di dalam organisasi supranasional ini, setiap negara anggota tetap memiliki kedaulatan negaranya masing-masing, tetapi mereka menyatukan kedaulatannya itu guna mendapatkan kekuatan dan pengaruh kolektif yang lebih besar. Yang dimaksud dengan menyatukan kedaulatan di sini yaitu bahwa setiap negara anggota UE memberikan beberapa decision-making powers-nya ke shared institutions yang telah diciptakan. Dengan sistem seperti ini, maka keputusan di beberapa hal mengenai kepentingan bersama dapat dibuat secara demokratis di level Eropa.

Untuk melakukan dan mencapai hal tersebut, maka dibutuhkanlah beberapa institusi yang mana disebut sebagai shared institution UE. Ada tiga institusi utama dalam UE: Dewan Eropa (European Council), Parlemen Eropa (European Parliament), Komisi Eropa (European Commission).

Perbedaan ketiga institusi tersebut adalah sebagai berikut.

Dewan Eropa merupakan suatu institusi di UE yang mewakili keseluruhan negara anggota secara individu. Dewan Eropa awalnya disebut sebagai Dewan Para Menteri (Council of Ministers). Dewan Eropa terdiri dari para menteri dari setiap pemerintahan nasional anggota UE. Dan pertemuan yang diselenggarakan akan dihadiri oleh para menteri yang berkaitan atau cocok dengan isu yang akan dibahas. Setiap negara anggota mempunyai beberapa hak suara di Dewan Eropa sesuai dengan jumlah populasi negara tersebut. Sebagian besar keputusan diambil dengan cara suara terbanyak, namun untuk isu-isu sensitive seperti immigrasi, keamanan, dan lain-lain membutuhkan kebulatan suara. Dengan jadwal maksimal empat kali dalam satu tahun Presiden ataupun wakil presiden dari setiap negara anggota bertemu dalam sebagai Dewan Eropa. Basis dari Dewan Eropa ada di Brussels dan Luxembourg, tetapi pertemuan-pertemuan diadakan di negara yang menjabat sebagai Presiden Dewan Eropa saat itu.

Dewan Eropa bekerja sama dengan Parlemen Eropa dalam menggolkan atau meloloskan laws dan mengambil keputusan kebijakan. Dewan Eropa juga bertanggung jawab terhadap apa yang menjadi kebijakan luar negeri dan keamanan bersama UE, serta pada aksi UE terhadap isu keadilan dan kebebasan.

Dewan Eropa diketuai oleh seorang Presiden dari salah satu negara anggota UE selama periode 6 bulan secara bergantian. Untuk saat ini, Presiden dari Dewan Eropa adalah Presiden dari Republik Ceko, Mirek Topolanek. Dan Sekretaris Jenderal dari Dewan Eropa adalah Javier Solana dari Spanyol.

Parlemen Eropa merupakan institusi UE yang mewakili masyarakat UE yang anggotanya dipilih secara langsung oleh masyarakat di seluruh negara anggota Uni Eropa. Pemilihan anggota Parlemen Eropa dilakukan setiap 5 tahun sekali untuk mewakili apa yang menjadi kepentingan masyarakat UE. Dari 27 negara anggota yang ada, Parlemen Eropa mempunyai 785 anggota yang terbagi dalam tujuh group politik Eropa. Basis administrasi dari Parlemen Eropa adalah General Secretariat yang berada di Luxembourg. Pertemuan dari seluruh Parlemen Eropa dikenal dengan nama ‘Plenary Sessions’ yang berlangsung di Strasbourg (Perancis) dan terkadang di Brussels (Belgia).

Tugas utama dari Parlemen Eropa adalah untuk meloloskan hukum ataupun aturan-aturan Eropa (European laws). Dalam melakukan hal ini, Parlemen Eropa berbagi tanggung jawab dengan Dewan Eropa karena proposal of laws datang dari Dewan Eropa. Selain itu, Parlemen Eropa juga bertanggung jawab bersama Dewan Eropa dalam penyetujuan budget tahunan Eropa. Parlemen Eropa mempunyai kekuasaan untuk memecat Dewan Eropa dan Parlemen Eropa merupakan institusi yang memilih European Ombudsman-suatu badan Eropa yang menginvestigasi keluhan dari masyarakat Eropa mengenai maladminsitrasi di institusi-institusi Eropa.

Parlemen Eropa diketuai oleh seorang Presiden. Untuk saat ini Presiden dari Parlemen Eropa adalah Hans-Gert Pottering dari Jerman.

Komisi Eropa adalah institusi UE yang memegang kepentingan UE secara keseluruhan. Komisi Eropa dapat dikatakan sebagai the executive arm of the EU. Anggota dari Komisi Eropa ditunjuk setiap lima tahun, biasanya terdiri dari 27 wanita dan pria yang berasal dari seluruh negara anggota UE secara merata. Presiden dari Komisi Eropa dipilih Pemerintah UE dan disokong oleh Parlemen Eropa. Pekerjaan sehari-hari dari Komisi Eropa dilakukan oleh kurang lebih 25.000 pegawai yang sebagian besar bekerja di Brussels sebagai basis dari Komisi Eropa. Komisi Eropa mempunyai perwakilan di setiap negara anggota UE dan delegasi di banyak ibu kota negara di seluruh dunia.

Komisi Eropa bertugas untuk menyusun draft proposal perturan (laws) yang baru yang nantinya akan dipresentasikan ke Parlemen Eropa dan Dewan Eropa. Komisi Eropa juga mengatur bagaimana urusan keseharian dari pengimpelentasian dari kebijakan UE serta pengeluaran anggaran UE. Komisi Eropa juga turut mengawasi bagaimana perjanjian-perjanjian Eropa dipatuhi oleh semua orang yang terikat padanya. Komisi Eropa dapat bertindak keras dan tegas kepada siapa pun yang berkewajiban mematuhi aturan tetapi mereka tidak mematuhinya. Dalam hal ini, Komisi Eropa bahkan dapat membawanya ke Pengadilan jika diperlukan.

Presiden dari Komisi Eropa saat ini adalah Jose Manuel Barroso dari Portugal.

____

Sumber: artikel ‘The European Union at a Glance‘ dan ‘How the European Union Works‘.

March 18, 2009

Mengapa Wanita?

Filed under: my zone — by Ardaiyene @ 3:41 pm

Sebenarnya di awal-awal kuliah ‘Gender & Politik’, ketika saya mulai memahami perbedaan sex dan gender dan sedikit memasuki penjelasan mengenai teori yang digunakan untuk menganalisis gender, lantas saya jadi mempunyai satu pertanyaan simple yang cukup mendasar.

Mengapa fokus dari pembahasan gender adalah wanita?

Sebelum saya menemukan titik terang atas pertanyaan di dalam otakku itu, saya berfikir sendiri dan mencoba menelaah kembali apa yang dikatakan oleh Dosen Pengampu dari mata kuliah tersebut. Dalam pemaparannya di kelas-kelas sebelumnya beliau menerangkan bahwa gender itu sendiri adalah membicarakan masalah konstruksi sosial yang membedakan pria dengan wanita. Dalam penjelasan itu pun kita sudah dapat mengetahui bahwa aktor di dalam gender tidak hanya wanita, tetapi ada pria juga. Lantas, saya mulai berfikir, mengapa pria tidak dijadikan fokus juga? Atau mungkin gay/lesbian yang juga telah menyita perhatian masyarakat? Tetapi mengapa yang selalu diusung adalah wanita? Mengapa kesetaraan hak dan peluang yang selalu diusung adalah untuk wanita? Mengapa keadilan selalu diperioritaskan untuk wanita? Bagaimana dengan pria? Apakah pria selama ini telah merasa nyaman-nyaman saja sehingga tidak perlu mendapatkan tuntutan keadilan (lagi)? Bagaimana dengan fenomena pria rumah tangga? Apakah itu bukan bentuk ketidakadilan bagi pria? Mengapa itu juga tidak dijadikan fokus dalam pembahasan gender?

Inti dari urutan pertanyaan di atas sebenarnya adalah: mengapa wanita?

Ternyata setelah saya telaah kembali dan mencoba untuk menyimpulkan sendiri data-data yang telah saya dapatkan ternyata ada dua versi untuk menjawab pertanyaan itu. Yang pertama, adalah versi yang paling mudah, yaitu dengan menunjukkan data bahwa wanita memang pihak yang memerlukan perhatian lebih. Dan versi kedua yaitu versi jawaban yang sedikit akademis, yaitu dengan menganalisa peran wanita melalui perspektif atau teori yang ada.

Pertanyaan tersebut secara simple atau mudah dapat dijawab dengan menyodorkan data mengenai ketimpangan yang dialami oleh wanita dibanding dengan pria. Seperti yang telah saya utarakan dalam tulisan saya yang lalu, masalah gender adalah masalah mengenai ketimpangan yang ada antara pria dan wanita. Sebenarnya ada banyak data yang menyajikan hal tersebut. Salah satunya di sini saya akan menunjukkan data dari Fred Halliday yang menyatakan fakta sebagai berikut:

Jumlah wanita di dunia mencapai 51% dari total keseluruhan jumlah populasi dunia. Sepertiga (1/3) dari jumlah wanita itu mendapat imbalan kerjanya, sedangkan sisanya (2/3nya) tidak. Wanita telah mengupayakan 50% dari jumlah konsumsi pangan dunia. Tetapi, wanita hanya menerima 10% dari pendapatan global secara keseluruhan, wanita hanya memiliki 1% properti dunia, 60% wanita di dunia buta huruf dan 80% dari jumlah wanita di dunia adalah pengungsi. Jumlah wanita yang telah berhasil menjadi kepala negara atau menteri di dalam kabinet pemerintahan tidak lebih dari 5% dari total jumlah wanita di dunia.

Dengan melihat dan mengetahui data di atas, maka kita dapat sadar bahwa ternyata kondisi wanita di dunia sekarang ini sangat memprihatinkan. Dan karenanya wajar jika wanita menjadi fokus dari pembahasan gender. Data tersebut pun sebenarnya belum cukup untuk mendukung argumen bahwa wanita layak menjadi fokus dalam pembahasan gender. Data tersebut juga secara tidak langsung menunjukkan adanya diskriminasi terhadap wanita. Namun ada pula diskriminasi lainnya yang tidak tertuang dalam data statistik seperti di atas. Ada banyak tindakan diskriminasi lainnya yang dialami oleh wanita yang mana itu melanggar hak asasi wanita sebagai seorang wanita pula seperti pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan, dan sebagainya. Penyajian data seperti ini merupakan cara yang paling mudah untuk membuktikan bahwa wanita memang membutuhkan perjuangan, pembelaan, dan perkembangan bagi kesetaraan hak antara wanita dengan pria.

Jawaban versi kedua yaitu dengan penjelasan secara ilmiah atau akademik. Berpijak dari data yang ada, kita dapat mengetahui bahwa posisi wanita memang tidak setara dengan pria. Di sana juga menunjukkan adanya ketimpangan distribusi nilai-nilai kepada wanita yang menyebabkan wanita menjadi ter-subordinated dari pria. Hal ini dapat kita lihat sebagai sebuah konstruksi atau ciptaan dari lingkungan sosial yang ada. Sistem patriarki adalah contohnya. Sistem patriarki merupakan suatu sistem (yang tentunya juga sebuah konstruksi) yang menempatkan pria pada posisi dominan atau puncak, dan otomatis posisi wanita diabaikan, dan karenanya posisi dan peran wanita terbatasi atau termarjinalkan.

Jika dikaitkan dengan studi Hubungan Internasional, ada bebarapa quotes dari Robert Keohane yang menunjukkan wanita termarjinalkan, yaitu : “Feminist (theory) offers a critique of theories constructed by men who put themselves in the position of policy makers…” Statement dari Keohane ini telah menunjukkan kepada kita semua bahwa pria memang menempatkan diri mereka pada posisi yang strategis, yaitu sebagai pembuat kebijakan, yang mana di dalamnya terkandung maksud bahwa jikalau demikian maka wanita tidak mendapatkan posisi yang cukup penting untuk didengarkan. Dan karena itu teori feminisme lahir sebagai gerakan yang merespon dominasi pria yang selanjutnya mendiskriminasikan wanita. Statement dari Keohane yang lain yaitu : “Feminist critically examine IR form the standpoint of people who have been systematically excluded from power.” Dari statement ini yang dimaksud dari ‘people who have been systematically excluded from power’ adalah wanita. Wanita di dalam hubungan internasional pun termaksud aktor yang excluded from power / termarjinalkan. Karena itu pula feminisme lahir untuk meningkatkan power bagi wanita.

Jan Pettmen, memberikan quotes yang lebih mendalam lagi, yaitu : “the Study of International Relations has long been taught and theorized as if women were invisible: as if either there were no women in world politics, which was only men’s business…” Penggalan kalimat ‘as if women were invisible’ sangat jelas menunjukkan bahwa wanita yang notabene ada malah justru dianggap seolah-olah tidak ada di dalam hubungan internasional. Segala kegiatan yang berlangsung dianggap sebagai urusan pria, bukan urusan wanita. Wanita dianggap tidak penting dan tidak perlu dihiraukan. Begitula kira-kira maksud dari quotes di atas. Fred Halliday menambahkan quotes lain yang menguatkan hal ini, yaitu : “In conventional ideology, women are not suited for such responsibilities and cannot be relied on in matters of security and crisis”. Berbagai quotes tersebut jelas menunjukkan argument bahwa sebenarnya wanita dianggap invisible, pria menempati posisi strategis dan karenanya dapat berbuat banyak hal daripada wanita. Dalam perkembangan jaman ke depan, hal semacam ini dianggap sebagai suatu penyimpangan hak asasi manusia bagi wanita yang semakin lama semakin menggerus hak dan kehormatan wanita. Karena itu muncul berbagai perspektif atau teori seperti teori feminisme yang berfokus pada wanita karena adanya persepsi bahwa women have been marginalized, oppressed, and subjugated.

Dengan adanya dua versi jawaban ini, semoga dapat menjawab pertanyaan inti dari tulisan ini.

March 13, 2009

Dalam Kesendirian Ku Berada..

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 12:25 pm

Dalam kesendirian ku berada..

Pohon-pohon besar dan rindang itu berdiri tegak di samping kanan dan kiriku

Ranting dan daunnya memayungi atas langit kepalaku

Hijau.. Hijau dengan diselingi sinar matahari yang jatuh ke bumi

Memberikan suatu nuansa alam yang menarik mata

Memberikan suatu ketenangan di hati.

Kuberjalan setapak demi setapak

Kumelihat di sekelilingku

Apa yang orang-orang lakukan di sana..

Berbincang di sebuah kursi taman,

Bersenda gurau dengan sahabat,

Berjalan dengan orang yang dikasihinya..

Dan kusadari..

Betapa bahagianya mereka

Kuserpihkan senyum untuknya..

Lalu, aku kembali melihat jalanku

Ku kembali berjalan, lalu..

Kurentangkan kedua tanganku

Kututup mataku

Dan kuhirup segarnya udara itu

Ketika angin begitu lembut menyisir rambutku, menerpa tubuhku

Aku sadar bahwa aku menyukainya

Aku biarkan alam memelukku..

Dan aku tersenyum

Serasa hanyut dalam belaian lembut Sang Pencipta

Alam kembali menyapa

Dengan desiran anginnya yang memecah kesunyian

Dengan ranting daun yang melambai

Dengan seberkas matahari yang jatuh lembuh di wajahku

Dengan ketenangan hati yang tercipta

Kusadari bahwa diriku

Mempunyai jalanku sendiri

Jalan di mana aku melangkah

Di sini…

Ke mana kakiku melangkah

Ku percaya, itulah jalan yang terbaik bagiku..


March 6, 2009

Perbedaan Sex dan Gender

Filed under: my zone — by Ardaiyene @ 11:28 am

Apa yang kalian ketahui mengenai sex dan gender?

Pada dasarnya kedua istilah tersebut (sex dan gender) itu berbeda pengertiannya. Jika kita berbicara mengenai istilah ‘sex’ berarti kita berbicara pria ataupun wanita yang pembedaannya berdasar pada jenis kelamin. Dalam kata lain, sex merujuk pada pembedaan antara pria dan wanita berdasar pada jenis kelamin yang ditandai oleh perbedaan anatomi tubuh dan genetiknya. Perbedaan seperti ini lebih sering disebut sebagai perbedaan secara biologis atau bersifat kodrati, dalam artian sudah melekat pada masing-masing individu semenjak lahir.

Karena itu manusia yang mempunyai kumis, jenggot, jakun, dan bentuk anatomi tubuh lain serta gen yang tidak dimiliki wanita, adalah seorang pria. Sebaliknya, manusia yang tidak mempunyai kumis, jenggot, jakun, tetapi mempunyai rahim, sel telur, dan bentuk anatomi serta gen yang tidak dimiliki pria, maka ia adalah seorang wanita.

Anatomi tubuh dan faktor gen tersebut bersifat kodrati karena bersumber langsung dari Tuhan. Karena hal-hal tersebut berasal dari Tuhan, maka apa yang membedakan pria dan wanita secara biologis tersebut tidak dapat dipertukarkan, seperti rahim yang tiba-tiba dimiliki pria, atau wanita bisa berjakun, dan sebagainya. Secara kodrati, bentuk anatomi tubuh pria dan wanita berbeda. Pria berbentuk seperti itu dan wanita seperti ini. Hal tersebut tidak dapat dipertukarkan. Karena pembedaan ini bersifat kodrati, maka keberlakuan dari pembedaan ini pun tidak mengenal batas waktu, tidak mengenal pembedaan kelas masyarakat, dan berlaku di mana saja. Dampak dari hal ini adalah terciptanya nilai-nilai seperti kesempurnaan, kenikmatan, kedamaian, dan sebagainya sehingga menguntungkan pria dan wanita.

Lantas bagaimana dengan gender?

Ada suatu kalimat yang sangat familiar ketika kita masih duduk di Sekolah Dasar. Kalimat itu berbunyi: Bapak ke kantor dan Ibu ke pasar. Mungkin di benak kita muncul pertanyaan: bisakah Ibu yang pergi ke kantor dan Bapak yang pergi ke pasar? Dalam pembahasan gender, pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan : “Ya, tentu bisa!” Dan fenomena itu pun sudah sangat banyak sekali kita temui di jaman yang sekarang ini.

Pengertian gender juga masih berkutat antara pria dan wanita. Berbeda dengan ‘sex’, dalam gender perbedaan antara pria dan wanita lebih diciptakan oleh konstruksi lingkungan atau sosial yang ada. Pembahasan gender lebih menekankan pada karakteristik seperti perilaku, sikap, dan peran yang menempel atau ada pada pria dan wanita yang berasal dari konstruksi sosial. Karena itu, karakteristik tersebut (perilaku, sikap, dan peran) dapat dipertukarkan. Dalam hal ini, pria dapat berperan selayaknya pria namun juga bisa berperan sebagai wanita (menjalani nilai-nilai feminin: memasak, menjahit, menjaga anak, dan sebagainya). Sedangkan wanita juga dapat berperan sebagaimana seorang wanita, namun sudah banyak sekarang wanita yang menggeluti peran pria juga (menjalani nilai-nilai maskulin: menarik becak, bekerja di kantor sebagai wanita karir, supir Busway, dan sebagainya).

Oleh karena itu, karena gender tercipta dari konstruksi sosial, maka gender bersumber dari manusia atau masyarakat. Apa yang menjadi perbedaan antara pria dan wanita seperti harkat dan martabatnya dapat saling dipertukarkan. Pembedaan manusia seperti ini berdampak pada terciptanya norma-norma tentang ‘pantas’ dan ‘tidak pantas’ sehingga sering merugikan salah satu pihak yang mana kebetulan adalah wanita. Sebagai contoh yaitu, wanita tidak pantas menarik becak ataupun menjadi supir Busway. Wanita lebih pantas di rumah, memasak dan mengurus anak. Begitu pula dengan pria yang tidak pantas ke pasar dan mencuci piring di rumah. Pria lebih pantas berada di lapangan, bekerja, mencari nafkah, dan sebagainya. Namun, fenomena tersebut sudah semakin bergeser karena karakteristik pria dan wanita dalam gender dapat berubah, bersifat musiman.

Itulah perbedaan antara sex dan gender yang mungkin masih di permukaan. Hal tersebut penting untuk diketahui untuk memahami lebih lanjut mengenai fenomena-fenomena sosial yang semakin dinamis terkait dengan gender.

Sex dan gender menjadi hal yang menarik untuk dibahas lebih lanjut mengeni keterkaitannya. Terlebih gender yang dapat menciptakan adanya ketimpangan atau gap. Karena ternyata di dalam gender itu sendiri terdapat suatu ketimpangan peran yang memunculkan adanya tuntutan kesetaraan gender, rights of equality, gerakan-gerakan feminisme, dan sebagainya. Semoga di dalam tulisan selanjutnya kita dapat mendiskusikan hal tersebut.

March 3, 2009

Teeth-Tooth

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 7:17 am

Sudah ada yang melihat aku awal minggu ini di kampus? Pasti ada yang beda! Yap, aku ke kampus pake rok!! haha… (ga penting ya?) Berhubung jam 6 pagi lebih baru sampai rumah dan aku harus kuliah jam 07.30 pagi.. Alhasil aku pakai yang ada ajalah.. Celanaku pada belum dicuci, ada yang udah bersih tapi kok ya belum diseterika, ya sudahlah.. praktisnya pake rok ajah!! Toh, cuma kuliah pagi itu ajah, so pikirku bisa langsung pulang dan tidak berlama-lama di kampus.. hehe… Ternyata penampilanku ke kampus bikin teman-teman memberikan kesan yang beragam. Ada yang diam, ada yang bilang: “tumben pake rok mbak?; mbak Daiyene pake rok, lucu….; wah, Daiyene pakai rok, tapi lucu kok yen.. nice..” Tapi, ada yang lebih parah, ngeliat aku jalan pakai rok malah langsung ngetawain tanpa berkata apa pun.. heran aku… padahal mereka teman satu jurusan sama aku…

ya..ya..ya.. up to them lah…

Tapi, sebenarnya yang ingin aku sampaikan di sini bukan masalah aku pakai rok ke kampus, tapi masalah gigiku. Sebenarnya hari ini aku menunjukkan penampilan yang berbeda. Yang pertama aku ke kampus pakai rok, which I rarely do this, dan yang kedua ya..gigiku… Tapi herannya, teman-temanku pada terkecoh oleh penampilan bawahku (rokku), daripada penampilan atasku (gigiku) hahahahaha…. siallll.. Ceritanya aku baru pasang behel alias kawat gigi dengan harapan bisa lebih merapihkan gigiku.. Sebenarnya ini desakan dari Ibuku yang udah dari tahun lalu memanasi pikiranku untuk memasang behel. Tapi ya… baru bisa nurut sekarang.. eh salah, maksudnya baru ada waktu pasang behel sekarang dink…hehehe… Akhirnya aku ke Jakarta untuk pasang behel di Dokter Gigi Kakakku.

Eksekusi

Tak kusangka ternyata gigiku langsung dieksekusi hari itu juga. Aku fikir gigiku bakal ada yang dicabut dulu baru balik satu minggu setelahnya buat dipasang behel. Tapi ternyata tidak demikian teman. Ternyata bisa langsung dipasang saat itu juga dan masalah cabut mencabut gigi kata Dokternya itu gampang dan lebih baik dipasang dulu behelnya baru dicabut (maksudnya biar mempermudah saat pencabutannya). Yoh, manut sang Dokter sajalah…

Singkat cerita, terpasanglah kawat gigi itu di gigiku. Hmm, aku fikir aku bakal merasa sakit yang luar biasa gara-gara dipasangin kawat, tapi ternyata rasa sakitnya tidak sesakit yang aku perkirakan. Ga begitu sakit cuma… oh oh oh.. aneh banget rasanya! Jadi punya mainan di mulut. haha… Bibir dan kerangka gigi serasa sulit mengatup. Oh Tuhan.. harus berapa lama aku seperti ini? Ternyata rasa sakit itu baru kerasa sewaktu makan. Hiiiyyyyyyaaaaaa, kok ga kuat gigit ya? Kok juga ga bisa dibuat ngunyah ya? Wah… kiamat kecil nih….. Pas makan pun ga enak banget di mulut. Kerasa berantakan, seret, sepet, ga asik banget dah.. kerasa banyak yang nyangkut. Jadinya, kalau bis makan ga sikat gigi tuh ga nyaman banget… ribet..ribet…

Makan-makan

Hari pertama pasang behel aku dah nyoba makan roti, mie ayam, nasi, jamur. haha.. terserah deh mau dibilang maruk, nekat, atau nakal… Padahal Dokternya bilang makan yang lunak-lunak dulu ajah, kalaupun rada keras ya.. dipotong kecil-kecil.. Ya udah deh, diajak makan Mie Ayam Golek ma Ortu di daerah Otista, Cawang, aku malah pesen Mie Ayam Jamur di sana, instead of Bubur Ayam yang akhirnya cuma dibungkus untuk dibawa pulang. Ya.. gemana ya.. hasrat memakan mie itu tidak bisa dihilangkan begitu saja je.. Buktinya 1 mangkok Mie Ayam Jamur bisa aku habiskan dengan tidak memakan suwiran ayam, bakso, dan sawinya.. hehe… Untuk berikutnya aku masih nekat makan nasi biasa.. rada sulit ngunyah sih.. tapi ya.. itung-itung membiasakan gigi biar ga manja.. (haha.. padahal saking lapernya!! Ngeleeessss ajah ni Daiyene…!)

Ada yang bilang, “wah..mbak ciri khasmu jadi ilang deh.. padahal gigi gingsulmu kan kamu banget mba…”; “ga papa lagi Yen gingsulmu itu, tapi kalau mau dirapihin sih ga papa..”; “..wah mbak, tambah manis..” Ya.. itu sedikit komentar dari tiga orang temanku. Semoga komentar mereka jujur, terutama yang terakhir.. hehehe… Tapi balik lagi, apapun komentar teman-temanku mengenai penampilan baruku.. aku sih terserah ajah.. Aku cuma berharap hasil yang terbaik dari memasang behel ini. Kalau ada yang bilang senyum khasku ilang, enggak kok! Kalau boleh mengutip sedikit puisi dari Novel “Beraja” karangan Fira Basuki aku akan bilang:

tawaku masih renyah

senyumku selalu cerah

sapaku tetap ramah


new-face3

Powered by WordPress.com