Sudah 13 hari Israel menyerang Palestina. Dari serangan udara, darat, dan laut itu, sudah lebih dari 600 jiwa warga Palestina melayang dan sekitar 3000 warga memerlukan perawatan. Tapi sebenarnya apa sih yang menyebabkan Israel menyerang Palestina, atau tepatnya Kota Gaza yang berada di Jalur Gaza, sampai sebegitu massive-nya?
Alasan yang dapat dibenarkan dari aksi Israel kepada Palestina itu adalah karena adanya serangan roket-roket dari Kota Gaza yang diluncurkan ke daerah Israel berkali-kali yang jumlahnya telah mencapai 200 roket lebih. Merasa terganggu oleh serangan roket dari Gaza yang diduga dilakukan oleh orang pengikut Hamas itu, Israel memberikan peringatan jika sampai Palestina tidak menghentikan serangan roketnya, Israel akan bertindak. Dan.. seperti yang kita tahu Israel telah bertindak dengan massivenya ke kota Gaza.
Alasan peluncuran roket ke Israel memang telah memicu adrenalin Israel untuk melakukan resiprositas kepada Palestina. Karena itu, Israel langsung memberikan tindakan responsif ke Kota Gaza tersebut, menyerang dan membidik tempat-tempat strategis yang diduga menjadi tempat persembunyian atau tempat strategis bagi pengikut Hamas di Gaza.
Pihak Israel berdalih bahwa selain untuk merespon tindakan serangan roket pengikut Hamas tersebut, motivasi bagi Israel untuk melakukan penyerangan adalah untuk mengikis pengaruh Hamas di Palestina. Selain karena pihak Hamas yang diduga melakukan serangan roket ke Israel tersebut, pihak Hamas juga dinilai selalu tidak kooperatif dengan Israel sehingga selalu memunculkan ketegangan dengan Israel. Karena itu pula, hal tersebut dijadikan legitimasi bagi penyerangan Israel ke Palestina.
Penyerangan Israel yang begitu massive, luas, dan bombastis di Gaza tersebut menimbulkan tanda tanya tersendiri. Mengapa hanya karena serangan roket ke daerah Isreal dan hanya menewaskan 4 warga sipil Israel saja, Israel dapat bersikap sebegitu bringasnya kepada Gaza? Mengapa hanya karena serangan roket ke Israel, Gaza dikepung rapat-rapat oleh angkatan darat Israel dan seakan menjadikannya sebagai daerah terisolir, yang sangat layak untuk dikepung, diserang, dibom habis-habisan semau Isreal. Bermula dari tanggal 27 Desember 2008 sampai memasuki tahun 2009, serangan terus dilancarkan, bahkan pengeboman diluncurkan setiap 20 menit sekali. Bisa dibayangkan betapa hancurnya kota sekecil Gaza dengan ritme penyerangan semacam itu dengan periode hari yang telah berlangsung selama kurang lebih 10 hari ini? Terlebih Gaza termasuk kota yang padat penduduk dengan 1,5 juta warga di dalam 400 kilometer persegi Kota Gaza.

Perbandingan jumlah korban antara Israel-Palestina
Yang menimbulkan tanda tanya lagi, mengapa hanya karena roket yang masih diluncurkan dari pihak Hamas, pihak Israel tetap melancarkan serangannya walaupun sudah ada lebih dari 600 jiwa warga Palestina yang melayang dan ribuan lainnya luka-luka? Mengapa juga kekuatan tentara Israel diperkuat dengan adanya serangan melalui darat dan juga laut, padahal kita sudah tau bahwa Kota Gaza telah lumpuh dan hancur seperti yang dapat kita lihat di TV? Yang jadi pertanyaan, apa sih yang diinginkan Israel di Gaza? Apa sih tujuan serangan Israel ke Gaza?
Apa yang dilakukan Israel hampir bisa kita samakan seperti ethnic cleansing, walaupun ini tidak berkaitan dengan kaum etnis minoritas. Menghabiskan warga Palestina di Gaza sehingga Israel seakan bisa lebih menguasai daerah di Jalur Gaza. Tidak heran juga kenapa Hugo Chavez, Presiden Venezuela saat ini, mengatakan serangan Israel itu sudah selevel sama Genosida (pembantaian etnis paling massive dan fundamental). Selain itu, tindakan Israel tersebut juga mengundang asumsi bahwa ada motivasi lain dari Israel dalam menyerang Gaza.
Side Effects Agression..
Tanggal 10 Februari 2009, Israel akan mengadakan pemilu. Ehud Barak (Menteri Pertahanan Israel) berasal dari Partai Buruh dan Tzipi Livni (Menlu Israel) merupakan Ketua Partai Kadima, mereka mempunyai pengaruh kuat di Israel. Mereka akan berhadapan dengan Partai Likud sebagai oposisi mereka. Dan karena itu Barak dan Livi tidak ingin terlihat seperti Pejabat yang pasif dan tidak sanggup berbuat apa-apa terhadap serangan roket dari Gaza. Jika hal itu terjadi, maka Partai Likudlah yang akan memenangi Pemilu. Karena itu, mereka berdua berupaya untuk menaikkan kembali pamor mereka sekaligus menunjukkan khususnya kepada warga Israel bahwa mereka dapat menjadi orang yang berguna bagi bangsanya, mencoba menghapus image buruk yang menempel di dirinya sehingga Partai Kadima, Partai politik yang memerintah Israel sekarang, di mana mereka berasal dapat kembali berkuasa dan tidak kehilangan simpati warga Israel pada pemilu mendatang. Penyerangan Israel ke Gaza tersebut juga diduga dilakukan agar nanti kedepannya dapat tercipta kesepakatan baru untuk menghapus kesepakatan lama yang menurut Israel itu tidak menguntungkan baginya.
Jika demikian, bisa kita pahami bahwa motif Israel dalam menyerang Palestina beragam. Adanya serangan roket dari Palestina ke Israel dijadikan oleh pihak Israel sebagai alat untuk melegitimasi aksinya ke Palestina. Dalam legitimasinya itu, ternyata tujuan Israel dibuntuti oleh adanya kepentingan lain yang bersifat politis yaitu untuk mengikis kekuatan dan pengaruh Hamas dan para pengikutnya di Palestina yang mengancam keamanan Israel. Selain itu dalam serangan ke Gaza juga terdapat kepentingan partai politik Kadima di Israel yang dijalankan oleh Olmert dan Livni untuk menunjukkan bahwa Israel itu exists, membela kepentingan negara, melindungi bangsa Yahudi-nya, dan sebagainya sehingga kemudian Partai Kadima tersebut dapat meraih dukungan rakyat dan memenangi pemilu di bulan Februari mendatang. Sepertinya pihak Israel cukup cekatan juga dalam melihat momentum, yaitu menjadikan kasus serangan Israel ke Gaza ini sebagai momentum yang sangat baik sekali untuk meraih dukungan rakyat Israel bagi Partai Kadima, untuk melenyapkan orang-orang Hamas, untuk menggantikan kesepakatan lama dengan yang baru yang lebih menguntungkan Israel, untuk memporak-porandakan Palestina sekaligus melumpuhkan serta mengurangi absolute power yang dimiliki khususnya oleh Hamas atau Palestina secara umum, serta keinginan-keinginan dasar Israel over Palestine lainnya yang belum tercapai. For Israel: It’s Show Time !!
Kemanakah AS??
United States, Where are you?
Satu pertanyaan yang wajar ditanyakan dalam situasi politik internasional yang memanas seperti sekarang ini. Sudah memasuki hari ke-12 serangan Israel ke Palestina, tetapi AS tetap tidak bergeming. Apa yang dilakukan Bush? Apa yang dilakukan Condoleezza Rice (Condi)? Apa yang dilakukan Obama? Bush dan Condi terlihat sibuk mengadakan pertemuan untuk turut membantu memecahkan permasalahan yang ada tanpa adanya sikap yang tegas dari diri mereka. Bush sibuk menggalang dana untuk para korban di Gaza. Padahal dunia meneriakinya untuk peran yang lebih. Jika untuk menggalang dana, Indonesia pun mampu melakukannya untuk Palestina. Di sisi lain, Condi hanya membeo dan memberi dukungan terhadap usulan ‘gencatan senjata’ dari Mesir untuk Israel dan Hamas.
What about Obama? Ternyata ketika serangan Israel sejak 27 Desember 2008 sampai dengan memasuki minggu pertama di tahun 2009 tersebut, Obama sedang berada di Hawaii karena sedang holiday akhir tahun bersama keluarganya. Sejak awal serangan ini mencuat, Obama memang tidak memberikan komentar sedikit pun terhadap apa yang terjadi di Gaza. Obama tau dan mengikuti perkembangannya, tetapi Ia tidak berkomentar. Ternyata yang membuatnya sedemikian diam adalah karena ia merasa belum saatnya berbicara. Obama melihat masih ada Bush yang memegang tampuk pemerintahan sampai tanggal 20 Januari 2009 yang lebih layak berbicara dan bertindak ketimbang Obama yang masih akan dilantik pada tanggal yang sama (20 Januari 2009). Bush berpandangan tidak ingin melangkahi Bush yang masih menjabat dan memang belum saatnya Bush bergeming, karena belum dilantik atau diresmikan oleh Kongres.
Namun ternyata, setelah adanya 40 orang tewas saat tank Israel menyerang tank sekolah PBB di Gaza, Obama baru mulai berkomentar melalui pernyataannya. Obama akhirnya mengaku khawatir dengan banyaknya warga sipil yang tewas di Gaza dan Isreal. Dan Obama berjanji setelah dirinya dilantik nanti Ia akan mengupayakan perdamaian di kawasan Timur-Tengah.
“Setelah pelantikan 20 Januari mendatang, saya bisa bicara lebih banyak mengenai isu ini. Saya akan menepati janji kampanye. Segera setelah pelantikan, kami akan terlibat aktif dan konsisten menyelesaikan konflik Timur Tengah. Ini komitmen Saya” (Barack Obama)