Ardaiyene’s Weblog

October 26, 2008

Winner’s Curse

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 4:36 am

Pernah merasa kecewa atau menyesal setelah membeli suatu barang, padahal sebenarnya Pedagang telah setuju melepas dagangannya sesuai dengan harga yang Anda ajukan dan Anda pun telah memutuskan untuk membelinya?

Pernah merasa begitu kecewa atau gondoooookkk banget setelah mengetahui bahwa barang yang telah Anda beli ternyata bisa didapat oleh teman Anda dengan harga yang jauh lebih murah di tempat yang sama saat Anda membelinya, atau ternyata di tempat lain harganya tidak semahal harga barang yang telah Anda beli?

Pernah merasa kecolongan ketika Anda telah membeli barang (katakanlah sepatu) yang kamu inginkan, tetapi setelahnya kamu melihat sepatu yang lebih cocok lagi dengan yang anda inginkan dan harganya lebih murah?

Saya hanya mengajukan tiga pertanyaan untuk membawa anda memahami salah satu fenomena yang sering terjadi di dalam kehidupan kita. Sebelumnya, bagaimana dengan jawaban Anda? Saya yakin setiap orang sering mengalami hal-hal yang terbungkus dalam ketiga pertanyaan yang saya lontarkan di atas. Dan karenanya saya yakin, jawaban yang muncul adalah “YA!”; “Defenitely.” “Sering banget!” dan jawaban-jawaban affirmative lainnya. (tak terkecuali saya pun memiliki jawaban yang sama^^)

Sebenarnya fenomena tersebut merupakan fenomena yang seringkali terjadi dalam kehidupan kita. Dengan pertanyaan yang sama seperti di atas, lantas apa sih yang Anda rasakan? Tentunya kecewa, gondok, kecolongan, dan yang jelas ga enak banget di hati. Kejadian yang tidak enak ini bisa menimpa siapapun. Seperti yang diceritakan oleh Dosen saya di kelas Negosiasi dan Resolusi Konflik minggu lalu, “seorang professor pun bisa terkena hal terkutuk ini”. Bahkan kejadian tersebut bisa membayanginya sampai berhari-hari dan menjadi tema pembicaan di sepanjang harinya , saking kesel dan gondoknya.

Sebelum berbicara lebih jauh, apakah Anda tahu nama dari fenomena atau kejadian yang tidak mengenakkan ini? Pernah mendengar istilah Winner’s Curse? Winner’s Curse yang diartikan sebagai “Kutukan Pemenang” atau ada yang mengartikan sebagai “Pemenang yang Terkutuk” adalah istilah untuk merujuk pada fenomena di tiga pertanyaan di atas.

Sebenarnya, yang menjadi persoalan mengapa winner’s curse dapat terjadi adalah karena salah satu dari dua perunding memiliki informasi yang lebih banyak atau lebih baik. Dan di dalam konteks winner’s curse ini tentunya pedaganglah yang mempunyai informasi lebih banyak dan baik dari pada kita (pembeli). Yang sangat disayangkan adalah kelalaian pembeli untuk mencari informasi yang akurat sebelum transaksi. Caranya bagaimana? Bisa survey harga dulu, hunting dulu, bisa juga secara tidak langsung ketika Anda sedang survey harga, hunting dengan melihat-lihat, Anda bisa mendengar atau mengamati proses tawar menawar pedagang dengan pembeli lain. Yah, semacam menjadi observer. Jika ingin berbelanja di pasar tradisional atau tempat belanja yang masih menggunakan sistem tawar-menawar, maka ingatlah akan nasihat orang tua yang selalu mengatakan “teliti sebelum membeli”, dan pernyataan orang tua ini sangat relevan dalam perundingan yang rasional. Kata “teliti” di sini berarti mengumpulkan dan menggunakan informasi sebelum dan saat berunding. Maka, telitilah! Kita tidak ingin terjebak dalam suatu perundingan yang merugikan bukan?

Setelah mendapat informasi yang cukup, baik itu harga ataupun produk barang yang Anda sukai, Anda bisa mulai proses penawaran / bernegosiasi dengan pedagang. Gunakanlah informasi yang telah Anda dapatkan. Apakah harganya lebih mahal dari informasi harga yang telah Anda kumpulkan sebelumnya? Apakah produknya sama berkualitas sama dengan produk yang sebelumnya anda lihat (selama hunting)? Semakin banyak informasi yang Anda dapatkan, semakin mantap langkah Anda untuk memutuskan untuk membeli atau tidak produk tersebut. So, why don’t you (we) do it?^^

Ingat, Winner’s Curse bisa menimpa siapapun. Mengapa? Karena Winner’s Curse itu sendiri merupakan salah satu heuristics atau bias dalam perundingan. Winner’s curse merupakan suatu hal yang harus kita hindari dalam perundingan. Hal ini disebabkan karena winner’s curse itu sendiri merupakan suatu pola pemikiran manusia yang tidak rasional. Hal ini berangkat dari suatu penelitian yang menunjukkan bahwa (ternyata) penilaian seorang negosiator tidak selamanya ‘rasional’. Suatu perundingan seringkali cacat keputusan, sehingga hasilnya di bawah optimal (termasuk berakibat winner’s curse) tidak selamanya manusia berfikir rasional terhadap apa yang menjadi keputusannya. Dan oleh Tverski dan Kahneman, hal ini disebut heuristics atau bias. Heuristics adalah semacam ‘jalan pintas’ dalam proses pembuatan keputusan dan penilaian. Heuristics seringkali terjadi di dalam ketidakpastian serta didasarkan pada data yang validitasnya kurang (kurang informasi yang akurat). Dengan demikian, heuristics tergolong kepada persoalan judgement under uncertainty dan judgement under risk yang mana akhirnya bisa berujung pada winner’s curse.

By: Ardaiyene S.

No Comments Yet »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Powered by WordPress.com