Akhirnya (kalau memang bisa dikatakan demikian), Parlemen Irak sepakat untuk menyusun kesepakatan dengan Amerika, terutama dalam penarikan Pasukan AS dari Irak sehingga Irak pun bisa kembali menjadi negara yang bebas, berdaulat, dan dapat kembali membangun negerinya yang telah porak-poranda (Kompas, Sabtu 29 November 2008).
Sebelumnya, isu mengenai penarikan pasukan AS dari Irak telah lama dibicarakan dan dibahas, namun selalu saja berujung pada kebuntuan. Namun, saat ini justeru Parlemen Irak yang bersikap sepakat untuk mengambil tindakan adanya penarikan pasukan AS pada akhir tahun 2011 dengan didahului dengan perjanjian pakta keamanan dengan AS. Menurut Kompas, pakta itu terdiri dari perjanjian mengenai Status Kekuatan AS di Irak dan Perjanian Kerangka Kerja Jangka Panjang yang merumuskan hubungan Irak-AS dalam beberapa tahun ke depan.
Walaupun Parlemen Irak telah menyatakan kesepakatannya, apakah lantas warga Irak juga turut menyetujuinya? Seperti yang kita tahu, warga Irak terpecah menjadi dua kubu dominan, yaitu Syiah dan Sunni. Warga Sunni Arab yang dominan semasa Saddam Hussein berkuasa ini (yang notabene versus AS) sebenarnya menuntut konsesi yang lebih dari adanya kesepakatan tersebut. Lantas, apa itu artinya? Apakah ternyata sekarang mereka mau menerima kesepakatan dengan AS? Apakah sekarang warga Irak yang awalnya begitu frontal (Sunni-red) mau sedikit mengalah? Sudah lelahkah mereka terhadap apa yang telah terjadi di Irak selama ini? Yah.. jawabannya kita liat saja pada hasil referendum yang dijadwalkan akan diselenggarakan Pemerintah Irak di akhir Juli 2009.
Mengenai kesepakatan yang ada di Parlemen Irak ini ternyata Bush, Presiden AS, menyambutnya dengan gembira. Bahkan Bush pun mengatakan, “menegaskan pertumbuhan demokrasi Irak dan meningkatkan kemampuan untuk mengamankan dirinya”.
Dengan melihat apa yang terjadi, yaitu dengan sikap Parlemen Irak yang seperti itu dan sikap Bush yang menyambut hangat akan hal tersebut, mengindikasikan bahwa semua hal berjalan semakin baik dan mulai mengerucut ke hal yang positif, yaitu penarikan pasukan AS dari Irak dan terjalinnya hubungan yang lebih baik antara Irak dengan AS. Yang jadi pertanyaan saya, apakah hal ini dikonstruksi oleh AS mengingat masa jabatan Bush sudah akan berakhir? Saya melihat kecenderungan bahwa Bush berusaha untuk mengakhiri kebijakannya di Irak dengan sebaik mungkin di masa penghujung pemerintahannya walaupun sebenarnya telah banyak hal yang telah dikorbankan baik dari pihak Irak maupun AS, akibat dari kebijakan unilateralnya. Apakah adanya tanda yang membaik ini sebagai suatu upaya menutup lubang yang telah dalam digali? Mencoba menutup-nutupi kesalahan di akhir pemerintahan agar mendapat image bahwa Bush berhasil menegakkan demokrasinya, bahwa Bush berhasil dengan invasinya ke Irak?
Well, all the answers depend on you..
Tapi, jikalau itu benar, lantas Obama sebagai the next US President tidaklah harus bersusah-susah payah lagi untuk membereskan dan membenahi kebijakan Bush yang ada di Irak tersebut, karena di Parlemen Irak sudah tercapai kesepakatan Penarikan Pasukan AS dari Irak dan telah ditandatanganinya pakta kerjasama keamanan oleh Parlemen Irak. Hal ini membuktikan bahwa sudah ada upaya untuk menanggulangi isu yang telah lama berkobar. Jika hal ini dapat dikatakan sudah sebagai tutup buku atas kebijakan Bush di Irak tersebut, lantas yang harus dilakukan Obama adalah make it constantly good!!











