Suatu moment yang aneh buat aku. Bahkan kalau bisa dijelaskan lebih bisa dibilang: Ga Fair!!
Aku sama teman-temanku daftar bareng suatu program beasiswa untuk belajar bahasa inggris di Amerika, walaupun kita tidak mengirim aplikasi di waktu yang sama. Dan ketika waktu sudah berlalu kurang lebih 10 hari dari deadline pengiriman lamaran yang telah ditentukan, ternyata konfirmasi yang akan mengikuti seleksi wawancara dilakukan melalui telepon. Dan tanpa kusadari, ada banyak anak HI yang daftar dan banyak pula yang ditelpon, tapi kecuali aku…
Sebenarnya aku tidak apa-apa ga keterima, atau tidak mengikuti tes wawancara. Tapi yang membuat aku tidak nyaman dan gelisah sampai akhirnya berubah jadi jealous adalah ketika ada beberapa temanku yang terkejut dan tidak percaya jika aku tidak ditelpon oleh pihak instansi pemberi beasiswa atau pihak yang akan menyelenggarakan tes wawancara tersebut. “Ah, ga mungkin Yen, masa aku ditelp tapi kamu enggak?”; “Boong.. Ga mungkin, kamu ga ditelp”; “Masa? ah belum kali Yen…!” dan bla..bla..bla…
Gemana ga geger coba mendengar mereka komentar gitu?? Ekspresi, kesan, dan komentar mereka tuh malah buat aku jadi heran sendiri mengapa aku tidak ditelp juga ya? Akhirnya hal itu pun menyeret pikiranku untuk kembali menelaah apa yang salah dengan aplikasi yang aku kirim. Apakah aku salah mengisi, apakah ada dokumen yang tidak aku sertakan, apa aku belum memenuhi standar dari persyaratannya? IPK ku kurangkah? apakah aplikasiku tidak sampai ke tempat tujuan di Jakarta? Wah.. semua pertanyaan tuh serasa mengambang, berterbangan di pikiranku. Intinya, aku sampe terheran-heran sendiri.
Setahuku, jadwal tes wawancara temanku yang keterima itu mulai besok, tapi kalau emang iya kenapa sampai detik ini aku tidak menerima telp ya? (pikirku waktu itu). Tapi ya sudahlah.. Aku mencoba untuk menggali apa yang ada di balik itu nantinya. Aku mencoba untuk menerima itu dan bersikap bijak aja. Karena itu juga aku semakin berfikir bahwa setiap orang memang mempunyai jalannya masing-masing, termasuk aku yang jalannya tidak harus sama dengan orang lain. Ya sudah, aku merelakan..
Tapi, walaupun aku sudah merelakan, aku tetep ajah mantau hapeku bahkan lebih ekstra mantaunya, kalau-kalau ada yang telp. Aku emang masih nyimpen harapan sih sampai malam harinya. Namun, ketika aku bangun pagi dan tidak menerima telepon dari siapa pun, aku semakin tegas pada diriku bahwa aku tidak keterima dan aku akan kembali ke kehidupanku tanpa harapan akan panggilan tes wawancara beasiswa ke AS itu. Dan habis bangun pagi itu pun aku langsung bertengger di depan lepi, ngeupdate CV-ku, dan menyicil LPJ LBB PPI Kota kemarin. Saking asyiknya, aku pun sampai lupa jam, tiba-tiba beberapa menit lagi sudah hampir jam 8 pagi, dan aku pun belum makan dan mandi sama sekali. Padahal jam 9.30 aku ada kelas HI Asteng.
Tapi, sewaktu aku belum selesai sama lepiku, tiba-tiba salah satu temanku, Bela, sms aku: “…day, km kq blum dteng c?d ruang brp?” Seketika itu pula aku jadi bingung sama pertanyaan Bela. Belum datang kemanaaa lagi? Tapi asumsiku: temanku itu pasti lagi mau ikut tes wawancara beasiswa itu. Dan aku memberikan dia “semangat” lewat balasan smsku ke dia. Tapi di satu sisi, aku justru mikir kalau pertanyaannya dia itu jangan-jangan ada kelas pengganti di kampus yang lupa kucatat.
Tapi ternyata, temanku satunya, Aan, tiba-tiba sms aku juga dan tanya: “Daiyen,kok blm dtg?kta sdah ne.km 1 ruang ma ak di ruang 8..km jdny ditlp jm brapa?” Dwaaaaannnnnnnnnnngggggg….. apaaaa.. coba maksudnya??? Don’t tell me that I’m on the list!!
Tuh kan, keliatan kan kalau teman-temanku itu berharap dan berfikiran kalau aku tuh pasti ditelpon sama lembaga bahasa asing yang nanganin tes wawancara ini. Tapi, nyatanya tidak teman!!
I didn’t receive any call!! Even until I received sms from my friend that morning..
Terus aku bilang aja ma si Aan lewat sms kalau emang aku masuk di list, kenapa aku ga ditelp? sama sekali.. aku ga ditelpon blas.. emang aku melewati satu miskol pakai nomor rumah di tanggal 2 Desember dan itu pun waktu magrib. Pikirku, ada banyak peluang kalau nomor itu bisa jadi dari nomor teman-temanku atau orang iseng. Tapi aku pikir ga mungkin banget itu telpon dari pihak lembaga bahasa asing, karena masa’ iya konfirmasi untuk tes wawancara ditelpon di waktu magrib? Kayak ga ada waktu siang ajah? Iya ga sih???
Ya sudah, karena aku disuruh cepet-cepet datang sama si Aan, akhirnya aku yang belum apa-apa jam 8 pagi itu langsung ambil handuk dan mandi. Kagak sempet makan. Sebelumnya aku minta nomor telp lembaga bahasa itu, dan aku berniat untuk menelpon tempat itu dulu sebelum aku pergi untuk memastikan apakah namaku benar-benar ada dan aku jadi salah satu orang yang berhak diwawancara? Tapi ternyata dua kali kutelpon pake telpon rumah ga bisa. Salurannya jelek banget. Tak coba telpon pake hapeku juga sama aja. Salurannya ga jelas dan tiba-tiba mati sendiri. Apa boleh buat, aku langsung aja meluncur ke tempat lembaga bahasa asing itu bermodal nekat dan grundel. Ya.. iyalah.. siapa juga yang suka acara dadakan kayak gitu? Sampai harus ngebolos kuliah segala. Ga jelas. Niat ga sih mereka sebenarnya?? Jahat banget mempermainkan orang kayak gini. Wah.. pokoknya di jalan tuh malah uring-uringan sendiri deh..
Tiba di tempatnya itu kayaknya tampangku dah ga enak dipandang kayaknya. Walaupun udah berpakaian rapih sekalipun. Wajahku tuh kayak masih ngegerundel, mana rambutku masih basah lagi gara-gara habis keramas, belum makan pula, harus menghadapi suasana ga jelas kayak gini.. Giliran ketemu sama segerombol teman-teman HI di sana, kamu tau apa yang mereka katakan padaku? “eh.. akhirnya datang juga…” Sial!! “Kesel gue.. ga jelas gini sih..” (balesku..) Si Bela yang udah ada di sana nanggepin aku dengan santainya, “ya udahlah day..” Ya iya sih.. ya udah.. tapi kan ga gitu caranya. Kenapa mereka tidak sedikit professional sih? (tanyaku..)
Ya udah, aku akhirnya nemuin Aan yang satu ruang ma aku. Ternyata di sana ada Dila juga.. Untung ada mereka yang bisa menetralkan emosiku.. Dan ga tau juga mungkin karena suasanya tempatnya yang asri dan tenang, aku jadi ikut-ikutan tenang dan sedikit kalem sama situasi yang aku hadapi. Aku malah ngobrol-ngobrol ma teman-temanku. Dan berhubung kami bertiga mendapat nomor urut yang akhir-akhir (belasan dari 20), akhirnya aku mengajak mereka makan. Maklum belum makan pagi. Dan serasa ga kuat kalau disuruh nunggu dan wawancara yang masih di nomor urut satu itu. Makan deh kita di Kantin Sadhar..
Setelah menunggu lama dari jam 8.30, akhirnya tiba juga nomor urut 14 maju-nomor urutku. Kalau ga salah itu jam 12.30an. Ya sudah mengalirlah. Waktu aku masih di jalan, aku sempet niat mau komplain atau setidaknya tanyalah kenapa kok yang masuk wawancara ada yang ga ditelpon sama sekali? Sewaktu masuk, aku lupa untuk menanyakan hal itu. Tapi ketika aku duduk aku teringat lagi. Namun, sepertinya belum saatnya aku ngomong di awal, karena Ibu yang mewawancarai aku sudah kasih sinyal ke aku untuk langsung memperkenalkan diri (bagian pertama dari wawancara itu). Ya sudah.. tapi, setelah aku selesai wawancara, aku iseng mencoba tanya (walaupun menurutku udah basi ditanyain, secara aku dah enjoy ikut dan jawab pertanyaan wawancaranya). Aku tanya: “Bu, sebenarnya saya benar-benar ada di dalam list tidak sih Bu? Masalahnya saya termasuk yang tidak ditelpon sama sekali oleh pihak sini…bla..bla..bla..” Pertanyaanku cukup panjang sehingga Ibunya akhirnya menanggapi pertanyaanku. Intinya mereka (yang di lembaga bahasa asing itu) hanya menjalani hal teknis wawancara saja. Yang punya otoritas menelpon itu sebenarnya dari Jakarta. Kami di sini hanya membantu (jawaban diplomatis banget..). Dan aku pun ga mau kalah dengan memberikan fakta-fakta dan cerita yang aku alami, “orang tua saya yang di Jakarta pun juga tidak menerima telepon dari pihak sini juga, sama sekali. Dan saya pun datang ke sini bukan karena saya ditelpon oleh pihak sini, tapi karena ada teman saya yang memberitahu saya lewat sms jam 8 pagi tadi. Dan karena itu saya hanya ingin memastikan saja apakah saya benar-benar ada di list dan termasuk salah satu yang diwawancara atau mungkin nama saya katut di list tapi sebenarnya tidak ikut wawancara? Karena saya juga ga mau datang ke sini tapi ngerasa sebagai kesannya malah kayak penyelundup…bla..bla..bla..”
Wah.. aku puas banget bisa ngomong itu ke Ibunya. Aku ga tau tindakanku itu pantes dan benar atau tidak di dalam konteks aku yang sebagai pelamar beasiswa dan Ibunya itu sebagai pewawancara. Yang jelas aku pingin tau kenapa itu bisa terjadi, dan aku juga pingin pihak dari lembaga bahasa itu tau akan hal yang seperti aku alami ini. Karena, walaupun yang tidak ditelpon itu (ternyata) tidak hanya aku, tapi teman-temanku dengan case yang sama seperti aku, akhirnya ditelpon juga walaupun baru pagi hari ini. Dan fakta yang ada di aku, sampai saat aku diwawancarai pun aku tidak menerima telepon dari pihak lembaga itu. Hmmmm, gemana menurutmu? Aneh kan?
Sekarang pertanyaannya, hasil wawancara ini bakal dikonfirm lewat apa ya? Kalau lewat telepon lagi, aku dah hopeless duluan ma kejadian ini. hahaha… Tapi, kata temanku hasil wawancara ini bakal ditelpon (juga), dikirimin surat ke fakultas dan rumah. Oh.. Okay.. kita liat saja.. Dari awal aku dah ngerasa ga enak karena merasa dipermainkan ga jelas gini, ga tau juga endingnya gemana..
Dan dari kejadian hari ini, aku sampai merasa tidak dapat merasa menjalani hari Kamis. Ga tau, kayaknya tiba-tiba hari Rabu langsung ke hari Jum’at. Hari kamis ga kerasa soalnya buat aku jadi tidak bisa bernafas.. shocking day!!
4 Desember 2008