Ardaiyene’s Weblog

October 27, 2008

Would You Marry Me?

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 12:49 pm

Eits, eits, jangan salah paham dulu ya…

Kali ini aku terinspirasi dari sebuah buku yang sudah lama kubeli tapi baru dibaca beberapa bulan kemudian (hehe…). Buku itu berjudul Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps, karangan Allan dan Barbara Pease.

Hey-hey, aku menemukan hal yang menurutku menarik untuk ditulis di sini.. sebenarnya banyak sih yang aku serap, tapi aku baru mau membahas satu hal saja yang menurutku itu cukup penting, yaitu mengenai sebuah pertanyaan yang dilontarkan wanita ke pria.

Hmm, ternyata… apa yang ditanyakan atau dikatakan wanita ke pria tidak didengar atau dirasa sama oleh pria. Contohnya, seorang wanita bertanya ke pria,

“bisakah kau membuang sampah ke luar?”

“kau bisa meneleponku malam ini?”

“bisakah kau menggantikan bola lampu di kamarku?”

Pria ternyata menerjemahkan kata-kata yang ditanyakan atau dilontarkan dari wanita secara berbeda. Yang didengar/ditangkap oleh pria dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah

“kamu punya kemampuan membuang sampah itu ke luar kan?”

“kamu mampu menelponku malam ini kan?”

“kamu punya kemampuan menggantikan bola lampu di kamarku itu?”

Bisa menemukan perbedaannya? Wanita itu padahal hanya bertanya apakah sang pria bisa membuang sampah itu ke luar. Tapi, si pria menangkapnya berbeda dengan apa yang ditanyakan oleh wanita tersebut. Inilah yang perlu kita sadari bersama hai kaum Adam dan Hawa…

Ternyata, bertanya kepada pria dengan yang menggunakan kata ‘bisakah’/’bisa’ itu mengandung unsur kemampuan di dalamnya, dalam hal ini sebenarnya ‘si pria mampu apa tidak sih buang sampah ke luar?’, ‘Mampu menelponku malam ini ga sih?’, ‘Mampu menggantikan sebuah bola lampu yang suda mati kan?’. Seorang pria yang mendengar pertanyaan dengan kata ‘bisakah’/’bisa’ langsung menerjemahkannya sebagai pencaritahuan akan kemampuannya. Dan sebagai seorang lelaki (gitu…), secara logis akan menjawabnya dengan kata “ya”, “of course, dear!” (halah!) hehe.. yah, bisa dimaklumilah.. secara pria itu kan tidak suka dilecehkan terutama akan kemampuannya? Benar tidak para kaum Adam??

Yang perlu kita ketahui bersama adalah bahwa ternyata kata ‘bisakah’/’bisa’ itu menuntut adanya kewajiban dan karenanya para pria merasa dimanipulasi oleh perkataan tersebut sehingga mendorongnya untuk mau tak mau menjawabnya dengan kata ‘Ya, saya mampu’. Dan dari sisi wanita pun juga secara tidak langsung termanipulasi ketika si pria ini sendiri ternyata oh ternyata tidak mampu melakukan apa yang diajukan si wanita, misalnya meneleponnya malam ini. Tapi karena merasa ditantang oleh wanita dengan pertanyaan ‘bisakah’/’bisa’, si pria jadi mau tak mau menerimanya. (hehe.. is it girl power?!)

Nah, di dalam buku ini (Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps), ditawarkan opsi lain untuk mendorong pria agar tidak merasa ditantang, dan wanita pun tidak terlalu banyak berharap kepada pria. Cobalah untuk bertanya kepada pria dengan ‘maukah’/’mau’ untuk mendapatkan tanggung jawab dari pria. Sebagai contoh:

“maukah kau membuang sampah ini ke luar?”

“kau mau meneleponku malam ini?”

“maukah kau menggantikan bola lampu di kamarku?”

Bertanya kepada pria dengan kata ‘maukah’/’mau’ mengandung unsur kewajiban di dalamnya sehingga memungkinkan si wanita untuk mendapatkan dua opsi jawaban dari pria, yaitu ‘ya’ atau ‘tidak’. Karena wanita itu sendiri sebenarnya juga bertanya apakah si pria mau membantunya, mau meneleponnya, mau membuangkan sampahnya, dan sebagainya, yang notabene tidak menekankan pada kemampuannya. Yang ditekankan di sini justru kewajiban untuk melakukannya. Dan bagi wanita itu sendiri lebih baik menerima jawaban ‘tidak’ dari pertanyaan ‘maukah’/’mau’ sehingga si wanita tau di mana posisinya, sebagai temankah, sebagai kekasihnyakah, atau yang lain. Posisi itu penting kan teman? Kalau si wanita itu temannya, pria itu bisa saja menjawab ‘tidak’ dan bertanya balik dengan ‘bisakah kau membuang sampah itu sendiri?” (nah lho….???) Menurut buku ini, wanita lebih baik mendapat jawaban ‘tidak’ dari pertanyaan ‘maukah’/’mau daripada mendapat jawaban ‘ya’ dari pertanyaan ‘bisakah’/’bisa.

Mengapa? Coba pahamilah hal di bawah ini:

Seorang pria yang meminta seorang wanita untuk menikah dengannya akan menanyakan seperti ini, would you marry me?” (“maukah kau menikahiku?”). Pria tidak akan pernah menanyakan pasangannya dengan “can you marry me?” (“bisakah kau menikahiku?”). Itulah juga mengapa yang kita sering dengar di film-film barat (berbahasa Inggris) kita selalu mendengar si pria bertanya ‘would you marry me? bukan ‘can you marry me?’ Karena, ‘maukah’/’mau’ lebih menekankan pada kewajiban (kewajiban untuk menikahinya dan menerima konsekuensi setelahnya setelah berumah tangga), sedangkan ‘bisakah’/’bisa’ menekankan pada kemampuannya untuk menikahinya dan seakan-akan melupakan konsekuensi setelahnya. Kalau dipikir-pikir, jika ditanya ‘bisakah’/’bisa’, setiap orang pasti bisa menikahinya (siapa juga yang tidak bisa menikah?), tapi apa iya dia juga ‘mau’ menikahinya? Benar tidak?? Hehe..

So, I’ve got something to say here:

I know that you want to marry me, but can we be friends?

Haha.. hayooo, apaan tuh maksudnya??

October 26, 2008

Winner’s Curse

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 4:36 am

Pernah merasa kecewa atau menyesal setelah membeli suatu barang, padahal sebenarnya Pedagang telah setuju melepas dagangannya sesuai dengan harga yang Anda ajukan dan Anda pun telah memutuskan untuk membelinya?

Pernah merasa begitu kecewa atau gondoooookkk banget setelah mengetahui bahwa barang yang telah Anda beli ternyata bisa didapat oleh teman Anda dengan harga yang jauh lebih murah di tempat yang sama saat Anda membelinya, atau ternyata di tempat lain harganya tidak semahal harga barang yang telah Anda beli?

Pernah merasa kecolongan ketika Anda telah membeli barang (katakanlah sepatu) yang kamu inginkan, tetapi setelahnya kamu melihat sepatu yang lebih cocok lagi dengan yang anda inginkan dan harganya lebih murah?

Saya hanya mengajukan tiga pertanyaan untuk membawa anda memahami salah satu fenomena yang sering terjadi di dalam kehidupan kita. Sebelumnya, bagaimana dengan jawaban Anda? Saya yakin setiap orang sering mengalami hal-hal yang terbungkus dalam ketiga pertanyaan yang saya lontarkan di atas. Dan karenanya saya yakin, jawaban yang muncul adalah “YA!”; “Defenitely.” “Sering banget!” dan jawaban-jawaban affirmative lainnya. (tak terkecuali saya pun memiliki jawaban yang sama^^)

Sebenarnya fenomena tersebut merupakan fenomena yang seringkali terjadi dalam kehidupan kita. Dengan pertanyaan yang sama seperti di atas, lantas apa sih yang Anda rasakan? Tentunya kecewa, gondok, kecolongan, dan yang jelas ga enak banget di hati. Kejadian yang tidak enak ini bisa menimpa siapapun. Seperti yang diceritakan oleh Dosen saya di kelas Negosiasi dan Resolusi Konflik minggu lalu, “seorang professor pun bisa terkena hal terkutuk ini”. Bahkan kejadian tersebut bisa membayanginya sampai berhari-hari dan menjadi tema pembicaan di sepanjang harinya , saking kesel dan gondoknya.

Sebelum berbicara lebih jauh, apakah Anda tahu nama dari fenomena atau kejadian yang tidak mengenakkan ini? Pernah mendengar istilah Winner’s Curse? Winner’s Curse yang diartikan sebagai “Kutukan Pemenang” atau ada yang mengartikan sebagai “Pemenang yang Terkutuk” adalah istilah untuk merujuk pada fenomena di tiga pertanyaan di atas.

Sebenarnya, yang menjadi persoalan mengapa winner’s curse dapat terjadi adalah karena salah satu dari dua perunding memiliki informasi yang lebih banyak atau lebih baik. Dan di dalam konteks winner’s curse ini tentunya pedaganglah yang mempunyai informasi lebih banyak dan baik dari pada kita (pembeli). Yang sangat disayangkan adalah kelalaian pembeli untuk mencari informasi yang akurat sebelum transaksi. Caranya bagaimana? Bisa survey harga dulu, hunting dulu, bisa juga secara tidak langsung ketika Anda sedang survey harga, hunting dengan melihat-lihat, Anda bisa mendengar atau mengamati proses tawar menawar pedagang dengan pembeli lain. Yah, semacam menjadi observer. Jika ingin berbelanja di pasar tradisional atau tempat belanja yang masih menggunakan sistem tawar-menawar, maka ingatlah akan nasihat orang tua yang selalu mengatakan “teliti sebelum membeli”, dan pernyataan orang tua ini sangat relevan dalam perundingan yang rasional. Kata “teliti” di sini berarti mengumpulkan dan menggunakan informasi sebelum dan saat berunding. Maka, telitilah! Kita tidak ingin terjebak dalam suatu perundingan yang merugikan bukan?

Setelah mendapat informasi yang cukup, baik itu harga ataupun produk barang yang Anda sukai, Anda bisa mulai proses penawaran / bernegosiasi dengan pedagang. Gunakanlah informasi yang telah Anda dapatkan. Apakah harganya lebih mahal dari informasi harga yang telah Anda kumpulkan sebelumnya? Apakah produknya sama berkualitas sama dengan produk yang sebelumnya anda lihat (selama hunting)? Semakin banyak informasi yang Anda dapatkan, semakin mantap langkah Anda untuk memutuskan untuk membeli atau tidak produk tersebut. So, why don’t you (we) do it?^^

Ingat, Winner’s Curse bisa menimpa siapapun. Mengapa? Karena Winner’s Curse itu sendiri merupakan salah satu heuristics atau bias dalam perundingan. Winner’s curse merupakan suatu hal yang harus kita hindari dalam perundingan. Hal ini disebabkan karena winner’s curse itu sendiri merupakan suatu pola pemikiran manusia yang tidak rasional. Hal ini berangkat dari suatu penelitian yang menunjukkan bahwa (ternyata) penilaian seorang negosiator tidak selamanya ‘rasional’. Suatu perundingan seringkali cacat keputusan, sehingga hasilnya di bawah optimal (termasuk berakibat winner’s curse) tidak selamanya manusia berfikir rasional terhadap apa yang menjadi keputusannya. Dan oleh Tverski dan Kahneman, hal ini disebut heuristics atau bias. Heuristics adalah semacam ‘jalan pintas’ dalam proses pembuatan keputusan dan penilaian. Heuristics seringkali terjadi di dalam ketidakpastian serta didasarkan pada data yang validitasnya kurang (kurang informasi yang akurat). Dengan demikian, heuristics tergolong kepada persoalan judgement under uncertainty dan judgement under risk yang mana akhirnya bisa berujung pada winner’s curse.

By: Ardaiyene S.

Lembayung Bali

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 4:26 am

Menatap lembayung di langit Bali

Dan kusadari..

Betapa berharga kenanganmu

Di kala jiwaku tak terbatas

Bebas merangkai mengulang waktu

Hingga masih bisa kuraih dirimu

Sosok yang mengisi kehampaan kalbuku

Bilakah diriku berucap maaf

Masa yang telah kuingkari

Dan meninggalkanmu, Cinta..

Teman yang terhanyut arus waktu

Mekar mendewasa

Masih kusimpan suara tawa kita

Kembalilah sahabat lawasku

Semarakkan keheningan lubuk

Hingga masih bisa kurangkul kalian

Sosok yang mengaliri jawaan hidupku

Bilakah kita menangis bersama

Tegar melawan tempaan

Semangat mu itu, Jingga…

Hingga masih bisa kujangkau cahaya

Senyum yang menyalakan hasrat diriku

Bilakah kuhentikan pasir waktu

Tak terbangun dari khayal

Keajaiban ini, mimpi…

Andai ada satu cara

Tuk kembali menatap agung suryamu

Lembayung Bali…

By: Saras Dewi

October 19, 2008

Maltese Maxims

Filed under: Quotes — by Ardaiyene @ 2:44 pm

Maltese Maxims (Pepatah Malta)

On women’s fashion:

Long skirts carry dust, but short skirts carry away souls.

On emotion:

Believe not a swearing man and a weeping woman.

On marriage:

It’s better to marry an old sage than a young fool.

On affection:

A kiss without a hug is like a flower without fragrance.

On love:

He who loves, suffers.

On judgement:

He who has no experience of evil cannot know the worth of what is good.

On karma:

Today me, tomorrow you.

On appearance:

There is no rose without thorns.

On curiosity:

Asking is the sister of knowing.

On digestion:

He who doesn’t fart, lets out silent one.

On planning:

Don’t make sauce before catching fish.

On this list of proverbs:

All is well that ends well.

Taken from:

EF, Your English Magazine

Issue 05: 2005

Beli Blouse Hamil..

Filed under: Negotiator's Log — by Ardaiyene @ 2:27 pm

Negosiasi kali ini terjadi pada saat saya mencari dan bermaksud untuk membeli blouse hamil untuk Bulek saya. Saya berencana untuk membelinya di Pasar Beringharjo mengingat permintaan Bulek saya adalah blouse hamil yang bermotif batik. Karena saya belum pernah membeli jenis pakaian ataupun blouse seperti itu, maka saya juga belum tau dan paham harga kisaran sebuah blouse hamil batik yang sesuai dengan permintaan Bulek saya (lengan panjang, ukuran jumbo, dsb).

Ketika saya telah sampai di pasar, saya berniat untuk mencari keperluan saya dahulu sembari melihat-lihat blouse hamil untuk Bulek saya. Setelah berputar-putar tanpa berhenti di satu toko, akhirnya saya berhenti di salah satu toko yang menjual blouse hamil. Setelah melihat-lihat dan menimbang-nimbang sendiri, saya menanyakan harga blouse yang saya akan pilih untuk dibeli. Ternyata harganya adalah Rp 77.500. Karena saya sebenarnya belum paham harga sebuah blouse hamil, namun harga jual pertama si penjual tetap saya tawar. Tawaran saya adalah Rp 60.000. Karena tersadar bahwa saya masih mempunyai cukup banyak waktu untuk mencari blouse di toko lain dan dengan sedikit melakukan positional commitment, akhirnya saya berniat untuk pergi dari toko tersebut dan berharap tidak dipanggil lagi. Namun tidak lama kemudian, penjual tersebut mengabulkan permintaan saya. Dan mau tak mau saya membayarnya.

Dari toko pertama saya mempunyai standar harga untuk membeli blouse hamil yang kedua. Harga Rp 60.000 saya jadikan patokan tertinggi untuk pembelian yang kedua. Namun saya masih berharap saya dapat membelinya dengan harga berkisar Rp 30.000 - Rp 35.000 seperti harga blouse batik pada umumnya. Setelah berputar-putar lagi dan melihat-lihat blouse batik yang besar akhirnya saya berhenti di toko kedua. Harga blouse hamil batik yang ditawarkan pertama adalah Rp 80.000. Kemudian saya menawarnya dengan Rp 50.000. Dengan mengatakan ”Wah, jangan mahal-mahal dong mbak. Saya belum dikasih uang nih sama Bulek saya, Rp 50.000 saja ya?” akhirnya penjual menurunkan harga menjadi Rp 65.000. Saya tetap bertahan dengan harga Rp 50.000. Setelah menanyakan kepastian harga pasnya berapa, penjual tersebut mengatakan bahwa harga pasnya Rp 60.000 dan tidak bisa ditawar lagi karena ukuran blouse hamil batik tersebut jumbo dan diikuti oleh alasan-alasan penjual lainnya. Namun, saya memberikan tawaran kedua saya yaitu Rp 55.000 dan saya berniat tidak menaikkan tawaran saya. Setelah saya membujuknya sebagaimana halnya seorang pembeli, akhirnya penjual tersebut mau melepas blouse hamil batik tersebut kepada saya seharga Rp 55.000.

Kasus yang telah dipaparkan di atas sangat menggambarkan proses bargaining. Gaya konflik yang digunakan perunding adalah kompetisi. Pada pembelian blouse yang pertama, taktik berunding yang digunakan adalah positional commitment yaitu kokoh pada pendirian harga yang ditawarkan, yaitu Rp 60.000. Sedangkan pada pembelian blouse yang kedua, perunding memberikan alasan-alasan yang persuasif dan cukup meyakinkan kepada penjual agar penjual dapat mengabulkan penawaran perunding (taktik berunding persuasive arguments) yang mana kemudian dilanjutkan dengan positional commitment. Pada dua pembelian blouse tersebut terlihat bahwa perunding (pembeli) telah mempunyai BATNA walaupun baru diniatkan pada akhir dari negosiasinya dengan penjual pertama. BATNA yang diperoleh yaitu dengan mencoba mencari blouse hamil batik di tempat lain dengan harapan bisa mendapatkan blouse dengan harga, ukuran, model yang lebih baik dari sebelumnya (wishful thinking). Terkait dengan demand, goal, dan limit, dalam pembelian blouse yang kedua diketahui bahwa demand atau tuntutan dari perunding (pembeli) adalah Rp 50.000, goal atau sasarannya Rp 50.000-Rp 60.000, dan limit atau batasan dari pembeli adalah Rp 60.000. Karena harga terbentuk pada Rp 55.000, maka sifat dari penawaran tersebut adalah positif atau positive bargaining range yang berkisar di antara Rp 50.000 – Rp 60.000. Dengan demikian, akhirnya penjual dan pembeli dapat menentukan harga di viable options (opsi-opsi dalam positive bargaining range), karena pada akhirnya terjadi kesepakatan harga yaitu Rp 55.000.

October 17, 2008

Nama Panggilanku..

Filed under: Uncategorized — by Ardaiyene @ 1:57 pm

Berikut saya lampirkan nama-nama yang sedang (atau pernah) saya sandang ataupun disandangkan terutama oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab atas pemberian namanya kepada diri saya. Dengan sesuka hatinya mereka memberikan nama-nama berikut ini kepada saya:

1. Mammy Daiy (My Daiy/My Day)

Ini panggilanku dulu waktu masih SMA. Teman-teman sekelasku pada sukaaaaa banget manggil aku Mammy Daiy yang kadang disingkat jadi My Daiy (baca: mi dai bukan mai dai lho…). Katanye sih berhubung waktu SMA aku paling tua di antara teman-teman cewek di kelas, jadi jatuhlah nama itu ke akyu..ok2, gapapalah… herannya, sampai sekarang pun (dah kuliah semester 5) aku tetep dipanggil My Daiy sama Arum (teman SMA ku). Wah jan, bener-bener ya??! Masih inget ajah!

2. Daisuke/i

Daisuke, aku ga tau banget sih artinya ini apa. Kalo aku ga salah inget artinya ‘I love you’ cuman aku masih kurang pasti. Jadi ceritanya aku dulu pernah dipanggil Daisuke/i sama salah satu teman cowok SMA ku. Ga tau juga maksudnya apa. Berhubung kala itu aku belum tau bahasa Jepang (emang sekarang udah tau ya? Haha..) dan aku juga orangnya kadang ignorance, jadi ga aku tanggepin deh. Hehehe. Hmmm, mentang-mentang nama depan panggilanku ‘daiy’ gitu jadi diplesetin jadi ‘Daisuke/I’ ya?? Dasar…

3. Lady Di

Wah, ini mah nama kenangan waktu SD. Jadi, sewaktu aku masih menjadi kurcaci merah (maksunya anak SD, hehehe) di sekolah tuh teman-teman sekolahku terutama yang cewek-cewek suka manggil aku Lady Di. Coz, namaku itu kan rada mirip sama Lady Diana (alm), jadi suka disangkut2in gitu deh… duh, capeknya diriku!!! Hahaha… saking disangkut2innya, teman-temanku tuh sampe nyari salah satu teman cowok sekelasku untuk menyandang Pangeran Charlesnya… Gubraaaakkkkk!!! SD banget ya!! Jaman-jaman SD tuh emang kayak gitu suka nyomblangin mulu. Heran aku juga… Tapi kalau aku emang Lady Di, Pangeranku nanti siapa ya?? Haha..

4. Dee

Sebenarnya ga heran kalau ada yang manggil aku Dee. Yah, berhubung inisial nama panggilanku itu depannya ‘D’ jadi wajar aja. Kayak orang barat aje ye… dipanggil sesuai dengan huruf capital depannya?! Orang yang masih manggil aku Dee itu teman cowokku waktu SMP di Spenamlasta (SMPN 16 Yk). Hehehe… kalau dipikir-pikir rada strange ajah. Maksudnya itu nama disandangin ke aku karena nama depanku sendiri atau nama *******?!! Au’ deh… haha… Oh, ternyata ada satu lagi yang manggil aku Dee. Ia adalah Sasa alias Khanisa HI UGM 06. Aku rasa dia satu-satunya temanku di kampus yang manggil aku Dee. Hehe.. mungkin gara-gara belibet gitu yah manggil Daiyene, akhirnya sama dia dipendekkin jadi Dee… hahaha… a bit make sense lah… Tapi, kalo si Sasa itu keburu-buru manggil aku, jatuhnya bukan Dee lagi tapi jadi Dee-Dee.. whaaa……

5. Dida

Entah apa yang bisa membuat salah satu teman kuliahku ini manggil aku Dida. Sempet aku tanya ke orangnya. Dan dia memberikan jawaban bahwa Dida itu adalah teman cowoknya dia waktu sekolah dulu. Dan ketika aku mulai berontak ke dia menanyakan ‘kok bisa? Emang aku kayak cowok ya tampangnya?’ temanku itu langsung menyelanya dengan ‘tapi dia cakep lho daiy…’ Oh, berarti wajahku itu cukup maskulin juga yah??! Mpe sekarang pun aku juga masih dipanggil Dida sama si Nanung, teman kuliahku di HI UGM (2006) itu. Dan anehnya, kenapa aku jadi nengok ya waktu Nanung manggil aku Dida??? Hiiiyyyyyyaaa…dah kebiasa ya Yen??

6. Daia

‘emang gw deterjen?’ itulah reaksiku ketika ada salah satu teman sekolahku dulu manggil aku Daia. Ehmmm, kalo ga salah teman SMPku waktu di Jakarta dulu. Sepertinya aku dulu sempet sewot juga sama temanku itu. Masalahnya yang manggil aku Daia bukan satu orang ajah.. ada efek dominonya. Yang lain juga pada ikut-ikutan.. eeellllaaahhh, nyebelin banget dueh.. palagi ketika aku curhat ama bapakku tentang ini, eeeeeee, bapakku malah ikut-ikutan?! Huh, huh, huh,, capek!

7. Iyen

Ni nama warisan dari Pelatihan Paskibraka sewaktu aku masih join pelatihan di tingkat Kota Yogyakarta tahun 2004 silam. Jadi, setiap capas (Calon Paskibraka) itu diberikan nama lapangan yang dibuat secara sepihak oleh Tim Pembinaan. Aku sempet ketakukan ketika nama lapanganku akan diberikan. Aku takut nama lapanganku jadi Giant, coz itu akan jadi momok buat aku… Tapi ketika nama itu diberikan oleh Tim Pembinaan (dengan cara dibacakan dengan keras di dalam ruangan pada acara Technical Meeting Capas) aku merasa heran, ternyata nama lapanganku ‘Iyen’ (baca ‘e’ nya seperti membaca kata ‘tembak’). Nama yang cukup aneh, tapi gapapalah dari pada Giant (batinku)..hehehe… Nah, sampai sekarang (setelah 4 tahun) ketujuh anak Provinsi 2004 yang diutus dari Kota masih manggil aku Iyen, kecuali Ady (Bejo) ma Adit (Angka). Mereka tetap manggil aku Daiyene. Tapi yang lain Iyen. Kalo anak kota lainnya sudah ga ada lagi yang manggil aku Iyen. Herrrannnya, yang manggil aku Iyen sekarang itu malah teman-temanku di kampus. Kok bisa migrasi gini sih? Ternyata gara-gara aku punya alamat email iyen_04@yahoo.com dan ketika ada tugas kelompok aku ngasih alamat emailku yang ini. Ternyata konsekuensinya aku jadi dipanggil iyen terus ma teman-teman sekelompokku dulu itu. Tadinya yang manggil Iyen di kampus cuman satu, terus nambah jadi 2, 3, 4. Ada yang kalo ketemu manggil Daiyene, tapi kalo sms manggil aku Iyen. Hhmmm, aku kira ketika aku ada di lingkungan kampus, nama Iyen itu akan musnah. Tapi ternyata dan ternyata malah muncul ke permukaan. Ya udah, mau diapain lagi??

8. Sister/Sista

“Sist, Sister-sister!!!” Wah, jadi keinget jaman SMA lagi nih… salah satu teman cowokku waktu SMA (orang yang sama yang manggil aku Daisuke/i) suka juga manggil aku sister. Aku kira itu untuk satu atau dua hari saja dia kayak gitu ke aku… eh,, ga taunya, mpe kuliahan gini aku masih dipanggil sister ma dia. Bahkan aku simpet ngerasa aneh kalo dia manggil aku Daiyene. Whuahahaha…kebanyakan sih teman-teman SMA yang manggil aku sister itu gara-gara I looked mature. Hahaha..haha..haha… jadi ngerasa tuak sendiri di kelas! Hmmm, ada dua orang lagi yang manggil aku sister/sista. Yang pertama itu tetanggaku di Tungkak dulu. Dia pernah menjuluki aku dengan sebutan sista. Mungkin karena dia anggap aku kayak adeknya dia kali yah?? Hahaha.. cute juga namanya… halah! Hehe, terus atu lagi itu ade angkatakan Paskib 2007. Habis pelatihan ga tau kok jadi deket ma dia. Karena aku beda umur cukup jauh 4 tahunan gitu, jadi dia manggil aku sister.. yah, kadang sih manggilnya mbak, tapi kalo di sms pasti manggilnya “Sist,…..” atau “Thanks ya Sist…” wohoho…

Tapi-tapi sepertinya sekarang yang manggil aku sist mulai ada lagi niy…ahaha…

9. Yene

Dapat insipirasi dari mana ya temanku kok tiba-tiba manggil aku Yene? (baca: Yene bukan Yen). Tapi bagaimanapun juga Yene itu bagian dari nama depanku sih…

10. Die end

Orang yang manggil aku pake nama ini emang bener-bener aneh! Siapa lagi kalo ga si Akbar Marabar Hakim Prabowobuono…?!! Tuh anak juga emang aslinye aneh kali ya? Masa’ dia bilang nama aku Die end? Tau maksudnya? Maksudnya itu ‘mati terakhir’. Mbuh ra’ dong maksud’e ki opo… tapi yang jelas GA BANGET!!

11. Yeyen

Aneh banget dipanggil Yeyen… Orang yang manggil aku Yeyen pertama kali itu Eka, teman sekelasku dulu waktu SMA, kelas 1 dan kelas 2. Herannnnn…banget.. kok bisa ya? Apa mungkin gara-gara nama panggilan belakangku itu ‘Yen’ njuk jadi ‘Yeyen’… Tapi eh ternyata ga cumin Eka ajah yang panggil aku Yeyen, tapi salah satu teman PPI ku juga manggil aku Yeyen.. alasannya gara-gara mudah manggil aku… hah!! Dasar Kingkong..!!! haha…

12. Giant

Sebenarnya ini nama panggilan yang pualing klasik dari nama panggilanku yang lainnya… Dipanggil, dikira, atau dimirip-miripin sama nama Giant itu dah biasa. Sampe-sampe dah ga ngefek lagi kalo ada orang yang manggil aku Giant. Dari jaman SD mpe pas Pelatihan Paskibaraka Provinsi tahun 2004 waktu aku jadi Calon Paskibraka. Wuiiihhh, gemana ga kaget, masa’ ada kakak pelatih yang ngotot mau manggil aku Giant. Padahal aku juga (ikutan) ngotot (berani banget ya aku?) ga mau dipanggil Giant dan udah ngejelasin di buku komunikasi kalau namaku itu Daiyene bukan Giant. Parah banget deh tu orang… hehehe (maaf ya mas, habis dirimu ngotot banget sih,,) Kali ini aku kesel sih, habis capek-capek latian diolok-olok pake nama Giant. Palagi alasannya biar aku jadi Giant beneran… (haaaaahhh,, maksudnya apa coba??) Maksud dari kakak pelatihku itu sih biar aku tambah gemukan dikit, secara waktu pelatihan aku begitu mungil. Hahaha…Jadi katanya, nama (Giant) itu juga sebagai doa buat aku… (haaaaaahhhh??? Ada alasan yang lebih rasional ga ya mas? Masa’ doa malah buat orang jengkel… terbukti juga kagak…) Yah, untungnya moment pelatihan udah berakhir, dan kakak pelatih itu sekarang ga panggil aku Giant lagi… Dah ga populer Bung!! Kenapa baru sadar sekarang??? Haduh, emosi nih…

13. Bu Daiyene

‘Bu Daiyene……’ ahhh, basi banget kalau ada orang/temen manggil aku kayak gini.. kayak dah tuak ajah.. padahal…. Hehehe..

14. Dian

Nah…. Palagi ini-ni… nama Daiyene tapi sering dikira Dian. Bahkan ada yang bilang: ‘Tapi namanya Dian kan?’ Wah, sok tau banget deh ni orang… Maklum mungkin mereka itu terlalu berfikiran yang enggak-enggak ma nama aku… Dikiranya aku gaya banget, nama Dian tapi ngakunya dipanggil Daiyene… tapi namaku emang Daiyene kok…tulisannya juga Daiyene, bahkan Daiyene (karena, sering dibaca Dayen dan bahkan ditulis Dayen/Dyen/Dyne/Diane/Daiyen/termasuk Dian…. Ini yang kadang buat aku gemeZ sama namaku sendiri, kenapa ya banyak orang yang tidak mengerti dan hafal ejaan namaku? Mangkanya aku sempet tersanjung kalau ada orang yang inget, bisa hafal ejaan nama depanku, dan bisa melafalkannya dengan benar). Bahkan pernah ada cerita tentang Daiyene Vs Dian ini. Jadi gini, waktu itu aku menelpon ke rumah teman SMAku, dan yang mengangkat teleponku itu kakaknya temanku (seorang cowok). Kakaknya bilang bahwa temanku itu sedang tidak ada di rumah, dan menanyakan siapa namaku untuk disampaikan ke temanku ketika sudah pulang ke rumah nantinya. Lantas aku sebut “Dari Daiyene mas.”, “Siapa?”, “Daiyene mas!” (aku sudah ingin mengakhiri pembicaraan di telepon), “Oh, Dian ya?”, “Bukan mas, Daiyene kok, Daiyene!”, “Iyaaa, tapi nama aslinya Dian kan?”, “Haduh, bukan mas, tapi Daiyene, bener-bener Daiyene, bukan Dian.”, “Ahh…Dian aja kan namanya, tapi dipanggilnya Daiyene..” Arrrrgggghhhhhh, BT banget ga sih??? Niatnya mau telepon temen tapi malah rada berselisih ditelepon. “Ah, ya sudah deh, mas makasih ya…” langsung ajah aku potong duluan,, daripada berantem di telepon, iya ga? Repot juga ya kalo tiap telepon kayak gitu??

15. Diane

Sebenarnya adanya teman yang manggil aku Diane (baca: sama dengan nama panggilan asliku-Dayen/Daiyene) karena aku sendiri yang kadang menuliskan namaku sebagai Diane karena mempunyai lafal yang sama dengan Daiyene. Gara-gara suka nulis Diane/Diane’04 di buku-buku pelajaranku waktu SMA dulu, akhirnya teman-temanku juga pada ikutan nulis namaku Diane. Sebenarnya terinspirasi dari film-film barat yang mempunyai tokoh yang bernama Diane. Karena lafal panggilannya sama dengan lafal nama panggilanku, jadi suka aku samakan… hehe, iseng banget ya??

Nantikan nama-nama panggilan aku selanjutnya, hanya di ardaiyene.wordpress.com/me/nama-panggilanku

(Kaye di bioskop aje ye??!)

Powered by WordPress.com