Ardaiyene’s Weblog

September 5, 2008

YM-an Format Surat

Filed under: Negotiator's Log — by Ardaiyene @ 5:06 am

Hari itu (Senin) saya mempunyai janji dengan teman sekampus saya (Fitri) untuk membahas format surat. Berhubung frekuensi untuk bertemu di kampus masih sulit mengingat jadwal kuliah yang belum pasti, akhirnya Fitri mengusulkan untuk membahasnya melalui Yahoo Messanger (YM) pada malam harinya (Senin), jam 19.00. Setelah menimbang-nimbang kegiatan saya pada hari Senin tersebut (ada tiga mata kuliah plus ditambah rapat Komahi jam 16.30) akhirnya saya berfikir saya dapat ke warnet pada pukul 7 malam setelah tiba di rumah sepulang dari rapat Komahi. Karena saya berasumsi rapat Komahi tidak akan terlalu lama Dan ketika itu pula saya menyetujui usulan Fitri untuk ber-YM-an membahas format surat magang kami jam 19.00.

Namun, berhubung pada hari Senin tersebut saya sedang menjalani puasa, dan setelah menjalani tiga mata kuliah full-time dari pagi sampai menjelang sore, plus ditambah ada rapat Komahi yang harus saya hadiri, saya kembali berfikir apakah saya mampu melakukan the rest activities of that day??

Sebelum mengikuti rapat Komahi saya berasumsi pada diri saya bahwa sebelum magrib saya harus sudah sampai di rumah, karena saya berencana untuk buka puasa di rumah, sehingga saya masih punya waktu 1 jam untuk istirahat di rumah sebelum saya ke warnet untuk ber-YM-an dengan Fitri.

Namun ternyata rapat Komahi, dilakukan di salah satu Kosan teman yang ada di lingkungan kampus, baru selesai ketika magrib tiba karena adanya perkembangan pembicaraan di dalam rapat. Itu saja selesai karena yang memimpin rapat itu tahu kalau saya dan seorang teman saya juga sedang puasa dan ia bermaksud untuk memberikan kami waktu untuk berbuka. Dan juga karena ia tau saya bermaksud berbuka di rumah. Namun, karena saya merasa begitu lelah dan lemas sekali dengan aktivitas hari Senin itu, saya memutuskan untuk membatalkan puasa (mencari minuman) bersama teman dan sholat di kosannya dahulu, baru pulang mengingat jarak rumah dengan lingkungan kampus cukup jauh.

Setibanya saya di rumah, saya kaget karena kakak saya (yang seharusnya membelikan makan) belum pulang, dan saya tiba di rumah sudah pukul 18.30. Karena saya merasa begitu lemas, akhirnya saya berfikir untuk menunda ber-YM-an dengan Fitri esok hari di jam yang sama dengan alasan baru sampai rumah, lelah karena aktivitas seharian, dan belum makan pula. Akhirnya saya mengirim SMS ke Fitri untuk meminta menunda ber-YM-an esok hari di jam yang sama dengan alasan di atas. Dan akhirnya, masalah saya yang mempunyai janji dengan Fitri jam 19.00 tersebut selesai dengan adanya balasan SMS dari Fitri directly yang mengatakan: ’OK, bos!’

Mencermati kasus di atas, pihak pertama (Ardaiyene) mencoba untuk merundingkan apakah YM-an-nya bisa ditunda esok hari kepada pihak kedua (Fitri). Posisi kedua belah pihak awalnya sama yaitu ber-YM-an dengan kepentingan membahas format surat. Namun, setelah menjalani aktifitas seharian, posisi dan kepentingan pihak pertama menjadi berubah, di mana posisinya menjadi istirahat, dan kepentingannya menjadi makan dan istirahat di rumah. Dengan posisi dan kepentingan Fitri yang tetap (tidak ada perubahan dari awal), pihak pertama mencoba untuk merenegosiasikan kesepakatan (taktik berunding) yang telah dibuat di awal, yaitu dengan menawarkan menunda ber-YM-an hingga esok hari dengan jam yang sama. Tanpa adanya specific compensation ataupun tawaran balik dari Fitri, akhirnya masalah yang ada berakhir dengan kesediaan pihak kedua pada permintaan pihak pertama. Dalam kasus ini strategi berunding yang digunakan pihak pertama adalah bargaining. Isu yang terdapat di dalam kasus ini bersifat tunggal, yaitu mengenai jadwal YM-an dengan Fitri. Di dalam perundingan ini, pihak pertama mendapatkan apa yang menjadi kepentingannya, sedangkan pihak kedua dapat dikatakan harus mengalah. It’s like a win-lose negotiation.

Powered by WordPress.com