Ardaiyene’s Weblog

October 27, 2008

Would You Marry Me?

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 12:49 pm

Eits, eits, jangan salah paham dulu ya…

Kali ini aku terinspirasi dari sebuah buku yang sudah lama kubeli tapi baru dibaca beberapa bulan kemudian (hehe…). Buku itu berjudul Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps, karangan Allan dan Barbara Pease.

Hey-hey, aku menemukan hal yang menurutku menarik untuk ditulis di sini.. sebenarnya banyak sih yang aku serap, tapi aku baru mau membahas satu hal saja yang menurutku itu cukup penting, yaitu mengenai sebuah pertanyaan yang dilontarkan wanita ke pria.

Hmm, ternyata… apa yang ditanyakan atau dikatakan wanita ke pria tidak didengar atau dirasa sama oleh pria. Contohnya, seorang wanita bertanya ke pria,

“bisakah kau membuang sampah ke luar?”

“kau bisa meneleponku malam ini?”

“bisakah kau menggantikan bola lampu di kamarku?”

Pria ternyata menerjemahkan kata-kata yang ditanyakan atau dilontarkan dari wanita secara berbeda. Yang didengar/ditangkap oleh pria dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah

“kamu punya kemampuan membuang sampah itu ke luar kan?”

“kamu mampu menelponku malam ini kan?”

“kamu punya kemampuan menggantikan bola lampu di kamarku itu?”

Bisa menemukan perbedaannya? Wanita itu padahal hanya bertanya apakah sang pria bisa membuang sampah itu ke luar. Tapi, si pria menangkapnya berbeda dengan apa yang ditanyakan oleh wanita tersebut. Inilah yang perlu kita sadari bersama hai kaum Adam dan Hawa…

Ternyata, bertanya kepada pria dengan yang menggunakan kata ‘bisakah’/’bisa’ itu mengandung unsur kemampuan di dalamnya, dalam hal ini sebenarnya ‘si pria mampu apa tidak sih buang sampah ke luar?’, ‘Mampu menelponku malam ini ga sih?’, ‘Mampu menggantikan sebuah bola lampu yang suda mati kan?’. Seorang pria yang mendengar pertanyaan dengan kata ‘bisakah’/’bisa’ langsung menerjemahkannya sebagai pencaritahuan akan kemampuannya. Dan sebagai seorang lelaki (gitu…), secara logis akan menjawabnya dengan kata “ya”, “of course, dear!” (halah!) hehe.. yah, bisa dimaklumilah.. secara pria itu kan tidak suka dilecehkan terutama akan kemampuannya? Benar tidak para kaum Adam??

Yang perlu kita ketahui bersama adalah bahwa ternyata kata ‘bisakah’/’bisa’ itu menuntut adanya kewajiban dan karenanya para pria merasa dimanipulasi oleh perkataan tersebut sehingga mendorongnya untuk mau tak mau menjawabnya dengan kata ‘Ya, saya mampu’. Dan dari sisi wanita pun juga secara tidak langsung termanipulasi ketika si pria ini sendiri ternyata oh ternyata tidak mampu melakukan apa yang diajukan si wanita, misalnya meneleponnya malam ini. Tapi karena merasa ditantang oleh wanita dengan pertanyaan ‘bisakah’/’bisa’, si pria jadi mau tak mau menerimanya. (hehe.. is it girl power?!)

Nah, di dalam buku ini (Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps), ditawarkan opsi lain untuk mendorong pria agar tidak merasa ditantang, dan wanita pun tidak terlalu banyak berharap kepada pria. Cobalah untuk bertanya kepada pria dengan ‘maukah’/’mau’ untuk mendapatkan tanggung jawab dari pria. Sebagai contoh:

“maukah kau membuang sampah ini ke luar?”

“kau mau meneleponku malam ini?”

“maukah kau menggantikan bola lampu di kamarku?”

Bertanya kepada pria dengan kata ‘maukah’/’mau’ mengandung unsur kewajiban di dalamnya sehingga memungkinkan si wanita untuk mendapatkan dua opsi jawaban dari pria, yaitu ‘ya’ atau ‘tidak’. Karena wanita itu sendiri sebenarnya juga bertanya apakah si pria mau membantunya, mau meneleponnya, mau membuangkan sampahnya, dan sebagainya, yang notabene tidak menekankan pada kemampuannya. Yang ditekankan di sini justru kewajiban untuk melakukannya. Dan bagi wanita itu sendiri lebih baik menerima jawaban ‘tidak’ dari pertanyaan ‘maukah’/’mau’ sehingga si wanita tau di mana posisinya, sebagai temankah, sebagai kekasihnyakah, atau yang lain. Posisi itu penting kan teman? Kalau si wanita itu temannya, pria itu bisa saja menjawab ‘tidak’ dan bertanya balik dengan ‘bisakah kau membuang sampah itu sendiri?” (nah lho….???) Menurut buku ini, wanita lebih baik mendapat jawaban ‘tidak’ dari pertanyaan ‘maukah’/’mau daripada mendapat jawaban ‘ya’ dari pertanyaan ‘bisakah’/’bisa.

Mengapa? Coba pahamilah hal di bawah ini:

Seorang pria yang meminta seorang wanita untuk menikah dengannya akan menanyakan seperti ini, would you marry me?” (“maukah kau menikahiku?”). Pria tidak akan pernah menanyakan pasangannya dengan “can you marry me?” (“bisakah kau menikahiku?”). Itulah juga mengapa yang kita sering dengar di film-film barat (berbahasa Inggris) kita selalu mendengar si pria bertanya ‘would you marry me? bukan ‘can you marry me?’ Karena, ‘maukah’/’mau’ lebih menekankan pada kewajiban (kewajiban untuk menikahinya dan menerima konsekuensi setelahnya setelah berumah tangga), sedangkan ‘bisakah’/’bisa’ menekankan pada kemampuannya untuk menikahinya dan seakan-akan melupakan konsekuensi setelahnya. Kalau dipikir-pikir, jika ditanya ‘bisakah’/’bisa’, setiap orang pasti bisa menikahinya (siapa juga yang tidak bisa menikah?), tapi apa iya dia juga ‘mau’ menikahinya? Benar tidak?? Hehe..

So, I’ve got something to say here:

I know that you want to marry me, but can we be friends?

Haha.. hayooo, apaan tuh maksudnya??

8 Comments »

  1. Waaa…berat!
    Kata2mu berat jg ya, efek dr bacaanmu tu..
    Tp bener jg sih!

    Comment by iw_ — November 8, 2008 @ 2:58 pm |Reply

  2. @I know that you want to marry me, but can we be friends?

    menurutku artinya

    saya tahu kamu mau menikah dengan saya,tapi dapatkah kita menjadi teman?

    bener gak??hehehehe
    ^^

    Comment by Sanjaya — November 14, 2008 @ 4:33 am |Reply

  3. wah.. yudhi pintar.. ^^

    Comment by Ardaiyene — November 14, 2008 @ 8:52 am |Reply

  4. Wah Yud, klo mau kamu gitu..
    Ya gmn lg, kita jadi temen aja…!

    Walopun sebenernya…..

    Comment by anakkamera — November 14, 2008 @ 10:37 pm |Reply

  5. kayaknya iwan ma yudhi ada apa2nya nih??
    jadi curiga aku..

    Comment by Ardaiyene — November 15, 2008 @ 4:28 am |Reply

  6. @anakkamera
    sorry we dunia kita beda,kita tidak bisa bersatu..hwakkaaka

    @Ardaiyene
    tenang ajah aku masih lelaki normal yang suka pria kok..eh wanita..hehehhe

    Comment by theduit — November 17, 2008 @ 4:58 am |Reply

  7. duh, kalian tuh kayaknya aneh banget temenannya..
    eherm, kalau suka cowo bilang aja yud…
    belum punya to yang cowo?
    tapi jangan makan sodaraku ya?
    huahaha…

    Comment by Ardaiyene — November 17, 2008 @ 12:42 pm |Reply

  8. @njang poenja ini blog
    aku lelaki tak mungkin wanita pun tak mungkin
    jangan pernah memilih aku bukan waria….
    lrik:iwan fals-aku bukan pilihan

    nb:iwan fals bukan iwan cupang apalagi iwan paus..apalagi iwan saudaramu,ih..amit2 deh…haahahhaaha

    Comment by theduit — November 17, 2008 @ 4:32 pm |Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Powered by WordPress.com