Ardaiyene’s Weblog

December 31, 2008

Happy NEw YEar 2009

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 6:11 am

Ardaiyene would like to say:

New Year Myspace Comments

MyNiceSpace.com
New Year Myspace Comments

Remember, don’t only blow up your trumpets at 00:00 on Desember 31,

but also make your resolutions..

be better from now, by making some and trying to stick to it…

May all your wishes on the next 360 days come true..

December 22, 2008

Selamat Hari Ibu

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 12:36 pm

“Mother, how are you today?

This is a note from your daughter

With me everything is okay..

Mother, how are you today?”


Ibu, apa kabarmu hari ini?

Lama tak kudengar kabar darimu…

Semoga Pencipta Bumi dan seluruh isinya melindungimu di sana..

Ibu, di mana pun engkau berada..

kuharap kau baik-baik saja..

Ibu, walaupun kita terpisah jarak, ruang, dan waktu..

tapi kuyakin masih ada pengikat di hati kita..

Ibu, kali ini serasa beda sekali ketika kau tidak di dekatku..

Namun, dengan segala upaya yang telah kau curahkan untuk kami,

dengan segala kasih yang kau punya,

dengan segala ketegaran hati yang kau miliki,

dengan segala sikap sabarmu kepada kami

dengan segala kebijakan hati yang kau miliki,

dengan segala pengorbanan yang kau lakukan selama ini, dan..

dengan segala rasa yang aku punya untukmu,

di hari ini,Happy Mother's Day

selain doa yang bisa kuhaturkan, dan rasa rindu yang tersimpan,

aku ingin mengucapkan

selamat hari Ibu

aku ingin mengucapkan

tetaplah tegar,

tetaplah kuat,

dan tetaplah menjadi panutan bagi kami…

Mom, I love you and I miss you..


December 21, 2008

A Contending Negotiator..

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 10:47 am

“… Ms. Suharyati is a contending negotiator. She is good at enduring prolonged negotiations…”

Itulah cuplikan statement dari hasil raporku di kelas mata kuliah Negosiasi & Resolusi Konflik (NRK). Aku ga ngira dosen dan para tutor akan memberikan nilai rapor seperti ini ke semua mahasiswa yang ngambil kelas NRK 2008. Dan terlebih di dalam rapor yang berukuran A3 dan bertuliskan 120 konsep-konsep negosiasi ala NRK itu juga terdapat penilaian setiap pribadi, apakah ia seseorang yang contending atau problem solving. Dan berdasarkan penilaian Negotiator’s Log (Catatan Negosiator) yang dikirim 10 x di setiap minggunya, aku dinilai sebagai contending negotiator.

Opss, pertama aku rada kaget ajah dapat penilaian sebagai contending negotiator. Karena asumsinya, contending negotiator itu seorang negosiator yang sukanya menantang dan menyerang. Beda sama problem solving yang notabene lebih mau mengakomodasi kepentingan pihak lawan. Tapi kalau yang contending, cenderung memperjuangkan kepentingan sendiri (hehe..). Sebenarnya taktik dari strategi contending ini banyak, di antaranya seperti mengganggu pihak lawan, melecehkan pihak lawan (aku jarang banget kok pake taktik ini, suerrr…!), mengancam (aku juga jaraaaang banget pake taktik ini) atau bertahan alias keukeuh dengan taktik persuasive arguments atau positional commitment. Atau kalau udah ga tau mau ngapain lagi, biasanya time pressure jadi jagoanku.. haha…

Tapi.. setelah aku pikir-pikir.. emang ada benernya juga. Penilaian mereka tidak salah, karena aku juga merasa sebagai pribadi yang sukanya kekeh, sukanya ngeles, suka ngebela diri sendiri seakan-akan ga mau disalahin (tapi sebenarnya enggak juga kok, heheee..). Yah.. kalau kalian pernah bernegosiasi sama aku, atau berdebat sama aku mungkin kalian terkadang akan merasa aku orang yang keras. Yah.. terkadang aku emang gitu.. And (maybe) that’s why I was judged as a contending negotiatior..

Haduuhh, betapa baiknya ya aku memberitahukan kalian kalau aku adalah contending negotiator? Ini bisa sebagai bocoran buat kalian yang membaca untuk bisa menggunakan taktik lain sehingga nantinya dalam bernegosiasi sama aku kalian bisa meluluhkan pikiran, hati, dan sikapku.. wakakakak…

coba aja kalau bisa???

hehe..

December 18, 2008

PERUNDINGAN ECOFIN DALAM MEMPERTIMBANGKAN KEMAMPUAN EKONOMI SLOVAKIA UNTUK MENGADOPSI EURO

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 10:24 am

149px-eu_insignaEits, saya punya proyek besar sama teman-teman setutorial mata kuliah Negosiasi dan Resolusi Konflik (NRK) nih, yaitu memainkan roleplay salah satu perundingan internasional. Setelah melakukan browsing yang cukup melelahkan, akhirnya kami, satu kelompok tutorial di bawah arahan Mbak Raras, menentukan isu Euro untuk dijadikan tema dalam roleplay yang akan kami mainkan. Selang beberapa waktu kami memang menemukan kendala dan hambatan dalam menentukan perundingan Euro yang mana yang pantas, cocok, dan pas untuk diroleplaykan dalam kelas, yang kira-kira juga mudah dipahami, tidak bertele-tele, dan tentunya dapat menggunakan konsep-konsep dari kelas NRK tersebut.

Setelah melalui beberapa waktu dan perdebatan sana-sini sampai-sampai saya sempat merasa kalau perundingan yang akan kita mainkan tidak akan berhasil (alias dah ngerasa hopeless duluan), karena ternyata materi tentang Euro itu begitu procedural, complex, dan sulit untuk dimengerti (tau ndiri kan Uni Eropa itu bentuk dari Supranational yang Ok punya? Maksudnya ga main-main institutionalnya di sana) Bahkan sempat mau mengganti tema di dalam rentang waktu yang cuma tinggal 2 mingguan lagi. Wah gila ajah… gemana persiapannya kalau hari gini kita ganti tema?? Tetapi, akhirnya kami tetap bertahan dengan tema Euro dan mencoba untuk mencari perundingan apa dan yang mana yang suitable. Setelah melalui beberapa tahapan diskusi bareng, hang out bareng, ngobrol-ngobrol bareng bahkan sampai malam-malam segala (dijabani bok!!) akhirnya benang kusut yang ada dapat sedikit dilonggarkan dengan terpilihnya: Perundingan ECOFIN dalam Mempertimbangkan Kemampuan Ekonomi Slovakia untuk Mengadopsi Euro. (Ayo, kita bertepuk tangan dan bilang: horrayyy…..!!!)

Perundingan apa dan yang kayak gemana sih itu??

2_euro_coin_sk1Jadi, perundingan yang kami satu kelompok pilih itu adalah perudingan ECOFIN (kumpulan dari Menteri-Menteri Keuangan dan Ekonomi negara-negara anggota Uni Eropa yang mengadopsi Euro) untuk membahas kemampuan perekonomian negara Slovakia (negara anggota Uni Eropa) yang ingin mengadadopsi Euro di negaranya.

Sebelumnya, Slovakia mendapatkan invitation untuk gabung dalam Euro Club / Euro Zone (sebutan bagi negara-negara Uni Eropa yang menggunakan Euro sebagai mata uang tunggal di negaranya). Slovakia merupakan negara post-communist kedua di keanggotaan Uni Eropa setelah Slovenia yang mendapatkan invitation ini karena keunggulan atau kemajuan di bidang ekonomi makronya*. Karena itu, akhirnya Menteri Keuangan Slovakia, Jan Pociatek, bersama dengan Gubernur Bank Sentral Slovakia, Ivan Sramko mengajukan application letter untuk pengadopsian Euro ke Komisi Eropa (European Council/EC) pada tanggal 5 April 2008**.

Sebagai tindak lanjutnya, maka EC dan European Central Bank (ECB) mengadakan pertemuan untuk membahas mengenai proposal dari Slovakia ini. Dan pada 7 Mei 2008, EC dan ECB mengeluarkan keputusan bahwa Slovakia dapat mengadopsi Euro. Keberhasilan Slovakia tidak berhenti sampai di sini. Setelah keputusan dari EC dan ECB ini, proposal dari Slovakia digodok lagi oleh beberapa pihak dari UE hingga sampai pada tahap pembahasan dalam forum ECOFIN, sebagai tahap akhir dalam melegalkan masuknya Slovakia dalam Euro Zone (dalam hal ini untuk mengadopsi Euro). Nah.. di forum ECOFIN ini, para menteri keuangan seluruh Uni Eropa akan membahas kemampuan perekonomian Slovakia untuk dapat memenuhi standar moneter Maastricht (five convergences) agar 85px-coat_of_arms_of_slovakiadapat mengadopsi Euro (karena, perekonomian negara baru yang ingin mengadopsi Euro harus berada dalam standar tertentu agar tidak mengubah nilai dari Euro itu sendiri, tidak mengganggu perekonomian negara-negara dalam Euro Zone, dan sebagainya). Di dalam perundingan ECOFIN ini tampak dua delegasi dari Austria dan Spanyol yang khawatir dari masuknya Slovakia dalam Euro Zone, sedangkan negara-negara yang lain setuju dengan masuknya Slovakia ke dalam Euro Zone. Dan inilah yang akan kami bahas simulasi sidang ECOFIN dalam Kelas NRK..

Persiapan dan Pelaksanaan:

Untuk mewujudkan simulasi perundingan itu, kami satu kelompok rela kerja marathon buat mempersiapkan dan menjadikannya baik di hari H. Dari yang namanya kita kumpul ngebahas dan cari data bareng di Djendelo malam-malam, sempet juga di Snap Café, terus di Djendelo lagi.. Pokoknya dijabani deh.. Ada yang habis les jam 8 malam dibela-belain mampir Djendelo buat nyebahas proyek ini, de el el deh..

Persiapan untuk simulasi ini dimulai dari cari bahan, data, dan penjelasan sehingga kita dapat mengungkap alur logika atau peristiwa dari perundingan ini (and it’s not an easy thing ya…maklum mempelajari UE itu tidaklah mudah..apalagi ini temanya adalah ekonomi yang tidak mudah dipahami oleh anak HI dan karenanya tema kelompok kami berbeda dari tema-tema simulasi dari kelompok lain), terus ada yang nyicil buat scriptnya, nyiapin negara-negara mana aja yang akan disertakan dalam simulasi, nyiapin power point untuk penjelasan dari negosiasi yang sedang berlangsung dalam simulasi nanti, nyiapin alur dari unsur media yang akan ditampilkan, menyiapkan sikap dan alasan dari perwakilan Slovakia yang akan diwawancara, ada yang nyicil cari bendera-bendera negara-negara delegasi untuk dipakai di hari H, nyiapin foto delegasi, ada yang ngambil foto kita-kita on the spot! (hua.. fotoku jadinya elik..hehe) , dan banyak lagi dehh.. pokoknya semua sibuk dan semua turut kerja.. (and I like this kind of team work..).

Di hari Minggu (H-1) kami melakukan diskusi singkat mengenai isu, membahas konsep yang ada di dalam materi sidang itu, dan kemudian kami melakukan gladi kotor dan bersih sekaligus di kampus. Latihan perundingan ini kami lakukan 2 kali. Yang pertama konyol abisssss… yang kedua sama ajah (sebenarnya) tapi lebih serius dan kaleman dikit.. (habis tutornya bilang suruh serius dan ga boleh ketawa sih.. hehe)

Don’t you know??

Hari H tiba, dan ternyata pas jam kuliah NRK alias simulasi mau dimainkan (jam 12 lebih) kampusku mati lampu !!! Wah, ga banget deh.. Yang jelas kalau ga ada listrik itu tandanya kita ga bisa putar power pointnya, padahal itu penting banget sebagai alur dari simulasi kita (dan terutama ada foto para delegasinya yang asli juga). Dan lampu otomatis juga mati sehingga ruang kelas jadi gelap gulita. Padahal kita mau simulasi sidang, udah pake pakaian rapih-rapih.. tapi malah mati lampu.. ga keliatan jelas deh.. Padahal itu peserta kelasnya ada 50 lebih.. huff…. ga banget deh pokoknya.. Mbak Dikei (dosennya) juga bingung dan ga bisa ditunda di hari lain lagi. Tapi lampu juga ga nyala-nyala, dan akhirnya walaupun ga ada listrik kita tetep jalan kok.. simulasi berjalan lancar, tertib dan aman.. hehe… (apaan sih?) dan kata tutornya ‘bagus lho’ hehe.. (iyah.. cuman sayang.. listriknya ga mendukung.. coba ga mati lampu, pasti akan lebih bagus dan bermakna lagi..) Yah.. aku sih cuma berharap, semoga dengan segala keterbatasan yang ada tidak mengurangi nilai atas performance dan kerja keras kami… hihiiii…

tim-delegasi2

Dari kiri ke kanan: Daiyene (Irlandia), Dian (Perancis), Bella (Austria), Rifat (Jerman), Imeh (Italia), Desy (Austria), Melati (Belanda), Ari (Chairman), Osha (Slovakia)

*International Real Estate Digest. Eurozone: Slovakia is invited to join in

**euobserver.com. Most Danes Want Euro, Slovakia bids for 2009 Eurozone Entry.

December 17, 2008

Lupa Muluuuuu…

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 5:22 am

Haduh, ga tau nih.. akhir-akhir ini jadi terserang panyakit lupa..

Bayangin ajah, aku dah dua kali keluar rumah tapi lupa bawa dompet!! Untungnya yang case pertama, ga ada cegatan Polisi di jalan. Coba kalau ada? Jangan-jangan aku udah dibawanya pake mobil polisi… hiiiiiii.. Dan untuk yang case kedua untungnya aku ngantongin uang sekitar tiga puluh ribuan sebelum cabut beli makan keluar… Tapi, tetep ajah.. aku ternyata pas balik ke rumah ga bisa masuk.. lha, ternyata aku lupa bawa kunci rumah je!!! hahhhh, parah banget ya aku?? dah lupa ga bawa dompet, lupa bawa kunci pula.. berhubung ga bisa masuk rumah karena kakak yang barusan pergi keluar akhirnya aku ngacir ajah ke warnet.. hihiii untung masih ada uang dua puluh ribuan di kantong….

Terus, karena ngebet banget pingin belajar bahasa, aku langsung aja daftar. Pertamanya aku tau sih jadwalnya itu Rabu dan Jum’at, siang hari. Setelah menimbang-nimbang, ku pikir hari Rabu aku bisa cabut duluan buat kuliah sore, dan hari Jum’atnya kupikir ga akan ada masalah karena aku cuma ada kuliah pagi hari. So, it’s ok on Friday. Dan daftarlah aku… Tapi… eng..ing.. eng… aku lagi-lagi telah melupakan sesuatu kawan!!! Aku lupa kalau ternyata hari Jum’at itu aku ada les juga dari jam 10.30 sampai jam satu lebih… Padahal les bahasa itu mulainya jam 1 teng. Dan aku ga mungkin menjalani kegiatan di rentang waktu yang tumpang tindih kayak gitu. Terlebih ketika habis les siang itu, aku kan harus mandi dulu.. soalnya pasti keringetan.. wah.. ga banget deh.. haduh.. haduh.. kok bisa ga kepikiran ya kalau aku ada les di hari jum’at?? Mikirin apa to yennnn?? Tapi.. Alhamdulillah.. Tuhan masih berpihak kepadaku.. Barusan aku mendapat sms dari tempat les bahasa itu kalau ternyata les bahasanya ditunda sampai minggu depan. So, aku masih bisa bernafas mikirin jadwal les yang bentrok. Untungnya juga minggu depan udah mulai minggu tenang, so bisa ngajuin jadwal les biar ga bentrok ma jadwal les bahasaku..

Selain itu teman, aku kemarin juga lupa meng-eject flash diskku di rentalan dekat kampus. Ceritanya, aku pagi-pagi dah ke rental di deket kampus buat ngeprint tugas dan beberapa handout kuliah. Ga tau karena apa, tiba-tiba setelah ngeprint aku langsung mengambil printanku dan langsung membayarnya, lalu keluar dengan senangnya. Tetapi sore harinya, tepatnya jam 16.30an, aku baru sadar kalau flash diskku tidak ada di kantong celanaku, di tempat pensilku, di tasku, di saku jaketku, tidak ada semua. Fiuhh, langsung aja aku mengeluh lagi pada diriku yang tiba-tiba rentan lupa ini.. kuinget-inget lagi, ternyata dan ternyata ya.. memang di rentalan itu. Padahal aku sedang ada di Sekretariat PPI Kota Yk, lagi ngelembur bikin surat dan ngeprint amplop dan itu tempatnya udah deket ma rumahku yang notabene kalau sama kampus itu ga deket ya… Tapi, karena flash disk itu sudah memberikan sebuah arti penting bagi mahasiswa, termasuk aku.. mau tak mau.. aku harus mengambilnya saat itu juga. Rasanya hampa ga ada flash disk walaupun belum dibutuhin saat itu juga. Dan untungnya (Thanks God) flash diskku masih ada di sana, dan disempenin sama mbaknya. Oh Tuhan, aku langsung tersenyum lebar dan lagi-lagi malu ma diriku yang mudah lupa ini. Tapi.. ya gemana lagi.. namanya juga manusia??! Kalau udah lupa mau digemanin lagi??

Minggu ini tuh banyak banget deh lupanya. Tapi syukurnya, aku masih diuntungkan oleh situasi saat itu juga. Yah… itulah yang membuatku bersyukur sama yang di Atas. Ga bawa dompet, tapi ga ada hambatan dan halangan. Ga bawa kunci, tapi masih bawa uang seadanya, jadi bisa ke warnet (nyambi-nyambi cari bahan sekalian), Lupa atur jadwal les yang akhirnya malah bentrok les, tapi malah ternyata les satunya diundur minggu depan, lupa ngeeject flash disk tapi untungnya flashku ga hilang… Bersyukur banget deh..

Tapi capek juga ya, kalau apa-apa lupa mulu kayak gini.. Kurang vitamin apa ya ?? Tapi yang jelas hal ini tidak terlepas dari perkuliahanku yang makin gila ajah mendekati minggu tenang.. minggu terakhir ditampar sama presentasi dan simulasi perundingan yang jadwalnya berurutan, jadi banyak hal yang harus disiapkan dan tentunya malah jadi repot ndiri dan akhirnya malah lupa sama hal-hal kecil seperti yang dah aku ceritain di atas itu tuh.. haha..

Daiyene…. Daiyene…..

December 5, 2008

I Didn’t Receive Any Call..

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 10:05 am

Suatu moment yang aneh buat aku. Bahkan kalau bisa dijelaskan lebih bisa dibilang: Ga Fair!!

Aku sama teman-temanku daftar bareng suatu program beasiswa untuk belajar bahasa inggris di Amerika, walaupun kita tidak mengirim aplikasi di waktu yang sama. Dan ketika waktu sudah berlalu kurang lebih 10 hari dari deadline pengiriman lamaran yang telah ditentukan, ternyata konfirmasi yang akan mengikuti seleksi wawancara dilakukan melalui telepon. Dan tanpa kusadari, ada banyak anak HI yang daftar dan banyak pula yang ditelpon, tapi kecuali aku…

Sebenarnya aku tidak apa-apa ga keterima, atau tidak mengikuti tes wawancara. Tapi yang membuat aku tidak nyaman dan gelisah sampai akhirnya berubah jadi jealous adalah ketika ada beberapa temanku yang terkejut dan tidak percaya jika aku tidak ditelpon oleh pihak instansi pemberi beasiswa atau pihak yang akan menyelenggarakan tes wawancara tersebut. “Ah, ga mungkin Yen, masa aku ditelp tapi kamu enggak?”; “Boong.. Ga mungkin, kamu ga ditelp”; “Masa? ah belum kali Yen…!” dan bla..bla..bla…

Gemana ga geger coba mendengar mereka komentar gitu?? Ekspresi, kesan, dan komentar mereka tuh malah buat aku jadi heran sendiri mengapa aku tidak ditelp juga ya? Akhirnya hal itu pun menyeret pikiranku untuk kembali menelaah apa yang salah dengan aplikasi yang aku kirim. Apakah aku salah mengisi, apakah ada dokumen yang tidak aku sertakan, apa aku belum memenuhi standar dari persyaratannya? IPK ku kurangkah? apakah aplikasiku tidak sampai ke tempat tujuan di Jakarta? Wah.. semua pertanyaan tuh serasa mengambang, berterbangan di pikiranku. Intinya, aku sampe terheran-heran sendiri.

Setahuku, jadwal tes wawancara temanku yang keterima itu mulai besok, tapi kalau emang iya kenapa sampai detik ini aku tidak menerima telp ya? (pikirku waktu itu). Tapi ya sudahlah.. Aku mencoba untuk menggali apa yang ada di balik itu nantinya. Aku mencoba untuk menerima itu dan bersikap bijak aja. Karena itu juga aku semakin berfikir bahwa setiap orang memang mempunyai jalannya masing-masing, termasuk aku yang jalannya tidak harus sama dengan orang lain. Ya sudah, aku merelakan..

Tapi, walaupun aku sudah merelakan, aku tetep ajah mantau hapeku bahkan lebih ekstra mantaunya, kalau-kalau ada yang telp. Aku emang masih nyimpen harapan sih sampai malam harinya. Namun, ketika aku bangun pagi dan tidak menerima telepon dari siapa pun, aku semakin tegas pada diriku bahwa aku tidak keterima dan aku akan kembali ke kehidupanku tanpa harapan akan panggilan tes wawancara beasiswa ke AS itu. Dan habis bangun pagi itu pun aku langsung bertengger di depan lepi, ngeupdate CV-ku, dan menyicil LPJ LBB PPI Kota kemarin. Saking asyiknya, aku pun sampai lupa jam, tiba-tiba beberapa menit lagi sudah hampir jam 8 pagi, dan aku pun belum makan dan mandi sama sekali. Padahal jam 9.30 aku ada kelas HI Asteng.

Tapi, sewaktu aku belum selesai sama lepiku, tiba-tiba salah satu temanku, Bela, sms aku: “…day, km kq blum dteng c?d ruang brp?” Seketika itu pula aku jadi bingung sama pertanyaan Bela. Belum datang kemanaaa lagi? Tapi asumsiku: temanku itu pasti lagi mau ikut tes wawancara beasiswa itu. Dan aku memberikan dia “semangat” lewat balasan smsku ke dia. Tapi di satu sisi, aku justru mikir kalau pertanyaannya dia itu jangan-jangan ada kelas pengganti di kampus yang lupa kucatat.

Tapi ternyata, temanku satunya, Aan, tiba-tiba sms aku juga dan tanya: “Daiyen,kok blm dtg?kta sdah ne.km 1 ruang ma ak di ruang 8..km jdny ditlp jm brapa?” Dwaaaaannnnnnnnnnngggggg….. apaaaa.. coba maksudnya??? Don’t tell me that I’m on the list!!

Tuh kan, keliatan kan kalau teman-temanku itu berharap dan berfikiran kalau aku tuh pasti ditelpon sama lembaga bahasa asing yang nanganin tes wawancara ini. Tapi, nyatanya tidak teman!!

I didn’t receive any call!! Even until I received sms from my friend that morning..

Terus aku bilang aja ma si Aan lewat sms kalau emang aku masuk di list, kenapa aku ga ditelp? sama sekali.. aku ga ditelpon blas.. emang aku melewati satu miskol pakai nomor rumah di tanggal 2 Desember dan itu pun waktu magrib. Pikirku, ada banyak peluang kalau nomor itu bisa jadi dari nomor teman-temanku atau orang iseng. Tapi aku pikir ga mungkin banget itu telpon dari pihak lembaga bahasa asing, karena masa’ iya konfirmasi untuk tes wawancara ditelpon di waktu magrib? Kayak ga ada waktu siang ajah? Iya ga sih???

Ya sudah, karena aku disuruh cepet-cepet datang sama si Aan, akhirnya aku yang belum apa-apa jam 8 pagi itu langsung ambil handuk dan mandi. Kagak sempet makan. Sebelumnya aku minta nomor telp lembaga bahasa itu, dan aku berniat untuk menelpon tempat itu dulu sebelum aku pergi untuk memastikan apakah namaku benar-benar ada dan aku jadi salah satu orang yang berhak diwawancara? Tapi ternyata dua kali kutelpon pake telpon rumah ga bisa. Salurannya jelek banget. Tak coba telpon pake hapeku juga sama aja. Salurannya ga jelas dan tiba-tiba mati sendiri. Apa boleh buat, aku langsung aja meluncur ke tempat lembaga bahasa asing itu bermodal nekat dan grundel. Ya.. iyalah.. siapa juga yang suka acara dadakan kayak gitu? Sampai harus ngebolos kuliah segala. Ga jelas. Niat ga sih mereka sebenarnya?? Jahat banget mempermainkan orang kayak gini. Wah.. pokoknya di jalan tuh malah uring-uringan sendiri deh..

Tiba di tempatnya itu kayaknya tampangku dah ga enak dipandang kayaknya. Walaupun udah berpakaian rapih sekalipun. Wajahku tuh kayak masih ngegerundel, mana rambutku masih basah lagi gara-gara habis keramas, belum makan pula, harus menghadapi suasana ga jelas kayak gini.. Giliran ketemu sama segerombol teman-teman HI di sana, kamu tau apa yang mereka katakan padaku? “eh.. akhirnya datang juga…” Sial!! “Kesel gue.. ga jelas gini sih..” (balesku..) Si Bela yang udah ada di sana nanggepin aku dengan santainya, “ya udahlah day..” Ya iya sih.. ya udah.. tapi kan ga gitu caranya. Kenapa mereka tidak sedikit professional sih? (tanyaku..)

Ya udah, aku akhirnya nemuin Aan yang satu ruang ma aku. Ternyata di sana ada Dila juga.. Untung ada mereka yang bisa menetralkan emosiku.. Dan ga tau juga mungkin karena suasanya tempatnya yang asri dan tenang, aku jadi ikut-ikutan tenang dan sedikit kalem sama situasi yang aku hadapi. Aku malah ngobrol-ngobrol ma teman-temanku. Dan berhubung kami bertiga mendapat nomor urut yang akhir-akhir (belasan dari 20), akhirnya aku mengajak mereka makan. Maklum belum makan pagi. Dan serasa ga kuat kalau disuruh nunggu dan wawancara yang masih di nomor urut satu itu. Makan deh kita di Kantin Sadhar..

Setelah menunggu lama dari jam 8.30, akhirnya tiba juga nomor urut 14 maju-nomor urutku. Kalau ga salah itu jam 12.30an. Ya sudah mengalirlah. Waktu aku masih di jalan, aku sempet niat mau komplain atau setidaknya tanyalah kenapa kok yang masuk wawancara ada yang ga ditelpon sama sekali? Sewaktu masuk, aku lupa untuk menanyakan hal itu. Tapi ketika aku duduk aku teringat lagi. Namun, sepertinya belum saatnya aku ngomong di awal, karena Ibu yang mewawancarai aku sudah kasih sinyal ke aku untuk langsung memperkenalkan diri (bagian pertama dari wawancara itu). Ya sudah.. tapi, setelah aku selesai wawancara, aku iseng mencoba tanya (walaupun menurutku udah basi ditanyain, secara aku dah enjoy ikut dan jawab pertanyaan wawancaranya). Aku tanya: “Bu, sebenarnya saya benar-benar ada di dalam list tidak sih Bu? Masalahnya saya termasuk yang tidak ditelpon sama sekali oleh pihak sini…bla..bla..bla..” Pertanyaanku cukup panjang sehingga Ibunya akhirnya menanggapi pertanyaanku. Intinya mereka (yang di lembaga bahasa asing itu) hanya menjalani hal teknis wawancara saja. Yang punya otoritas menelpon itu sebenarnya dari Jakarta. Kami di sini hanya membantu (jawaban diplomatis banget..). Dan aku pun ga mau kalah dengan memberikan fakta-fakta dan cerita yang aku alami, “orang tua saya yang di Jakarta pun juga tidak menerima telepon dari pihak sini juga, sama sekali. Dan saya pun datang ke sini bukan karena saya ditelpon oleh pihak sini, tapi karena ada teman saya yang memberitahu saya lewat sms jam 8 pagi tadi. Dan karena itu saya hanya ingin memastikan saja apakah saya benar-benar ada di list dan termasuk salah satu yang diwawancara atau mungkin nama saya katut di list tapi sebenarnya tidak ikut wawancara? Karena saya juga ga mau datang ke sini tapi ngerasa sebagai kesannya malah kayak penyelundup…bla..bla..bla..”

Wah.. aku puas banget bisa ngomong itu ke Ibunya. Aku ga tau tindakanku itu pantes dan benar atau tidak di dalam konteks aku yang sebagai pelamar beasiswa dan Ibunya itu sebagai pewawancara. Yang jelas aku pingin tau kenapa itu bisa terjadi, dan aku juga pingin pihak dari lembaga bahasa itu tau akan hal yang seperti aku alami ini. Karena, walaupun yang tidak ditelpon itu (ternyata) tidak hanya aku, tapi teman-temanku dengan case yang sama seperti aku, akhirnya ditelpon juga walaupun baru pagi hari ini. Dan fakta yang ada di aku, sampai saat aku diwawancarai pun aku tidak menerima telepon dari pihak lembaga itu. Hmmmm, gemana menurutmu? Aneh kan?

Sekarang pertanyaannya, hasil wawancara ini bakal dikonfirm lewat apa ya? Kalau lewat telepon lagi, aku dah hopeless duluan ma kejadian ini. hahaha… Tapi, kata temanku hasil wawancara ini bakal ditelpon (juga), dikirimin surat ke fakultas dan rumah. Oh.. Okay.. kita liat saja.. Dari awal aku dah ngerasa ga enak karena merasa dipermainkan ga jelas gini, ga tau juga endingnya gemana..

Dan dari kejadian hari ini, aku sampai merasa tidak dapat merasa menjalani hari Kamis. Ga tau, kayaknya tiba-tiba hari Rabu langsung ke hari Jum’at. Hari kamis ga kerasa soalnya buat aku jadi tidak bisa bernafas.. shocking day!!

4 Desember 2008

December 3, 2008

Let’s Talk (a bit) about TRUST!! (a Review of Strategy Class)

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 10:45 am

Kenapa tiba-tiba jadi tertarik membahas tentang TRUST? Haha, terinspirasi sedikit dari kelas Strategi kemarin (lagi-lagi dari kelas strategi ya? It’s a great class!)

Salah satu mahasiswa di kelas Strategi dalam menjawab pertanyaan kelompok mengatakan bahwa hubungan yang terjalin sesama manusia pastilah dilandasi oleh adanya TRUST atau rasa percaya satu sama lain. Jika di antara dua insan (misalkan) tidak ada saling percaya, mustahil akan terjalin hubungan di antara keduanya. Dan yup, saya setuju dengan itu. TRUST itu ada ketika seseorang sudah mulai akrab dan mulai menanamkan rasa kepercayaan dia kepihak lawan baik itu dia teman, sahabat, kenalan, rekan, tetangga, dan sebagainya. Dalam konteks keluarga besar, TRUST sudah dapat ditanamkan dari awal, dari sejak kita kecil.

TRUST, menurut penjelasan dosenku, akan menjadi relevan ketika ada kemungkinan untuk dikhianati. Maksudnya gini, jika kita menaruh rasa percaya pada seseorang, maka akan ada kemungkinan untuk dikhianati olehnya. Jika kita tidak merasa akan dikhianati oleh seseorang, maka tidak perlu ada TRUST
(hmmm, I’ve got the message here!). Dan itulah yang dimaksud dengan vulnerability.

photo-0608trust21Ketika kita memberikan TRUST pada orang lain, maka seketika itu pula kita menerima akan adanya vulnerability. Manusia pada dasarnya sangat sensitif dengan pengingkaran, bohong, dan pengkhianatan. Dan kita menemui semua jenis itu dalam sebuah konsekuensi TRUST yang kita berikan pada orang lain. Satu hal yang perlu diingat adalah, ketika kita memberikan TRUST, itu tandanya kita hanya mengendalikan sebagian dari suatu hal dan sebagian yang lain dikendalikan oleh orang kita percayai. Dan karena ada sebagian yang dikuasai atau dikendalikan oleh orang lain itu, that’s why there’s a possibility for us to be betrayed! (Don’t you think so?!)

Pernah mendengar istilah ‘Game of TRUST?’

Game of TRUST mempunyai poin penting yaitu: Seberapa besar Anda menerima vulnerability itu?

Jika Anda memberikan TRUST itu berarti Anda telah siap dengan vulnerability yang ada dan Anda dapat dikatakan Risk Acceptant (menerima resiko). Namun, bila sebaliknya di mana Anda tidak memberikan TRUST karena takut akan vulnerability yang ada, maka Anda adalah Risk Averse (menghindari resiko). Menurut saya tidak ada yang jelek dari Risk Acceptant ataupun Risk Averse. Semuanya mempunyai alasan masing-masing mengapa seseorang bersedia atau tidak bersedia untuk menaruh kepercayaan pada orang lain.

Semoga sedikit ulasan mengenai TRUST ini bisa membantu siapa pun yang membacanya untuk lebih bisa membina hubungan dengan siapa pun itu. Ingat, TRUST tidak hanya diberikan pada individu saja, tapi juga terhadap institusi, organisasi, dan rezim-rezim tertentu. Dan bahkan Dosenku berkata bahwa TRUST lebih sering diajukan pada institusi daripada individu.

Powered by WordPress.com