Ardaiyene’s Weblog

January 29, 2009

Ternyata Pria Itu…

Filed under: thought — by Ardaiyene @ 6:49 am

(130108 @home, Jogja tercinta, at 09:59)

Pria dan wanita memang sungguh berbeda kali ya?

Pria, ia tidak akan memberikan dukungannya kepada wanita bila ia tidak diminta. Padahal wanita menginginkan dukungan dari pria tanpa ia harus memintanya.. Karena wanita berfikir, itulah namanya cinta.. memberi tanpa harus meminta.

Pria, ia selalu menganggap apa yang disetujui oleh wanita kepadanya sebagai hal yang ia inginkan, padahal wanita dalam kesetujuannya dengan pria tidak setiap saat sama seperti yang diinginkan pria. Wanita berfikir: “OK aku setuju, tapi…” Wanita akan mencoba mengalah untuk membuat pria senang, itulah mengapa wanita memberikan kata “tapi”…

Pria, ketika ada masalah, ia selalu menyendiri dan berbuat apapun untuk dapat menyelesaikan permasalahnnya. Padalah wanita sangat merasa diabaikan sekali ketika pria berlaku seperti itu. Wanita berfikir hal-hal kecil yang diabaikan pria begitu membuatnya terluka dan parahnya pria tidak menyadari itu.

Romantisme Obama & Michelle

Filed under: Reviews — by Ardaiyene @ 6:18 am

slide_391_10399_large3

Terpilihnya Barack Obama menjadi Presiden AS ke-44 telah dirayakan secara gegap gempita oleh seluruh dunia. Perjuangan yang telah dilakukan oleh Obama pun tidak sia-sia. Dari pemilihan awal sampai kampanye yang menurut saya pasti sangat melelahkan itu, Obama tetap berjuang agar dirinya dapat terpilih. Michelle Obama, istrinya, pun turut membantunya berkampanye, at least to raise fund for her beloved.

Tidak dapat dipungkiri bahwa terpilihnya Obama menjadi seorang Presiden kulit hitam pertama AS ini telah menaikkan pamornya. Berbagai media, dari dalam ataupun luar AS, mulai menyoroti segala sisi dari diri Obama dan keluarganya. Tidak heran pula banyak media yang menyoroti hubungannya dengan Michelle Obama, The First Lady of The United States for now . . .

Obama dan Michelle dansa saat jamuan makan malam seusai Pelantikan Obama menjadi Presiden AS ke-44

Obama dan Michelle dansa saat jamuan makan malam seusai Pelantikan Obama menjadi Presiden AS ke-44

Sebenarnya saya heran, tetapi saya juga suka dengan apa yang diberitakan oleh media. Saya melihat bahwa efek samping dari terpilihnya dan dilantiknya Obama adalah sorotan media mengenai hubungannya dengan Michelle dan juga kedua anak perempuannya yang masih sangat muda itu – Malia dan Sasha. Hal ini terlihat dari diberitakannya awal bertemunya mereka sampai akhirnya menikah. Media juga banyak menyorot bagaimana pasangan ini saling bahu membahu dalam mengumpulkan dana bagi kampanye Obama. Kebersamaan Obama-Michelle lantas menjadi santapan bahan berita bagi media. Berita terakhir yang saya dapat yaitu ketika pada acara jamuan makan malam seusai pelantikan Obama. Pada saat itu, telah diagendakan ada saat ketika Obama dan Michelle berdansa berdua. Michelle terlihat begitu anggun dengan gauh putih satu-pundaknya yang sebelumnya telah menjadi bahan ramalan-obrolan-tebakan bagi para pengamat fashion yang tertarik mengomentari semua pakaian ataupun gaun yang dikenakan Michelle.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah hal ini juga terjadi dan media juga melakukannya pada mantan Presiden Bush, mantan Presiden Clinton, dan mantan-mantan Presiden AS sebelumnya? Hmmm, I’m not quite sure! Terlebih Bush… sepertinya tidak sedetail itu media mengorek hubungannya dengan Laura Bush seperti bagaimana media menyorot Obama-Michelle sekarang.

Bagaimana tidak? Terkadang saya merasa bahwa ‘kok pemberitaannya jadi mengarah ke hubungan Obama-Michelle?’ Seakan-akan mereka adalah artis Hollywood yang patut disorot. Padahal lebih dari itu, mereka adalah pasangan yang baru naik tampu pemerintahan AS. Ekspektasi dan pertanyaan saya: Mengapa pemberitaan di media tidak sedikit lebih fokus pada kebijakan-kebijakan politis dan ekonomisnya Obama saja? Ya.. pertanyaan itu kadang selalu muncul di kepala saya. Tapi anehnya, saya jadi tertarik mengetahui kedua pasangan ini.

obama-michelleYa.. seperti yang telah saya bilang tadi. Pemberitaan di media mengenai Obama secara tidak langsung juga menampilkan sisi romantisme Obama dengan Michelle. Banyak media yang menampilkan video ataupun foto kebersamaan mereka dalam berkampanye; keintiman keluarga mereka dengan kedua anak perempuannya; kemesraan mereka di atas panggung; bahkan ketika Obama telah resmi menyandang sebagai Presiden AS, Obama dan Michelle diberi kesempatan untuk berdansa berdua pada acara jamuan makan malam.. Oh.. So Sweet (hmmm…. kapan ya bisa kayak mereka? Walah!! Hush..Hush..Hush.. —mencoba tersadar dan menghilangkan khayalan ga jelas di atas kepalaku—haha…)

Obama-Michelle jadi terlihat sebagai pasangan yang sangat serasi dan sekaligus menjadi contoh bagi pasangan-pasangan yang lain (including me, maybe? haha..). Banyak orang yang menyebut Obama-Michelle adalah working couple. Mereka sama-sama punya karir, dan mereka pun bertemu di sebuah tempat kerja. Namun, apa yang dijalani masing-masing tidak menjadi penghambat bagi keduanya. Setelah menikah mereka menjalani pekerjaan mereka sama seperti sebelum menikah.

Sekarang, biarkan saya menceritakan bagaimana Obama dan Michelle bisa tertarik satu sama lain. Awal mereka bertemu adalah di sebuah instansi yang secara tidak langsung menghubungkan mereka. Michelle (Sarjana Hukum) yang kala itu berada di suatu instansi hukum sedang bekerjasama dengan instansi yang dipimpin oleh Obama. Sebenarnya Obama tidak begitu tertarik dengan corporate law – suatu lahan yang digeluti Michelle, tetapi yang membuat Obama tetap berhubungan dengan instansi hukum Michelle adalah karena Obama sendiri punya lebih banyak interest ke Michelle itu sendiri dari pada ke instansi hukum tersebut. (hmmm, finally I’ve got the message here! haha)

See how romantic Obama is! He is choosing white roses for his beloved, Michelle

See how romantic Obama is! He is choosing white roses for his beloved, Michelle

Sedangkan Michelle sewaktu bertemu dan mendengar nama Barack Obama merasa aneh. Michelle beranggapan: What kind of name is that?? Tapi, ternyata ketidaksukaannya itu membuahkan rasa kagum pada Obama. Michelle sendiri mengakui kalau dirinya kagum kepada Obama dengan alasan yang sama dengan yang lain yang menghormati dan kagum pada Obama, yaitu: his connection to people. Yah, Obama memang pintar menjalin hubungan dengan orang. Tapi setidaknya Obama sempat merasa gagal melakukan hal itu ketika ajakan dating-nya ke Michelle berbuah penolakan terus-menerus dari Michelle selama sebulan (Wuihhh, Michelle OKs banget dah!!!) Tapi, karena sudah sebulan lamanya, akhirnya Michelle menerima ajakan jalan bareng bersama Obama. Yang mereka lakukan adalah mengunjungi art institute, makan siang di sebuah outdoor café, jalan-jalan, mengobrol, melihat film Do the Right Thing, dan menikmati minuman di lantai 99 John Hancock Building. Mereka menghabiskan waktu seharian penuh melakukan itu semua. Dan di akhir kencannya, Michelle (dalam wawancaranya dengan Suzanne Malyeau-CNN Interview) mengatakan: We clicked right away.. by the end of that date it was over.. I was sold. (Beuhhh…. langsung jatuh hati deh..)

Sekarang, siapa yang tidak mengagumi Obama, seorang pria hitam manis, politikus dengan pemikiran yang baik dan santun dan dengan balutan kesederhanaannya ternyata begitu menyayangi keluarganya. Siapa yang tidak melirik Michelle, seorang wanita tinggi, pintar, pengertian, menarik, dan low profile ini ternyata bisa mengimbangi suaminya yang seorang politikus, rela mengorbankan karir, posisi, dan jabatannya untuk mendampingi Obama dalam mengarungi pemerintahannya yang masih baru. Dalam menjalani pemerintahannya Obama dan Michelle sepertinya akan terus diharumi oleh nuansa romantisme mereka berdua dan kedua anaknya.. Bukankah menarik melihat seorang Presiden AS yang terlihat begitu intim dengan keluarganya??

Obama and Family

Obama and Family

Good Relations with Others…

Filed under: Reviews — by Ardaiyene @ 4:56 am

Nonton Talkshow di TV beberapa waktu yang lalu, telah memberikan saya sedikit pencerahan. Dari acara Talkshow itu, saya mendapatkan tips yang cukup bagus buat kita semua. Dari Talkshow tersebut, saya mungkin dapat memetik 3 hal yang saya akan jabarkan di bawah ini, for our own good relations with others..

Siapa bilang menjalin hubungan itu mudah? Apakah ada jalinan hubungan yang luput dari krikil-krikil kecil atau satu masalah kecil sekalipun? I don’t think so! Terkadang kita ribut dengan mereka, terkadang kita marah dengannya, terkadang kita tidak sepaham, kecewa, dan hidup dalam pikiran kita masing-masing yang mana ujungnya bisa berakibat buruk. Dalam menjalin hubungan dengan orang lain, entah itu keluarga, sahabat, kenalan, pasangan, rekan kerja, atasan, atau siapa saja, ada beberapa hal yang setidaknya dapat kita jadikan pedoman agar hubungan kita dengan orang tersebut dapat terjaga dengan baik.

Menurut perbincangan di acara Talkshow tersebut dapat diringkas bahwa dalam menjalin hubungan dengan orang lain yang perlu diperhatikan dan diingat adalah:

Peka terhadap orang

Manusia diciptakan berbeda. Fisik, sifat, nasib, jodoh, rezeki, semua berbeda. Nasib dan karakter dari orang yang terlahir kembar saja bisa berbeda kok!! So, pekalah terhadap orang lain, terutama karakter ataupun sikap yang mereka miliki. Kalau mau hubungannya baik-baik saja, cobalah mengerti orang. Rasakan apa yang mereka rasakan, dan cobalah untuk mengerti.

Damai dengan ketidakpastian

Percayalah bahwa ketidakpastian itu akan selalu hadir di saat yang tidak kita duga sekalipun. Mungkin ada kalanya kita hanyut dalam lamunan atau keyakinan bahwa hidup kita akan baik-baik saja, atau dalam hal ini kita melakukan discounting information atau discounting future (mendiskon nilai-nilai informasi ataupun masa depan yang seharusnya kita perhatikan). Ketika kita merasakan seperti itu, ada baiknya kita tersadar dan kita harus ingat bahwa segala sesuatu itu bisa terjadi di dunia ini. Orang bijak mengatakan: kehidupan itu seperti roda, di mana kadang kita berada di atas, tetapi kita juga bisa berada di titik yang paling terendah dari roda kehidupan itu sendiri. Hal-hal yang tidak diantisipasi dapat berbuah ketidakpastian untuk diri kita sendiri. Biar tidak sakit hati banget, ya diantisipasi aja… dan berdamailah dengan ketidakpastian… hidup itu dinamis, bung!!

Kejujuran dalam berkomunikasi

Komunikasi sepertinya jadi andalan dalam menjalin hubungan dengan siapapun: orang tua, saudara, teman, pasangan, kerabat, dan sebagainya. Yang terpenting adalah kejujuran dalam berkomunikasi. Ungkapkan apa yang perlu diungkapkan. Biarkan orang lain tau apa yang kau rasakan. Kamu tidak suka, bilang saja. Dan jangan ragu untuk memberikan pujian terhadap orang lain. Jangan ada dusta di antara kita (wah…pas banget kan?).

Semoga bermanfaat …

January 14, 2009

OPINI PUBLIK SEBAGAI ALAT PRESIDEN AMERIKA SERIKAT UNTUK MERAIH DUKUNGAN KONGRES: STUDI KASUS INVASI KE IRAK TAHUN 2003

Filed under: my zone — by Ardaiyene @ 2:02 am

Opini Publik sepertinya telah menjadi hal yang sangat menentukan bagi Presiden Amerika Serikat (AS) untuk dapat menggolkan usulan kebijakannya di Kongres AS. Bagaimana tidak, usulan kebijakan yang diusung oleh Presiden AS agar dapat terealisasi haruslah mendapat persetujuan dari Kongres AS yang terdiri dari 535 anggota tersebut. Dalam usahanya ini Presiden AS mempunyai beberapa cara atau strategi untuk ditujukan ke Kongres, yang mana akan dibahas lebih lanjut dalam tulisan ini. Dan sebagai alat yang dapat dikatakan cukup ampuh agar mendapat persetujuan Kongres terkait dengan kebijakan dari Presiden AS ini adalah dengan menggunakan opini publik. Yang menjadi fokus dalam tulisan ini adalah bagaimana opini publik yang dibentuk oleh Presiden AS tersebut dapat dijadikan alat baginya di Kongres sehingga apa yang menjadi usulan kebijakannya tersebut dapat disetujui oleh Kongres AS.

Kongres AS

Kongres AS

Sebagai awal, marilah kita mengetahui apa itu opini publik. Opini publik dapat dikatakan sebagai distribusi opini dan sikap dari publik yang diraih guna mengetahui apa yang publik percayai dan apa yang menjadi preferensinya1. Opini publik diraih melalui beberapa cara. Namun cara yang paling sering digunakan adalah melalui polling sebagai key features dari opini publik. Polling ini dilakukan melalui berbagai media seperti media massa, media elektronik seperti TV, radio, internet, bahkan melalui telepon langsung. Dalam kasus ini, opini publik diraih atau dijalankan oleh pihak pemerintah untuk mendapat dukungan publik di AS terhadap suatu kebijakan pemerintah. Dan karena itu, tidaklah mengherankan bila ada semacam hubungan yang dekat antara pemerintah (pihak eksekutif) dengan publik, terkait dengan publik opini untuk dapat menembus Kongres AS2.

Public Opinion as Indirect Access Route for President

Kemampuan seorang Presiden AS dalam mempengaruhi agenda Kongres dapat dilakukan melalui dua jalur yaitu secara langsung (direct access) atau tidak langsung (indirect access). Direct access dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu melalui pengajuan program kepada Kongres untuk dipertimbangkan dan melalui dominasi partai politik di mana Presiden AS itu berasal. Sedangkan Indirect access dilakukan melalui opini publik yang dibentuk oleh Presiden AS itu sendiri. Dan inilah yang menjadi fokus dari tulisan ini. Rasionalitas mengenai bagaimana opini publik dapat mempengaruhi agenda publik di Kongres adalah bahwa Kongres itu sendiri sebenarnya merespon pada agenda publik. Dan dengan demikian, kemampuan Presiden untuk dapat menstruktur agenda publik sebaik mungkin tentunya semakin memberikan peluang bagi Presiden untuk menstruktur, atau paling tidak, mempengaruhi agenda di Kongres.

Dan fakta pun menunjukkan bahwa Presiden memang dapat mempengaruhi agenda publik. Hal ini salah satunya dapat terlihat jelas dari berbagai pidato dari seorang Presiden AS mengenai isu kebijakan spesifik tertentu yang dapat mempengaruhi perhatian sekaligus membentuk opini masyarakat / publik di isu-isu yang telah disampaikannya tersebut. Karena, ketika Presiden dapat menyita perhatian publik terhadap isu yang telah disampaikannya, maka seketika itu pula Presiden dapat membingkai opini publik yang tercipta. Dalam hal ini, media sangat memegang peranan yang sangat penting sekali sebagai pihak yang menyebarluaskan, menyaring, mem-boom-ingkan, dan karenanya telah membantu usaha Presiden untuk meraih opini publik melalui berbagai saluran media. Dan karena besarnya peran media ini pula di dalam berbagai agenda pemerintahan AS, media di AS telah mendapat predikat sebagai Pilar keempat dari Pemerintahan AS3.

Dalam meraih dan membentuk opini publik, selain menggunakan media massa sebagai wadah dalam pembentukan, penyampaian, dan penyebarluasan dari isu kebijakan, Presiden juga menggunakan popularitas yang dimilikinya untuk dapat semakin meyakinkan publik, misalnya ketika berbicara, berpidato, atau mengadakan press conference, atau diskusi di depan media massa. Hal ini dinilai cukup efektif dalam mempengaruhi agenda di Kongres. Ketika Presiden telah berhasil meraih dan membentuk opini publik yang sejalan dengan kebijakannya, maka hal tersebut akan dijadikan alat dukungan bagi Presiden untuk dapat menjadikannya agenda penting di dalam Kongres. Dan dengan menunjukkan opini publik yang mengarah atau merujuk pada kebijakan agenda publik yang ada, Presiden dapat mempengaruhi atau menstruktur agenda bagi Kongres. Dan Kongres pun responsif terhadap opini publik dalam memutuskan kebijakan publik dan selanjutnya opini publik yang telah terbentuk dapat mempengaruhi struktur agenda Kongres itu sendiri.

Dalam kasus invasi AS ke Irak di tahun 2003 lalu, Bush sebagai Presiden AS saat itu juga melakukan hal yang sama. Usulan agenda untuk menginvasi Irak di tahun 2003 merupakan sebagai direct access Bush untuk dapat meraih pertimbangan Kongres. Untuk menunjang hal tersebut, Bush melakukan indirect access, yaitu melalui opini publik AS. Dalam hal ini Bush beserta kabinetnya berupaya keras untuk bisa meraih dukungan publik terhadap agenda yang telah disiapkannya yaitu menginvasi Irak. Untuk dapat menggolkan usulan agendanya di Kongres, Bush melakukan berbagai cara untuk meraih dan membentuk opini publik yang sejalan dengan kebijakannya itu. Dengan menggunakan berbagai macam media massa baik eletronik maupun cetak, Bush selalu menyampaikan betapa pentingnya menginvasi Irak sebagai respon terhadap tragedi 9/11 yang menyebabkan trauma bagi warga AS, sebagai war on terrorism, untuk memusnahkan Weapon Mass Destruction (WMD) yang diduga ada di Irak, dan sebagainya. Berbagai seruan dilontarkan dan pihak media pun turut membantu dalam packaging-nya dan menyebarluaskannya secara massive ke penjuru kota, negara bagian, dan tingkat federal sehingga isu invasi Irak ini menjadi sorotan publik, dan nantinya dapat membentuk opini publik secara keseluruhan yang mendukung Invasi AS ke Irak tersebut.

Baik Bush ataupun media, mereka sama-sama menggunakan selectivity, yaitu memberikan apa yang menurut mereka penting untuk disampaikan dan menyimpan informasi tentang apa yang tidak perlu disampaikan. Dengan melakukan selectivity ini maka baik Bush ataupun media sama-sama membatasi pemikiran publik di AS agar terfokus pada isu Invasi AS ke Irak. Dengan cara demikian, maka akan semakin mudah untuk membentuk opini publik di AS sehingga mendukung Bush untuk dapat menginvasi Irak. Hasil dari opini publik ini dapat diketahui melalui berbagai polling yang dilakukan oleh berbagai media massa dan dilakukan setiap saat. Dengan adanya dukungan terhadap invasi AS ke Irak yang tinggi yang terlihat dari sumber polling yang dapat dipercaya, maka hal tersebut akan menjadi alat yang sangat ampuh sekali bagi Bush untuk bisa menggolkan invasi Irak ini di Kongres untuk mendapat persetujuan.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa opini publik di AS sebagai cara tidak langsung atau indirect access sangat menentukan bagi disetujuinya usulan kebijakan dari Presiden AS oleh Kongres. Hal ini dikarenakan Kongres sangat responsif terhadap opini public. Dalam meraih opini publik ini, Bush melakukan berbagai cara seperti pidato kenegaraan, pernyataan pers, diskusi, yang dilakukan secara meluas dan berulang-ulang di depan media massa untuk menarik perhatian dan tentunya membentuk opini publik itu sendiri terhadap usulan Invasi AS ke Irak. Dalam pembentukan opini publik, pemerintah dalam hal ini Presiden sangat berhubungan erat dan bersinergis dengan media massa sebagai pihak yang turut mendukung kebijakannya tersebut dengan cara menyiarkannya dan memberitakan informasi melalui proses selectivity yang juga mendukung pada pemerintah. Opini publik yang telah didapat dan terbentuk akan dijadikan alat sekaligus bukti dukungan bagi kebijakan Presiden, dalam hal ini mengenai usulan invasi AS ke Irak yang mana dapat terealisasi jika mendapatkan persetujuan dari Kongres. Demikianlah bagaimana opini publik di AS dapat berguna sebagai alat bagi disetujuinya usulan kebijakan seorang Presiden AS di Kongres.

2 Cohen, Jeffrey E. dan Ken Collier. Public Opinion: Reconceptualizing Going Public. Page: 41

3 Wasserman. The Basics of American Politics. Page: 230

January 12, 2009

Where is it?

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 10:54 am

Siang ini ketika sedang berjibaku mengerjakan soal ujian Korea level 2 di Pusat Studi Korea (PSK) UGM, aku mendapat sms dari salah satu temanku, Davina, yang ingin mengambil uang Komahi di aku. Ketika aku sudah selesai tes wawancara, seketika itu pula aku memutuskan untuk ke kampus dan berhenti berfikir mengenai soal ujian Korea yang sudah tidak sanggup aku jawab lagi.

Ketika sedang dalam perjalanan dari PSK ke kampus, aku sebenarnya bimbang. Apakah aku akan ke kampus dulu atau aku harus mengeprint tugas esai untuk esok hari. Namun, hasil pertimbanganku mengarahkanku untuk ke kampus dulu. Karena sepertinya esai untuk besok masih perlu diralat lagi.

Setibanya di kampus, aku segera sms Davina dan memberitahukan bahwa aku sudah di kampus dan aku mengajaknya ketemuan di Lobi HI. Setiba di lobi HI aku tidak menemukan Davina di sana. Sambil menunggu balasan darinya, aku mengobrol sama teman-temanku yang sedang menunggu ujian di Lobi HI. Aku mengobrol bersama Fariz, temanku. Awalnya aku cerita kalau aku habis dari PSK mengerjakan soal ujian Korea, padahal aku belum belajar sama sekali semalam. Maklum Fariz pernah ikut les Korea di sana jadi bisa sedikit nyambung kalau aku cerita. Terus obrolan kami pun berlanjut mengenai ujian dan bahkan sempat berdiskusi mengenai ‘electoral college’ di AS. Menurut temanku itu, electoral college menyebabkan dilematis bagi AS sendiri. Sambil mengobrol dengan beberapa teman, aku mengutak-atik HPku sendiri. Tiba-tiba Davina membalas smsku dan bilang kalau dirinya sedang makan di warung makan belakang UPT I UGM. Karena kupikir dia sedang makan, ya sudahlah biarkan dia makan dulu baru ketemuan dengan aku..

Tapi, kupikir-pikir lama juga makannya. Aku sempat berniat untuk meninggalkannya pulang, tapi aku masih juga bertahan di kampus yang semakin sepi itu. tick tock tick tock tick tock… Sambil menunggu, aku iseng-iseng mulai menghapus beberapa sms di inboxku yang akhir-akhir ini sering penuh dan karenanya suka mengeluarkan bunyi sms masuk yang rada weird. Karena merasa aku punya waktu nganggur, ya aku coba buat nyicil membersihkan inboxku. Bayangin ajah, sms dari bulan Agustus, bahkan ucapan Selamat Idul Fitri dari beberapa teman, saudara, kenalan, dan sebagainya masih nyantol di inboxku. Gemana ga penuh ya? Aku telah menghapus beberapa sms dari inboxku sampai Fariz tiba-tiba mengatakan ia ingin pulang. Saking lamanya nunggu temanku itu, aku sampai nunda-nunda Fariz yang ingin pulang dengan maksud biar aku tidak menunggu sendirian. Di lobi sebenarnya banyak orang, tapi teman-temanku sudah pada masuk ujian semua dan yang tidak ujian pun pada mau pulang buat nyiapin ujian esok hari. Tapi ya sudah, karena tidak ingin terlalu menghalangi keinginan dari teman-temanku, ya sudah aku membiarkannya pulang dan aku pun mulai berfikir, what should I do now? Dari pada duduk diem sendiri tanpa teman ngobrol di Lobi, ku pikir mending Sholat Zuhur di MSi. Ketika Andrew dan Fariz pulang, aku pun juga beranjak dari tempat duduk ngobrolku itu ke MSi, alone.

Setibanya aku di depan mushola MSi sempat terbesit ingin ke kamar mandi dulu sebelum sholat, tapi aku urungkan niatku itu setelah sholat saja. Ya sudah, seperti orang yang mau shoat pada umumnya, aku menaruh tasku di dekat tempat wudhu, kemudian mengambil wudhu. Hmm, musholanya ga terlalu ramai, jadi ga perlu antri Mukena. Walaupun aku sebenarnya bisa mengambil mukena dari dalam lemari, tapi aku menggunakan mukena yang barusan dipakai oleh seorang ibu-ibu (dengan pakaian yang rada aneh; pakaian yang kurang mencerminkan dirinya sebagai mahasiswa S2 Msi. Dan sebenarnya aku meragukan Ibu itu sebagai seorang mahasiswa S2 MSi) yang baru saja selesai sholat. Pikirku, ya.. daripada itu mukena dilipat lagi, mbok ya mending aku pakai sajah? Aku pun bilang sama Ibu itu: “Boleh pinjam mukenanya Bu?”, Ibunya sedikit kaget dan membalasnya dengan senyum dan berkata “Oh.. iya, tapi rada basah..”. Ya.. walaupun rada basah dikit kena air wudhu, it doesn’t matter for me.. at all..

Ya sudah, dengan tas di belakangku, tempat di mana biasanya yang putri menaruh tas di Mushola itu ketika ditinggal sholat, aku pun ikut sholat berjamaah..

Ketika selesai sholat, selesai melipat mukena dan menaruhnya di dalam lemari, aku mengambil jaketku, tasku, dan kacamataku yang tak taruh di lantai itu, kemudian aku keluar untuk memakai sepatu. Aku pun duduk di kursi yang ada di depan mushola itu. Kursi yang aku pikir memang disediakan untuk menunggu antrian kamar mandi, atau untuk memakai sepatu ketika selesai sholat. Sebelum memakai sepatu, seperti biasa aku ingin mengecek apakah ada sms dari temanku yang belum memberikan kabar itu. Karena aku pikir aku akan meninggalkannya jika sampai aku selesai sholat ia belum datang ke Lobi. Aku membuka tasku, mencarinya, menggeser tanganku ke setiap sisi tasku. Oh ya.. aku menemukan HP Frenku.. tapi itu bukan yang aku cari.. Dengan sedikit panik, aku mencoba untuk memeriksanya di setiap kantong di tas, dan celanaku, bahkan aku juga mengecek di leherku sendiri, karena siapa tahu aku tidak sadar kalau HPku itu nyantol di leherku..

Tapi ternyata…

Aku tidak menemukan HPku di tas, di tempat aku taruh sebelumnya…

???

January 10, 2009

When Logic Comes From The Geography Facts..

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 1:59 pm

Salah seorang Dosenku di Fisipol UGM (Ibu Siti Muti’ah) sewaktu mengajar mata kuliah Studi Kawasan pernah memberikan suatu relasi atau mencoba mengaitkan geografi dengan wanita. Menurut Beliau, karakter atau filosofi wanita bisa diketahui melalui geografi, dalam hal ini adalah kawasan yang bisa merujuk pada benua ataupun negara.

Beliau berkata:

When logic comes from the geography facts..

Woman in 20s is like Africa: underdeveloped

Woman in 30s is like India: full of mysteries

Woman in 40s is like America: full of techniques

Woman in 50s is like Europe: old fashion and interest

Woman in 60s is like Alaska: wants to know but don’t want to go

Now, got the logic?

(interpretasi penulis)

Katanya wanita yang berumur 20-an itu underdeveloped. Kalau1-afrika_ges3 ada istilah developing country, maka artinya adalah negara berkembang, dan developed country artinya negara maju. Nah, kalau underdeveloped country berarti negara yang miskin (dong?). Berarti wanita yang masih 20-an dapat diartikan masih miskin pengalaman. Yah.. menurutku ada benarnya juga. Secara kehidupan ini cukup luas dan panjang untuk dijamah, dijalani, dan ditelusuri. Kalau mau tahu lebih seperti apa sih wanita yang umurnya 20-an, lihat aja benua Afrika sekarang.. (hehe). Dan cobalah liat Afrika secara global di dunia ini. Apakah Afrika termasuk kawasan yang maju secara keseluruhan? Nope! Walaupun ada Mesir, Nigeria, Lybiya, Afrika Selatan yang notabene negara yang cukup maju di kawasan Afrika, tapi coba lihatnya negara-negara Afrika lainnya yang ada di benua hitam tersebut seperti Ethiopia, Sudan, Kamerun, Sinegal, Rwanda, dan sebagainya. Most of the countries in Africa are underdeveloped. So, sama halnya dengan wanita. Wanita yang berumur 20-an, mungkin ada yang sudah dewasa atau developed or developing, namun secara umum wanita berumur 20-an masih belum berkembang, penuh konflik mencari jati diri.. hehe..So, that’s why woman in 20s is like Africa.

Wanita umur 30-an dikatakan sama halnya dengan negara India. Kalian tahu India itu seperti apa? Seperti yang kita tahu secara umum, India itu penuh dengan sejarahnya. Maksudnya adalah ada banyak hal yang patut dipelajari dari India. Dari adanya tokoh Mahatma Gandhi, beberapa tokoh penting dalam berdirinya Konferensi Asia-Afrika (Jawaharlal Nehru), berdirinya Taj Mahal dengan story-nya yang so sweet. India di dalam dunia internasional dapat ibaratkan sebagai anak macam yang siap menerkam, atau diam-diam menghanyutkan. Walaupun sepertinya India itu banyak penduduknya (1.098.57.839 jiwa, terbesar ke-2 dunia), tapi dari segi kualitas jangan disepelekan lho. India itu negara yang paling OK dalam bidang Informasi Teknologi (IT) di dunia. Banyak orang-orang India yang jadi ahli IT dan tersebar di sejagat raya ini. Nah.. wanita yang umurnya 30-an juga seperti India, sudah mulai berkembang namun full of mysteries..

cities123

Kalau mendengar nama negara Amerika Serikat (AS), apa sih yang langsung terbesit di kepala kalian? Otomatis negara yang superpower, perekonomian maju, sophisticated, kemiliteran yang modern, demokratis, dan sebagainya. Kalian tahu mengapa AS bisa seperi sekarang ini? Jawabannya tidak jauh-jauh dari sejarahnya atau proses yang telah negara adidaya itu alami. Tau sendiri AS merdeka tahun 1776. Perjalanan AS untuk menjadi sampai sekarang ini sudah sangat panjang dan telah melalui berbagai pengalaman nation building yang lama. Proses yang telah dialaminya telah mengajarinya berbagai hal teknis. Contoh simpelnya adalah konsep demokrasi yang selalu diagungkannya. Udah dari jaman baheula AS menerapkan konsep yang satu ini. Belum lagi nilai-nilai HAM yang selalu dirongrong ke seluruh negara di dunia, terutama negara-negara yang ada pelanggaran HAMnya. Artinya apa? Artinya AS sudah banyak pengalaman hidup bernegara, bermasyarakat, dan bertetangga (haha.. kayak PPKN ajah yak??!!!)

liberty3Sama seperti wanita umur 40-an yang dinilai sudah dapat dikatakan berpengalaman dalam hidup; sudah tahu berbagai macam tenik dalam menjalani kehidupan. Makanya juga disebut full of techniques seperti AS. Kalau di AS banyak UU atau traktat-traktat, kalau wanita mungkn sudah banyak pengalaman hidup, filosofi hidupnya sudah jelas, sudah bisa melihat lika-liku hidup seperti apa. Dan juga wanita yang sudah berumur 40-an pastinya dan kebanyakan sudah menikah dan melahirkan. So, seakan lengkapnya nilai dari wanita itu. Seakan sudah menjadi wanita yang sempurna (dari masih bayi-balita-anak-remaja-dewasa-ibu). Mungkin juga udah ada yang jadi nenek .. Lengkap sudah kan perjalanan seorang wanita dilihat dari perkembangan statusnya? Makanya ga heran juga jika wanita yang berumur 40-an itu banyak kasih nasihat, masukan, atau ajaran yang biasanya dilakukan oleh wanita yang sudah mempunyai anak alias seorang ibu. Mengapa? Karena seorang Ibu sudah tahu banyak hal. Sama seperti AS yang selalu memberikan doktrin demokrasi, HAM, liberalisasi kepada negara-negara underdeveloped, developing, atau negara-negara yang berkonflik. Karena AS dinilai negara yang mempunyai sejarah yang cukup panjang dan dianggap bisa membimbing negara lain melalui paham-paham yang diyakininya itu …

Kalau di Eropa, apa yang kalian nilai darinya? Wanita yang berumur 50-an dinilai sama dengan kawasan Eropa yang diartikan old fashion and interest. Orang Eropa itu kan klasik, jadul, kuno, ancient, tapi jangan diremehkan!! Dengan majunya jaman sekarang ini, nilai-nilai ataupun kebiasaan-kebiasaan yang telah tercipta pertama kalinya di Eropa (sebagai kawasan peradaban manusia juga) dinilai kuno atau jadul. Namun, apa yang dimiliki mereka itu adalah baik. Istilahnya ‘biar jadul tapi OK’ hehe. Biar udah umur 50-an, tapi apa yang diyakininya begitu idealist dan straight. Ga neko-neko. Maklum mungkin juga karena sudah tua ya.. Biasanya pemikiran wanita yang udah berumur 50-an itu suka ketinggalan dengan jaman sekarang. Apa yang diyakininya baik di jamannya dulu ternyata ketika dibawa ke jaman sekarang dinilai kuno banget. Ya.. ga jauh-jauh bedalah sama Eropa, sebuah kawasan yang old fashion and interest.

main2

Bagaimana kalau wanita itu sudah berumur 60-an? Wah.. katanya kayak Alaska! Wanita yang udah 60-an berarti sudah nini-nini (baca: nenek-nenek). Kalau udah nini-nini jadi ngerasa simpati. Sebenarnya mereka itu penuh dengan pengalaman hidup. Dan biasanya paling enak diajak ngobrol atau curhat, soalnya mereka bisa merasakan apa yang kita rasakan (pengalaman pribadi nih..hehe..) Tapi, biasanya tidak ada orientasi lebih selain itu ke nini-nini. Sama seperti Alaska. Letaknya yang di ujung utara (ya.. ga ujung-ujung banget sih), atau yang deket antartica itu cukup menarik untuk diketahui, sebagai salah satu negara bagian AS. Siapa juga sih yang ga pingin tahu Alaska itu seperti apa? Alaska itu satu-satunya negara bagian AS yang letaknya cukup jauh dari AS daratan (istilah mana nih? hehe..) selain Hawaii. Tapi lagi-lagi saya katakana di sini, walaupun banyak yang pingin tahu, tapi sedikit orang yang pingin ke sana. dank arena itu juga dibilang: wants to know but don’t want to go.. Coz, tempatnya yang cukup jauh dan dinginnya area jadi pertimbangan orang pergi ke sana. Terlalu jauh seperti tidak ada yang deket ajah? Terlalu dingin seperti tidak ada yang lebih tropis ajah? hehe.. Kalau nini-nini, emang enak sih diajak ngobrol dan curhat, tapi jarang ada orang yang mau lebih deket ke mereka, apalagi laki-laki.. paling asumsi mereka: kayak kage ade yang lebih mude aje?? hehe.. jangan gitu dunk…

alaska11

Now, how old are you? Me? Now, I’m 21. Berarti aku seperti Afrika duong?? It’s Ok, It’s Ok! Mau kayak Amerika kudu melewati fase kayak Afrika dulu. Jadi full of techniques pastinya berawal dari underdeveloped dulu kan??

January 9, 2009

Israel Absurd..

Filed under: my zone — by Ardaiyene @ 1:56 pm

Sudah 13 hari Israel menyerang Palestina. Dari serangan udara, darat, dan laut itu, sudah lebih dari 600 jiwa warga Palestina melayang dan sekitar 3000 warga memerlukan perawatan. Tapi sebenarnya apa sih yang menyebabkan Israel menyerang Palestina, atau tepatnya Kota Gaza yang berada di Jalur Gaza, sampai sebegitu massive-nya?

west_bank__gaza_map_2007_settlementsAlasan yang dapat dibenarkan dari aksi Israel kepada Palestina itu adalah karena adanya serangan roket-roket dari Kota Gaza yang diluncurkan ke daerah Israel berkali-kali yang jumlahnya telah mencapai 200 roket lebih. Merasa terganggu oleh serangan roket dari Gaza yang diduga dilakukan oleh orang pengikut Hamas itu, Israel memberikan peringatan jika sampai Palestina tidak menghentikan serangan roketnya, Israel akan bertindak. Dan.. seperti yang kita tahu Israel telah bertindak dengan massivenya ke kota Gaza.

Alasan peluncuran roket ke Israel memang telah memicu adrenalin Israel untuk melakukan resiprositas kepada Palestina. Karena itu, Israel langsung memberikan tindakan responsif ke Kota Gaza tersebut, menyerang dan membidik tempat-tempat strategis yang diduga menjadi tempat persembunyian atau tempat strategis bagi pengikut Hamas di Gaza.

Pihak Israel berdalih bahwa selain untuk merespon tindakan serangan roket pengikut Hamas tersebut, motivasi bagi Israel untuk melakukan penyerangan adalah untuk mengikis pengaruh Hamas di Palestina. Selain karena pihak Hamas yang diduga melakukan serangan roket ke Israel tersebut, pihak Hamas juga dinilai selalu tidak kooperatif dengan Israel sehingga selalu memunculkan ketegangan dengan Israel. Karena itu pula, hal tersebut dijadikan legitimasi bagi penyerangan Israel ke Palestina.

Penyerangan Israel yang begitu massive, luas, dan bombastis di Gaza tersebut menimbulkan tanda tanya tersendiri. Mengapa hanya karena serangan roket ke daerah Isreal dan hanya menewaskan 4 warga sipil Israel saja, Israel dapat bersikap sebegitu bringasnya kepada Gaza? Mengapa hanya karena serangan roket ke Israel, Gaza dikepung rapat-rapat oleh angkatan darat Israel dan seakan menjadikannya sebagai daerah terisolir, yang sangat layak untuk dikepung, diserang, dibom habis-habisan semau Isreal. Bermula dari tanggal 27 Desember 2008 sampai memasuki tahun 2009, serangan terus dilancarkan, bahkan pengeboman diluncurkan setiap 20 menit sekali. Bisa dibayangkan betapa hancurnya kota sekecil Gaza dengan ritme penyerangan semacam itu dengan periode hari yang telah berlangsung selama kurang lebih 10 hari ini? Terlebih Gaza termasuk kota yang padat penduduk dengan 1,5 juta warga di dalam 400 kilometer persegi Kota Gaza.

antara-holocoust-dan-gaza

Perbandingan jumlah korban antara Israel-Palestina

Yang menimbulkan tanda tanya lagi, mengapa hanya karena roket yang masih diluncurkan dari pihak Hamas, pihak Israel tetap melancarkan serangannya walaupun sudah ada lebih dari 600 jiwa warga Palestina yang melayang dan ribuan lainnya luka-luka? Mengapa juga kekuatan tentara Israel diperkuat dengan adanya serangan melalui darat dan juga laut, padahal kita sudah tau bahwa Kota Gaza telah lumpuh dan hancur seperti yang dapat kita lihat di TV? Yang jadi pertanyaan, apa sih yang diinginkan Israel di Gaza? Apa sih tujuan serangan Israel ke Gaza?

Apa yang dilakukan Israel hampir bisa kita samakan seperti ethnic cleansing, walaupun ini tidak berkaitan dengan kaum etnis minoritas. Menghabiskan warga Palestina di Gaza sehingga Israel seakan bisa lebih menguasai daerah di Jalur Gaza. Tidak heran juga kenapa Hugo Chavez, Presiden Venezuela saat ini, mengatakan serangan Israel itu sudah selevel sama Genosida (pembantaian etnis paling massive dan fundamental). Selain itu, tindakan Israel tersebut juga mengundang asumsi bahwa ada motivasi lain dari Israel dalam menyerang Gaza.

Side Effects Agression..

Tanggal 10 Februari 2009, Israel akan mengadakan pemilu. Ehud Barak (Menteri Pertahanan Israel) berasal dari Partai Buruh dan Tzipi Livni (Menlu Israel) merupakan Ketua Partai Kadima, mereka mempunyai pengaruh kuat di Israel. Mereka akan berhadapan dengan Partai Likud sebagai oposisi mereka. Dan karena itu Barak dan Livi tidak ingin terlihat seperti Pejabat yang pasif dan tidak sanggup berbuat apa-apa terhadap serangan roket dari Gaza. Jika hal itu terjadi, maka Partai Likudlah yang akan memenangi Pemilu. Karena itu, mereka berdua berupaya untuk menaikkan kembali pamor mereka sekaligus menunjukkan khususnya kepada warga Israel bahwa mereka dapat menjadi orang yang berguna bagi bangsanya, mencoba menghapus image buruk yang menempel di dirinya sehingga Partai Kadima, Partai politik yang memerintah Israel sekarang, di mana mereka berasal dapat kembali berkuasa dan tidak kehilangan simpati warga Israel pada pemilu mendatang. Penyerangan Israel ke Gaza tersebut juga diduga dilakukan agar nanti kedepannya dapat tercipta kesepakatan baru untuk menghapus kesepakatan lama yang menurut Israel itu tidak menguntungkan baginya.

Jika demikian, bisa kita pahami bahwa motif Israel dalam menyerang Palestina beragam. Adanya serangan roket dari Palestina ke Israel dijadikan oleh pihak Israel sebagai alat untuk melegitimasi aksinya ke Palestina. Dalam legitimasinya itu, ternyata tujuan Israel dibuntuti oleh adanya  kepentingan lain yang bersifat politis yaitu untuk mengikis kekuatan dan pengaruh Hamas dan para pengikutnya di  Palestina yang mengancam keamanan Israel. Selain itu dalam serangan ke Gaza juga terdapat  kepentingan partai politik Kadima di Israel yang dijalankan oleh Olmert dan Livni untuk menunjukkan bahwa Israel itu exists, membela kepentingan negara, melindungi bangsa Yahudi-nya, dan sebagainya sehingga kemudian Partai Kadima tersebut dapat meraih dukungan rakyat dan memenangi pemilu di bulan Februari mendatang. Sepertinya pihak Israel cukup cekatan juga dalam melihat momentum, yaitu menjadikan kasus serangan Israel ke Gaza ini sebagai momentum yang sangat baik sekali untuk meraih dukungan rakyat Israel bagi Partai Kadima, untuk melenyapkan orang-orang Hamas, untuk  menggantikan kesepakatan lama dengan yang baru yang lebih menguntungkan Israel, untuk memporak-porandakan Palestina sekaligus melumpuhkan serta mengurangi absolute power yang dimiliki khususnya oleh Hamas atau Palestina secara umum, serta keinginan-keinginan dasar Israel over Palestine lainnya yang belum tercapai. For Israel: It’s Show Time !!

Kemanakah AS??

United States, Where are you?

Satu pertanyaan yang wajar ditanyakan dalam situasi politik internasional yang memanas seperti sekarang ini. Sudah memasuki hari ke-12 serangan Israel ke Palestina, tetapi AS tetap tidak bergeming. Apa yang dilakukan Bush? Apa yang dilakukan Condoleezza Rice (Condi)? Apa yang dilakukan Obama? Bush dan Condi terlihat sibuk mengadakan pertemuan untuk turut membantu memecahkan permasalahan yang ada tanpa adanya sikap yang tegas dari diri mereka. Bush sibuk menggalang dana untuk para korban di Gaza. Padahal dunia meneriakinya untuk peran yang lebih. Jika untuk menggalang dana, Indonesia pun mampu melakukannya untuk Palestina. Di sisi lain, Condi hanya membeo dan memberi dukungan terhadap usulan ‘gencatan senjata’ dari Mesir untuk Israel dan Hamas.

Obama 2008What about Obama? Ternyata ketika serangan Israel sejak 27 Desember 2008 sampai dengan memasuki minggu pertama di tahun 2009 tersebut, Obama sedang berada di Hawaii karena sedang holiday akhir tahun bersama keluarganya. Sejak awal serangan ini mencuat, Obama memang tidak memberikan komentar sedikit pun terhadap apa yang terjadi di Gaza. Obama tau dan mengikuti perkembangannya, tetapi Ia tidak berkomentar. Ternyata yang membuatnya sedemikian diam adalah karena ia merasa belum saatnya berbicara. Obama melihat masih ada Bush yang memegang tampuk pemerintahan sampai tanggal 20 Januari 2009 yang lebih layak berbicara dan bertindak ketimbang Obama yang masih akan dilantik pada tanggal yang sama (20 Januari 2009). Bush berpandangan tidak ingin melangkahi Bush yang masih menjabat dan memang belum saatnya Bush bergeming, karena belum dilantik atau diresmikan oleh Kongres.

Namun ternyata, setelah adanya 40 orang tewas saat tank Israel menyerang tank sekolah PBB di Gaza, Obama baru mulai berkomentar melalui pernyataannya. Obama akhirnya mengaku khawatir dengan banyaknya warga sipil yang tewas di Gaza dan Isreal. Dan Obama berjanji setelah dirinya dilantik nanti Ia akan mengupayakan perdamaian di kawasan Timur-Tengah.

“Setelah pelantikan 20 Januari mendatang, saya bisa bicara lebih banyak mengenai isu ini. Saya akan menepati janji kampanye. Segera setelah pelantikan, kami akan terlibat aktif dan konsisten menyelesaikan konflik Timur Tengah. Ini komitmen Saya” (Barack Obama)

January 8, 2009

Menikah Karena Cinta Tidak Akan Bahagia?

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 12:41 pm

Saya tidak akan menjelaskan terlalu mendalam mengenai hal ini, karena saya bukanlah pakar cinta.

Tapi sebelumnya, saya ingin bertanya, apakah kalian setuju dengan judul dari tulisan ini? Mengapa?

Pertama, apa itu cinta? Yang dapat saya berikan mengenai definisi cinta yaitu bahwa cinta merupakan emosi. Sebuah emosi yang kita rasakan dalam hati. Cinta merupakan strong emotion yang menjadi dasar bagi setiap insan untuk menyukai sesama lawan jenisnya. Dan karena itu juga banyak manusia di dunia menikah karena cinta kuat yang dimilikinya. Dan wajar sekali bukan? Tapi apakah mereka yang menikah karena cinta hidup dengan bahagia? Wah.. wah.. rasa-rasanya kalau berbicara mengenai kebahagiaan, akan relatif sekali jawabannya.

love is strong emotion

Ada yang mengatakan bahwa mereka yang menikah karena cinta akan tetap merasa bahagia karena cintalah yang akan mengikat perasaan dan sikap mereka dalam suka dan duka. Namun, ada juga pihak yang mengatakan bahwa mereka yang menikah karena cinta hanya akan mengecap kebahagiaan di awal-awal pernikahan mereka saja. Yah.. layaknya pengantin baru.. love is in the air.. Setiap suasana pasti penuh dengan cinta, rasa sayang, dan menjadikannya begitu indah.. Namun, setelah itu.. setelah beberapa bulan (mungkin) apakah mereka akan sebahagia sedia kala dengan telah mengetahui bahwa ternyata banyak hal di belakang itu semua yang menuntut adanya kesamaan pemikiran, pemahaman, pengertian, sikap, dan sebangsanya. Dalam hal ini, cinta seakan menyusut kadarnya…

Saya jadi teringat dengan omongan dari Mama Laurent yang mengatakan bahwa cinta itu seperti chewing gum, pada awalnya terasa sangat manis dan asik sekali di mulut. Namun setelah lama-lama dihisap, rasa manis itu pun akan hilang dan menjadi pahit. Dan apakah kita menelan permen karet yang sudah lama kita hisap? Tidak bukan?! Mungkin (terkadang) sedikit banyak kita dapat menganalogikan cinta dengan chewing gum..

love is like a chewing gum?

Hmm, tapi saya juga teringat dari perkataan dari Mario Teguh dengan Golden Ways-nya mengenai cinta. Menurut Golden Ways-nya Mario Teguh, memang ada femonena ketika rasa cinta terasa luntur setelah pasangan menikah untuk beberapa waktu. Menurutnya, itu bukan karena cintanya yang luntur, tapi karena (katakanlah) suaminya tidak menghargai istrinya seperti sediakala ketika sebelum menikah. Hmm kalau kayak gini repot juga ya? Saling menghargai memang jadi kunci penting dalam pernikahan..

By the way.. let’s back to the topic..

Lantas jika ada yang mengatakan bahwa menikah karena cinta itu tidak akan bahagia, atau dapat dikatakan bahagianya hanya di awal pernikahan saja, lantas ada opsi lain?

Ya, tentu ada. Ternyata ada pihak lain yang berargumen bahwa menikah tidak karena cinta bisa dijalankan. Pemikiran yang menurut saya kontemporer ini menganggap bahwa harus ada hal-hal di luar cinta yang sifatnya mengikat di dalam pernikahan, agar pernikahan itu sendiri dapat berjalan baik. Apa itu? Prinsip! Ya, menurut mereka kesamaan prinsip dijadikan alasan sekaligus pengikat yang lebih kuat daripada cinta di antara mereka itu sendiri. Mereka berdalih, mereka menikah tidak hanya karena cinta, tapi juga kesamaan prinsip atau visi dalam menjalani the rest of their lives. Prinsip yang mereka maksud di sini salah satunya yaitu prinsip managemen, seperti kesamaan pandangan mereka untuk bagaimana mengatur uang, anak, pendidikan mereka serta anaknya kelak, karier masing-masing, menentukan sikap dalam berbagai hal, dan sebagainya sehingga roda kehidupan rumah tangga mereka tetap dapat berjalan, instead of depending merely on love.

Mereka yang beranggapan seperti di atas menjadikan cinta justru sebagai bumbu di dalam pernikahan mereka. Lantas focal point dari pernikahan mereka yaitu menjalankan kehidupan dengan seseorang yang mempunyai prinsip ataupun visi yang sejalan dengannya dengan kadar cinta di antara keduanya yang lebih sedikit tentunya. Yang diupayakan adalah bagaimana agar rumah tangga yang dibinanya dapat terus berlangsung dan berjalan dengan baik dengan pasangan yang sejalan, seprinsip, dan sepaham dengannya. Karena, menurut mereka hal itu lebih penting daripada menanggalkan kehidupannya hanya pada cinta dan mendiscount informasi mengenai how to run their lives in the next days.. Dan mereka menjalankan hidup mereka dengan cinta yang dijadikannya bumbu penyedap dalam kehidupan mereka. Mau mencoba? heeee…

15587-23dg

So, guys.. would you marry someone based on love or not??

Semoga tulisan ini dapat memberikan wawasan or broaden your horizon ‘bout love and marriage..

( tulisan ini dibuat berdasar pada diskusi kelas Strategi dengan tema ‘emosi dan kapital sosial’ 2008 )

Powered by WordPress.com