Ardaiyene’s Weblog

November 29, 2008

Di Balik Kesepakatan Parlemen Irak

Filed under: my zone — by Ardaiyene @ 2:36 pm

Akhirnya (kalau memang bisa dikatakan demikian), Parlemen Irak sepakat untuk menyusun kesepakatan dengan Amerika, terutama dalam penarikan Pasukan AS dari Irak sehingga Irak pun bisa kembali menjadi negara yang bebas, berdaulat, dan dapat kembali membangun negerinya yang telah porak-poranda (Kompas, Sabtu 29 November 2008).

Sebelumnya, isu mengenai penarikan pasukan AS dari Irak telah lama dibicarakan dan dibahas, namun selalu saja berujung pada kebuntuan. Namun, saat ini justeru Parlemen Irak yang bersikap sepakat untuk mengambil tindakan adanya penarikan pasukan AS pada akhir tahun 2011 dengan didahului dengan perjanjian pakta keamanan dengan AS. Menurut Kompas, pakta itu terdiri dari perjanjian mengenai Status Kekuatan AS di Irak dan Perjanian Kerangka Kerja Jangka Panjang yang merumuskan hubungan Irak-AS dalam beberapa tahun ke depan.

Walaupun Parlemen Irak telah menyatakan kesepakatannya, apakah lantas warga Irak juga turut menyetujuinya? Seperti yang kita tahu, warga Irak terpecah menjadi dua kubu dominan, yaitu Syiah dan Sunni. Warga Sunni Arab yang dominan semasa Saddam Hussein berkuasa ini (yang notabene versus AS) sebenarnya menuntut konsesi yang lebih dari adanya kesepakatan tersebut. Lantas, apa itu artinya? Apakah ternyata sekarang mereka mau menerima kesepakatan dengan AS? Apakah sekarang warga Irak yang awalnya begitu frontal (Sunni-red) mau sedikit mengalah? Sudah lelahkah mereka terhadap apa yang telah terjadi di Irak selama ini? Yah.. jawabannya kita liat saja pada hasil referendum yang dijadwalkan akan diselenggarakan Pemerintah Irak di akhir Juli 2009.

Mengenai kesepakatan yang ada di Parlemen Irak ini ternyata Bush, Presiden AS, menyambutnya dengan gembira. Bahkan Bush pun mengatakan, “menegaskan pertumbuhan demokrasi Irak dan meningkatkan kemampuan untuk mengamankan dirinya”.

Dengan melihat apa yang terjadi, yaitu dengan sikap Parlemen Irak yang seperti itu dan sikap Bush yang menyambut hangat akan hal tersebut, mengindikasikan bahwa semua hal berjalan semakin baik dan mulai mengerucut ke hal yang positif, yaitu penarikan pasukan AS dari Irak dan terjalinnya hubungan yang lebih baik antara Irak dengan AS. Yang jadi pertanyaan saya, apakah hal ini dikonstruksi oleh AS mengingat masa jabatan Bush sudah akan berakhir? Saya melihat kecenderungan bahwa Bush berusaha untuk mengakhiri kebijakannya di Irak dengan sebaik mungkin di masa penghujung pemerintahannya walaupun sebenarnya telah banyak hal yang telah dikorbankan baik dari pihak Irak maupun AS, akibat dari kebijakan unilateralnya. Apakah adanya tanda yang membaik ini sebagai suatu upaya menutup lubang yang telah dalam digali? Mencoba menutup-nutupi kesalahan di akhir pemerintahan agar mendapat image bahwa Bush berhasil menegakkan demokrasinya, bahwa Bush berhasil dengan invasinya ke Irak?

Well, all the answers depend on you..

Tapi, jikalau itu benar, lantas Obama sebagai the next US President tidaklah harus bersusah-susah payah lagi untuk membereskan dan membenahi kebijakan Bush yang ada di Irak tersebut, karena di Parlemen Irak sudah tercapai kesepakatan Penarikan Pasukan AS dari Irak dan telah ditandatanganinya pakta kerjasama keamanan oleh Parlemen Irak. Hal ini membuktikan bahwa sudah ada upaya untuk menanggulangi isu yang telah lama berkobar. Jika hal ini dapat dikatakan sudah sebagai tutup buku atas kebijakan Bush di Irak tersebut, lantas yang harus dilakukan Obama adalah make it constantly good!!

November 25, 2008

FEELS LIKE AN ANGEL???

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 9:46 am

Ini terjadi di mushola Magister Science (MSi) UGM, samping kampusku.. tempat yang sering dipake sholat alias nebeng sholat ma mahasiswa Fisipol UGM, terutama HI.. Ada yang ga tau tempatnya? (yok, kapan-kapan tak ajak sholat di sana deh.. hihi)

Jadi, hari Senin tanggal 24 November 2008, sebelum aku masuk kelas jam 12.00, aku berniat untuk sholat Zuhur dulu dari pada memilih makan siang (padahal laper banget..maklum telah menjalani 2 kuliah, dan pinginnya sih makan dulu sebelum kuliah ke-3). Jalan ke Msi ama teman aja mpe ga niat gitu.. bawaannya pingin makan..hehe.. Dan sambil jalan, aku melihat ada gerombolan cewek dari Fisipol (kayaknya Maba 2008) yang berjalan cukup jauh di depanku dan kupikir mereka juga akan sholat Zuhur juga di mushola Msi. Seketika itu juga aku berfikir, “wah, sholatnya bakal ngantri nih. wah bakal lama. jadi males ngantri.. (karena musholanya tidak terlalu besar, dan rukuhnya juga pasti ngantri)”. Tapi, ya sudahlah pikirku. Aku akan mengantri dengan baik…

Dan ternyata gerombolan maba itu benar sholat Zuhur di sana. Secara mereka yang sampai dan masuk duluan ke mushola, daku memberlakukan asas ‘siapa cepat dia dapat’ ke mereka. Intinya, aku akan mempersilahkan mereka wudhu dulu, pakai rukuh mushola itu dulu, dan aku akan mengantri dengan baik dan sopan..

Sewaktu aku mengantri wudhu yang tempatnya ada di dalam mushola (atau tepatnya sih ruangan sebagai mushola dengan tempat wudhu di dalamnya) itu, aku berada di belakang gerombolan maba cewek itu. Aku perhatiin dari sejak jalan ke MSi, ini gerombolan cewek ngobrol terus, bahkan ketika mereka sudah dalam Mushola dan mengantri wudhu. Yah..jumlah mereka itu kurang lebih ada 4-5 orang dan aku mengantri wudhu di belakang mereka (kalau temanku dah ngambil wudhu duluan secara dia masuk mushola lebih dulu dari aku yang awalnya berniat untuk mengantri sholat di luar saja, karena di dalam pasti akan penuh, tapi akhirnya aku ngantri juga di dalam..).

Sambil menunggu mereka wudhu pun, mereka masih mengobrol ga jelas, ribut siapa yang mau wudhu duluan (padahal masih ada orang ngantri wudhu, mereka masih bisa-bisanya ribut siapa yang mau wudhu duluan?? ckckckck), dan bahkan mereka pun tertawa. Padahal ,di saat yang sama ada beberapa orang sedang sholat di mushola itu. Aku hanya diam saja dan menunggu antrian dengan santai sambil menyandarkan punggungku di tembok di dekat mereka.

Tapi,

tiba-tiba..

Ada seorang pria (berkemeja rapih dan asumsiku dia itu mahasiswa S2 Msi di sana) datang ke arahku dan bilang: “mbak, mungkin ada baiknya kalau di dalam mushola tidak berbicara/berisik, di sini kan juga ada yang sholat..”

Jujur, sebenarnya aku kaget, orang itu kok negurnya benar-benar ke arah aku yang sebenarnya (jika pria itu tau) dari awal masuk Mushola aja aku ga ngomong sepatah dua patah kata. Itu orang pasti nganggep kalau aku termasuk ke salah satu gerombolan maba cewek yang ngobrol mulu dari tadi dan mengganggu sholat Zuhur dia. Masih mending kalau pria itu negurnya ke arah gerombolan itu juga ya… Tapi ini benar-benar cuma ke arah aku ajah, dan pandangan matanya dia itu benar-benar cuma ke aku, dan dia tidak melihat ke arah gerombolan maba yang ada tepat di samping aku. Hmm, salah orang nih, pikirku! Aku malah ngerasa kayak jadi kambing hitam dari situasi yang ada di mushola itu. I didn’t do anything but I’m the one who got the complain!! whadda???

Mendapat komplain dari cowok itu, aku hanya tersenyum dan bilang, “makasih..” Mungkin jawabanku rada aneh, tapi yang jelas jawaban aku itu sebagai ucapan terima kasih telah mengingatkan, walaupun aku sendiri dari tadi diam dan tidak ngapa-ngapain kecuali ngantri wudhu. Dan gerombolan cewek yang masih ngantri wudhu di depan ku itu lantas langsung diam dan memalingkan wajahnya ke depan. Dan orang yang komplain ke aku itu tiba-tiba menghilang. Aku lantas langsung diam dan berfikir bahwa pria itu salah negur orang dan aku memulai untuk memaklumi pria itu yang tidak tahu who did it and who did nothing. (It’s fine!!) Aku emang sempet keki sih. Wajarlah… orang aku ga tau apa-apa, ga berbuat apa-apa kok dikomplain kayak gitu? Untung aku masih sadar aku ada di mana, jadi aku tidak menanggapi komplain pria itu, yang kalau aja aku tanggepin pasti bisa tambah ramai.. hehe..

Tidak lama setelah pria itu pergi entah kemana arahnya, tiba-tiba salah satu dari gerombolan cewek itu minta maaf ke aku, “mbak, maaf ya.. kan tadi kita yang ribut, tapi malah mbak yang kena…, maaf ya mbak”. Mendengar salah satu dari mereka sadar akan perbuatannya, aku menanggapinya (lagi-lagi) dengan senyuman dan bilang dengan cukup singkat, “ga papa”. Dan seketika itu juga aku ngerasa dan sekaligus membayangkan diriku seperti Angel dengan kedua sayap putih yang tiba-tiba muncul di belakangku, menggunakan gaun putih panjang dengan mahkota putih di atas kepalaku… hahaha.. Aku tuh menilai diriku dah kayak malaikat ajah yang mau menanggung kesalahan orang lain di dirinya. hahaha.. khayalan yang aneh, tapi itu sih yang kebayang di otakku waktu tu cewek say sorry to me.. Dan aku hanya menanggapinya dengan ‘ga papa’. Lha ya mau diapain lagi? Masa’ aku mau ngamuk-ngamuk di mushola gara-gara ga terima dikomplain ma orang? Atau ngomelin mabanya langsung di sana? Lagian aku juga pikir tu cowok “asal” aja komplain.. Sempet mikir, tu orang komplain asal komplain tapi ga tau yang sebenarnya.. Dan aku terus mendevaluasi sikap pria itu di otakku..

Setelah cewek yang minta maaf itu selesai mengambil wudhu, dia minta maaf lagi ke aku untuk yang kedua kalinya, “mbak, maaf ya…” dan akhirnya permintaan maaf dia yang kedua (hanya dia lho yang minta maaf, yang lain kagak..coba?) aku tanggapi dengan ramahnya, “ga papa, dia itu salah negur..” Belum selesai aku menjelaskan, aku sudah teringat lagi kalau aku harus membatasi omonganku di dalam mushola itu (biar ga ada yang komplain-komplain lagi gitu..)

haha…

November 23, 2008

Jualan Bunga…

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 4:04 am

Wah, pengalaman pertama nih..

Sebelumnya aku belum pernah ikutan nimbrung anak-anak Komahi buat jualan bunga pas wisudaan UGM. Tanggal 19 November 2008 kemarin kan ada acara wisudaan UGM di GSP, dan emang udah jadi ritual Komahi UGM untuk ngasih bunga bagi para lulusan HI yang diwisuda dan sekaligus mengembangkan entrepreneurship yaitu jualan bunga di sekitaran GSP. Ya.. kebetulan aku juga cuman ada kuliah sore hari, jadi aku pikir paginya aku bisa bantu-bantu Danus Komahi jualan bunga yang mana uangnya itu buat kegiatan-kegiatan Komahi (bukan buat pribadi ya…sorry, to say) . Dan sebenarnya sekaligus mantau juga, secara ane Bendahara Komahi.

s6000005a

Dan akhirnya, sampailah aku ke GSP jam 8.30 pagi. Hmmm, bunga yang dijual beda sama yang kemarin-kemarin. Kata Danusnya, kali ini kita jualan bunga sesuai dengan permintaan konsumen, yaitu bunga yang buketan (tidak setangkai mawar, tapi ada beberapa jenis bunga dalam satu ikat. Mawarnya aja ada 3 lho.. hehe.. mantep kan??). Kalau dilihat-lihat bunga yang kita jual itu warnanya lebih menyala soalnya ada warna kuning yang terang yang cukup dominan. Sedangkan warna merah dari tiga tangkai mawarnya cukup mewarnai satu buket bunga tersebut. Jadi kelihatan berisilah, dari pada ketika kita cuma jual setangkai ajah.. Kita nyiapin 20 buket bunga: 10 untuk diberikan pada lulusan HI UGM yang diwisuda saat itu, dan 10 lainnya kita jual.

Hmm, ternyata ngejual 10 buket bunga susah juga ya? muter sana-sini, nawarin sana-sini belum tentu dapat. Apalagi semakin siang, saingan semakin banyak dan aku semakin dehidrasi.. huff!!! Udah beberapa teman yang muter, tapi pulang dengan jumlah bungayang sama dengan yang mereka bawa. Dan itu berulang beberapa kali oleh teman-teman yang muter ke lain tempat. Aku sama danusnya sampe mikir: apa cara kita jualannya salah ya? Kurang proaktifkah kita? Atau apa bunga yang kita jual terlalu ‘wah’ ya? (karena emang beda ma yang pada dijual di sana..) Atau harganyakah? (tapi kayaknya bukan masalah harga deh), atau kita salah cari tempat jualan? Jadi mikir-mikir sendiri sambl muter jualan bunga, akhirnya usaha kita membuahkan hasil juga. Satu, dua bunga akhirnya terjual. Ternyata emang butuh waktu dan pengorbanan lebih, kudu jalan sampai boulevard, nodongin mobil yang baru markir/datang sama bunga yang kita pegang, hahaha… Aku sampe ketawa sendiri diceritain tim danusnya kayak gitu. Masalahnya, trik mereka berhasil bo!! Ternyata dibeli juga sama yang baru datang itu!! Huahaha.. good!!

s6000002a1

Setelah cape muter-muter, aku ma Nisa (Danusnya) duduk jagain bunga, gantian yang lain yang muter. Lagi ngobrol bareng, tanpa menawarkan bunga sama siapa pun yang lewat di depan kami, ternyata tanpa disangka-sangka seorang cowo caem (hehe.. anak IPB lho) yang mendekat ke tempat bunga kami dan menawarkan harganya berapa. Oh God, ini pembeli yang ga diduga-duga.. haha.. ada yang menarik sama si cowo caem ini. dia itu malah yang maksa beli bunganya dengan harga yang dia inginkan tapi di bawah harga yang kita tawarkan. Yang buat aneh itu dia yang maksa pingin beli sampai bilang: “ya udah mbak, enambelas ribu aja ya? Aku dulu juga pernah jualan bunga, enambelas ribu ya? Oke? Ya…” lho, nanya sendiri kok dijawab sendiri. Bikin aneh ajah. Apalagi waktu dia bilang kayak gitu, dia sambil ngambil dompetnya. Padahal aku ma Nisa belum bilang iya, coz masih kekeh minta duapuluhribu. Berhubung aku cuma bendahara, keputusan iya atau enggaknya tetap ada sama Nisa sebagai Danus. Sewaktu tu cowo ngambil uang di dompetnya, tanpa dia sadari aku ma Nisa ngeliat namanya dia di kartu yang ada di dompetnya. Terus, langsung kita bilang: “makasih ya Mas Taufik.. ga beli dua sekalian mas?” dan masnya itu langsung kebingungan, lirik kanan ke kiri diri dia. Pikirnya kok bisa aku ma Nisa tau namanya.. haha.. masnya malah bingung-bingung sendiri.. terus tanya: “lho kok tau?”, “ya.. tau dong, kita…” jawabku.. haha.. makanya mas, kalau beli bunga jangan ganteng-ganteng.. huahaha.. (tapi sayang nih, ga sempet tak foto masnya.. haha.. apaan sih yen???)

Dari situ aku ma Nisa berasumsi ada baiknya juga kita ga muter, toh pembeli ternyata datang sendiri di saat-saat yang kita ga duga. Dan menawarkan bunga ke orang-orang mungkin dirasa mengganggu mereka. Dan itu sebabnya pula kenapa muter nawarin bunga terasa capek banget. Tapi, kita ga lelah untuk muter kok… cape habis muter-muter akhirnya kita pasti kembali ke tempat kita naruh bunga di GSP. Cerita-cerita deh kita di sana.. gemana dan siapa yang beli. Dan akhirnya berdasarkan hasil sharing kita itu kita jadi punya asumsi, bahwa target pembeli kita adalah para eksekutif, berdasi, orang kantoran gitu deh.. Secara bunga yang kita jual kayaknya emang untuk orang-orang kelas itu!! Halah! Hehe.. Ya akhirnya kami mulai mengincar orang-orang yang terlihat seperti itu.

s6000004aHari sudah semakin siang, dan kita-kita dah pada dehidrasi dan kelaparan. Akhirnya kita malah duduk-duduk ajah dan ga ada yang muter. Duduk-duduk sambil ngobrol, cerita-cerita, nawarin bunga aja sambil duduk-duduk, ketawa-ketawa, bahkan ada yang beli arummanis segala.. dibuat nyantailah.. tapi eh malah ngedatengin 2 pembeli sekaligus… Akhirnya.. dari 10 bunga yang harus dijual, ternyata tinggal 1 bunga lagi.. hayoooo, teman semangat!! Dan ternyata ada yang membelinya di saat aku telah meninggalkan teman-teman danus ke kampus untuk mengerjakan tugas.

Jualan bunga emang susah-susah gampang. Tapi, tetap semangat teman!! Bulan Januari tahun depan atau di kesempatan selanjutnya, kita siap tempur lagi ya??

November 20, 2008

Wajah Mirip… Hooo ya???

Filed under: ME — by Ardaiyene @ 10:34 am

Wah, kalau wajahku dibilang mirip si ini dan si itu kayaknya sering banget, nget, nget… Tapi di tulisan ini, aku membatasi kemiripan wajahku hanya pada teman-temanku saja.. untuk yang mirip artisnya, ntar dulu lah.. lagi males ngomongin artis nih.. hehe..

Awal punya kembaran wajah itu dari SMA. Gara-gara kita berdua di Muha sama-sama terpilih jadi Paskibraka, kita jadi deket dan sering jalan bareng. Kulit kita pun jadi sama-sama gelap (walaupun pada akhirnya malah gelapan aku.. hehe.. maklum kita latihan di tempat yang berbeda dengan intensitas pancaran sinar matahari dan durasi waktu latihan yang berbeda pula, sial!!). Dan selesai jadi Paskibraka pun kita sama-sama pakai kacamata.. Pertamanya, kalau teman-teman yang bilang kita mirip mah sering banget. Tapi yang buat aku dan temanku (oya, nama temanku ini Erma) ini kaget itu waktu petugas jaga parkir di Muha yang kebetulan ngeliat kita berdua jalan bareng habis markirin motor kemudian menunjukkan tangannya ke arah aku dan Erma dan sambil keheranan bilang: “lho, mbaknya kok mirip?? Kakak-ade ya?” Huuuuaaaaaaaaaaaaaa…… Kaget banget.. masalahnya, petugas parkir aja sampai bisa menilai gitu.. Oh God, semirip itu kah? Sampai dibilang kakak-ade segala??

Aku tuh ma Erma sampai heran, apanya ya yang sama sampai-sampai banyak orang yang bilang kita itu mirip? Kita sampai mikir, mungkin cara pakai jilbabnya (maklum waktu SMA pakai jilbab di sekolah), atau kacamatanya, atau pipinya yang sama-sama cempluk ya?? Hahaa… sampai segitunya lho kita mikirnya…

Coba deh liat:

Daiyene-Erma waktu masih SMA di Muha

Daiyene-Erma waktu masih SMA di Muha

Selepas dari SMA, penampilan kami berbeda. Erma berjilbab dan aku belum berjilbab. Namun, kami tetap dalam satu komunitas di Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Yogyakarta. Selepas dari SMA kayaknya udah lamaaaaaaaaaaaa banget ga ada yang bilang ke aku mirip Erma atau yang lainnya. Rasanya kayak udah lepas dan bebas dari pendapat orang yang seperti itu!!

Tetapi, ternyata tidak teman! Sewaktu kami punya kegiatan bareng yang melibatkan instansi militer (AU), kami datang ke sana untuk koordinasi. Setelah bertemu dengan pihak yang terkait (Ibu Rini), kami (aku dan Erma yang cuma datang berdua ke sana) mendapat komentar pertama dari Beliau: “lho, mbaknya mirip”. Dwaaaaaaaaaannnnnnnngggggg, itu benar-benar komentar dan pendapat yang sangat mengagetkanku dan Erma. Kita berdua pun langsung saling pandang dan saling bilang: orang yang keberapa nih? haha, sudah biasa kok Bu dibilang mirip?? Hahaha.. Parah banget. Padahal Ibu Rini belum pernah ngeliat aku sebelumnya dan itu adalah komentar Beliau pertama kali sewaktu ngeliat kami datang, padahal aku ma erma pun baru aja duduk dan belum memulai pembicaan dengan Beliau. Wah.. wah.. Padahal dari penampilannya saja berbeda, aku ga pake jilbab dan Erma pake jilbab. Bisa dibayangin ga kalau penampilan aku dan Erma sama-sama pakai jilbab?? Bakal dikira apa ya?? Hahaaa…

Erma-Daiyene. Walau udah beda penampilan, tapi masih aja dibilang orang mirip.

Erma-Daiyene. Walau udah beda penampilan, tapi masih aja dibilang orang mirip. Bahkan sewaktu sama-sama jadi Pelatih di Gladian Sentar Daerah Provinsi D.I. Yogyakarta 2008 di Gedung Agung, aku ma Erma dapat julukan dari salah satu TNI di sana: SI KEMBAR !!

Udah banyak waktu kita lalui, udah banyak acara kita jalani, dan udah banyak orang pula kita jumpai, tapi tetap saja adaaaaa aja yang bilang kita itu mirip!! aku tidak merasa dirugikan sih, cuman heran ajah ma orang-orang…

Bawang merah dan Bawang Putih ni ceritanya?? Haha, ga dink.. Cuma foto bedua, mengibaratkan kakak adik. Haha…

Bawang merah dan Bawang Putih ni ceritanya?? Haha, ga dink.. Cuma foto bedua, mengibaratkan kakak adik. Haha…

Itu kalau di lingkungan PPI. Tapi ternyata lingkungan kampus ga mau kalah… Alias aku juga punya kembaran di kampus, anak HI angkatan 2007, namanya Davina. Kebetulan kita berdua itu masuk dalam Pengurus Komahi UGM untuk masa jabatan 2008-2009, di mana Davina jadi Sekretaris Komahi sedangkan aku jadi Bendahara Komahi-nya. Satu-dua orang bilang aku mirip Davina. Bahkan Ketua Komahi-nya sendiri pernah bilang kayak gitu ke aku: “eh, Davina ma Daiyene mirip ya? Dai, coba kamu pakai jilbab..” Yuuhuuuuu, dibilang mirip lagi kan?? Walaupun kita berdua juga beda penampilan lho.. aku rasa sih efek dari bentuk frame kacamata kita berdua dan warna kulit yang hampir sama.. hoho..

Yang parahnya, setelah kelas Ekonomi Internsional kemarin Rabu ini, tiba-tiba saja temanku nyeletuk ke aku yang waktu itu aku lagi ngobrol ma Davina. Temanku itu bilang dengan suara yang cukup keras sampai-sampai mengundang perhatian sebagian teman-temanku yang lain: “eh, mirip ya? Daiyene ma Davina mirip ya? Difoto nih difoto…” Weits, aku dah kayak apaan ajah mau difoto.. berhubung ada yang bawa foto dan orangnya juga (katanya) suka foto teman-teman yang berwajah mirip, akhirnya aku ma Davina jadi korban foto mereka. Dan teman-teman yang lain juga ikut-ikutan menjustifikasi omongan temanku itu kalau aku ma Davina mirip. Hemm, sebenarnya aku juga pingin foto berdua ma Davina, tapi pas aku lagi pake jilbab, biar tambah mirip kalau difoto, ahahaa… Tapi pas buber Komahi Ramadhan kemarin, aku ga pake jilbab, soalnya langsungan dari kegiatan Komahi lainnya. Jadinya, belum sempat deh.. tapi kapan-kapan perlu dicoba deh kayaknya.. hahaha..

Hmmm, menurut kalian gemana foto aku ma Davina ini?

Davina-Daiyene setelah kelas EI.

Davina-Daiyene setelah kelas EI.

Haha.. lebih mirip mana? Daiyene ma Erma apa Daiyene ma Davina?

Tapi percaya ga percaya ada banyak kesamaannya juga. Aku ma Erma yang ternyata mempunyai banyak kesamaan personality yang terpendam; aku ma Davina yang sama-sama kalem dan kebetulan penyuka Korea juga.. haha..

Mau mirip siapapun tapi yang jelas kita bertiga berbeda lho..

November 18, 2008

Strategy Class: Analyze Preferences from Song Lyrics

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 1:16 pm

Kelas Strategi (Selasa, 18 November 2008, jam 12.15) membuat aku sedikit kaget. Tema materi pada hari itu adalah “preferensi” yang mana inti dari materi itu adalah bagaimana kita dapat membentuk preferensi kita? Bagaimana preferensi itu timbul? Apa yang mempengaruhinya? Bagaimana pembentukan preferensi di antara negara-negara? Dan bagaimana kaitannya dengan strategi dari negara-negara tersebut?

Sebenarnya yang buat aku kaget itu bukan isi materinya, tapi metode belajarnya. Dan aku sebenarnya ga heran sih sama kelas Strategi atau NRK (Negosiasi dan Resolusi Konflik) yang dalam penyampaian materinya di tiap pertemuan selalu dikemas dalam bentuk workshop. Entah itu bagi kelompok, entah itu permainan, entah itu diskusi kelompok kecil terus presentasi, entah itu simulasi kelompok kecil untuk membuktikan teori, dan sebagainya. Sebenarnya sih menarik dan cukup have fun juga kalau kelas dikemas dengan model workshop gitu, soalnya mahasiswa jadi terlibat langsung dan aktif. Tapi bagiku lama-lama jadi sedikit menjemukan, karena kelas jadi kurang serius dan penyampaian materi jadi kurang optimal buatku.

Tapi, suka ga suka, aku harus menjalaninya. Dan hari ini ternyata kelas strategi dalam mendalami materi preferensi menggunakan lagu, dari lagu Barat sampai lagu Indonesia. Untuk itu kita diberikan selembaran (satu orang dapat satu) yang isinya ternyata lirik dari 5 lagu tersebut. ‘Tuhan, apakah kita akan belajar bernyanyi hari ini?’ pikirku. Sebelum aku menemukan jawaban itu, aku terus berasumsi kalau kita akan bernyanyi bersama di dalam kelas yang isinya kurang lebih ada 40 anak. Tapi ternyata, setelah mendapat instruksi dari dosen untuk mendengar 3 lagu pertama sambil membaca liriknya, Dosen dari mata kuliah Strategi itu berkata ‘lantas, apa preferensi yang dapat terlihat dari lagu tersebut?’ ouwch…. Ternyata hari ini kita semua belajar preferensi dari lirik sebuah lagu. Itu lirik lagu ternyata kita analisa bareng-bareng sekelas.

Apa preferensi dari penyanyinya? Contohnya, seperti dalam lagu yang dinyanyikan oleh Otis Redding (1941-1967) yang judulnya I’ve been loving you too long (sumpah ni lagu jadul abis, suaranya juga ga banget.. berhubung suaranya kecil, jadi yang terdengar cuman kayak orang marah-marah.. apalagi waktu ada liriknya yang ‘I love you, I love you…’ kedengarannya malah kayak orang bentak-bentak..haha, bilang ‘I love you’ kok pake marah-marah to pakdeeee…pakde…hahaha) . Nah, sebelumnya lagu Otis Redding ini menceritakan bahwa si penyanyi telah mencintai kekasihnya untuk waktu yang lama, tapi si Otis ini belum / tidak mau berhenti walaupun sebenarnya si kekasihnya itu ingin pergi darinya. Si Otis ini pokoknya admire banget deh sama kekasihnya itu, dia mohon ma kekasihnya itu untuk tidak pergi darinya, tidak mau berhenti mencintainya, dan dia begitu mencintainya. Kurang lebih ceritanya kayak gitu. Nah, dari situ kita dapat mengetahui bahwa preferensi Otis ini terbentuk karena adanya habit / kebiasaan (dalam liriknya tertulis: my love is growing stronger, as you become a habit to me). Artinya, preferensi yang Otis punya itu berasal dari apa yang telah menjadi kebiasaan baginya / telah menjadi habit buat si Otis yang telah mencintai kekasihnya untuk waktu yang cukup lama (I’ve been loving you too long).

November 17, 2008

Kebablasan..

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 1:59 pm

Sial..sial..sial… niatnya tidur bentar tapi malah….

gara-gara jam 5 sore mati lampu, aku jadi ga bisa berbuat banyak hal. Untung batrai lepi masih ada, jadinya masih bisa liat-liat slides dan sedikit preparation buat presentasiku besok pagi jam 7 teng!! Berhubung masih ada bahan yang pingin aku cari, aku berencana untuk ke warnet cari bahan itu setelah aku cari makan malam. Dan.. yah..itu adalah agenda malam hariku. Hmmm, tapi ternyata lepi dah keburu mati, dan listrik juga belum ngalir lagi. Dunia sudah terasa semakin gelap aja.. pikirku, ngapain ya enaknya?

Bentar lagi magrib, dan pikirku ga ada salahnya kalau aku manfaatin waktu luang buat bobo bentar.. dan tidurlah aku..

Tiba-tiba ibuku telp ke HPku, dan aku terbangun untuk mengangkat teleponnya.. Karena Ibuku mendengar suaraku yang ga enak banget buat didenger (soalnya ngantuk banget, jadi kayak orang ga niat ngomong), akhirnya kita ga ngomong lama.. Setelah telepon ditutup, aku mendengar azan dan kupikir itu azan maghrib, tapi setelah liat jam di HP ga taunya itu azan isya.. tapi ga tau kenapa aku malah ga sadar dan jadilah aku putri tidur karena pas melek lagi ternyata udah jam 11 malam sodara-sodara!!!! Huuuaaaaaaaaaaaaaaa……. Bagus banget kan??? Agenda malamku itu langsung sirna dalam sekejap! Aku ga ke warnet cari bahan, dan aku merasa bersalah sama kakakku karena ga beli makan malam.. huaaaa…double-triple kesalahan nih.. gara-gara bobo bentar..

0255a

Huaaa… dasar Daiyene!! kalau udah nguantuk udah deh… haha..

Ya udah, ga mungkin juga kan aku ke warnet malam-malam? Akhirnya ya hanya buka lepi, baca-baca bahan, ngeprint, nonton bentar, makan, baca-baca bentar dan (ujung-ujungnnya) tidur lagi!! Huhahaha…

NB: (karena ada yang protes ceritanya ga lengkap, yah..tak lengkapin deh..) sebelum aku tidur untuk yang kedua kalinya, aku minta dibangunin sama sodaraku jam 4 pagi, takut-takut aku kebablasan lagi.. maklum daiyene.. hahaha… sebelumnya aku meminta untuk mc saja ke HP biar HP berisik. Tapi sodaraku itu lagi pake paket sms gitu deh.. (aku ga ngerti) jadi ga bisa mc. Nawarin bangunin pake 5 sms, tapi ternyata yang dikirim cuma 3.. (masih ngutang tuh wan.. hahaha). Tapi ga papa. Ibu Daiyene jadi bangun kok walaupun masih ngantuk juga..

November 15, 2008

Penutupan Indonesian Channel 2008

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 5:32 am

Ga nyangka ternyata aku bisa datang di acara penutupan Indonesia Channel 2008 di Taman Budaya 31 Oktober lalu. Ternyata acara Indonesia Channel ini udah berjalan 2-3 bulan, tapi aku malah ga tau progresnya. Aku hanya tau kalau akan ada Indonesia Channel tapi aku malah ga tau kalau kegiatannya itu adalah seperti ini-berupa beasiswa seni dan budaya Indonesia bagi 50 pemuda yang berasal dari 29 negara di Asia, Pasifik, Afrika, Eropa, dan Amerika. Untungnya, aku kedapetan tiket dari Ketua Komahi UGM.. hehe.. Thanks Angga…

Wuih..wuih.. ternyata rame juga yang datang.. dan sempet kaget juga.. oohh.. ternyata acaranya emang gede, pokoknya Deplu RI punya gawe deh!! Makanya ga heran kalau Pak Hassan Wirajuda selaku Menlu RI beserta pejabat-pejabat Deplu RI lainnya juga hadir di malam itu. Tamu undangannya juga banyak banget. Yang paling banyak datang otomatis mahasiswanya lah.. Yang membuat Indonesia Channel ini berwarna adalah karena ada berbagai warna yang dipakai oleh para mahasiswa yang terlihat dari Jas Alamamater yang digunakan. Beda universitas, beda pula warna almamaternya. Dan hal ini pulalah yang disinggung oleh Bapak Umar Hadi, Direktur Diplomasi Publik Deplu RI, yang dalam sambutannya mengatakan bahwa warna-warni dari jaket almamater para mahasiswa juga menjadi cirri khas acara Indonesia Channel yang merekfleksikan kebanggaan kita akan identitas diri masing-masing, tanpa harus menisbikan keberadaan orang lain di sekitar kita.

Ngomong-ngomong masalah panitia, Panitia lapangannya sebagian besar dari mahasiswa yang dikoordinatori oleh Ketua Komahi (Korps Mahasiswa Hubungan Internasional) UGM, Angga Kusumo. Nah.. mahasiswa-mahasiswa yang terlibat dalam kepanitiaan ini pun juga dari berbagai univ.. yang tergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Hubungan INternasional Indonesia Wilayah IV (Yogyakarta dan sekitarnya) yang meliputi Komahi UGM, Komahi UMY, dan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional UPN ‘Veteran’ Yogyakarta. Oiya, Korps Mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM juga ikutan lho…^^

Setelah membaca buku panduan yang diberikan panitia, aku baru tau ternyata acara malam itu adalah penutupan dari hasil mereka (para 50 peserta) berlatih seni dan budaya Indonesia selama hamper 3 bulan. Para peserta ini pada awalnya mendapat pembekalan oleh Deplu RI selama 1 minggu dan kemudian dibagi menjadi 4 kelompok secara acak untuk mendalami kebudayaan Indonesia di empat kota: Yogyakarta (Sanggar Sekar Setaman), Solo (Sanggar Soerya Soemirat), Bandung (Saung Angklung Udjo), dan Depansar (Sanggar Seni Semarandana).

Boleh jadi para peserta ini sebagian besar dari luar Indonesia, tapi eitssss, jangan salah.. mereka pinter, lihai, dan terlihat begitu mendalami seni dan budaya Indonesia. Keempat kelompok ini membawakan berbagai seni dan budaya tradisional Indonesia yang mewakili daerah tempat mereka belajar seni dan budaya Indonesia. Cukup khas dan menarik. Cukup menggugah dan buat aku bangga.. mereka keren banget.. apalagi waktu ada salah satu peserta (dari Sanggar yang di Solo) tiba-tiba menyanyikan lagu pop berbahasa Indonesia dari band ST12 yang judulnya Puspa. Fasih banget dan sumpah.. keren euy.. setelah diketahui, ternyata yang nyanyi dari Kamboja.. wahhhh….. Suisedai…. Haha…

Ada banyak banget tarian yang ditampilkan, seperti Angklung Arumba (Can’t Help Falling in Love, Rasa Sayange, dan Puspa dari ST12), Sedratrai Bambangan Cakil, Tabuh Bila, Rampak Kendang, Sedratari Ambabar Batik yang baru aku tau dan lihat.. ternyata lucu juga tarian dari Solo Jateng ini.. beda ma tarian-tarian sebelumnya yang udah pernah aku liat… biasanya mah kalau nari itu bawa kipas, bunga, selendang dipinggul, tapi ini mah batik (jarik) dan dibuka lebar-lebar, dikibas sana sini.

Selain itu juga ada Tari Pendet Puspa Werti, Tari Adimergangga, Sedratari Perang Giriantara, Seni Ibing PEncak Silat, wayangan, terus ada Rampak Kendang, kolaborasi music, dan dimeriahkan oleh Yovie and Nuno dan Paduan Suara Mahasiswa UGM..

Terakhir acara selesai, para penonton, terutama mahasiswanya langsung mengincar Pak Hasan buat foto-foto.. wah dah kayak artis ajah kalau dilihat. Lagian gemana enggak?? Mahasiswa yang hadir aja kebanyakan dari jurusan HI, ada Pak Hassan Wirajuda lagi.. yah, mau ga mau jadi santapan foto anak-anak HI… haha.. laris manis deh… eh, tapi yang peserta 50 orang itu juga jadi rebutan kenalan mahasiswa HI lho.. bahkan pake foto bareng juga.. yah.. sebagai bentuk apresiasi juga dengan keahlian yang telah mereka dapatkan.

Ya.. salah satunya aku sih yang narsis.. hehee..

gabung

yang di kiri atas: aku ma Anushya (Thailand, yang keren banget narinya..), kanan atas: aku ma salah satu peserta (kayaknya dari Cina, narinya juga lihai banget, palagi waktu meragain pencak silatnya, wush..wush..), yang bawah itu anak PPI semua.. haha.. tapi UGM punya.. alias anak Fisipol.. dari kiri ke kanan: Yani (komunikasi 08), mas Adit (komunikasi 2003), Daiyene (HI 06), Sasa (HI 07).

Acara Indonesia Channel selain sebagai diplomasi publik dan kebudayaan yang diupayakan oleh Indonesia tentunya secara tidak langsung menyadarkan masyarakat Indonesia, khsusunya para generasi muda, bahwa kebudayaan merupakan suatu soft power yang harus tetap dijaga dan dikembangkan. Jika orang berkebangsaan luar saja bisa memainkan angklung, kenapa kita sebagai orang Indonesia tidak bisa? Jika orang Thailand terlihat lihai menarikan dan memerankan tokoh Rama, mengapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama? Jika orang Kamboja tidak malu menyanyikan lagu dari Indonesia dan fasih melafalkan kata-kata berbahasa Indonesia, mengapa kita tidak bisa lebih fasih dari dia?

Ayo teman, kita renungkan bersama bahwa sungguh banyak seni dan budaya Indonesia yang perlu kita jaga dan kembangkan..

Semangat!!

n579538755_946811_20332

salam HIers UGM 2006 …

November 6, 2008

Impression on Night of November 5, 2008

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 1:36 pm

photo-0545

I came not for you but to challenge myself.

But I won’t be so that ridiculous just by seeing you once in a time.

I admit it that it’s hard to be objective, but look, I did it!!!

Now, what I’ve seen is just like someone new.

I couldn’t talk too much because…

Because I don’t want to talk much to you,

Because I don’t want to be someone who always do at first,

Because I don’t want to show myself that I’m fine (maybe) by asking you some unimportant questions.

Because actually I really want to see your moves..

How you treat me,

A person, whom has been someone, designed by your own.

Someone, whom I don’t understand, in your mind.

I guess I’ve been someone else.

But I won’t drop a tear.

No, I really can not do it.

There’s no left.

It has been dried.

Just relax, and have it slow..

With you on my eyes at once, doesn’t mean that I should keep forever.

I let it come, and I should let it go too.

It’s just a short moment, so now I could feel it as a dream!

And I have had my new step, new impression, new deal..

It’s for remembering to forget.

Not to keep it forever, my dear..

November 1, 2008

Kantor Jurusan HI UGM, feel different in a time!

Filed under: Memories — by Ardaiyene @ 1:37 pm

Ketika turun dari tangga yang ada di dekat Kantor Jurusan HI UGM, tiba-tiba saja aku teringat ada sertifikat seminar yang belum sempat kuambil di Kantor Jurusan HI UGM. seketika itu pula aku langsung masuk ke kantor Jurusan dan mencoba mencari di tempat biasanya sertifikat-sertifikat seminar ditaruh. Bagi anak HI, pasti dah pada tau di mana letaknya. Karena, ketika membuka pintu Kantor Jurusan HI terlihat begitu sepi, alias aku tidak melihat satu orang pun, langsung saja (seperti biasa) dengan PDnya aku masuk dan mencari-cari sertifikat atas namaku (dan mencarikan punya temanku juga) di tumpukan sertifikat yang ada di Kantor Jurusan HI.

Aku terasa begitu repot mencari namaku, karena tumpukan sertifikat itu tidak disusun secara alfabetis yang urut. Saking sibuknya mencari sampai-sampai aku tidak menghiraukan ada orang lewat atau jalan di dekatku. Dan ketika itu pula tiba-tiba ada seseorang bertanya langsung kepadaku:

“mbaknya S2 HI ya?”

Ketika mendengar ada orang yang bertanya padaku, sejenak aku berhenti mencari-cari sertifikatku dan aku terhentak sejenak. Ternyata yang bertanya itu adalah dosen muda HI yang dulu pernah mengajarku di semester 1 di kelas Sejarah Sosial & Politik Indonesia. Tapi lantas aku merasa aneh dengan pertanyaannya? S2 HI? Oh no… batinku: mas, dirimu kan dulu ngajar di kelasku??

“ha?” (sedikit kaget, dan dengan sengaja mencoba memintanya untuk mengulang pertanyaannya)

“mbaknya S2 HI?” (lanjut dosen muda tersebut)

“saya S1, mas…. Hm, angkatan 2006.” (sambil mau tertawa, dan terheran-heran dengan penampilanku, apakah ada yang salah sehingga ada orang yang ngira aku anak S2 HI, tampang gw boros banget apa ya??)

“oh… angkatan 2006. Sedang cari apa?” (lanjut dan tanya dosen muda tersebut)

“oh.. ini, sertifikat seminar krisis financial global kemarin yang di UC” (jawabku sambil gugup dan ngerasa aneh sama dosen tersebut)

“hmm, sudah mengambil kelas THI?” (tanyanya lagi)

“oh, udah……****, eh, belum dink, lagi ngambil. Saya diajar sama mas Hanafi.” (*sambil mikir maksudnya. rada grogi malah salah jawab nih.. tak kira kelas TPI, ga taunya yang ditanya THI.. hamper mirip sih..)

“oh.. pantesan tidak pernah ngeliat..” (komentar dari dosen muda tersebut)

Wah, percakapan yang aneh menurutku..

Karena biasanya kalao aku ke Kantor Jurusan HI UGM, aku ga pernah disapa, ditanya, atau jangan-jangan ga dikenal dosen. Haha.. maklum , ke Kantor Jurusan kalau ga perlu banget ga bakal mampir sana.. pinjem buku di Kantor Jurusan HI aja sekarang dah jarang.. eh, sekarang sekalinya ada orang yang negur malah serasa aneh sendiri dan pertanyaan pertamanya itu lho.. kenapa juga nanyanya ‘anak S2 HI?’ “am I looked that old or mature (maybe)? Hehe” tuh dosen malah jadinya seperti cari-cari bahan omongan ajah.. Aneh ga sih? Ya itulah yang menimpaku… hehe

Dan selain dosen muda itu tadi, ada dosen baru HI lain yang menyapa aku..

Baru kenal dan ngobrol gara-gara ketemu di Seminar Deplu di Hotel Novotel di hari yang sama. Dan ketika aku sedang mencari-cari sertifkat, tiba-tiba dia muncul dan menyapa:

“baru pulang Daiyene?” (sapa dosen baru HI tersebut, sambil melihat dan sedikit tersenyum ramah)

“eh, iya mas.. tadi nunggu ujan reda..” (jawabku dengan ramah pula.. hehe)

Dan dosen baru HI itu pun langsung berlalu, sepertinya sih mau sholat.

Tau ga sih? Keadaan kayak di atas itu sebelumnya belum pernah terjadi sama aku. Maksudnya, ketika aku masuk ke Kantor Jurusan biasanya tidak ada orang yang menyapaku. Bahkan Pak Edy yang selalu melayani mahasiswa HI di Kantor Jurusan tersebut. Tapi, akhir-akhir ini aku merasa Pak Edy sudah mulai mengenal aku sedikit (ini karena aku lagi jabat jadi Bendahara Komahi apa ya?). Dan di hari yang sama, aku merasa kaget juga karena dia menyebut-nyebut namaku, seakan-akan untuk mengingat dan mencoba untuk melafalkannya dengan benar. Sapaan yang cukup unik. Hehe.. Aku malah jadi heran sendiri. Kantor Jurusan HI UGM seakan begitu lain-begitu ramah bagiku-tidak seperti biasanya.

Kira-kira esok akan seramah ini tidak ya? Atau mungkin akan ada lebih banyak dosen dan staf Jurusan HI UGM yang kenal ma aku ya? Haha.. tapi jujur, ga ngarep sih.. kalau emang pantes dikenal, ya dikenal ajah, tapi kalau pun tidak (seperti sebelumnya) ya ga papa. Lagipula aku bukan siapa-siapa (kok).

Powered by WordPress.com