Eits, saya punya proyek besar sama teman-teman setutorial mata kuliah Negosiasi dan Resolusi Konflik (NRK) nih, yaitu memainkan roleplay salah satu perundingan internasional. Setelah melakukan browsing yang cukup melelahkan, akhirnya kami, satu kelompok tutorial di bawah arahan Mbak Raras, menentukan isu Euro untuk dijadikan tema dalam roleplay yang akan kami mainkan. Selang beberapa waktu kami memang menemukan kendala dan hambatan dalam menentukan perundingan Euro yang mana yang pantas, cocok, dan pas untuk diroleplaykan dalam kelas, yang kira-kira juga mudah dipahami, tidak bertele-tele, dan tentunya dapat menggunakan konsep-konsep dari kelas NRK tersebut.
Setelah melalui beberapa waktu dan perdebatan sana-sini sampai-sampai saya sempat merasa kalau perundingan yang akan kita mainkan tidak akan berhasil (alias dah ngerasa hopeless duluan), karena ternyata materi tentang Euro itu begitu procedural, complex, dan sulit untuk dimengerti (tau ndiri kan Uni Eropa itu bentuk dari Supranational yang Ok punya? Maksudnya ga main-main institutionalnya di sana) Bahkan sempat mau mengganti tema di dalam rentang waktu yang cuma tinggal 2 mingguan lagi. Wah gila ajah… gemana persiapannya kalau hari gini kita ganti tema?? Tetapi, akhirnya kami tetap bertahan dengan tema Euro dan mencoba untuk mencari perundingan apa dan yang mana yang suitable. Setelah melalui beberapa tahapan diskusi bareng, hang out bareng, ngobrol-ngobrol bareng bahkan sampai malam-malam segala (dijabani bok!!) akhirnya benang kusut yang ada dapat sedikit dilonggarkan dengan terpilihnya: Perundingan ECOFIN dalam Mempertimbangkan Kemampuan Ekonomi Slovakia untuk Mengadopsi Euro. (Ayo, kita bertepuk tangan dan bilang: horrayyy…..!!!)
Perundingan apa dan yang kayak gemana sih itu??
Jadi, perundingan yang kami satu kelompok pilih itu adalah perudingan ECOFIN (kumpulan dari Menteri-Menteri Keuangan dan Ekonomi negara-negara anggota Uni Eropa yang mengadopsi Euro) untuk membahas kemampuan perekonomian negara Slovakia (negara anggota Uni Eropa) yang ingin mengadadopsi Euro di negaranya.
Sebelumnya, Slovakia mendapatkan invitation untuk gabung dalam Euro Club / Euro Zone (sebutan bagi negara-negara Uni Eropa yang menggunakan Euro sebagai mata uang tunggal di negaranya). Slovakia merupakan negara post-communist kedua di keanggotaan Uni Eropa setelah Slovenia yang mendapatkan invitation ini karena keunggulan atau kemajuan di bidang ekonomi makronya*. Karena itu, akhirnya Menteri Keuangan Slovakia, Jan Pociatek, bersama dengan Gubernur Bank Sentral Slovakia, Ivan Sramko mengajukan application letter untuk pengadopsian Euro ke Komisi Eropa (European Council/EC) pada tanggal 5 April 2008**.
Sebagai tindak lanjutnya, maka EC dan European Central Bank (ECB) mengadakan pertemuan untuk membahas mengenai proposal dari Slovakia ini. Dan pada 7 Mei 2008, EC dan ECB mengeluarkan keputusan bahwa Slovakia dapat mengadopsi Euro. Keberhasilan Slovakia tidak berhenti sampai di sini. Setelah keputusan dari EC dan ECB ini, proposal dari Slovakia digodok lagi oleh beberapa pihak dari UE hingga sampai pada tahap pembahasan dalam forum ECOFIN, sebagai tahap akhir dalam melegalkan masuknya Slovakia dalam Euro Zone (dalam hal ini untuk mengadopsi Euro). Nah.. di forum ECOFIN ini, para menteri keuangan seluruh Uni Eropa akan membahas kemampuan perekonomian Slovakia untuk dapat memenuhi standar moneter Maastricht (five convergences) agar
dapat mengadopsi Euro (karena, perekonomian negara baru yang ingin mengadopsi Euro harus berada dalam standar tertentu agar tidak mengubah nilai dari Euro itu sendiri, tidak mengganggu perekonomian negara-negara dalam Euro Zone, dan sebagainya). Di dalam perundingan ECOFIN ini tampak dua delegasi dari Austria dan Spanyol yang khawatir dari masuknya Slovakia dalam Euro Zone, sedangkan negara-negara yang lain setuju dengan masuknya Slovakia ke dalam Euro Zone. Dan inilah yang akan kami bahas simulasi sidang ECOFIN dalam Kelas NRK..
Persiapan dan Pelaksanaan:
Untuk mewujudkan simulasi perundingan itu, kami satu kelompok rela kerja marathon buat mempersiapkan dan menjadikannya baik di hari H. Dari yang namanya kita kumpul ngebahas dan cari data bareng di Djendelo malam-malam, sempet juga di Snap Café, terus di Djendelo lagi.. Pokoknya dijabani deh.. Ada yang habis les jam 8 malam dibela-belain mampir Djendelo buat nyebahas proyek ini, de el el deh..
Persiapan untuk simulasi ini dimulai dari cari bahan, data, dan penjelasan sehingga kita dapat mengungkap alur logika atau peristiwa dari perundingan ini (and it’s not an easy thing ya…maklum mempelajari UE itu tidaklah mudah..apalagi ini temanya adalah ekonomi yang tidak mudah dipahami oleh anak HI dan karenanya tema kelompok kami berbeda dari tema-tema simulasi dari kelompok lain), terus ada yang nyicil buat scriptnya, nyiapin negara-negara mana aja yang akan disertakan dalam simulasi, nyiapin power point untuk penjelasan dari negosiasi yang sedang berlangsung dalam simulasi nanti, nyiapin alur dari unsur media yang akan ditampilkan, menyiapkan sikap dan alasan dari perwakilan Slovakia yang akan diwawancara, ada yang nyicil cari bendera-bendera negara-negara delegasi untuk dipakai di hari H, nyiapin foto delegasi, ada yang ngambil foto kita-kita on the spot! (hua.. fotoku jadinya elik..hehe) , dan banyak lagi dehh.. pokoknya semua sibuk dan semua turut kerja.. (and I like this kind of team work..).
Di hari Minggu (H-1) kami melakukan diskusi singkat mengenai isu, membahas konsep yang ada di dalam materi sidang itu, dan kemudian kami melakukan gladi kotor dan bersih sekaligus di kampus. Latihan perundingan ini kami lakukan 2 kali. Yang pertama konyol abisssss… yang kedua sama ajah (sebenarnya) tapi lebih serius dan kaleman dikit.. (habis tutornya bilang suruh serius dan ga boleh ketawa sih.. hehe)
Don’t you know??
Hari H tiba, dan ternyata pas jam kuliah NRK alias simulasi mau dimainkan (jam 12 lebih) kampusku mati lampu !!! Wah, ga banget deh.. Yang jelas kalau ga ada listrik itu tandanya kita ga bisa putar power pointnya, padahal itu penting banget sebagai alur dari simulasi kita (dan terutama ada foto para delegasinya yang asli juga). Dan lampu otomatis juga mati sehingga ruang kelas jadi gelap gulita. Padahal kita mau simulasi sidang, udah pake pakaian rapih-rapih.. tapi malah mati lampu.. ga keliatan jelas deh.. Padahal itu peserta kelasnya ada 50 lebih.. huff…. ga banget deh pokoknya.. Mbak Dikei (dosennya) juga bingung dan ga bisa ditunda di hari lain lagi. Tapi lampu juga ga nyala-nyala, dan akhirnya walaupun ga ada listrik kita tetep jalan kok.. simulasi berjalan lancar, tertib dan aman.. hehe… (apaan sih?) dan kata tutornya ‘bagus lho’ hehe.. (iyah.. cuman sayang.. listriknya ga mendukung.. coba ga mati lampu, pasti akan lebih bagus dan bermakna lagi..) Yah.. aku sih cuma berharap, semoga dengan segala keterbatasan yang ada tidak mengurangi nilai atas performance dan kerja keras kami… hihiiii…

Dari kiri ke kanan: Daiyene (Irlandia), Dian (Perancis), Bella (Austria), Rifat (Jerman), Imeh (Italia), Desy (Austria), Melati (Belanda), Ari (Chairman), Osha (Slovakia)
*International Real Estate Digest. Eurozone: Slovakia is invited to join in
**euobserver.com. Most Danes Want Euro, Slovakia bids for 2009 Eurozone Entry.
