Secara kasat mata, pria dan wanita dapat dibedakan melalui fisik atau bentuk badannya. Itu sudah sangat jelas sekali. Namun ternyata, tidak hanya fisik saja yang bisa membedakan mana pria dan wanita. Kepribadian merupakan hal lain yang dapat membedakan kedua jenis gender tersebut.
Apa itu kepribadian?
Secara mudah, kepribadian dapat dikatakan sebagai corak tingkah laku sosial, corak opini dan sikap, tingkah laku yang terlihat (overt) dan tak terlihat (covert). Perlu dipahami pula bahwa tingkah laku manusia dipengaruhi oleh gerak gerik suatu badan. Sebagai contoh, orang yang kepribadiannya menarik akan diasumsikan bahwa ia mempunyai senyum yang ramah, gerak tubuh yang menarik, berbicara dengan gaya yang simpatik, dan sebagainya. Sebaliknya, tidak mudah untuk membayangkan kepribadian yang menarik dari orang yang mempunyai badan yang (maaf) kurang sempurna dan wajah yang (lagi-lagi maaf) kurang menawan. Orang Yunani sangat memperhatikan kepribadian dengan menggabungkan keindahan tingkah laku dengan keindahan badan.
Fungsi alat-alat kelamin prian dan wanita berbeda dalam wkatu berlangsungya aktivitas. Buytendijk menganalisa perbedaan antara corak jasmaniah lelaki dan wanita dengan menguraikan motorik kedua jenis badan ini. Menurutnya, gerakan wanita mengalir seperti air sungai tanpa titik kritis, di mana satu langkah dihentikan dan mulai langkah baru. Sedangkan lelaki bergerak secara bertahap dengan langkah-langkah yang terpisah, seperti yang terlihat jelas dalam gerakan barisan tentara ‘mars’ dengan irama stakato.
Apakah kalian pernah mengamati bahwa wanita, misalnya, ketika mempunyai mobil akan cenderung untuk memeliharanya agar tetap tampak lebih indah dan bagus. Atau mungkin melihat pria sebagai seorang bapak yang menggunakan anaknya untuk tujuan sosial atau ekonomis. Fenomena seperti ini terjadi karena, menurut Buytendijk, motorik yang mengalir dari wanita mendasari alam pemeliharaan yang mana yaitu mempertahankan nilai-nilai keindahan, kebaikan, kebenaran, atau kegunaan. Sedangkan alam lelaki dengan motorik yang ‘bertujuan’ dunia pekerjaan. Analisa dari Buytendijk tersebut menjelaskan mengapa gerakan serimpi mempunyai sifat kewanitaan, mengapa urusan pakaian dan tata rambut adalah aktivitas orang yang memilih kewanitaan sebagai makna, sedang lelaki bisa menjadi tukang potong atau perwira.
Lelaki mengumbar rahasia, wanita menyimpan rahasia
Makna kewanitaan yang disebut oleh Buytendijk adalah kebatinan yang dirahasiakan. Sedangkan menurut Ortega y Gasset, yang mau mengenal wanita harus bergaul dengan dia sebagai pencinta dan hanya dengan demikian lelaki diindividualisasikan.
Wanita hanya membuka jiwanya untuk orang yang mengindividualisasikan dirinya, yang keluar dari kelompok penonton dan berhenti hdiup sebagai manusia umum. Dalam hal inilah, kata Ortega, jiwa wanita dan jiwa lelaki berbeda.
Lelaki hidup dalam pekerjaan umum seperti politik, kesenian atau perdagangan. Mereka menjadi kurang lebih seperti orang panggung. Yang paling baik dari lelaki adalah apa yang terbaik dari dirinya diberikan kepada khalayak ramai. Dengan demikian lelaki menjadi budak khalayak ramai. Namun, sikap wanita lebih mulia. Kebahagiaannya tidak tergantung dari orang banyak. Dia hidup seolah-olah dia sendirilah penonton, dialah yang menilai para pria dan menerima atau menolaknya. Sang pria merasa menerima imbalan kalau dia diperhatikan wanita.
Wanita adalah putri raja yang hidup dalam batinnya sendiri. Dia hidup bagi dirinya sendiri, tidak untuk khalayak ramai. Di muka umum dia hanya memperlihatkan topeng atau perhiasan mewah seperti pemain sandiwara memakai pakaiannya, hanya sebagai hal yang terlepas dari batinnya. Makin mewah perhiasan makin lebih banyak pria merasa bahwa mereka hanya boleh mendekati wanita itu sebagai penonton. Pakaian mewah dan perhiasan justru menyembunyikan batin wanita.
Buytendijk mengatakan bahwa lelaki tidak mempunyai rahasia. Batin lelaki dipamerkan, tetapi batin wanita disembunyikan. Lelaki mau mengekspresikan hal yang ada di dalam jiwanya, sedang wanita tak lain dari kebatinan yang dirahasiakan.
Kalau wanita jatuh cinta, dia menyembunyikannya dan sering pura-pura bersikap dingin. Ortega berkata, bahwa wanita kalau kaget lebih terkejut daripada lelaki karena wanita takut bahwa waktu terkejut perasaannya akan menjadi nyata. Gadis berumur lima belas tahun mempunyai lebih banyak rahasia daripada seroang ahli politik yang berumur lima puluh. Karena itu terjadi bahwa wanita menampakkan dirinya sebagai hal yang asing, yang jauh, yang distinction. Karena itu para pria tidak pernah selesai menguraikan ‘rahasia’ kewanitaan yang untuk penyair menjadi sumur yang tak pernah kering.
Wanita hanya akan dengan tegas menghentikan permainan itu kalau ada pria yang mengindividualisasikan dirinya. Baru kalau lelaki menjadi interesting, wanita akan mulai membuka batinnya. Itulah hasrat Don Juan yang tidak mencari kepuasan seks tapi merasa terharu kalau dia boleh membuka pintu batin istana kebatinan wanita.
Setiap lelaki dalam hatinya benci pada pelacur yang justru memamerkan kewanitaannya. Menjual dirinya pada khalayak ramai. Badan bisa memaksa lelaki ‘memakai’ pelacur tapi jiwanya benci pada sang sundal yang menjadi kontradiksi kewanitaan. Don Juan justru mencintai wanita suci yang merahasiakan hidup batin.
Semoga tulisan di atas yang saya rangkum dari buku “Kepribadian dan Perubahannya” karangan M.A.W Brouwer dkk (PT GRAMEDIA, Jakarta 1980) dapat memberikan pemahaman lebih antara perbedaan internal pria dan wanita. Tidak bermaksud untuk membeda-bedakan, tetapi lebih memberikan sedikit pemahaman atau wawasan mengenai perbedaan yang ada menurut penulis buku tersebut.











